
Dari dalam hening, Ajax merasa dirinya sedang terjatuh jauh ke dalam suatu kegelapan.
Ia merasa kalau kesadarannya itu sudah kembali, akan tetapi ketika dirinya berusaha untuk membuka matanya ia tidak bisa melihat apa pun.
Apa aku sudah mati? pikir Ajax.
Seperti sedang menanti ajalnya, Ajax berpikir kalau dirinya saat ini sedang berada di tengah-tengah antara hidup dan mati.
Tak lama dari itu tiba-tiba ia melihat nyala cahaya lilin dari samping kanannya. Pandangannya lantas fokus melihat apa yang akan terjadi pada lilin tersebut.
Beberapa saat kemudian muncullah sebuah gambaran masa lalu dari atas api lilin tersebut.
Melihat hal tersebut membuat Ajax menjadi cukup panik, karena menurut rumor yang pernah ia dengar bahwasanya ketika seseorang mulai melihat potongan kisah dari masa lalunya maka kemungkinan besar si orang tersebut sedang mengalami sekarat dan akan berakhir tak selamat alias meninggal.
Akan tapi Ajax tetap ingin melihat apa yang akan muncul dari atas lilin tersebut. Apakah gambaran itu akan memunculkan sebuah penyesalannya di masa lalu atau justru malah memunculkan momen-momen bahagia semasa ia hidup?
Beberapa saat kemudian gambaran tersebut terlihat semakin jelas.
...
(Pandangan dari dalam, gambaran apa yang sedang muncul dari ingatan Ajax di masa lalu)
Beberapa tahun yang lalu
Dari dalam sebuah ruangan terlihat Ajax, Cyrus beserta orang penting lain yang ikut mendampinginya sedang berdiskusi dengan perwakilan dari Wilayah Bocotia.
Wajah dari perwakilan Wilayah Bocotia itu terlihat samar-samar. Kemungkinan besar ini disebabkan karena Ajax tidak begitu ingat jelas bagaimana penampilan dari orang-orang tersebut, tapi yang pasti perawakan dari lawan bicaranya ini sangat besar dan juga kekar.
Hal itu wajar karena Wilayah Bocotia adalah salah satu wilayah yang menjadi pangkalan utama dari angkatan laut terbesar dan tersibuk di kerajaan ini, jadi hal ini membuat perawakan orang-orang yang tinggal di sana juga menjadi semakin kekar karena sering melakukan pekerjaan yang sangat berat, terlebih lingkungannya juga sangat keras.
"Aku mendengar orang-orang barbar yang menyerang perbatasan kemarin dikabarkan telah berhasil melarikan diri, kenapa hal itu bisa terjadi Tuan Cyrus O’Brian? Aku ingin kau memberikan penjelasannya." Orang yang berada ditengah-tengah dari perwakilan Bocotia itu bertanya kepada Cyrus.
Ia menanyakan perihal kenapa mereka membiarkan tentara barbar (Para Penjarah) yang dihadapinya kemarin dibiarkan bebas melarikan diri begitu saja.
"Yah, Maaf kalau telah membuatmu merasa kecewa," Cyrus lantas menjawabnya sambil tersenyum santai.
"Jangan tersenyum seperti itu Tuan Cyrus, apa ada hal yang lucu dari kejadian tersebut?"
Mendengar dirinya ditegur oleh lawan bicaranya itu membuat Cyrus agak kaget, ia pun lantas menghilangkan senyum di wajahnya dan memperbaiki duduknya menjadi lebih tegak lagi.
"Maaf," ucap Cyrus.
Di sini terlihat jelas kalau orang yang sedang menjadi lawan bicaranya ini memiliki jabatan dan kekuatan di bidang politik yang sangat tinggi, hal itu bisa dinilai ketika Cyrus yang menjabat sebagai Seneschal dapat dibentak begitu saja olehnya.
*(Senechal yang sebelumnya author tulis telah diganti menjadi Seneschal karena pengejaannya yang ternyata salah)
"Orang-orang yang selama ini menjadi bawahanmu itu, mereka tidak becus ketika berada di lapangan dan tidak bisa melakukan apa pun ketika sedang menghadapi lawannya."
Orang itu benar-benar mengkritik dan tampaknya mereka juga agak merendahkan sosok Cyrus yang secara tersirat dianggap gagal untuk membina bawahannya.
"Itu..." Cyrus berusaha untuk melakukan pembelaan diri akan tetapi dipotong oleh lawan bicaranya.
"Kalau seperti ini terus, kami tidak akan sanggup lagi membantu kalian untuk menjaga Wilayah Stabia ini dari para penjarah yang terus berdatangan."
