
Pihak kami sudah menuntut Tony Lesmana atas pembatalan kontrak sepihaknya. Namun siapa sangka hal ini menghebohkan seluruh publik di negeri ini. Dia memang sebodoh dugaanku. Mulut lemasnya itu berkoar-koar lagi di media sosial.
Maaf kalau akhir-akhir ini aku gak akan bisa aktif di media sosial. Ada beberapa masalah yang harus kuurus. Pihak agensi gak mau aku keluar dengan baik-baik. Mereka menuntut agar aku membayar denda sebesar miliaran rupiah kalau mau membatalkan kontrak. Itu bukan nominal yang sedikit buatku. Jadi mohon doa dan dukungannya agar masalah ini segera selesai.
Kok gitu? Jahat banget sih agensinya.
Gak nyangka WJ Entertainment mempersulit artis mereka begini.
Selama ini WJ jauh dari skandal kayak gini. Katanya hanya mendebutkan artis-artis terbaik. Terbukti sih. Semua artis WJ berbakat. Di bidang musik, perfilman, sama para pelawak dari agensi mereka berkualitas. Dulu kagum. Ternyata begini busuknya. Emang bau bangkai itu gak bisa disembunyikan.
Boroknya WJ kelihatan juga.
Jangan jahat sama pangeran Tony kami dong. Kalau dia stres dan kulitnya rusak gimana.
Tony sabar.
My bebeb Tony semua akan berlalu. Kami siap bantu kamu. Kalau kamu minta kami demo di depan kantor WJ juga kami siap.
Bener. Rubuhin aja tuh gedungnya, berani-beraninya mereka bikin pangeran kita susah.
Eh, aku ada dengar gosip katanya ini terjadi karena Tony memutuskan hubungan sama pemimpin WJ. Kayaknya dia gak terima udah dibuang Tony, makanya sekarang berulah.
Oh, iya benar. Teman kosku ada yang kerja di kantor WJ. Katanya cewek ini terobsesi banget ke Tony dan rela melakukan banyak hal untuk dapatin perhatian dia.
Ih, jadi takut. Jangan-jangan kita juga bakal dituntut miliaran karena mendukung Tony.
Kalian tak perlu dituntut, tapi perlu di sekolahkan dengan baik dan benar. Orang-orang yang hanya mendukung apa pun yang dikatakan idola mereka tanpa berpikir apakah panutan mereka benar atau salah. Jika panutan kalian itu berkata berlari hanya mengenakan pakaian dalam di taman pada pagi hari adalah kesukaannya, apa kalian akan tetap mendukungnya?
Dasar tukang drama. Fans sama artis sama-sama tukang drama.
“Jadi gimana, Bu? Apa yang harus kita lakukan sekarang.”
Aku menekan-nekan belakang kepalaku. