
[Sebelum mulai membaca. Aurhor ingin memberikan pengumuman dulu kalau ada sedikit revisi di Episode 45.1. Di mana author typo dalam menyebutkan jumlah tentara yang dipimpin oleh German, seharusnya jumlahnya bukan 1000 melainkan 10.000] Lanjut.
Ketika keadaan sedang kacau-kacaunya, pasukan yang dipimpin oleh German dibuat kaget lagi karena, "Ada Unit musuh yang datang dari depan! Terlihat sekitar 5000 personel!", "Apa?!", "Mustahil! Kapan mereka memiliki kesempatan...?!", "Mereka sudah sangat dekat, Kapten!"
Pasukan yang berada di inti pertahanan dari markasnya German itu menjadi sangat panik, mereka tidak sadar kalau pasukan kerajaan selama ini mengincar para pemberontak yang ada di depan untuk menjauh dari pertahanan mereka.
Pasukan inti dari kubu pemberontak memiliki pengalaman yang setara dengan pasukan kerajaan, tetapi betapa mudahnya mereka dikelabui seperti ini. Bahkan mereka juga tidak sadar kalau pasukan yang berada di garda depan sedang melakukan kesalahan bodoh yang sangat fatal. Yakni mengejar Ajax dan sisa pasukannya menjauh dari posisi pertahanan.
German juga kaget karena ia pikir, musuh bergerak terlalu cepat dari perkiraannya.
Tak! Tak!
Ktuplak! Ktuplak!
"Lihat itu ada bendera berkibar di sana! Itu pasti markasnya! Pemimpinnya sudah ada di depan kita!" Jan yang berada di paling depan dan memiliki penglihatan yang sangat tajam, melihat bendera berkibar di depan mereka. Ia yakin kalau bendera itu adalah simbol dari markas utama musuh.
'Pemberontak..' , 'Dia.. (Merujuk pada German)' , 'Dendam untuk tuan Alfred'. Tampak ada tiga pasukan yang mengekor di belakang Jan, mereka adalah sisa bawahan Alfred yang masih selamat. Sepertinya mereka semua memiliki dendam kesumat kepada para pemberontak, karena telah membunuh Alfred dengan cara yang sangat keji.
Slash! Slash!
"Masuk! Lurus ke depan!" Sambil menebas lawan-lawannya. Jan memerintahkan tentaranya untuk masuk ke dalam pertahanan musuh dengan cepat.
"Apa?!" kaget Hengki.
Tampaknya kecerdikan dan keberuntungan yang selalu dimiliki Hengki kali ini tidak memihak kepadanya. Ketika Jan dan ketiga pasukannya sudah semakin mendekat ke markas lawan.
Hengki, Roderick dan yang lainnya justru malah dicegat oleh musuh yang berhasil menjepit mereka.
Slash! Slash!
Ketika ada dua tentara yang mengacungkan pedangnya ke arah Hengki, dengan cekatan Roderick menebas mereka berdua dan berhasil menyelamatkan Hengki.
I-Ini buruk!... Ketika dilihat dari atas, jelas sekali kalau Roderick, Hengki dan pasukan yang lain telah...
...Mereka menangkap Kami! Hengkisadar kalau dirinya tak berhasil masuk ke markas lawan. Mereka kini sudah terjebak di dalam kerumunan musuh.
Ktuplak! Ktuplak!
"Minggir kau sialan!" Ketika pasukan Roderick berusaha untuk menembus apitan musuh itu, mereka dikejutkan karena..
Slash! Mberr!
Tentara pemberontak yang biasanya lemah sekali ketika saling berhadapan, kali ini justru dengan mudahnya menebas tentara kerajaan. Bahkan saking mengerikannya setiap orang yang ditebas oleh mereka, pasti terpental dari atas kudanya.
"Apa?! orang-orang ini kuat!" kaget Hengki.
"Mereka bertarung menggunakan teknik Suku Makhil...?! Apa orang-orang ini... Adalah kelompok yang telah menyerang rombongan kami itu?!" Ketika Roderick memperhatikan pakaian dan cara bertarung para pemberontak itu, ia sadar kalau mereka mirip betul dengan orang yang telah menyerang rombongan Minna di beberapa hari yang lalu.
"Bunuh mereka semua!" perintah salah satu kapten dari kubu pemberontak yang sangat tangguh itu.
Woahhh! jawab mereka.
Clang!
"Tentara pemberontak ini sangat kuat," ucap salah satu tentara kerajaan setelah berhasil menangkis serangan musuh.
"Apa mereka tidak ikut bertarung melawan Unit Stabia?!" panik tentara yang lain.
"Orang-orang ini dikirim langsung dari markas musuh, itu berarti di sana pertahanannya sudah sangat keropos. Jika kita berhasil keluar dari sini, maka tidak ada lagi kekuatan yang tersisa untuk melindungi pimpinan mereka!"
