
Hari sudah terlanjur larut malam, Pasukan kerajaan harus menghentikan serangannya untuk beristirahat terlebih dahulu mereka mulai memasang tendanya masing-masing di area luar perbukitan Avis.
Roderick, Hengki dan orang yang baru bergabung bersamanya yakni Ajax berkemah di barisan paling depan agar memudahkannya nanti karena mereka akan berangkat di giliran selanjutnya besok.
Sementara di bagian dalam perbukitan, Para pemberontak baru saja selesai menumpas pasukan kerajaan yang menyerangnya tadi, hampir semua orang dibunuh dengan keji oleh mereka dan hanya menyisakan sedikit saja untuk dijadikan tahanan, mereka menahan tentara-tentara muda karena siapa tahu dimasa depan mereka bisa dihasut untuk masuk ke kubu pemberontak. Dan di antara tentara muda yang mereka tangkap ada Jan Kapten II dari pasukan Chandax dan satu kapten muda lain dari pasukan Attica yang sebelumnya terjebak oleh kurungan yang lakukan para pemberontak, ia bernama Webb Jaxon dengan jabatannya kapten I.
Jan ditangkap dalam kondisi sehat dan tidak mengalami luka yang berarti sedangkan Jaxon terluka cukup parah, mata yang ada di sebelah kanannya bahkan mengalami luka yang sangat serius, jika tidak cepat diobati kemungkinan besar ia akan mengalami kecacatan permanen.
"Arghh! Lepaskan!"
Dengan tangan dan kaki yang terikat kencang, Jan diseret oleh para pemberontak menuju markasnya, ia berteriak dengan sangat keras.
"Sialan! Setidaknya kalian harus menguburnya dengan sangat layak! Arghh!"
Dari kejauhan Jan masih bisa melihat pemimpinnya Alfred sudah tergeletak tak berdaya. Ia meminta para pemberontak itu untuk menguburnya dengan layak dan terhormat terlebih dahulu sebelum kembali ke posnya.
Namun teriakannya ini sama sekali tidak digubris oleh musuhnya itu.
"Sial..." Jan kemudian menangis sambil menggigit bibir bagian bawahnya dengan sangat kencang, ia tampak menyesal karena merasa tidak berguna di pertempuran tadi.
\==============
Sementara di markas pemberontak lain, tempat di mana Hubert dan Redjack sedang bersembunyi bersama para penjaganya, mereka dari sidang tadi sudah sabar untuk menunggu laporan dari garda depan tempat Benedict jaga.
"Lapor!"
Kesabaran mereka akhirnya terbayar kan, tiba-tiba terlihat salah satu pengantar pesan lari menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Hubert langsung kepadanya.
Ia merasa sedikit gugup ketika akan mendengar laporannya itu.
"Benedict telah berhasil membunuh 2 orang Kapten IV dari pasukan kerajaan! Mereka sepertinya bergerak secara bergiliran memasuki Perbukitan ini!" lapornya.
Setelah mendengar laporan yang menggembirakan itu, Hubert lantas mengepalkan tangannya sambil berkata, "Bagus!"
"Haha... Orang gendut itu jago juga, ya bos?"
Sedangkan bandit yang mendampingi Redjack memuji kinerja Benedict yang sangat baik dalam menjaga garda depan.
"Ya..., Tapi apa yang akan mereka lakukan selanjutnya," jawab Redjack dengan senyuman khasnya sambil berpikir apa yang akan pasukan kerajaan lakukan setelah mengalami kerugian yang lumayan besar di hari pertama ini.
\==============
Kembali ke tempat di mana Hengki berada. Kini personel yang tersisa dari kubu kerajaan berjumlah 41.000 pasukan setelah mereka mengalami kerugian sebanyak 14.000 pasukan di hari pertama.
Hal ini membuat Bobs dan Dominic sangat depresi, sekarang mereka berdua sedang berada di tenda besar tempat mereka merancang rencana berikutnya.
Braak!
Bobs baru saja memukul meja. Di tenda itu terlihat ada pembawa pesan yang sedang tertunduk sepertinya ia baru saja melaporkan situasi yang telah terjadi di dalam Perbukitan Avis itu, dan laporannya itu membuat Bobs dan yang lainnya merasa sangat marah dan juga kesal.
"Sepertinya lawan yang menjaga bukit besar itu sangatlah kuat," ucap Elias.
"Ya... orang bernama Benedict itu ya?" balas Dominic.
Dominic menduga lawan yang baru saja mereka hadapi bernama Benedict, karena tadi sore nama itu terdengar di teriakan oleh tentara musuh.
"Meski begitu! Apa yang orangmu lakukan?! Dia (Pembawa pesan) tadi bilang kalau yang bertarung mati-matian menghadapi musuh hanyalah Cassius. Lantas kenapa kau malah mengirim orang lemah sepeti itu ke medan perang?!" Teriak Dominic kepada Bobs.
Ia kesal karena laporan yang diberikan oleh pembawa pesan tadi menyampaikan bahwa orang yang bertarung mati-matian hanyalah Cassius yaitu orang yang dikirim sebagai perwakilan Attica, sedangkan orang dikirim sebagai perwakilan Chandax yakni Alfred andilnya sangat minim di pertempuran tadi.
