
"Terima kasih sudah jauh-jauh datang kemari, Roderick. Apa kau menunggu cukup lama?"
Sesosok pria tua dengan mahkota kecil di kepalanya berjalan mendekati Roderick dan Hengki yang tengah menyantap beberapa anggur hijau.
Setelah sekian menit akhirnya orang yang mereka cari telah tiba. Orang bernama Nasos ini memiliki penampilan layaknya penguasa hebat, ia membawa pedang dengan gagang dibalut berlian di pinggang kanannya, sepertinya pedang itu hanyalah pedang seremonial buatan yang tidak cocok dipakai di medan pertempuran. Nasos ini sepertinya orang yang gemar sekali dengan keglamoran, itu tampak jelas karena bukan hanya pedangnya yang begitu nyentrik tapi juga di ruang singgasananya ini banyak sekali gelas berbalut emas dan benda-benda mewah tidak berguna lainnya.
Ketika masuk ke dalam ruang singgasananya, Nasos lantas menyapa Roderick.
"Tidak apa-apa, kami cukup senang menunggu sambil dihidangkan makanan oleh pelayanmu," jawab Roderick.
Roderick menjawab sapaannya dengan begitu ramah meskipun ia sebenarnya berbohong, akan tetapi keramahannya ini di balas dengan air tuba. Orang-orang yang berada di sisi Nasos menunjukkan wajah yang meremehkannya, ada yang bersikap datar sambil menatap mata Roderick dengan sangat sinis dan ada juga yang menutup hidungnya menahan rasa jijik kepada Roderick, hal ini dikarenakan badannya yang bau tidak sedap akibat perjalanannya yang ditemani gerombolan kambing.
Melihat kelakuannya itu membuat Hengki tidak enak hati, ia benar-benar tidak habis pikir. Meskipun ia dan Roderick dilayani dengan cukup baik tetapi tampaknya mereka tidak tulus melakukannya, semua orang yang ada di sini dari awal tidak begitu menghargai Roderick apalagi Hengki yang datang jauh-jauh ke kastel ini, padahal kalau dipikir lagi yang butuh itu adalah mereka.
"Haha... bagus kalau kau bilang seperti itu. Jadi, berapa pasukan yang akan dikerahkan untuk membantuku menghadapi gelombang pemberontakan nanti?" tanya Nasos.
Tanpa basa-basi lagi ia menanyakan berapa jumlah pasukan yang akan didatangkan dari Chandax ke wilayahnya ini.
"Kemungkinan kami akan mengirimkan 20.000 pasukan untuk membantu kalian," jawabnya.
Ketika mendengar jumlah pasukan yang lumayan besar siap membantu, Semua orang yang ada di sana sontak kaget dan mengeluarkan ekspresi seperti 'Wahh' dan 'Uwww' sambil memonyongkan bibirnya.
"Waw... Aku tidak menyangka akan sebanyak itu pasukan yang dikerahkan oleh Zeno. Memangnya sebanyak apa pasukan yang ada di Chandax dan Chania bila digabungkan?" Tanya Nasos.
Setelah diberi tahukan jumlah pasukan yang akan membantunya, Nasos sama sekali tidak mengucapkan kata terima kasih dari mulutnya itu, ia malah menanyakan jumlah pasukan yang ada di bawah kekuasaan Zeno padahal pertanyaan seperti itu cukup sensitif karena termasuk rahasia wilayah masing-masing. Tapi Roderick dan Hengki sudah tidak begitu terkejut dengan kelakuannya itu.
"Aku tidak begitu tahu detailnya karena sudah lama pensiun dari dunia militer," jawabnya.
Jelas Roderick sedang berbohong, mana mungkin orang terdekat Zeno bisa tidak mengetahui jumlah pasukan yang ada di Chandax dan Chania.
"Sangat disayangkan sekali."
Ia tahu kalau Roderick tengah berbohong kepadanya, Nasos tampaknya kecewa dengan kebohongannya itu.
"Ngomong-ngomong kapan pasukan itu akan tiba?" tanya Elias yang dari tadi berdiri tidak jauh dari mereka.
"Pasukannya akan bergerak setelah aku memberikan laporan kepada tuan Zeno," jawab Roderick.
"Kalau begitu anda bisa segera melaporkannya," ucap orang yang ada di samping kanan Nasos, orang yang dari tadi menutupi hidungnya.
"Baiklah, ini terima suratnya terlebih dahulu."
Sebelum mengirim laporan kepada Zeno, Roderick memberikan surat yang dari tadi ada ditangannya kepada Nasos.
Setelah memberikan Nasos surat yang ditulis oleh Zeno, Nasos lantas menyuruhnya untuk pergi ke belakang mengambil merpati yang biasa digunakan untuk mengirimkan surat.
"Kandang merpatinya ada di belakang, kau bisa mengambilnya sendiri ke sana," ucap Nasos.
