THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 44.2 - Awal Mahakarya



Setelah Hengki meminta untuk segera diantarkan ke tempat di mana pengrajin yang membuat busur William berada.


Hengki dan Roderick kemudian diarahkan oleh William menuju pengrajin tersebut.


Di tengah perjalanan William bertanya kepada Roderick, "Di pertempuran sebelumnya kita dibuat kewalahan oleh satu orang petinggi dari kubu pemberontak... Tuan Roderick, apakah anda tahu. Siapa sebenarnya lawan yang sedang kita hadapi ini?"


Roderick kemudian berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyanya William. Tiba-tiba saja ia ingat sesuatu pada saat dirinya berada di medan tempur kemarin.


Tunggu, kenapa aku baru sadar sekarang. Iya, Roderick baru sadar kalau pakaian yang digunakan oleh para pemberontak yang dihadapinya kemarin sangat mirip dengan pakaian dari kelompok yang menyerang putrinya tuan Zeno. Minna Spanner.


Melihat Roderick yang tiba-tiba berubah ekspresinya, membuat William bertanya lagi, "Ada apa tuan?"


Roderick kemudian menjawab sambil melihat ke arah wajahnya William, "Aku baru saja sadar, kalau pemberontak yang sedang kita hadapi menggunakan seragam yang sama dengan kelompok yang menyerang nona Minna beberapa waktu yang lalu."


Ketika mengatakan hal tersebut, William pun menjadi terkejut. Ia bilang, "Apa? Maksud anda kelompok yang membuat tuan Bobs babak belur itu?"


Mendengar percakapan antara Roderick dan William, membuat Hengki juga tersadar kalau ternyata kelompok yang menyerang Minna saling berkaitan dengan pemberontak yang sedang mereka hadapi.


Benar juga yah, pikir Hengki.


Meski baru sadar kalau ternyata dua kejadian ini saling berkaitan, Hengki tetap tidak ambil pusing dan bersikap seperti biasanya.


"Tuan Bobs sempat mengatakan, kalau yang menyerangnya pada saat itu menggunakan teknik yang berasal dari Suku Makhil. Apa anda kemarin menghadapi orang itu juga?" tanya William.


Tampaknya ketika Bobs dirawat di Kastel Chandax. Dirinya sempat memberikan informasi kepada para ajudannya, bahwa orang yang menyerangnya itu bertarung dengan menggunakan teknik dari Suku Makhil.


"Sialnya tidak," jawab Roderick.


Jawaban yang diberikan oleh Roderick membuat mereka berdua sadar, kalau...


"Kalau begitu, berarti orang yang telah membuat babak belur tuan Bobs ada di dalam kota sana." William mengatakannya sambil menengok ke arah kota yang akan mereka serang besok.


Di sepanjang perjalanannya itu, Roderick dan William menjadi berpikir ulang. Apakah mereka mampu menembus Kota Blum itu.


Sementara Hengki yang tertinggal karena jalannya lambat sendiri di belakang, mendengarkan semua percakapan itu sambil melihat-lihat area sekitar.


Alasan Hengki tetap mendengarkan, karena siapa tahu ia bisa mendapatkan informasi penting dari obrolan tersebut. Namun jika dilihat dari gerak gerik Hengki setelah mendengarkan semua obrolan itu, tampaknya ia tidak mendapatkan informasi penting yang bisa membuatnya panik atau gelisah seperti Roderick dan William.


Akhirnya setelah menyusuri jalan yang lumayan panjang, mereka bertiga sampai di depan sebuah tenda kerucut yang biasa Hengki liat untuk berdagang di dunia lamanya.


Di sana terlihat seorang pria paruh baya sedang memahat sesuatu. Ia tidak sadar kalau Willian, Roderick dan Hengki sedang berjalan menghampirinya.


"Ayah..." Panggil William kepadanya.


Lah ternyata dia ayahnya, pantas saja dia marah waktu ditanya tipe busurnya tadi. Ternyata si pengrajin yang dibilang andal ini adalah ayahnya William, pantas saja William kesal waktu ditanya, apakah busurnya itu adalah model yang sudah usang oleh Hengki.


"Wah.. Kau mengagetkanku saja. Kenapa kau datang kesini? apa busurmu rusak lagi?"


