THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain



Di hari pertama ini, sebagai akibat dari Pasukan Ajax dan Pasukan Roderick yang bertindak sendiri. Terdapat keuntungan besar bagi pihak kerajaan dalam misinya merebut kembali Kota Blum.


Tetapi jika kita beralih ke medan perang lain. Lokasi di mana Bobs sedang menghentikan pasukan Elliot Lascaris yang berusaha untuk memberikan bala bantuan untuk Pasukan Gemran, masih belum diketahui siapa yang akan mendominasi pertempuran.


Dan untuk pasukan pemberontak lainnya, seperti Pasukan Redjack dan Hubert masih diam di dalam kota sembari menunggu kabar terkini mengenai perang yang sedang terjadi.


Sedangkan dari kubu kerajaan seperti Pasukan Attica, mereka masih ingin menunggu momen yang tepat dulu untuk mengerahkan pasukannya maju menyerang.


\= = = = = = = = = = = = = =


Situasi terkini dari pasukan yang dipimpin Bobs.


Mereka sekarang sedang sibuk bertarung dengan para pemberontak yang dipimpin oleh kapten muda Elliot.


Hyahh!


Clang! Clang!


"Unit satu dan unit lainnya, lakukan semua yang kalian bisa lakukan untuk menahan para pemberontak itu! Jangan biarkan mereka bergerak ke arah Pasukan yang dipimpin tuan Roderick!"


Pasukan Chandax terus mengarahkan pasukannya untuk menahan laju dari pergerakan pasukan pemberontak yang hendak pergi ke arah di mana German bertarung.


Mereka dikerahkan langsung oleh panglima tertingginya Bobs Pintarr.


"Siapa yang memimpin kalian ini?!" Bobs tampak sedang menginterogasi tentara pemberontak yang berhasil mereka tangkap.


Mulanya mereka semua tutup mulut tak ingin memberitahu siapa yang memimpin para pemberontak ini.


Akan tetapi setelah diancam dengan berbagai cara, salah satu dari orang-orang itu membuka mulut dan berkata, "Beliau adalah kapten muda Elliot Lascaris, tuan."


"Elliot Lascaris? Siapa dia? Aku belum pernah mendengar namanya." Salah satu tentara yang ikut menginterogasi kemudian bertanya-tanya. Siapa itu Elliot Lascaris, mereka tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.


"Bagaimana ini tuan Bobs? Kita sama sekali tidak tahu seberapa kuat musuh," bisik William kepada Bobs.


Aku mengkhawatirkan sesuatu. Para pemberontak ini seragamnya sama persis dengan kelompok yang menyerangku beberapa hari yang lalu. Apa Elliot itu adalah orangnya? Aku harus lebih berhati-hati lagi. Ketika Bobs memperhatikan seragam para pemberontak. Ia juga sadar kalau seragam itu identik sekali dengan pakaian yang digunakan oleh kelompok yang menyerangnya beberapa hari yang lalu.


"Tugas kita kali ini hanyalah menahan mereka selama mungkin. Ketika tuan Roderick sudah menyelesaikan pertarungan, baru kita pikirkan lagi langkah apa yang akan kita lakukan selanjutnya."


Dari caranya memimpin, Bobs sepertinya orang yang tidak punya rencana jauh ke depan. Ia memimpin dengan cara berimprovisasi sesuai dengan keadaan yang terjadi.


"Baik!"


Jawab serentak para petinggi yang ada di samping Bobs.


\= = = = = = = = = = = = = =


Sedangkan di waktu yang sama. Unit yang hampir terlupakan, yakni Unit Stabia yang dipimpin oleh Ajax bersama pasukannya yang sudah tersisa sedikit masih bergerak melarikan diri sejauh mungkin.


Dan para pemberontak yang mengejarnya masih belum sadar kalau mereka sedang masuk ke dalam jebakan.


Ktuplak! Ktuplak!


"Hahh... Hahh... Hahh..." Semua orang tampak sangat kelelahan.


"Kita sudah melarikan diri cukup jauh tuan Ajax!" ucap salah seorang tentaranya.


"Jangan sampai kalian hilang konsentrasi!" Ajax memperingati pasukan supaya tetap fokus, walaupun fisiknya sudah sangat lelah.


"Baik Kapten!" jawab pasukannya dengan sangat kencang.


"Kau, berapa yang tersisa dari tentara kita?!" tanya Ajax kepada tentara yang di awal berbicara kepadanya.