"Apa?! Kenapa kau malah menyalahkan pasukanku bajingan! Jelas-jelas orangmu saja yang bertempur dengan sangat bodoh sampai masuk ke dalam kepungan lawan!" balas Bobs, ia tidak terima ketika dirinya dituduh sebagai dalang dari kekalahan telak ini.
Dari awal jelas sekali koalisi antara Attica dan Chandax memang memiliki hubungan yang tidak solid, apalagi ditambah dengan kekalahan telak tadi sore. Membuat kerenggangannya justru malah semakin menjadi-jadi.
"Apa kau sedang sibuk?"
Ketika sedang melamun, tiba-tiba datang Ajax menghampiri Hengki.
"Tidak." Hengki lantas menjawabnya sambil menengok ke arah Ajax, ia pun langsung mengganti posisi duduk yang sebelumnya bersandar dengan kedua tangannya menjadi duduk dengan lebih tegak.
"Umm... apa kau tidak bisa tidur?" tanya Ajax kepada Hengki. Pertanyaan ini hanyalah basa-basi belaka.
"Engga juga? Aku hanya ingin melihat bintang-bintang saja," jawab Hengki.
Apa yang dikatakannya ini benar-benar sebuah kejujuran, karena di tempat asalnya yaitu Indonesia sangat jarang sekali pemandangan malam yang begitu indah ini terjadi apalagi pemandangan ini bisa dilihat dengan mata telanjang, bahkan kalau diingat ingat bisa dibilang tidak pernah Hengki lihat pemandangan indah ini terjadi selama ia hidup di sana.
"Apa kau tidak merasa gugup?" tanya Ajax.
Ajax terus menerus bertanya kepada Hengki, sepertinya ia masih penasaran kepada 2 sosok yang baru ia temui ini yaitu Hengki dan Roderick.
"Umm... tidak. Kenapa kau bertanya terus? memangnya kita dekat yah? perasaan kenal juga engga," ucap Hengki.
Meski tidak merasa masalah kalau ditanyai terus-menerus, tapi Hengki lumayan risi karena orang ini belum juga memperkenalkan diri dengan benar malah langsung melontarkan beberapa pertanyaan terus.
"Ahh... Ma-maaf aku lupa. Namaku Ajax Traverse seorang Kapten I, aku berasal dari Wilayah Stabia makanya aku masih merasa asing dengan orang-orang yang ada di sini. Maafkan aku jika sudah membuatmu merasa tidak nyaman."
Ajax menyesali apa yang telah ia perbuat, ia meminta maaf dengan tulus kepada Hengki karena telah lupa mengenalkan siapa dirinya terlebih dahulu sebelum mengajaknya berbicara.
"Uh... kenapa kau malah minta maaf begitu? aku hanya ingin tahu siapa namamu saja."
Hengki juga tampaknya malah merasa bersalah karena sudah membuat Ajax meminta maaf sampai seperti itu.
Lagian wajar jika Ajax menyesal setelah ditegur oleh Hengki, karena ia pikir jabatan Hengki lebih tinggi dibanding jabatan dirinya.
"Ah... maaf," balas Ajax.
"Tidak apa-apa, lalu apa lagi yang ingin kau tanyakan?" ucap Hengki.
Sekarang Hengki mempersilahkan Ajax untuk bertanya kembali.
"Ka-kalau aku boleh tahu, siapa namamu?" tanya Ajax.
"Oh iya, namaku Hengki Tantama, salam kenal." jawab Hengki.
"Sa-salam kenal juga," balasnya.
Bukannya dia tadi marah karena aku lupa memperkenalkan diri yah? tapi kenapa justru dia juga lupa memperkenalkan dirinya kepadaku? Ajax lantas merasa semakin bingung dengan sifat yang dimiliki oleh lawan bicaranya ini.
"Kita baru saja mengalami kekalahan, apa kau masih percaya diri kalau kita bisa menang?" tanya Ajax.
Kini ia sudah merasa santai dan berusaha untuk melanjutkan obrolannya lagi.
"Percaya diri? Jelas tidak lah. Kau lihat saja orang-orang itu, besok kita mau berperang bersama tapi mereka sama sekali tidak berusaha untuk mendiskusikan apa yang akan kita lakukan nanti."
Hengki menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Ajax sambil menunjuk ke arah pasukan Attica berada, ia menunjuknya karena pasukan itu juga besok akan berperang bareng bersama pasukan yang akan dipimpin oleh Roderick tapi ia merasa kesal karena mereka justru malah cuek dan tidak memedulikan rencana apa yang akan mereka siapkan besok.
"Hah? Kalau tidak percaya diri lantas mengapa kau masih bisa bersikap santai begini?" heran Ajax.
"Hihi... Tadi kau bilang kalau kau berasal dari Stabia kan?" tanya Hengki.
"Iya memangnya kenapa?" jawab Ajax.
"Bagus, Bagus. Aku baru saja memikirkan suatu rencana, apa kau mau mendengarnya?" tawar Hengki.
Tampaknya Hengki akan merencanakan sesuatu yang dapat membuatnya memperoleh kemenangan ketika melawan orang yang bernama Benedict nanti, dan tak lupa setelah berkata seperti itu kepada Ajax, Hengki lagi-lagi kembali melihat ke arah bukit tandus yang ada di sebelah kanan itu.