Si pengrajin atau ayahnya William itu terkejut ketika Wiliam memanggilnya, ia kemudian bertanya apa maksud dari kedatangan putranya tersebut.


"Maaf kalau kami mengganggu waktumu tuan Mundus," sapa Roderick.


Nama si pengrajin itu adalah Mundus Artemis. Ketika ia belum menyadari kedatangan dirinya, Roderick langsung berinisiatif untuk menyapa duluan.


Kaget kalau ternyata Roderick datang ke tendanya, Mundus pun langsung merespons, "Ah... Tuan Roderick, apa yang anda inginkan sampai datang kepadaku."


Wajar saja kalau Mundus kaget, karena selama ini Roderick tidak pernah menggunakan jasanya. Sepanjang kariernya berperang, Roderick tidak pernah menggunakan panah. Maka dari itu ia tidak perlu menggunakan jasanya Mundus.


"Saya datang hanya untuk mengantar anak ini..." ucapnya sambil menepuk punggungnya Hengki.


"...Dia bilang ingin dibuatkan sesuatu oleh pengrajin paling mahir di Chandax."


Roderick sedikit menjilat Mundus, dengan berkata bahwa ia adalah pengrajin paling mahir di Chandax.


"Haha... Anda terlalu memuji saja," jawab Mundus dengan tersipu malu.


Responsnya tersebut membuat Hengki sadar, kalau orang yang ada di hadapannya ini adalah seseorang yang haus akan pujian.


"Saya jujur mengatakannya," ucap Roderick kepada Mundus.


"Terima kasih kalau begitu tuan, lalu apa yang bisa saya bantu?"


Mundus kemudian bertanya kepada Roderick, apa yang bisa dirinya lakukan untuk anak yang ada di sampingnya itu.


Semua orang yang ada di sana kemudian menatap ke arah Hengki, tanda supaya Hengki segera mengatakan apa yang dirinya mau dari Mundus.


Dari semua tatapan itu, mata Roderick terlihat sangat berbinar. Ia menunggu apa ide yang ada di pikiran Hengki.


Ketika ditatap seperti itu oleh Roderick, Hengki menjadi lumayan canggung.


"Apa paman bisa berhenti menatapku seperti itu?" tanya Hengki.


Roderick lantas berkedip sebentar kemudian mengangguk dan bilang, "Baiklah."


Perkataannya itu tidak sesuai dengan apa yang Roderick lakukan, ia bilang 'Baiklah' tapi beberapa saat kemudian matanya kembali berbinar menatap Hengki.


Hengki pun menjadi lebih canggung lagi, mau ditegur tapi sepertinya percuma.


Hengki bilang kalau ia tidak bisa menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya dengan mudah, ia kemudian meminta kertas yang biasanya digunakan oleh pengrajin untuk menggambar apa yang akan mereka buat itu.


Namun, sepertinya Mundus tersinggung dengan permintaan Hengki, "Apa yang barusan kau katakan?! Kau tidak boleh meminta kertas ini."


Ya, sebenarnya wajar kalau Mundus tersinggung, bahkan William dan Roderick pun sadar permintaan Hengki sudah kelewat batas.


Hal itu karena kertas dan semua alat menulis/menggambar di dunia ini sangat sangat mahal dan juga langka, bahkan bisa dibilang kertas dengan ukuran besar yang biasa digunakan oleh pengrajin itu lebih berharga dari kitab suci atau surat yang biasa digunakan para bangsawan sekalipun.


Tapi tetap saja Hengki tidak tahu kalau semua itu sangat berharga dan akan membuat Mundus marah.


Melihat Hengki tidak sadar di mana letak kesalahan dirinya, Roderick kemudian membujuk Mundus dengan bilang, "Maafkan anak ini Tuan Mundus, bagaimana kalau aku membayar untuk kertas tersebut?"


Roderick kemudian menawar kertas yang dimiliki Mundus dengan sejumlah uang yang Roderick miliki.


"Ah.. Maafkan aku juga karena marah begitu saja, baiklah aku ak-"


Belum juga menyelesaikan perkataannya, Hengki langsung menyela dengan bilang, "Apa kertas kosong seperti itu lebih mahal dari pengetahuan yang akan aku tuangkan nanti di kertas tersebut?!"


Hengki juga ternyata tersinggung dengan perilaku Mundus, ia menganggap pengetahuan yang akan diberikan olehnya ini lebih mahal dan jauh lebih berharga ketimbang kertas kosong seperti itu.


