
Dari jarak yang tidak terlalu jauh untuk menembak. Hengki terlihat sedang membidik ke arah German sambil menutup satu matanya.
Ia melihat lubang kecil yang berfungsi untuk mengarahkan ke mana anak panti nanti akan ditembak.
Karena harus fokus, pergerakan Hengki kemudian menjadi jauh lebih lambat. Sementara dari belakang para pemberontak yang mengejarnya bergerak semakin cepat.
Tahu kalau waktu yang dimilikinya sangat terbatas. Hengki mau tak mau harus segera melepaskan tembakannya.
Swoosh! Clang!
Entah disebut beruntung atau sial. Tembakan Hengki itu tidak tepat sasaran untuk mengenai badan German.
Akan tetapi anak panahnya justru malah menabrak senjata yang sedang digunakan oleh German. Karena kecepatan dari tembakannya sangat kencang, senjata yang dipegang oleh German menjadi langsung terpental jauh akibat benturan yang sangat kuat.
Karena hal itu, otomatis serangannya kepada Jan menjadi terhenti.
German yang kaget karena kecepatan dari anak panah itu sangat kencang, langsung bergerak sedikit mundur.
Jan kemudian memanfaatkan keadaan yang tak terduga baginya untuk memaksakan bangkit. Sembari memegang pedangnya dengan satu tangan. Dirinya sedikit demi sedikit mengangkat badannya.
"Ekhh... Ekhh..." Nafas Jan terdengar sedang terengah engah.
Namun karena tekadnya sangat kuat, ia menggenggam pedang miliknya itu lebih erat lagi supaya tidak terjatuh.
Apakah kau(Merujuk kepada dewa yang Jan sembah) telah mengabulkan doaku?... Dengan sedikit waktu lebih, aku bisa mengatasi masalah ini!... Jan lantas bangkit sambil menunjukkan wajah yang sangat menyeramkan. Sambil menahan rasa sakit, ia juga mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa dalam dirinya.
German yang tak menduga Jan bisa bangkit kembali sontak terkejut.
...Aku akan melampaui batasanku! |
Hyaah!
Clang!
Jan tanpa berlama-lama lagi langsung menyerang German dengan segala kekuatan yang masih tersisa dalam dirinya.
Hengki yang melihat serangan tersebut terkejut, begitu pula dengan para pemberontak dan juga Roderick yang ada di belakangnya.
Mereka semua seperti melihat mayat yang sedang bertarung sekuat tenaga. Mereka berpikir seperti itu karena memang secara manusiawi tidak mungkin orang yang sedang terluka parah seperti Jan mampu untuk mengeluarkan tenaga yang sangat kuat seperti yang sedang dirinya lakukan.
Gdublak! Gdublak!
Saking kuatnya, German tak mampu untuk menahan serangan tersebut seperti sebelumnya. Badannya kini justru malah terpental bahkan sampai menggelinding jauh ke belakang.
Pasukan pemberontak yang menyaksikan pemimpinnya terpojok menjadi sangat terkejut dan tak mau percaya dengan apa yang sedang mereka saksikan.
Anak ini... Kenapa berubah dengan cepat begini?! pikir German kepada Jan, walaupun musuhnya itu punya peluang karena dirinya bergerak mundur. Tapi seharusnya peluang tersebut tidak cukup untuk membuat dirinya terpojok seperti ini.
Jan yang sambil terengah itu bergerak lagi ke arah German dengan sangat cepat. Ia berusaha untuk melayangkan kembali serangannya.
Clang!
Sadar kalau posisi German terlihat tidak stabil. Jan mengayunkan pedangnya berlawanan dengan apa yang biasa dirinya lakukan. Kini Jan mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas. Dan membuat senjata terakhir yang dipegang oleh German terlempar jauh.
"Akhh!..." Karena terlalu merapatkan bahunya, luka yang diderita Jan menjadi semakin terbuka. Ia pun tidak kuat untuk menahan rasa sakit tersebut.
Namun karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka yang telah didapat olehnya. Sambil menunggu lukanya menjadi lebih reda diiringi erangan kesakitan, Jan menendang German dengan sekuat tenaga.
Gdublak!
Untuk kedua kalinya German terpental ke belakang.
"Tuan German!" teriak salah satu orang yang sedang memegangi bendera itu. Sedangkan yang lainnya tampak semakin menganga.
