THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan



Walaupun sempat unggul karena telah berhasil membuat terkapar German. Akan tetapi moral dari para pemberontak belum juga turun. Terlebih mereka melihat tuannya masih bertahan hidup.


Karena merasa marah ketika melihat German tangannya terpotong. Para pasukan inti yang mengepung Hengki dan lainnya itu menjadi terlihat lebih beringas lagi.


Tatapan mereka semua tampak sangat mengerikan. Mereka juga mengancam akan memotong tubuh ketiga orang yang sedang mereka kerumuni itu.


Jan kemudian sadar kalau ini bukan saatnya untuk mengeksekusi mati German. Karena bisa-bisa dirinya dan Roderick malah langsung dibantai dan justru akan menyebabkan kerugian yang jauh lebih besar untuk pihak Kerajaan. Karena mau bagaimanapun nyawa seorang legenda hidup seperti Roderick jauh lebih penting.


Bahkan tanpa mereka sadari juga di sini ada sosok yang lebih penting lagi. Yaitu Hengki, orang yang akan mengubah tatanan dunia ini.


Jan pun kemudian berusaha naik ke atas kudanya. Sementara Hengki langsung berlari ke arah Roderick untuk ikut menumpang di belakangnya.


"Pembentukan unit mundur! Pasukanku, buat jalan keluar!" Dengan teriakan kencangnya. Roderick memerintahkan pasukannya untuk fokus supaya dirinya dan yang lain bisa keluar dari kepungan pemberontak.


Mendengar teriakan itu. Para pemberontak kemudian malah tertawa, "Hahahaha... Itu tidak akan terjadi! Melarikan diri sekarang adalah..."


Para pemberontak itu menganggap Roderick dan yang lainnya tidak mungkin bisa melarikan diri dari kepungan mereka.


Akan tetapi Roderick memotong omongan si pemberontak dengan berkata, "Kami bisa melakukannya."


Sreet! Sreet! Bukk!


"Tuan Hengki! Tuan Roderick! Kami datang untuk menyelamatkan kalian! kami sudah mengamankan jalan keluar!"


Dari belakang pertahanan musuh tiba-tiba keluar sosok yang dari tadi kabur entah ke mana. Orang itu adalah Ajax dan pasukannya.


Ternyata selama ini mereka bergerak berputar-putar dan akhirnya malah mengitari pertahanan musuh.


Ketika dari kejauhan, salah satu tentaranya mendengar teriakan dari tempat di mana Jan dan German bertarung. Mereka semua sadar kalau pemimpin musuh yakni German sudah berhasil ditundukkan.


Namun mereka juga melihat, cukup banyak pasukan pemberontak yang berhasil keluar dari pertempuran, bergerak ke arah markas mereka.


Oleh karena itu, Ajax dengan sigap memimpin pasukannya untuk bergerak ke markas musuh lewat jalan belakang.


Para pemberontak yang tadinya sombong pun kaget, "Apa?!"


Dan ketika mereka semua memikirkan situasi apa yang sedang terjadi. Di situlah Hengki dan yang lainnya mengambil kesempatan untuk kabur menjauh.


Hyaaah! teriak pasukan kerajaan yang berhasil melarikan diri itu.


"Ikuti Mereka! Jangan biarkan mereka pergi!" teriak para pemberontak yang dendam kepada Jan.


"Bodoh! Kita harus selamatkan dulu Tuan German!" Yang lainnya berpendapat kalau saat ini mereka harus mengurus tuannya terlebih dahulu.


Dan akhirnya formasi dari para pemberontak itu kemudian menjadi pecah tak karuan. Ada yang mengejar Hengki dan kawan-kawan, ada juga yang memandu German untuk kembali ke dalam kota.


Meski secara individu pasukan inti pemberontak ini tangguh bahkan sedikit lebih tangguh dari pasukan kerajaan. Tapi secara kelompok mereka sanga sulit untuk terorganisir.


Mereka semua masih sibuk memikirkan diri masing-masing.


Ktuplak! Ktuplak!


Swoosh! Jleb!


Sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Roderick mampu keluar dari pertahanan musuh dengan sangat rapi.


Hengki yang menumpang di kudanya Roderick kemudian mampu untuk membidik tentara pemberontak yang mengejar mereka satu demi satu.


Yang dilakukan oleh Hengki kemudian membuat pergerakan musuhnya itu menjadi sedikit terganggu. Dan lama kelamaan mereka tertinggal jauh.


Sial ini menegangkan sekali... Hengki tampak penuh dengan keringat, jantungnya juga masih berdegup kencang.


Ini akan menjadi momen yang tidak akan pernah ia lupakan, karena untuk pertama kalinya ia ikut berperang seperti di dalam game yang biasa dirinya mainkan.


...


Sementara di sisi lain, di mana sebagian dari kubu pemberontak mengangkut German untuk kembali ke kota. Tampak sedang sangat khawatir.


German terlihat setengah sadar. Meskipun darah dari tangannya masih mengucur deras tapi German sama sekali tidak merintih kesakitan.


Mukanya tampak sudah membiru. ia sepertinya sudah kehilangan banyak sekali darah.


Mulutnya tampak berusaha untuk mengucapkan sesuatu. Tapi tak jelas ia ingin berbicara apa.


Para pemberontak yang mengangkutnya itu kemudian semakin panik lagi, mereka pikir German sedang dalam kondisi sekarat.


"Tuan kumohon bertahanlah. Sebentar lagi kita akan sampai di markas utama."


\= = = = = = = = = = = = = =


Sementara dari dalam kota, Hubert tampak sedang memperhatikan kondisi pertempuran. Ia terus-terusan menunggu laporan dari pasukan pengintai, yang tahu keadaan terkini yang terjadi di luar sana.


"Kami telah mendengar kabar kalau pasukan yang dipimpin oleh German sedang diserang oleh kubu kerajaan."


Salah satu pengintai yang bertugas untuk memantau pasukan German kemudian melaporkan situasi terkini dari pasukan German.


"Hah? Apa yang kau katakan?! Harusnya kita yang menyerang mereka! Bukan mereka yang menyerang kita!"


Hubert kemudian memarahi si pelapor tersebut.


"Tapi tuan, yang menyerangnya adalah pasukan kecil saja. Dan ketika kami pantau, mereka adalah pasukan Stabia yang masih tersisa. Kemungkinan mereka bergerak secara nekat atas dasar balas dendamnya kepada kita. Aku jamin tuan German bisa mengatasinya dengan sangat mudah," jawab si pelapor itu.


Hubert kemudian menjadi tampak lebih tenang.


Namun ketenangannya itu hanya bertahan untuk beberapa saat saja, karena...


...


Dari sisi terluar di mana pintu masuk kota berada. Para pasukan penjaga yang berdiri di sana melihat sesuatu.


Mereka melihat ada beberapa pasukan dari kubu mereka sedang bergerak ke arah kota dengan kecepatan tinggi.


Ketika sudah mendekat mereka melihat wajah dari pasukan itu tampak sangat kepanikan. Dan pada saat semakin dekat lagi, barulah mereka sadar kalau salah satu pentolan dari kubu pemberontak telah tewas.


Mereka melihat wajah orang yang mereka anggap gagah itu sudah berubah menjadi biru keputih-putihan tampak sangat pucat sekali. Mereka tahu darah dari orang tersebut sudah terkuras banyak. Apalagi setelah mereka melihat tangannya terpotong dengan sangat tidak rapi itu.


Orang yang membawanya juga terlihat sudah bercucuran dengan air mata yang mengalir deras.


Teng! Teng!


Para pemberontak itu kemudian menyalakan sebuah lonceng. Dan lonceng itu terdengar oleh Hubert bahkan bunyinya juga sangat jauh sekali. Sampai-sampai bunyinya terdengar sedikit sampai ke telinga Dominic dan pasukannya.


Mayoritas dari kubu kerajaan tidak tahu apa maksud dari bunyi lonceng tersebut.


Tapi bagi kubu pemberontak mereka semua sadar kalau bunyi itu adalah tanda adanya kematian dari seseorang yang punya pangkat tinggi.


Elliot dan pasukannya yang sedang berperang kemudian diam dan merenung sejenak. Mereka semua sedang tegang sambil menunggu kabar, siapa yang sudah gugur.


Sebenarnya Elliot dan pasukannya sudah curiga kalau yang tewas adalah German. Tapi mereka semua berusaha untuk menyangkal dugaan tersebut, karena mau bagaimanapun German yang mereka kenal adalah sosok yang sangat tangguh.


...


Sementara di sisi Hubert dan Redjack. Mereka sepenuhnya bingung siapa yang telah tewas. Hubert tampak geram di tengah kebingungannya tersebut. Karena ia sebentar lagi akan mendapat laporan kalau salah satu orang kepercayaannya gugur.


Ktuplak! Ktuplak!


Dan kemudian terdengar langkah kaki kuda yang sedang berlari. Semua orang yang ada di sana tegang sambil melirik ke arah orang yang datang menghampiri mereka. Semua orang menunggu, siapa sosok yang akan disebut oleh si pelapor itu.


Pada saat orang itu sampai di sebelah Hubert. Ia berbisik, "Tuan German sudah gugur..."


Mendengar hal itu, Ekspresi Hubert langsung berubah. Tampak kepalanya sedikit geleng-geleng. Ia terlihat tidak ingin mempercayai kabar yang di berikan oleh si pelapor tersebut.


"Maaf tuan... Siapa orangnya?" tanya Redjack kepada Hubert.


Hubert lantas memandang Redjack dengan mata yang berbinar. Ia lama menatap Redjack dan kemudian berkata, "Salah satu kapten kita, German Rainer telah gugur."


Perkataan itu bisa didengar oleh semua orang.


"Apa?! I-Itu tidak mungkin!" Salah satu orang masih tidak mempercayai kabar tersebut.


"Maaf tapi kabar ini benar adanya. Tuan German tewas setelah kehabisan darah akibat tangannya terpotong dan juga banyak luka yang diderita olehnya."


Si pelapor itu lantas menerangkan kenapa German bisa tewas.


Sontak para pemberontak yang ada di sana kemudian mengeluarkan air matanya. Mereka sedih karena telah kehilangan sosok penting bagi keberlangsungan perjuangan mereka semua.


...


Sementara dari sisi Hengki dan lainnya yang sedang melarikan diri. Ketika mereka mendengar bunyi lonceng dari arah Kota Blum. Mereka semua sadar kalau German sudah tewas.


Waaaaah! Teriak kencang Pasukan Roderick sambil mengacungkan senjatanya.


"Berhasil! Kita benar-benar berhasil!" "Kita mengalahkannya! Kita Mengalahkan salah satu pentolannya!" "Dan sekarang..." "Ya! Kita sedikit demi sedikit telah membayar dendam kita kepada para pemberontak sialan itu!" bangga semua tentaranya Ajax.


Waaaah! Mereka melanjutkan teriakannya.


Mereka merasa perjuangan dari rekannya yang telah gugur tidak sia-sia. Tampak sangat jelas dari semua orang. Pasukan AJax adalah pasukan yang paling bergembira ketika mereka semua telah berhasil mengalahkan kubu pemberontak.


...


Sedangkan dari sisi di mana Bobs dan pasukannya sedang bertarung. Mereka melihat ke arah di mana Unit Roderick berada.


Mereka melihat pasukan yang ada di sana terdengar sedang bersorak-sorai kesenangannya.


"Tuan Bobs, di sana!" tegur William yang dari tadi melihat ke arah di mana Roderick dan Hengki berada.


Jleb! Hoeks!


"Aku mendengarnya. Aku tahu kalau tuan Roderick belum habis masanya."


Sambil membunuh lawannya, Bobs sadar kalau pasukan Roderick telah berhasil memenangkan pertempuran.


{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}


(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 48 yang berjudul 'Kesedihan Dan Kesenangan' ini.


Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.


Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.


(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v