Orang itu sangat tidak senang dengan kinerja dari pasukan Stabia yang selama ini tidak pernah membuahkan hasil yang baik, ia pun mengancam untuk pergi kembali ke tempat asalnya dan tidak akan membantu Wilayah Stabia lagi kalau mereka masih menjadi beban bagi pasukannya.
Semua orang yang duduk di sisi Stabia semuanya hanya bisa tertunduk tak tahu harus bicara apa, sambil mendengarkan ocehan orang-orang Bocotia mereka juga ternyata sedang introspeksi diri kalau selama ini mereka memang hanya menjadi beban saja. Padahal saat ini wilayah merekalah yang sedang berada dalam ancaman dari para penjarah.
"Apa gunanya kami berada di sini kalau kaliannya sendiri malah menjadi beban, yang ada lama kelamaan pasukan kita hanya akan mati secara sia-sia."
Ia masih melanjutkan kekesalannya kepada Cyrus.
"Maaf Tuan Cyril Kostas. Akan lebih baik jika aku yang menegur mereka nanti, akan kujamin nanti aku akan menasihati mereka dengan sangat keras. Jadi lebih baik tuan berhenti mengolok-olok bawahanku."
Tiba-tiba seseorang yang duduk dipaling ujung dari sisi kelompok Stabia memotong keluhan orang itu, ia bilang kalau menasihati orang-orang Stabia adalah tugasnya.
Dan ternyata orang yang berbicara terus-menerus kepada Cyrus dari tadi bernama Cyril Kostas.
"Pangeran muda Jurren Hospes. Aku takut kau masih belum cukup pengalaman untuk menasihati orang yang lebih tua darimu. Sekali lagi aku bilang kalau kalian masih menjadi beban maka aku akan langsung menarik semua pasukanku yang ada untuk pulang ke Bocotia." Tak ingin mendengarkan apa yang dibilang oleh pangeran itu, Cyril terlihat masih kesal dengan kinerja pasukan Stabia.
Ternyata dalam diskusi ini, di kelompok Stabia duduk sosok pangeran muda yang bernama Jurren Hospes, ia adalah anak tertua dan juga sekaligus orang yang kelak akan menggantikan posisi ayahnya yang menjabat sebagai Doux di Wilayah Stabia ini.
Setelah selesai mengeluarkan seluruh perasaan kecewa yang ada dalam dirinya, akhirnya orang dari perwakilan Bocotia itu mengakhiri diskusi tersebut.
Sehabis rapat itu selesai. Jurren, Cyrus, Ajax dan 2 orang lainnya berjalan kembali ke tempatnya masing-masing. Mereka semua hanya bisa tertunduk lesu karena tak tahu harus berbuat apa setelah menerima semua keluhan dari rekan koalisinya tadi.
Bruk!
Tiba-tiba ketika Ajax dan lainnya sedang menunduk terdengar suara pukulan yang sangat keras.
Dan ketika Ajax mengangkat kepalanya, ia kaget ternyata suara itu muncul akibat dari pukulan Jurren yang mengarah tepat ke perutnya Cyrus.
Cyrus yang menerima pukulan itu pun hanya bisa merintih kesakitan sambil memegangi perutnya dan sujud mengarah ke arah Jurren.
"Lakukan yang terbaik ketika menjalankan tugas. Kebodohanmu akan membunuhmu dengan cepat jika kau tidak berusaha untuk merubah sikapmu. Seorang Seneschal harusnya dihormati oleh siapa pun yang sedang menjadi lawan bicaramu. Kalau kau ingin mengabdi hingga aku menjadi penguasa kelak, maka selesaikan semua tugas yang telah diberikan tanpa kesalahan sedikit pun."
Jurren benar-benar menasihati Cyrus untuk bekerja dengan benar, ia bahkan mengancam Cyrus kalau dirinya masih tidak bisa becus bekerja maka di masa depan ketika Jurren menjadi seorang Doux, Cyrus akan dibuang olehnya.
Selesai berkata seperti itu, Jurren lantas langsung bergegas pergi menuju tempat istirahatnya.
Ketika ia berjalan menuju dan bertemu dengan sebuah belokan, tiba-tiba saja muncul anak kecil yang kemudian memeluk kakinya Jurren. Anak kecil itu dengan sangat riang berkata, "Kakak, ayo kita main petak umpet."
"Tuan putri, Tuan putri tidak boleh mengganggu pangeran yang sedang sibuk bekerja. Ayo kita main berdua lagi saja."
Kemudian muncul sosok ibu tua yang mengejar tuan putri tersebut, ia menegur anak kecil itu untuk tidak mengganggu kakaknya yang sedang sibuk.
"Apa yang dikatakannya itu benar. Maaf kakakmu ini sedang sibuk, kau main lagi saja sana bersama bibi itu."
