
Di tengah kobaran api yang membara membakar pepohonan yang ada di belakangnya.
Benedict tampak tidak merasa gentar sedikit pun. Meski ia berdiri seorang diri karena sudah tertinggal jauh dengan pasukannya yang ada di belakang.
Benedict sampai saat ini masih mampu bertarung seorang diri.
Ia berhasil memaksa lawannya agar berhenti melarikan diri untuk menghadapinya terlebih dahulu, karena akibat ulahnya pasukan kerajaan yang ada di belakang satu persatu tumbang akibat serangan yang diberikan oleh Benedict.
Dari sekian banyaknya korban yang tewas mayoritasnya adalah pasukan yang dipimpin oleh Ajax.
Karena pasukan Ajax hanya membawa panah dan berada di paling belakang oleh karenanya Benedict dengan mudah menebas mereka.
Ajax yang mengetahui hal itu lantas bergerak ke belakang untuk menghadang pemimpin musuh yakni Benedict yang telah menggugurkan banyak tentaranya.
Tanpa gentar ia kini sudah berhadap-hadapan dengannya.
Di tengah-tengah tumpukan mayat dari para tentara kerajaan, Ajax melihat pemimpin dari para pemberontak itu berjalan pelan sambil sempoyongan sedang menusuk tubuh para tentara kerajaan yang sudah terkapar sekarat.
"...Bajingan! Padahal rencananya sudah berjalan dengan sangat mulus! Tapi bagaimana orang sepertimu dengan kekuatan kasar, berani menerjang seorang diri begini!?"
Sambil mengepalkan tangan dan tanpa sadar menggemeretakkan giginya, Ajax meluapkan rasa kesalnya kepada Benedict sesaat setelah melihat pasukan yang ia pimpin banyak yang menjadi korban dari keganasan Benedict.
Benedict yang sempoyongan sambil kepanasan karena api sudah semakin dekat dengannya itu secara perlahan maju ke arah Ajax.
"Perkenalkan aku adalah kapten yang bertugas di sini. Petualang tanpa marga paling tangguh Benedict."
Dengan wajah tersenyum Benedict perkenalkan siapa dirinya kepada Ajax sambil memegang erat senjatanya yang sudah sangat panas dan berlumuran darah itu.
"Kalian menamai kelompok pemberontakan ini dengan nama Perfectum Iudicium tapi aku sama sekali tidak melihat keadilan dari apa yang telah kalian perbuat. Jadi mau tidak mau aku harus menghentikan apa yang akan kalian lakukan sebelum dampaknya semakin buruk di masa depan."
Ajax lantas berkata kepada Benedict kalau apa yang telah kubu pemberontak selama ini lakukan itu bertentangan dengan nama yang mereka gunakan yaitu Perfectum Iudicium (Penghakiman yang sempurna), oleh karenanya ia bertekad untuk melawan aksi pemberontakan ini.
Ajax berkata seperti itu sambil bersiap-siap menarik pedang dan mengambil sebuah perisai yang kebetulan ada di bawah kakinya.
Sesaat setelah mereka saling adu mulut, Benedict dan Ajax bersiap maju untuk saling menerjang.
Tak ada satu pun dari ke dua orang itu yang mengambil posisi bertahan kecuali Ajax yang memang kebetulan ia membawa perisai di tangan kirinya.
"Aku adalah seorang kapten dari Wilayah Stabia! Ajax Traverse!"
Ketika hendak saling menyerang, Ajax tak lupa untuk memperkenalkan siapa dirinya kepada Benedict.
"Stabia kah? Pantas saja lambang yang ada di kepalamu itu terlihat tidak asing."
Ketika Ajax mengatakan kalau dirinya adalah seorang kapten dari Stabia, Benedict lantas sadar kalau orang yang dihadapinya ini adalah orang Stabia ketika melihat lambang yang ada pada pelindung kepalanya itu.
Tak! Tak!
Benedict mempercepat langkahnya.
Dasar orang bodoh! Kuda-kudanya terlihat sangat berantakan. Aku akan dengan mudah menjatuhkan senjatamu terlebih dahulu lalu aku akan menghabisimu langsung.