Ketika Hengki ternyata ikut geram. Roderick kemudian sadar, kalau yang dikatakan oleh Hengki ada benarnya, ide yang ada di pikiran ia bahkan bisa jadi tak ternilai harganya.


"Baiklah begini saja, bagaimana kalau anda izinkan dulu anak ini untuk menggambar sesuatu pada kertas itu. Jika menurut anda gambarnya sama sekali tidak berharga. Maka aku akan bayar lebih untuk kertas tersebut."


Roderick kemudian menawarkan solusi yang akan membuat kedua belah pihak antara Hengki dan Mundus saling untung satu sama lain.


Karena Mundus menghormati sosok Roderick, dan ia juga berpikir tidak ada ruginya untuk menyetujui tawaran tersebut, Mundus kemudian berkata, "Baiklah tuan, maaf sudah berlaku tidak hormat kepada anda."


Setelah menyetujui tawarannya itu, Mundus langsung bergerak ke belakang untuk mengambil kertas lebar dan alat menggambarnya.


Ia pun menyerahkannya kepada Hengki sambil berkata, "Hati-hati jangan sampai kertasnya rusak."


Hengki kemudian menjawab, "Baiklah."


Ketika Hengki akan mulai menggambar, Mundus dan William berpikir kalau Hengki tidak mungkin bisa menggunakan kertas tersebut.


Karena di dunia ini yang sering memegang kertas hanyalah bangsawan kelas atas dan para pengrajin saja, jadi jangankan menggambar, menulis saja sudah sangat sulit untuk orang yang berpenampilan seperti Hengki ini.


Tapi sebaliknya Roderick sangat percaya dengan kemampuan yang ada di dalam diri Hengki.


Sudah lama waktu berjalan, mereka melihat Hengki masih menggambar sesuatu. Sejauh ini mereka bertiga masih belum bisa menerka. Apa yang sedang digambar oleh Hengki itu.


Akhirnya setelah sekian lama, Hengki telah berhasil menyelesaikan gambarnya tersebut.


"Ini apa kau bisa membuatnya," ucap Hengki sambil menyerahkan kertas tersebut.


Ketika Mundus melihat gambar tersebut, ia sontak terkejut sambil berkata, "Bagaimana bisa orang sepertimu menggambar barang seperti ini?!"


Melihat Mundus terkejut, rasa ingin tahu Roderick menjadi sangat menggebu-gebu. Ia langsung loncat ke dalam tenda tersebut untuk melihat kertas yang digambar oleh Hengki tadi.


"Biarkan aku melihatnya juga!" paksa Roderick.


Setelah Roderick melihat gambar tersebut, ia juga kaget dan berkata, "Bagaimana caranya kau bisa ke pikiran untuk membuat senjata ini?"


Tak luput, Wiliam juga penasaran dengan gambar tersebut. Dan sama.. responsnya juga kaget. Wiliam yang selama ini mendapat predikat sebagai pemanah paling hebat di Chandax merasa ilmunya ternyata masih kalah jauh dengan orang yang baru ditemui olehnya yakni Hengki.


Padahal di awal Hengki berkata kalau ia tidak mahir menggunakan senjata apa pun, termasuk memanah. Tapi bagaimana bisa Hengki memiliki ide untuk membuat senjata seperti itu.


Karena terlalu lama menjawab, Hengki kembali bertanya, "Apa kau bisa membuatnya? Jangan terlalu kaget seperti itu, lagi pula itu adalah desain paling sederhana yang bisa aku tunjukan untuk saat ini, supaya kau juga bisa membuatnya hanya dengan waktu satu malam."


Mundus kemudian menjadi sangat menggebu-gebu, jiwa seorang pemahatnya itu meronta-ronta. Ia dengan semangat menjawab, "Baiklah, aku pasti bisa membuatnya. Terima kasih sudah memberikan kejutan seperti ini."


Ia lantas bergegas mengambil semua perkakas yang akan digunakan olehnya.


(Di bawah ini adalah ilustrasi dari apa yang diinginkan oleh Hengki kepada Mundus)






{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}


(っ^▿^)


Terima Kasih sudah membaca episode 44.2 yang berjudul 'Awal Mahakarya' ini.


Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.


Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.


(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard.