
Ketika Elliot melihat ke arah pasukan Ajax, ia menyadari sesuatu, "Aku paham, mereka membuat formasi piramida ya? Jika mereka bergerak ke arahku maka aku akan cukup kesulitan untuk membuat benteng pertahanan. Kalau begitu, mari kita lihat. Apakah tuan German mampu mengatasinya!" ucap Elliot pada dirinya sendiri.
Ktuplak! Ktuplak!
"Ayo kita maju, Semuanya!" perintah Ajax kepada pasukannya untuk bergerak lebih cepat lagi.
Woahhhh! Saut semua tentaranya tersebut.
Ketika German melihat musuh semakin mempercepat gerakannya, ia pun memerintahkan, "Mereka mencoba menerobos pada satu titik! Pasukan perisai, ambil posisi!"
Woahhhh! Jawab pasukannya.
Dengan cekatan unit German telah membuat barisan bertameng di garda depan.
"Sekarang!" masih jauh jaraknya dengan musuh, tiba-tiba Ajax memberikan sebuah perintah sinyal kepada pasukannya.
...
Di barisan tentara kerajaan. Bobs, Dominic dan Elias memperhatikan gerak-gerik yang dilakukan oleh Ajax dan pasukannya. Terlihat jelas mereka semua sedang memperhatikan dengan rasa tegang.
...
Namun beberapa saat kemudian, German yang melihat gerak-gerik musuh tampak mulai mencurigakan, dan benar saja tiba-tiba ia terkejut, "Apa?!"
Seketika formasi piramida atau formasi kerucut yang diterapkan oleh musuhnya itu berubah. Tentara Ajax membuat formasi lain dalam formasinya sendiri. Ia kini memerintahkan pasukannya untuk membuat 4 kerucut lagi yang bergerak ke segala sisi.
\= = = = = = = = = = = = = =
[Kilas balik beberapa menit yang lalu]
"Paman, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Hengki kepada Roderick.
Ketika barisan dari unit Ajax sedang bersorak-sorai, Hengki memanggil Roderick untuk membahas sesuatu.
"Ada apa?" tanya Roderick setelah menghampiri Hengki.
"Aku ingin menerapkan suatu rencana, aku harap paman ikut andil dalam rencanaku ini." Ternyata Hengki ingin membicarakan suatu strategi kepada Roderick, dan ia berharap kali ini Roderick ikut andil dalam rencananya tersebut.
Ekspresi Roderick lantas berubah, ia sepertinya tertarik dengan apa yang akan di bicarakan oleh Hengki.
"Baiklah, apa rencananya?" tanya Roderick.
"Aku memprediksi dalam peperangan ini kalau ada kemungkinan musuh akan menyerang kita duluan," terang Hengki.
"Hah? Bukankah itu tidak mungkin? Kenapa mereka melakukan hal tersebut?"
Roderick merasa perkiraan Hengki itu tidaklah masuk akal.
"Sudah kubilang itu hanyalah salah satu kemungkinan yang aku pikirkan. Karena sejauh yang kupikirkan, musuh akan kesulitan jika mereka tetap diam di dalam kota yang sudah luluh lantah itu. Di dalam sana sudah tidak ada tempat bersembunyi lagi. Maka jalan lain agar mereka memenangkan peperangan, adalah dengan menghadapi kita di medan terbuka." jawab Hengki.
Sepertinya Hengki sudah memikirkan beberapa macam kemungkinan dan ia juga tampak sudah mempunyai solusi untuk menghadapi itu semua.
Dugaan ini membuat Roderick semakin kagum dengan sosok Hengki.
"Baiklah kalau itu yang terjadi, memangnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Roderick.
"Jika musuh keluar dari dalam kota, maka aku sudah mengkoordinasi Ajax untuk memimpin pasukannya bergerak duluan ke sisi kanan lawan dan mengarah langsung ke unit pemimpinnya yang ada di sana nanti," Baru saja menerangkan sebagian rencananya.
Roderick langsung menyela, "Tunggu! Maka itu berarti kau akan mengorbankannya, kan?! Tidak mungkin anak itu bisa mengalahkan orang yang memimpin para pemberontak nanti."
"Justru itu. Aku memerintahkannya karena dia tidak bisa mengalahkannya," jawab Hengki.
Di sini Roderick sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Hengki.
Apa maksud anak ini? pikir Roderick dengan ekspresi kebingungan.
\= = = = = = = = = = = = = =
[Kembali ke waktu semula]
Untuk tahap pertama dari rencana ini, Unitku tidak akan menargetkan langsung ke pemimpin musuh, pikir Ajax sambil mengarahkan kudanya ke sisi kanan.
Kini pasukan yang dipimpin oleh Ajax terlihat sedang bergerak ke berbagai sisi tepat di depan pasukan German.
Mereka membagi 100 tentara menjadi lima kelompok? Apa yang sedang mereka lakukan terhadap pasukanku yang berjumlah 10.000 personel ini? heran German.
Melihat musuh membagi kelompoknya menjadi lima, membuat German betanya-tanya.
Ktuplak! Ktuplak!
Setelah Ajax dan pasukannya berlarian ke sana-kemari, Ajax tiba-tiba memberikan perintah, "Oke, Kita masuk!"
Ternyata selama ini Ajax menunggu momen yang pas, ia menunggu musuh kehilangan fokus terhadap pertahanannya sendiri.