Ajax melihat pergerakan yang dilakukan oleh Benedict terlihat sangat sembrono yang menyebabkan kuda-kudanya terlihat buruk. Ia berencana untuk menjatuhkan senjata yang dipegang musuhnya itu terlebih dahulu.
Brak!
Ketika Benedict hendak melayangkan serangan ke arah lawannya, dengan mudah Ajax menangkis serangannya itu menggunakan perisai yang ia gunakan, bahkan senjata yang dipakai oleh Benedict terlempar akibat hantaman keras dari perisainya itu.
Wajar kalau senjata yang digunakan oleh Benedict itu mental setelah terkena hadangan perisai Ajax, karena senjata yang digunakan oleh Benedict harusnya dipegang menggunakan dua tangan mengingat bobot yang sangat berat dari senjata tersebut, tetapi Benedict justru dengan sembrono malah mengayunkan senjatanya itu hanya dengan tangan kanannya saja.
"Apa kau bodoh!?"
"Siapa yang bodoh?" jawabnya.
Dan ternyata Benedict dari awal memang sengaja membiarkan Ajax untuk menggunakan perisainya tersebut ke arah tangan kanannya Benedict.
Karena ia sudah mengambil ancang-ancang untuk menonjok Ajax dengan tangan kirinya.
BUKK!
Dengan tepat sasaran tonjokan yang diberikan oleh Benedict menghantam rahang Ajax dengan sangat keras.
Bwakk!
Muntahan darah keluar dari mulut Ajax seketika setelah ia menerima pukulan tersebut.
Tanpa basa basi Benedict langsung mencengkeram pundak sebelah kanan Ajax dengan tangan kirinya.
"Guahh!" teriaknya kesakitan.
Walaupun badan Ajax terjatuh ke bawah dengan sangat kencang, tapi ia masih bisa berusaha untuk membalas serangan kepada lawannya.
"Dasar manusia terkutuk!" gertak Ajax.
BAKK!
Dengan tangan kiri yang memegang perisai, Ajax berhasil memukul musuhnya itu dengan cukup kencang hingga cengkeraman yang berada di pundak sebelah kanannya itu terlepas.
Kini Ajax berhasil bangkit kembali, sementara Benedict setelah menerima serangan balasan tadi dengan badannya yang kekar membuat ia tidak mudah untuk terjatuh, bahkan ia tidak kehilangan keseimbangan sama sekali.
Ketika sudah berhasil bangkit dan mengambil ancang-ancang lagi. Ajax langsung fokus melihat ke arah lawannya.
Ia melihat Benedict berusaha untuk menggapai senjatanya yang terlempar di awal tadi.
Ajax lantas berusaha mengambil kesempatan tersebut untuk menyerang Benedict.
"Matilah Sialan!" teriaknya.
Sial bagi Ajax, waktunya benar-benar tidak pas karena ia melancarkan serangannya tersebut dengan cukup lambat, dan pada akhirnya Benedict justru berhasil untuk meraih senjata miliknya.
Kini nasib mereka ditentukan dengan siapa yang paling tangguh karena sebentar lagi Ajax dan Benedict akan menyerang secara berbarengan.
Di sini beruntung bagi Ajax karena ia memilih menyerang menggunakan perisainya.
DAGKK! KRETEK!
Ajax berhasil selamat dari serangan yang dilancarkan Benedict dengan menahannya menggunakan perisai yang ia gunakan.
Namun ada risiko yang harus ia terima karena sepertinya tangan kiri yang menopang perisai di bagian depannya itu terluka cukup parah. Terdengar suara retakan tulang ketika senjata Benedict menghantam perisai yang digunakan oleh Ajax.
"Guakhh!"
Lagi-lagi Ajax mengerang kesakitan.
"Sayang sekali, di usiamu yang masih muda kamu memiliki keterampilan yang sangat bagus. Tapi takdir mempertemukanmu dengan lawan yang salah."
Merasa sudah semakin menguasai jalannya duel. Benedict mengeluarkan kata-kata angkuhnya kepada Ajax sebelum ia mengeksekusinya.
Tapi Benedict sepertinya lupa kalau di situasinya saat ini yang dirugikan justru adalah dirinya. Karena ini adalah perang sungguhan jadi tidak ada yang namanya duel 1 lawan 1.