THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 41 - Berlebihan



Ketika malam tiba, semua orang berbahagia sambil mengadakan pesta singkat untuk merayakan kemenangannya karena telah berhasil membunuh salah satu pentolan dari kubu pemberontak.


Bahkan mereka beruntung karena asap yang timbul akibat terbakarnya hutan terbang ke arah utara yang membuat kelompok pemberontak yang lain dipaksa untuk mundur jauh ke Kota Blum.


"Whaha... Bertarung dengan orang jelata itu membuat aku ingat momen ketika aku melawan para penjarah dulu."


Sambil meneguk arak yang ada ditangannya, Dominic bilang kalau dia teringat masa-masa ketika dirinya berjaya melawan para penjarah dulu.


"Wah... Memangnya seperti apa pertarungan yang ada alami Tuan Dominic?"


Pancing salah satu kapten yang masih muda itu yang sedang berada di samping Dominic. Ia ingin tahu seperti apa kenangan yang teringat oleh tuannya itu. Karena pada saat kelompok penjarah datang untuk menyerang Kerajaan, dirinya masih sangat muda dan tidak juga ikut berperang.


"Jadi dulu..."


\==============


Flashback


Dahulu kala, sempat ada momen di mana Dominic beserta pasukan yang dipimpinnya bertarung menghadapi para penjarah di dalam area Perbukitan Avis.


Pada saat itu Dominic masih menjabat sebagai Kapten IV sekaligus ajudan dari Panglima Attica yang terdahulu.


"Kelak akulah orang yang akan dikenang sebagai pahlawan dari Attica, putra dari bangsawan Basin Harvey, Namaku adalah Dominic Harvey!" Setelah memperkenalkan siapa dirinya, Dominic lantas memacu kudanya dan memimpin tentaranya untuk maju menghadapi musuh yang ada di depannya.


Pada saat itu Dominic membawa panah andalannya yang berukuran cukup besar.


\==============


"Aku lantas melepaskan anak panah itu, dan langsung berhasil menancap tepat ke leher petinggi dari para penjarah yang sedang aku lawan pada saat itu."


Dominic bercerita kalau dirinya dulu mampu menghabisi orang penting dari pihak lawannya hanya dengan satu tembakan saja.


"Orang dari Bocotia yang mendengar kabarnya dari perkemahan, langsung berdiri dan bersorak gembira," lanjutnya.


Pada momen itu juga dikabarkan kalau pasukan dari Bocotia sedang ikut membantu mempertahankan Wilayah Attica dari gempuran para penjarah.


"Ketika kudengar kabar kalau Wilayah Stabia jatuh ke tangan para pemberontak, api semangatku yang sempat padam kembali menyala."


Dengan percaya dirinya, Dominic bilang kalau ia sangat senang ketika mendengar kabar kalau pemberontak berhasil menguasai Wilayah Stabia, karena hal itu membuat dirinya menjadi semangat lagi untuk terjun kembali ke medan perang.


"Kalau aku membicarakan semua pengalaman perangku yang terdahulu, maka butuh waktu berhari-hari untuk menyelesaikannya. Hahaha..." ucap Dominic.


Roderick yang mendengar rekan jauhnya itu bercerita mengenai masa lalunya, ia hanya bisa memandangnya dengan tatapan sinis.


Dalam hatinya Roderick hanya bisa berkata, Bukankah dulu yang paling berjasa pada saat mempertahankan wilayahnya adalah pasukan bantuan yang berasal dari Bocotia? Rasanya dia hanya membesar-besarkan kisahnya saja.


"Haha... Aku merasa sungkan jika terus membicarakan tentang prestasiku di masa lalu di hadapan Tuan besar kita yakni Tuan Roderick," ucap Dominic sambil melihat ke arah Roderick.


Dominic kemudian menyudahi bercerita mengenai masa lalunya dulu.


ia pura-pura merasa sungkan untuk bercerita lebih lanjut karena ada Roderick yang memiliki pamor lebih besar daripada dirinya.


"Tak perlu sungkan begitu Tuan Dominic, lagi pula aku sudah bukan siapa-siapa lagi sekarang."


Roderick lalu membalasnya dengan sangat merendah kepada Dominic di hadapan semua orang yang ada di sana.


Hengki yang secara terpaksa ikut nimbrung di dalam pesta itu merasa sangat tidak nyaman.


Apa mereka selalu membicarakan topik tidak penting seperti ini ketika sedang berkumpul? Jelas sekali kalau semuanya hanyalah membicarakan hal omong kosong saja. Ketika mendengar kisah yang diceritakan oleh Dominic, Hengki sadar kalau sebagian dari kisah yang diceritakannya itu sudah dibesar-besarkan olehnya


Karena merasa semua yang sedang dibicarakan sangat tidak penting dan juga tidak berguna untuk menambah wawasannya mengenai dunia ini, Hengki lantas berdiri dan berjalan ke arah kereta kuda yang dipakai untuk tidur siang olehnya beberapa saat yang lalu.


