
Ketika Benedict sudah amat sangat kelelahan, ia mulai kehilangan harapan untuk bertahan hidup.
Meskipun ia masih bisa bertahan akan tetapi ketika melihat para tentara kerajaan yang tak ada habisnya membuat Benedict mengalami stres yang sangat berat.
Ia melihat lawan yang sedang berada di sekelilingnya dan diam sejenak sambil menatap mata mereka satu persatu kemudian berteriak dengan kencang, "Whaaaaaaaah!"
Kelopak matanya bergetar dengan sangat hebat pada saat dirinya berteriak.
Orang yang melihat perilakunya tersebut dibuat merinding ketakutan.
Namun meskipun para tentara kerajaan merasa takut kepada Benedict tapi mereka masih mencoba untuk menumbangkannya, mumpung orang mengerikan itu mulai mengalami stres.
Slash! Slash!
Akan tetapi tetap saja, Benedict masih terlalu tangguh untuk ditumbangkan begitu saja.
Benedict berhasil menebas musuhnya hingga tewas walaupun kini serangannya mulai melemah, terlihat ketika ia membutuhkan 3 sampai 4 kali tebasan hanya untuk menumbangkan satu orang saja.
ketika Benedict berusaha untuk tidak kehilangan kesadarannya, tiba-tiba saja musuh utamanya datang.
Roderick dengan perlahan berjalan ke arah Benedict. Ia menundukkan kepalanya ke bawah untuk melihat potongan-potongan tubuh dari para tentaranya yang sudah tewas akibat ulah dari apa yang telah diperbuat oleh kapten pemberontak yang memimpin di garda terdepan itu.
Sangat iba hatinya ketika melihat tentara yang ia pimpin tewas dengan sangat mengenaskan seperti ini.
Ketika sudah semakin dekat, Roderick mengangkat kepalanya dan kini ia sudah bisa melihat siapa orang yang bertanggung jawab atas kematian para tentaranya.
Setelah semakin mendekat kini mereka berdua sudah saling bertatap-tatapan.
Roderick memandang Benedict dengan tatapan kesalnya.
Swishh!
Sementara Benedict mengibaskan senjatanya supaya bersih dari darah yang menempel sambil berkata, "Apa kau orang yang bernama Roderick itu? Orang yang digaung-gaung kan oleh pasukanku."
"Iya, kalau boleh tahu siapa kau?"
Roderick kemudian membalasnya dengan sebuah pertanyaan lanjutan, ia menanyakannya dengan sangat tenang sambil tak sedikit pun menatap ke arah lawan bicaranya.
"Persetan kau!"
Sangat jarang sekali melihat Benedict tidak menyombongkan siapa dirinya kepada lawan yang sedang ia hadapi. Kini ia justru malah mengeluarkan kata makian kepada Roderick dengan nada kesal.
"Apa seperti ini cara orang kerajaan bertarung?"
Benedict menganggap taktik yang dilakukan oleh pihak kerajaan sangat tidak sesuai dengan apa yang biasanya mereka sombongkan selama ini.
"Aku tidak ingin menjawabnya karena kau sudah mengabaikan pertanyaanku tadi."
Roderick tidak ingin menjawab kekesalan yang dilontarkan oleh lawannya tersebut.
"Jika kita beradu kekuatan di awal pastilah aku yang akan menang, tapi karena kau menggunakan cara licik seperti ini aku tidak bisa menggunakan seluruh kekuatanku. Apa orang kerajaan sepertimu masih bisa bicara mengenai harga diri disituasi seperti ini?!" Marah Benedict.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan. Lagi pula orang yang merancang strategi ini bukanlah orang kerajaan, jadi percuma saja kalau kau memaki diriku seperti itu."
Roderick sedikit menyinggung kalau otak dari taktiknya ini bukanlah orang yang berasal dari kerajaan, jadi ia bilang percuma saja kalau musuhnya itu terus-menerus memaki dirinya.
"Omong kosong macam apa itu?"
Benedict tampak tidak percaya dengan apa yang Roderick utarakan. Ia berpikir tidaklah masuk akal kalau pihak kerajaan menggunakan orang luar untuk mengatur jalan dari suatu pertempuran.
Wajar saja kalau ia tidak percaya, karena kubu kerajaan punya segudang sosok yang bisa mengatur taktik dalam suatu pertempuran. Apalagi kalau diingat orang kerajaan selalu punya kebiasaan untuk meremehkan orang luar jadi apa yang diucapkan oleh Roderick baginya sangat tidak masuk akal.
