THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 21 - Mobilisasi Pasukan



Di malam hari yang indah ini, suasana di pelabuhan begitu tenteram dan aman sentosa. Kota Ieapetra yang biasanya ramai di siang hari kini sunyi, saat ini hanya terdengar suara dari hewan malam, semua toko dan gerai terlihat sudah kosong.


Tetapi ketenangan itu tidak berlaku di Kastel Iraklio. Sambil disinari bulan dan bintang-bintang malam, tampak ribuan pasukan tengah berkumpul, mereka melatih fisik mereka supaya bisa optimal karena sebentar lagi diperkirakan mereka akan terjun untuk menumpas para pemberontak yang akan menyerbu Attica.


"Laporan sudah diterima! laporan sudah diterima!"


Pada saat Bobs dan pasukannya tengah berlatih mempersiapkan fisik sebelum dikirim ke medan perang, tiba-tiba datang seorang pembawa pesan berlari menghampirinya, ia berteriak kalau ada laporan yang sudah diterima.


Meskipun si pembawa pesan itu belum mengatakan detail mengenai laporan apa yang ia maksud. tetapi pasukan yang mendengarnya langsung peka kalau laporan yang dikirim oleh Roderick dari Kastel Naupaktos telah sampai.


"Semuanya berbaris!"


Dengan nada yang begitu lantang, Bobs menyuruh pasukannya berbaris.


Mereka begitu antusias karena waktu untuk berperang sebentar lagi tiba, tak ada satu pun orang yang merasa ragu, cemas dan takut ketika mereka akan dihadapkan dengan kematian, karena di Wilayah Chandax dan Chania ini ada suatu prinsip kalau semakin dekat dengan kematian semakin dekat pula kedamaian itu dicapai. Jadi.. demi keluarga mereka, demi saudara, demi teman dekat, demi tuan yang mereka kagumi, demi wilayah tempat mereka berasal dan demi kerajaan ini. Apa pun itu, meski bayarannya adalah nyawa maka mereka siap bertarung habis-habisan dengan semangat yang membara.


Kini Bobs didampingi 2 ajudannya yang sedari awal mendampinginya dan para pasukan yang berada di bawah perintahnya sudah siap mendengar apa yang akan disampaikan oleh si pembawa pesan tersebut.


"Laporan apa yang kau maksud?!" tanya Bobs sebagai isyarat bahwa saatnya ia bilang laporan apa yang akan disampaikannya.


"Surat yang berasal dari Attica baru saja tiba! Tuan Roderick telah memberitahu Doux Wilayah Attica bahwa kalian akan membantunya untuk menumpas pemberontakan yang telah mencapai Wilayah Stabia! Bersiaplah! Tuan Zeno akan tiba sesaat lagi untuk memberikan arahan langsung kepada kalian semua!"


Si pembawa pesan lantas menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, ia bilang kalau laporan itu berasal dari Roderick.


Mendengar bahwa laporan yang disampaikan olehnya itu ternyata benar berasal dari Attica, Para pasukan yang sudah berbaris tersebut sontak merapikan lagi barisannya dengan sangat kompak.


Sesaat kemudian Zeno hadir di hadapan mereka dengan mengenakan pakaian yang begitu gagah, berbeda dengan Nasos yang sebelumnya terlihat begitu nyentrik. Zeno kini tampak begitu berwibawa, ia benar-benar terlihat bak ksatria yang sangat berkarisma.


Para ajudannya bergegas menyiapkan podium kecil, sebagai tempat untuk Zeno menyampaikan pesan-pesan sebelum melepas pasukannya itu ke Wilayah Attica.


Ia kemudian naik ke atas podium itu. Semua orang begitu terkesima ketika melihatnya, mereka sangat antusias sekarang.


"Hidup Tuan Zeno! Hidup Tuan Zeno!" Saat melihat kehadirannya, mereka dengan lantang meneriakkan 'Hidup Tuan Zeno!'


"Ehem.. Ehem.." Zeno menyiapkan suaranya dulu sebelum berbicara. Ia menarik nafasnya begitu dalam.


"Pasukanku semuanya. Saat ini kita sedang menghadapi cobaan yang sangat menyedihkan. Kerajaan Socotre yang kita cintai ini mengalami banyak sekali pertumpahan darah dalam 50 tahun terakhir. Beberapa tahun yang lalu kita baru saja menghadapi para penjarah dari orang-orang barbar yang bahkan kita tidak tahu dari mana mereka berasal. Meski kita berhasil menghadapi cobaan tersebut namun ada banyak sekali darah yang tumpah dari saudara dekat kita...."


Ketika mendengar darah yang tumpah dari saudara terdekat, Bobs dan ajudannya mengenang kembali rekan mereka Paris yang sangat berbakat harus tewas terbunuh pada masa penjarahan.


"... Sekarang, Situasi justru semakin memprihatinkan. Karena masalah keuangan dan masalah perut, saudara sebangsa justru malah bertikai satu sama lain. Pemberontakan muncul dimana-mana. Seperti yang kalian tahu bahwa pemberontakan bahkan sudah menjalar hingga Wilayah Stabia. Surat yang dikirim oleh Roderick berisi bahwa saat ini Kota Blum dan Kastel Stabia sudah seperti neraka. Pemberontak sialan itu! Yang mengatasnamakan demi rakyat jelata justru malah membunuh semua orang yang mereka lihat dan mereka lewati dengan begitu sadis! Ini jelas-jelas suatu kebiadaban! Jika kalian bertanya apa yang harus kita lakukan?! Maka akan saya katakan bahwa mereka harus segera ditumpas meskipun mereka adalah saudara sebangsa kita. Dengan segala kekuatan yang dewa berikan! Kalian ku perintahkan untuk pergi membantu Wilayah Attica dalam menghadapi para pemberontak! Apa kalian siap?!"