Bukannya membahas strategi yang akan diterapkan untuk pertarungan selanjutnya, mereka malah Membicarakan hal tidak berguna seperti itu, kesal Hengki.


Roderick yang melihat Hengki pergi begitu saja berniat untuk ikut menyusulnya.


"Kalau begitu, apa Tuan Roderick berkenan untuk menceritakan tentang kisahnya dulu? Kudengar anda sangat hebat ketika bertarung satu lawan satu pada saat anda masih muda dulu."


Elias kemudian menanyakan tentang kisah masa lalunya Roderick yang terkenal hebat dimana-mana, ia berharap Roderick berkenan untuk menceritakannya.


"Ah... Tuanku dulu memang sangat mahir dalam berpedang, benarkan Tuan Roderick?" Bobs kemudian terpancing untuk menyuruh Roderick menceritakan kisahnya dulu kepada semua orang yang sedang ada di sana.


Karena dirinya dipaksa untuk bercerita, akhirnya niat Roderick untuk menyusul Hengki kemudian menjadi sirna.


"Umm... Itu..."


...


Setibanya Hengki di kereta kuda yang sedang ia tuju, ia melihat Ajax yang masih terbaring sakit sedang melamun sambil melihat ke atas langit.


Maafkan aku tuanku... Mimpi yang dialaminya siang tadi masih terngiang di pikirannya, ia semakin merasa bersalah atas kematian tuannya Cyrus.


"Bagaimana lukamu?" tanya Hengki kepada Ajax.


"Eh... sejak kapan anda ada di sini, Umm... Sepertinya tulang lengan sebelah kiriku telah patah. Aku sama sekali tidak bisa menggerakkannya."


Ajax kemudian melihat ke arah tangan kirinya yang sudah diperban itu, ia merasa tangannya mengalami luka yang sangat parah sampai-sampai ia tidak mampu menggunakannya.


"Tapi tenang saja, lenganku masih bisa untuk disembuhkan kok," lanjut Ajax.


Ia bilang kalau lengannya masih bisa sembuh nanti.


Crauk!


"Byaguslah (Baguslah)"


Hengki lega setelah mendengar kalau luka yang dialami ditangan kirinya Ajax masih mungkin untuk disembuhkan.


Ia kemudian berkata 'Baguslah' sambil memakan buah apel yang dirinya ambil ketika berada di tengah pesta tadi.


"Nih, makan ini. Siapa tahu bisa membuat tulangmu sembuh dengan cepat."


Hengki kemudian memberikan dua buah apel kepada Ajax.


"Terima kasih."


Ajax kemudian menerima apel tersebut dengan tangan kanannya, ketika ia mengambil itu Ajax merasa sedikit kesakitan karena luka yang ada di pundaknya ternyata masih terasa ngilu.


Sementara orang yang ada di samping Ajax, ternyata ia dari tadi hanya bisa melihat tanpa berani menyanggah pembicaraan antara Ajax dan Hengki.


Aku juga mau apel itu, ucapnya dalam hati.


Mata orang itu terlihat berbinar, ia juga ingin makan apel yang sedang Ajax dan Hengki genggam.


Hengki kemudian melihat ke arah orang yang dari tadi menatap apel yang ada ditangannya dengan ekspresi yang sangat memprihatinkan itu.


Matanya yang berbinar menandakan dengan jelas kalau orang itu juga menginginkan apel yang sedang di pegang oleh dirinya dan juga Ajax.


"Umm... Apa kau juga mau?" tawar Hengki kepada orang tersebut sambil menyodorkan satu apel yang sengaja disimpan di sakunya Hengki.


Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, orang itu langsung mengambil atau bahkan bisa dibilang merebut apel yang disodorkan kepada dirinya.


Crauk! Crauk!


Dengan lahap ia menghabiskan apel tersebut dengan sangat cepat.


Hengki dan Ajax yang melihatnya makan apel itu kemudian hanya bisa diam.


Dan ternyata orang yang kelaparan itu adalah si Kapten muda Jan, Kapten II yang sempat ditawan oleh Benedict selama 1 hari di markasnya.


{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}


(っ^▿^)


Terima Kasih sudah membaca episode 41 yang berjudul 'Berlebihan' ini.


Untuk yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya.


Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya bisa tulis saja langsung di kolom komentar yang ada di bawah yah.


👋≧◉ᴥ◉≦