Hanya dalam beberapa menit. Hengki menyadari sesuatu, kalau tentara pemberontak yang tangguh ini berasal dari inti pertahanan musuh. Maka dari itu keluar dari kepungan ini dengan secepat mungkin adalah solusinya.
Jleb! Jleb!
Satu demi satu, Hengki berhasil menembak anak panahnya tetap ke badan musuh.
Sementara Roderick tampak sedang bertarung dengan sekuat tenaga.
"Kalian Semua..."
Clang! Mberr!
"...Jangan menghalangiku!"
Meskipun sudah tua, tapi kemampuan bertarung Roderick masih belum sirna. Ia mengamuk bak orang kesurupan, bahkan bukan dirinya saja yang mengamuk, kuda yang ditumpangi olehnya juga ikut membabi buat dengan menginjak semua pemberontak yang sedang terkapar.
.
"K-Kapten! Lihat ke belakang kita!..." teriak tentara yang mengekorinya.
Jan dan ketiga tentara itu kemudian sadar, kalau pasukan yang lain sedang terjebak di belakang.
"...Mereka semua sedang terjebak di sana!" panik si tentara tersebut.
"Apa?!" Jan juga malah ikut panik.
Ke empat orang itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
.
"Apa yang kau lakukan manusia kelaparan! Terus, masuk ke dalam markas musuh! Musuh bisa saja kabur ke dalam kota! Jadi ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk melawannya! Kau harus menghadapinya!" Hengki yang melihat bahwa ada empat orang yang berhasil lolos dari kepungan, langsung berteriak. Ia menyuruh mereka untuk segera masuk ke markas atau inti pertahanan musuh, yang di mana tempat itu adalah tempat salah satu pimpinan pemberontak berada.
Hengki yang sudah pernah melihat Jan namun tidak tahu namanya, memanggil ia dengan sebutan 'Si manusia kelaparan', karena ketika mereka berdua bertemu Jan tampak sangat kelaparan. Dan mereka berdua juga belum sempat berkenalan
.
Jan yang mendengar perintah itu kemudian menjawab, "Baiklah!"
.
Slash! Slash!
"Hah.. Hah.. Hah.., Majulah, tuan Jan! Jangan pikirkan kami, penggal kepala pemimpin dari pemberontak itu! Anda harus membalaskan dendam kami!" Sambil terengah-engah, salah satu pasukan Jan yang ikut terjebak dan yang sudah menemaninya sebelum Alfred tewas, berkata kepadanya. Ia menyuruh Jan untuk mengalahkan pemimpin pemberontak yang ada di depan sana yakni German demi balas dendam atas kematian Alfred.
.
Jan yang mendengar teriakan dari salah satu pasukannya itu langsung bersemangat. Ia ingat kalau ada dendam yang harus dibayarkan.
.
"Bunuh mereka!" teriak pasukan pemberontak yang semakin mengapit tentara kerajaan.
Slash!
Ketika para pemberontak itu mempererat apitannya. Tentara yang berteriak kepada Jan tadi pun kemudian tewas ditebas musuh.
"Tidaaak!" teriak Jan ke arah tentaranya yang terbunuh itu.
"Kami akan tetap di sini!..." tiba-tiba salah satu tentara yang berada di sisi Jan bilang kalau mereka bertiga akan tetap diam di tempat itu
"...Musuh bisa saja mengejar anda supaya tidak masuk ke dalam markas tersebut. Oleh karena itu aku akan menahannya di sini. Supaya mereka tidak bisa mengejar anda, kapten."
Ternyata tentara itu memilih diam di posisinya supaya ia bisa menjamin kalau tidak ada yang mengejar Jan untuk mencapai markas musuh.
Jan sadar kalau ia tidak bisa memaksa tentaranya untuk pergi saja menyelamatkan diri, karena itu akan melukai harga dirinya. Jan kemudian hanya bisa berkata sambil meratapi kesedihan, "Oke, aku mengandalkanmu."
"Aku.. Aku akan membayar semuanya!" ucapnya dengan tatapan tajam.
...
Dari dalam inti pertahanan musuh terlihat kalau sekarang hanya tersisa German seorang dengan beberapa pasukan yang bertugas untuk memegang bendera di depannya, pasukan itu sama sekali tidak bisa bertarung.
"Pertaruhan terakhirku kali ini, membuat aku harus kehilangan tentara yang sangat berharga itu. Aku mengikhlaskan pasukan kesayanganku demi membalaskan dendam atas kematian Benedict..."
German sadar kalau strateginya untuk menjebak musuh dengan cara mengapitnya itu akan membuat ia kehilangan banyak sekali pasukan berharganya.
Ktuplak! Ktuplak!
"...Semoga pertaruhanku ini berjalan sesuai dengan apa yang kuinginkan."
Sambil berkata seperti itu, dari balik debu muncul sosok Jan yang terlihat mendekat ke arah German.
Mereka berdua kini saling berhadap-hadapan.
{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}
(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 45.2 yang berjudul 'Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)' ini.
Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.
Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.
(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v