Jurren dengan dinginnya menolak ajakan main dari adiknya tersebut.
"Uhmm... Kakak jahat.."
Si adiknya itu kemudian lari kembali ke belakang, ia sedih karena kakaknya sudah menolak ajakan main darinya.
| Reminder (Tuan putri yang disebut adalah sosok yang sama dengan yang ada di Episode 15 - Penghakiman Tidak Sempurna) |
Sementara Cyrus yang masih mengerang kesakitan diangkat oleh Ajax.
"Tuan apa anda bisa berdiri?" ucap Ajax.
"Ahh... Terima kasih."
Ajax kemudian mengangkat badan Cyrus dan menopang tangannya supaya bisa berjalan tanpa merasa sakit yang berlebih.
"Terima kasih anak muda," ucap Cyrus.
Mendengar dirinya disebut anak muda oleh Cyrus membuat Ajax yang ada dimasa lalu dan dimasa kini menjadi kebingungan, kenapa Cyrus memanggilnya dengan sebutan anak muda bukan dengan namanya.
"Hah? Apa yang terjadi? Perasaan tuan Cyrus selalu memanggilku Ajax."
Ajax yang sedang menyaksikan adegan masa lalunya itu merasa sangat heran.
"Ehh... kenapa tuan memanggilku anak muda?" tanya AJax yang sedang menopang Cyrus.
"Lantas memangnya siapa namamu?" tanyanya.
Seketika dunia yang sedang menampilkan masa lalunya berubah jadi sangat suram dan suasanya berubah menjadi merah pekat.
Semua orang yang sedang Ajax lihat dari tampilan masa lalunya itu kemudian menghilang, tinggal menyisakan Cyrus seorang yang tampak sedang sekarat.
"Apa yang sedang terjadi?" heran Ajax.
"Ajax... Ajax...," ucap Cyrus yang sedang merintih kesakitan.
Darah terlihat mengalir deras dari dalam perutnya yang terluka bolong dengan lubang yang cukup besar.
"Tuan Cyrus, Apa yang sedang terjadi?" AJax semakin bingung dengan kondisi yang sedang dialaminya.
"Bajingan pengkhianat kau Ajax...! Aku bersumpah akan selalu mengutukmu di alam kematian sana...!" gertak Cyrus.
Baru pertama kali Ajax melihat tuan yang dikagumi olehnya itu berkata demikian.
"Tidak... Apa yang sedang kulihat pasti bukanlah tuan Cyrus yang kukenal. Apa sebenarnya yang sedang kualami?" tambah heran AJax.
Ketika dirinya merasa sangat panik karena tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya, tiba-tiba muncul suara, "Woi... Woi..."
Ajax merasa wajahnya ditampar oleh seseorang, tapi ia tidak tahu siapa yang melakukannya, dan Ajax juga merasa tidak ada orang di dekatnya.
Sial! Apa itu adalah dewa kematian? Apa gambaran tadi adalah pertanda kalau aku akan pergi ke neraka!? jika aku pergi ke neraka karena telah meninggalkan tuan Cyrus di medan perang maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Ajax pikir sosok yang memanggil dan menamparnya adalah dewa yang sedang menjemput kematiannya, ia juga berpikir sambil menangis kalau pada akhirnya ia akan di masukan ke dalam neraka karena telah membiarkan tuannya bertarung menghadapi Redjack sementara dirinya malah kabur.
"Woi...!"
Tak lama suara itu kembali muncul, dan pipinya juga lagi-lagi ditampar oleh sosok misterius itu. Ajax hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya.
"Woi! Bangun!"
Ketika disuruh bangun, Ajax kemudian berusaha membuka matanya dan ternyata sosok yang dari tadi menampar dan memanggil-manggil dirinya adalah Hengki.
"Hah? A-apa yang sedang terjadi?" herannya.
Ajax kemudian bertanya kepada Hengki apa yang sedang terjadi.
"Sudah agak minggir sana, aku mau ikut tidur."
Hengki tampak tidak peduli dengan kondisi AJax, ia ternyata dari tadi berusaha untuk membangunkannya agar dirinya bisa ikut tidur di dalam kereta kuda yang telah di alih fungsikan itu.
"Ah Baiklah."
Ajax yang masih linglung mengiyakan perintah Hengki begitu saja, ia kemudian agak bergerak ke samping supaya Hengki dapat tempat untuk tidur.
Hengki tanpa pikir panjang kemudian membaringkan badannya begitu saja, ia berkata kepada Ajax, "Aku bersyukur kau masih bisa hidup."
Apa aku masih hidup? Ajax masih belum percaya kalau dirinya ternyata masih hidup.