"Kurang lebih 35 orang tuan, dan kebanyakan dari mereka sudah terluka," jawabnya.


Ajax sedikit syok ketika mendengar jumlah tentaranya sudah berkurang dengan sangat drastis.


"Aku paham..." ucap Ajax sambil merenung sedih.


"Kita sudah membayar semua dosa kita kepada tentara Stabia yang lain. Saya pikir seharusnya sudah tidak ada lagi penyesalan dalam hati kita semua," tentara itu berusaha untuk memotivasi kaptennya agar bisa tabah.


"Aku paham. Tapi tetap saja aku tidak tega mendengarnya." Ajax berusaha untuk mengikhlaskan tentaranya yang sudah gugur.


"Itu semua demi tanah tempat kita lahir. Mereka yang mati pasti menyadari itu." Untuk terakhir kalinya, si tentara itu berusaha untuk membuat kaptennya tabah.


"Ya... Kalau begitu, bagaimana keadaan pasukan tuan Roderick dan tuan Hengki?" Ajax kemudian mengalihkan pembicaraan dengan bertanya perihal kabar Hengki dan Roderick.


Biasanya ketika salah satu pemimpin tewas. Pertempuran otomatis akan terhenti dan pasukan yang menang akan bersorak-sorai.


Namun sampai detik ini, tanda-tanda itu belum juga muncul.


Mereka belum membunuhnya..?! Ajax kemudian merasa janggal. Kenapa Hengki dan yang lainnya belum juga membunuh German. Padahal dirinya sudah menarik musuh dengan jumlah yang lumayan banyak.


Seharusnya pasukan kerajaan yang lain dapat dengan mudah, masuk menerobos pertahanan lawan.


"Musuh berlari dari sebelah kiri!"


Di tengah kebingungannya itu. Tiba-tiba saja Ajax dikejutkan dengan kedatangan musuh dari sisi sebelah kiri. Mereka adalah sebagian dari pasukan pemberontak yang sedang mengejarnya.


Walaupun sebagian tapi jumlahnya jauh lebih banyak dari pasukan Ajax.


Ktuplak! Ktuplak!


Hyahhh!


"Matiilaaah!"


Sret!


Unit Ajax dan para pemberontak tampak saling bertabrakan.


Dengan cepat salah satu kapten yang memimpin para pemberontak itu bergerak ke arah AJax untuk langsung membunuhnya.


Akan tetapi ketika ia mengayunkan senjatanya, Ajax berhasil untuk menebasnya duluan.


Namun karena terlalu kaget akan kehadiran musuh, luka yang ada ditangan Ajax itu terbuka kembali.


Bak!


Ajax kemudian menendang kuda yang ditumpangi oleh pemberontak tersebut. Dan membuat pasukan yang ada di belakangnya tersungkur karena menabrak kuda yang terjatuh olehnya itu.


Ia dan pasukannya kemudian mempercepat pergerakannya.


Ajax berucap dalam hatinya, Tuan (merujuk pada Hengki)... Berjanjilah kalau anda tidak akan menyia-nyiakan pasukanku yang sudah tewas. Setelah sekian lama aku akhirnya menemukan ke mana aku akan mulai berjuang. Kalau kau mengambil terlalu banyak waktu, bisa-bisa musuh mengirimkan bala bantuan dengan jumlah yang cukup besar.


\= = = = = = = = = = = = = =


Kembali ke tempat di mana German dan Jan sedang bertarung.


Setelah German bangkit kembali dan telah selesai membersihkan darah yang menghalangi pandangannya, ia berkata, "Kau ini cukup berbahaya juga, ya!... Kalau begitu, aku akan langsung membunuhmu saja. " ucapnya kepada Jan.


"Ternyata kau masih sempat untuk mengeluarkan omong kosongmu itu lagi!"


Ketika German baru selesai berbicara kepadanya. Jan langsung menyerang kembali German.


Hyahh! Clang!


Seperti biasa, Jan menyerang dan German menahan serangannya.


Clang! Clang!


Pertarungan kedua orang itu berjalan sangat alot dan juga menegangkan.


Di satu momen, Jan mundur dulu ke belakang. Ia melihat luka yang ada diperutnya semakin parah.


Karena terus menggerakkan badannya. Luka yang dideritanya semakin melebar.


Sial! Lukanya menjadi sangat sakit. pikir Jan.


{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}


(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 47 yang berjudul 'Situasi Terkini Di Tempat Lain' ini.


Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.


Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.


(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v