Dengan kata-kata yang sangat panjang. Zeno menyampaikan orasinya dengan begitu membara-bara. Ia membakar semangat pasukannya untuk bertempur habis-habisan melawan para pemberontak nanti.


"Siap!"


Pasukan yang berjumlah ribuan itu kemudian dengan kompak meneriakkan kata 'Siap' dengan sangat kencang, bahkan suara mereka bisa terdengar hingga pemukiman yang berjarak 2 Km jauhnya.


"Terima kasih! Aku tidak berharap kalian akan gugur di medan perang, tapi jika hal itu terjadi maka akan kujamin keluarga yang kalian tinggalkan akan hidup dengan sangat layak selama berada di wilayah ini."


Zeno berusaha untuk menenangkan pasukannya, ia menjamin jika ada yang tumbang pada saat berperang maka keluarga yang mereka tinggalkan akan hidup dengan sangat layak. Hal ini memang sudah biasa dilakukannya, contohnya setiap anak yang ditinggalkan oleh ayahnya karena tewas di medan perang akan mendapatkan perlakuan khusus ketika ia melamar sebagai tentara, pegawai sipil atau pekerjaan apa pun yang berkaitan dengan pemerintahan yang di atur langsung di bawah kekuasaan Zeno.


( Di dunia tempat Hengki berasal pekerjaan yang dimaksud itu seperti Tentara, Polisi atau PNS )


"Tanpa diberitahu pun kami sudah tahu tuanku, hehe..."


"Mengetahui hal itu membuatku bisa bertarung dengan sangat lepas dan tenang."


Mereka saling bisik satu sama lain memuji keramahan tuannya ini.


Banyak dari pasukan yang sedang berbaris merasa tak memiliki beban lagi karena toh ketika mereka misalnya gugur, keluarga yang ditinggalkannya bisa hidup layak bahkan bisa dibilang jauh lebih layak secara ekonomi dibanding jika mereka kembali dengan selamat. Walaupun tetap saja kehilangan seorang anak laki-laki, Suami atau Ayah itu tidak ada bayarannya karena itu berkaitan dengan suatu ikatan kekeluargaan yang tidak ternilai.


"Itu saja yang bisa kusampaikan! Jika keadaan sudah tidak lagi memungkinkan untuk memenangkan pertempuran kalian wajib mundur ke Kastel Levadia! Misi kalian adalah mempertahankan wilayah kerajaan dari para pemberontak! Mengerti!"


Zeno mengakhiri pidatonya dengan mengingatkan kalau misi dari pasukannya itu ialah menghalau para pemberontak supaya tidak menjalar lebih jauh lagi ke wilayah lain.


"Siap! Hidup Tuan Zeno!"


Sebelum pergi ke Wilayah Attica, mereka meneriakkan 'hidup tuan Zeno' sekali lagi sebagai tanda perpisahannya.


Singkat cerita pasukan yang dipimpin Bobs dengan jumlah 20.000 itu sudah berlayar menuju wilayah Attica dengan 15 kapal pengangkut per kapalnya rata-rata berisi 1300 tentara, 1 kapal sebenarnya dapat mengangkut 1000-1650 orang tapi Bobs berusaha untuk sebisa mungkin menghemat jumlah kapal yang ia bawa. Jumlah kapal yang dipakai adalah 75% dari persediaan yang ada di bawah kekuasaan Zeno, wajar jika ia memiliki jumlah kapal yang lumayan banyak karena harus diingat kalau Chandax dan Chania ini adalah Wilayah yang berada di tengah lautan luas. Tapi tetap saja bukan berarti mereka harus jor-joran menghabisi persediaan yang ada.


(Ilustrasi dari kapal yang tengah digunakan untuk berlayar menuju Attica)



Mereka semua tampak sangat antusias, itu terlihat karena banyak pasukan yang sedang bercanda satu sama lain, ada di antara mereka yang sedang lomba panco sambil ditonton puluhan orang lainnya. Ada juga yang sedang minum minuman keras hingga mabuk.


Ada juga yang berbincang ria mereka membicarakan mengenai pertempuran yang akan mereka hadapi, salah satu di antara mereka bilang, "Kita memiliki 20.000 pasukan dan ribuan lainnya yang ada di Attica. Kudengar banyak dari pemberontak itu memakai garpu jerami sebagai senjatanya. Bukankah ini akan menjadi pertempuran yang berat sebelah." Ia sepertinya meremehkan kekuatan dari kubu pemberontak.


"Kita tidak boleh meremehkannya, buktinya mereka bisa menumbangkan Stabia." Kemudian salah satu dari mereka menentang pemikiran kalau para pemberontak itu lemah, buktinya mereka bisa menang melawan Wilayah Stabia.


"Hahaha... itu karena Stabia pasukannya sangat lemah." Sepertinya orang yang dari tadi meremehkan para pemberontak tengah mabuk berat. Ia bicara tanpa logika sedikit pun.


"Masuk akal juga, Meskipun mereka menang dalam jumlah pasukan tapi kita memiliki pengalaman bertempur yang jauh lebih banyak. Aku yakin jika peperangan nanti akan berjalan dengan mulus." Orang lainnya menyetujui kata-kata dari rekannya yang sedang mabuk itu. Ia percaya dengan pengalaman yang sudah matang, mereka bisa mengalahkan pemberontakan dengan sangat mudah. Yah... setidaknya ia berpendapat dengan memakai akal sehatnya.