Mereka kemudian berpisah, Nasos kembali ke kediamannya sementara Hengki dan Roderick berjalan ke belakang untuk mengambil merpati dari kandangnya.
Ketika berjalan di lorong yang panjang, Nasos ditemani anaknya beserta ajudannya itu membuka surat yang diberikan oleh Roderick.
Ketika membacanya Nasos tampak menutupi rasa kesalnya dengan senyuman. Surat yang ditulis langsung oleh Zeno untuk dirinya ini berisi 'Apa kau sudah puas karena aku telah membantumu\, bajingan g*g*l*.'
"Hehe... Bocah bajingan, ternyata kau masih dendam dengan kejadian itu yah," ucap Nasos dengan senyuman kecil untuk menutupi rasa kesalnya.
Nasos kemudian sampai di tempat biasa ia istirahat\, di dalam ternyata sudah ada 1 orang wanita setengah t*l*nj*ng menunggu kedatangannya. Beberapa saat kemudian\, dari luar pintu para ajudannya mendengar suara er*ng*n yang begitu kencang dari wanita yang sedang berhubungan i*t*m dengan Nasos.
"Ah! Ah! Ah!" teriak wanita itu.
"Rasakan ini bocah sialan! rasakan ini bajingan! Ahh!!"
Ketika mencapai klimaksnya\, Nasos berteriak memaki Zeno sambil m*nc*k*k leher wanita yang tengah berhubungan i*t*m dengannya itu. Wanita itu tampak sangat kelelahan badannya b*s*h penuh keringat\, wajahnya l*ngk*t dipenuhi air yang berasal dari k*m*l**n Nasos.
"Hahh... Hahh... Hahh..." Nasos mengakhirinya dengan terengah-engah.
Ketika hendak memakai pakaiannya, ia melihat ke arah wanita yang baru saja melakukan s**s dengannya. Sepintas ia membayangkan sesosok wanita yang agak tua dengan rambut panjang sedang terkapar, jika dilihat wanita itu mirip sekali dengan seseorang.
\==============
Ketika sampai di tempat kandang merpati diletakkan, Roderick lantas menuliskan surat laporannya di dalam kertas kuning kecil.
Pada saat itu Hengki seperti biasa selalu melihat-lihat arsitektur bangunan yang ada di sekelilingnya, ketika ia melihat Roderick sedang menulis surat, Hengki lantas bertanya. "Kenapa orang-orang yang ada di sini sepertinya tidak begitu suka kepadamu, bukankah harusnya mereka bersikap hormat dengan tulus yah? Dari tadi mereka dengan jelas pura-pura bersikap ramah kepada kita."
Ketika mendengar pertanyaan Hengki, Roderick menjawabnya sambil melanjutkan menulis surat, Ia bilang, "Ada kejadian yang tak mengenakan antara tuanku dan orang yang bernama Nasos tadi di masa lalu."
"Kejadian apa?" tanya Hengki.
"Ada lah, aku tidak bisa memberitahukannya kepadamu. Kejadian itu sangat personal dan juga sangat hina jadi akan sangat tidak sopan kalau aku memberitahukannya kepada orang lain," ucap Roderick.
Hmmm... Hengki sepertinya sangat penasaran dengan apa yang terjadi antara Zeno dan Nasos, tapi ia juga tidak bisa menanyai detailnya kepada Roderick, karena ia bilang tidak bisa memberitahukannya.
Roderick kemudian menyelesaikan surat laporannya, Ia lantas bergegas mengambil salah satu merpati dan menerbangkannya ke arah Kastel Iraklio berada.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Hengki.
"Kita tunggu di sini sampai pasukannya datang," jawab Roderick.
"Apa kita juga bakal ikut dalam peperangan?" tanya Hengki lagi.
Meski memiliki pengetahuan yang cukup luas, Hengki sepertinya lumayan gugup jika harus turun ke medan perang. Wajar saja mana mungkin orang yang berasal dari negara seperti Indonesia yang sangat jarang terlibat dalam konflik peperangan bisa dengan santainya terjun ke dalam medan tempur yang berdarah-darah.
"Rencananya tidak, tapi kemungkinan untuk ikut perang bisa saja terjadi."
Roderick memberikan jawaban yang menggantung kepada Hengki.
"Baiklah, apa pun itu semoga aku bisa menjagamu dari kematian."
Dengan ekspresi yang begitu meyakinkan, ia bilang akan menjaga Roderick jika sesuatu terjadi kepadanya. Perjalanan yang mereka lakukan bersama sepertinya menghasilkan suatu ikatan khusus antara Hengki dan Roderick.
"Haha... Baiklah, semoga omonganmu tidak berbalik yah," ucap Roderick sambil menertawai omongan Hengki.
(Maaf jika banyak sensor yang mengganggu, Author tidak tahu kata-kata mana yang menyebabkan bab ini terus menerus ditolak jadi Author putuskan sensor semua kata yang kemungkinan masuk jadi kata-kata yang dilatang.)