Roderick lantas melihat ke arah tumpukan tentara yang telah dibunuh oleh Benedict untuk ke sekian kalinya lalu dengan kesal berkata, "Kurasa dunia akan lebih indah tanpamu, ya. Kau lebih pantas untuk hidup di neraka."
Ia meluapkan kekesalannya setelah melihat musuhnya bertarung dengan sangat kejam dan beringas. Ia bilang kalau Benedict akan lebih pantas hidup di neraka saja dengan kelakuannya yang seperti itu.
Setelah mengatakan hal tersebut Roderick lalu menodongkan pedangnya ke arah Benedict.
Melihat Roderick menodongkan senjata ke arah dirinya, tanpa pikir panjang ia langsung lari ke arah lawannya tersebut.
Roderick kemudian ikut lari untuk menghadapinya, kini mereka sebentar lagi akan saling beradu kekuatan.
Swing! Grab! Slash!
Roderick terlebih dahulu mengayunkan pedangnya ke arah Benedict, Namun sayang serangannya masih bisa dibaca dan dengan mudah dihindari oleh Benedict.
Roderick lantas bergerak ke arah belakang lawannya supaya Benedict mau tidak mau harus membalikkan badannya dan dengan begitu perlahan ia akan mulai kehilangan keseimbangannya.
Benar saja, ketika Benedict membalikkan badan, Roderick berhasil untuk menebas pergelangan tangan yang terlambat untuk mengikuti pergerakan badannya itu.
"Hwahh!"
Setelah sekian lama, akhirnya Benedict merintih kesakitan.
Ia tak bisa lagi menggunakan tangan kanannya itu dan membuat senjatanya terjatuh.
Meskipun ia kehilangan senjatanya, tetapi Benedict masih berusaha untuk menendang ke arah kepala Roderick selagi lawan yang ia hadapi itu sedang mencoba untuk membelakangi badannya lagi.
Bang!
Dengan sigap salah satu ajudan yang tadi ikut bersama Roderick, menahan tendangan yang dilayangkan oleh Benedict.
Winnng!
Meskipun tendangannya berhasil ditahan tetapi kekuatan yang dimiliki oleh Benedict benar-benar gila, ia malah mementalkan ajudan yang menahan kakinya tersebut.
Akan tetapi Roderick tampak sama sekali tidak panik ketika melihat anak buahnya terpental seperti itu.
Clang! Clang!
Mereka berdua lantas melanjutkan pertempurannya dengan sangat sengit.
Slash!
Tetapi sekali lagi bagi orang realistis seperti Roderick tidak ada yang namanya duel satu lawan satu di tengah-tengah peperangan.
Ketika serangan yang diberikan olehnya ditangkis dengan begitu mudah oleh Benedict, satu persatu sabetan dari tentara lain dengan terukur berhasil mengenai badan yang menjadi titik buta bagi Benedict.
Punggungnya kini terluka dengan sangat parah.
Karena pertarungannya terus terusan diganggu oleh orang lain, Benedict mulai kehilangan kontrol atas emosinya. Ia mulai bertarung dengan sangat membabi buta.
Cleb!
Dan ketika Benedict sudah bertarung secara membabi buta seperti itu, Roderick dengan santainya berhasil untuk menusuk rusuk bagian kiri Benedict dengan tusukan yang sangat dalam.
Ketika Roderick melepaskan tusukannya. Darah mengalir deras keluar dari tubuh lawannya tersebut.
"Hwahh!"
Pada saat itu Benedict semakin menggila lagi. Ia mengayun-ayunkan pedangnya dengan sangat panik takut musuh berhasil untuk mengeksekusinya.
Benar saja karena hal gila itu tak ada satu pun yang berani untuk mendekatinya termasuk Roderick.
Dan ketika semuanya sudah tenang, Benedict berkata, "Lihat! Kalian tak cukup hebat untuk membunuhku. Kau bukan siapa-siapa. Namamu tak pantas untuk digaung kan olehku."
Roderick lantas berjalan pelan ke arah Benedict yang terlihat sudah sekarat itu.
Sadar jika dirinya sudah ada di ambang kematian, Benedict langsung membentangkan tangannya sambil berkata, "Namaku adalah Benedict! petualang paling hebat didunia ini dan persetan denganmu sialan!..."
Di tengah omongannya itu, Roderick mulai berlari menghampirinya.
"...Aku tidak pernah kalah!" ucap Benedict sambil memejamkan matanya.
Cleb!
Ketika Roderick masih berlari agar bisa segera mengeksekusinya tiba-tiba lawannya itu malah bunuh diri dengan menusuk tepat ke arah jantungnya menggunakan belati yang ia pungut dari sebelah kakinya.
Dan akhirnya Benedict pun tewas.