Apa mereka akan masuk dengan normal seperti ini? Kau hanya akan mati sia-sia, bodoh. German mengira lawannya itu akan masuk dengan normal begitu saja, padahal ia juga tidak sadar kalau tentaranya yang ada di barisan depan telah kehilangan fokusnya untuk bertahan.
"Musuh telah memasuki pertahanan kita!" teriak salah satu kapten dari unitnya German.
"Apa yang sedang terjadi?" saut tentara lain.
"Mereka pasti ingin menargetkanku duluan. Ini akan berjalan dengan sangat mudah." Dengan percaya diri, German bilang kalau musuh pasti sedang mengincar dirinya.
Untuk saat ini apa yang dipikirkan German berjalan sesuai perkiraannya.
Tentara Ajax yang sudah berhasil masuk ke pertahanannya sekarang sedang diapit oleh pasukan German yang bergerak dari berbagai lini.
Woahhh! Terdengar suara gemuruh yang sangat keras dari dalam pertempuran itu.
Jleb! Sreet! Sreet!
Seketika jumlah nyawa yang lumayan banyak melayang dengan cepat begitu saja.
Meski kalah secara jumlah, tapi karena pengalaman dan alat tempur yang jauh lebih memadai, membuat tentara yang dipimpin oleh Ajax mampu untuk mengimbangi para pemberontak yang sedang dihadapinya itu.
"Kapten!" teriak salah salah satu pasukannya kepada Ajax.
"Ya! Sejauh ini semua berjalan dengan sangat mulus!" dengan wajah yang sudah banjir oleh keringat, Ajax menyeringai sambil berkata kalau rencananya sejauh ini berjalan dengan lancar.
...
Woahh! Woahh!
Dari jarak yang cukup jauh, sorakan pasukan Ajax terdengar sampai ke telinga pasukan kerajaan yang lain.
"Sejauh ini sepertinya mereka berhasil untuk membuat pertahanan musuh buyar, itu karena pengalaman dan alat tempur mereka yang jauh lebih baik dari para pemberontak tersebut, Tuan Bobs." ucap William Artemis kepada pemimpinnya Bobs.
Bobs tidak mendengarkan omongan ajudannya tersebut, ia saat ini sedang fokus melihat cara bertarung Ajax dan pasukan yang sangat bersemangat itu.
"Tuan Bobs?..." ucap William. Namun tetap saja tidak digubris.
...
Aku diperintahkan untuk menargetkan pasukan intinya saja. Tampaknya tuan Hengki ingin memisahkan pemimpinnya itu dengan pasukan yang menjaganya. Ini sama persis dengan apa yang ia lakukan di pertempuran sebelumnya. Berhubung musuh sangat agresif ketika aku menghampirinya, maka sebentar lagi dengan mudah mereka akan masuk ke jebakan yang telah tuan Hengki rencanakan. Ketika Ajax diam untuk memperhatikan pertempuran antara pasukannya dengan para pemberontak. Ia berpikir kalau, sejauh ini rencana yang diperintahkan oleh Hengki masih berjalan dengan semestinya.
Setelah waktu berjalan dengan cukup lama, pasukan yang dipimpin oleh Ajax telah berkurang hampir setengah dari jumlah asalnya.
Namun jumlah korban dari pasukan pemberontak jauh lebih banyak, bahkan jumlah nyawa yang melayangnya itu bisa sampai berkali-kali lipat dari jumlah korban yang alami oleh pasukan AJax.
...
Melihat Ajax dan pasukannya semakin menderita membuat Roderick khawatir. Ia berkata kepada Hengki, "Kapan kau akan membantunya, Hengki?! Apa kau benar-benar akan menumbalkannya?!"
"jangan banyak bicara! Tunggu saja dia memberikan sinyalnya!"
Di luar dugaan Hengki justru membentak balik Roderick. Sampai Roderick pun terkejut ketika dibentak seperti itu.
Ketika ia melihat ekspresi Hengki, ternyata Hengki juga merasa sangat khawatir dengan kondisi Ajax. Meski awalnya terlihat tenang-tenang saja tapi ketika Ajax sedang berada dalam kondisi terapit oleh musuh. Hengki benar-benar merasa was - was.
"Kau asalnya bilang kepadaku untuk mulai mempercayai orang lain bukan?! Saat ini aku sedang berusaha untuk mempercayai dirinya (Ajax). Karena dia juga telah percaya kepadaku!"
Untuk pertama kalinya Hengki menggemeretakkan giginya. Tangannya bahkan terlihat gemetaran.
...
Sementara dari barisan pasukan Attica, mereka juga sedang menyaksikan pertarungan Ajax dengan seksama.
"Tuan Dominic, tampaknya unit Stabia itu berjuang dalam pertempuran yang sulit. Apa kau akan menunggu sampai mereka tumbang semua?" ucap Elias kepada Dominic
"Ya, tampaknya unit itu memang ingin mengorbankan nyawanya saja. Tapi aku terkesima dengan pertarungan itu, mereka tampak bertarung dengan gagah berani tanpa takut mati." pikir Dominic.
"Wajar saja, karena yang sedang dihadapinya itu adalah orang-orang yang sudah membunuh rumah dan juga keluarganya," jawab Elias.
{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}
(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 45.1 yang berjudul 'Kemarahan Ajax' ini.
Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.
Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.
(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v