"Berisik kalian! Diamlah!" Mendengar kalau tentaranya panik dan menyebut namanya, German kemudian memarahi mereka.
German tak mau berlama-lama tergeletak, ia langsung berusaha untuk berdiri dan ia berniat untuk segera mengambil kedua atau salah satu senjatanya yang sudah terlempar.
Sial baginya, ketika ia selesai berdiri. Tiba-tiba saja Jan terlihat sedang menerjang ke arahnya.
"Hyahhh!" teriak Jan.
Jan sedikit melompat sambil mengangkat senjatanya ke atas. Ini ia lakukan supaya serangannya menjadi lebih kuat dan juga tidak bisa dihentikan oleh musuhnya.
Sreet! Kreek!
Aku berhasil membloknya, tapi... pikir German dengan wajahnya yang tampak sudah pasrah.
Dan, ya. Akibat dari aksi nekatnya itu, tulang pengumpil dan tulang hastanya kemudian terbelah. Atau secara gamblangnya tangan German sudah terpotong alias buntung.
Brak! Brak!
German yang masih tak percaya lengannya terpotong hanya bisa membeku tanpa ekspresi dan kemudian jatuh ke bawah.
Sedangkan Jan yang menyerang musuhnya sambil melompat juga ikut terjatuh karena pijakannya salah.
"Tuan Germaaan! Sialan bocah nakal! Mati!" Pemberontak yang sedang mengejar Hengki kemudian menjadi lebih brutal sesaat setelah mereka melihat kaptennya tergeletak tadi.
Hengki yang sadar kalau dirinya akan dibunuh oleh lawan menjadi panik kembali.
"Hah?!" kaget Hengki sembari kebingungan harus berbuat apa dirinya di situasi seperti ini.
Namun setelah melihat ke sekitar. Ia kemudian sadar kalau di belakang sana juga terlihat sosok Roderick sedang bergerak ke arah mereka.
Dirinya kemudian tahu harus berbuat apa untuk keselamatannya.
Hengki lantas mengambil lagi anak panah yang ada disakunya.
Karena Roderick datang dari sisi sebalah kanan. Hengki kemudian membidik pemberontak yang berada di paling kiri.
Ktuplak!
Ketika semakin mendekat, tibalah saatnya Hengki melepaskan tembakan.
Swoosh! Jleb!
Dengan mudahnya, Hengki menumbangkan orang yang ada di paling kiri tersebut.
Dan tak lama dari itu...
Sreeet! Bhakkk!
Roderick menerjang dan langsung membunuh dua orang lainnya hanya dengan sekali serangan.
Ckitt!
Karena saking cepatnya bergerak. Kuda yang ditumpangi Roderick mengerem tajam sampai mengeluarkan suara yang cukup kencang.
"Kenapa kau bergerak dengan sangat gegabah seperti itu?!" geram Roderick kepada Hengki.
Sekilas Roderick terdengar seperti sedang memarahi anak atau muridnya.
"Ini bukan saatnya untuk menjawab pertanyaan seperti itu! Cepat, bawa orang itu. Kita harus segera mundur!"
Tidak sadar kalau dirinya sedang diberi suatu perhatian lebih berupa teguran dari Roderick.
Hengki justru malah menyuruhnya untuk segera mengangkut Jan dan langsung bergerak mundur ke belakang.
Ketika Roderick hendak mengangkat Jan, tiba-tiba saja Jan menolaknya dengan berkata, "Tunggu! Aku masih belum membunuhnya... Sedikit lagi."
Ternyata Jan ingin terlebih dahulu mengeksekusi mati German.
Akan tetapi, keinginannya ini tampak tidak bisa diiyakan oleh Roderick, karena...
"Tidak!..."
Roderick melihat ke belakang dan ternyata pasukan inti dari kelompok pemberontak itu ada beberapa yang telah berhasil lolos dan mereka sedang berbondong-bondong bergerak ke arah di mana Jan, Roderick dan Hengki berada.
"...Kita tidak punya waktu tersisa untuk membunuhnya."
Ktuplak! Ktuplak!
"Bajingan kalian! Sekarang kita akan membalaskan apa yang telah kalian lakukan dengan memotong kalian menjadi potongan-potongan kecil." Merasa kondisi sudah terbalik. Pasukan inti dari kubu pemberontak itu lantas mengancam Hengki dan yang lainnya.
{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}
(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 47.2 yang berjudul 'Hengki, Kesempatan & Tekad Jan' ini.
Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.
Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.
(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v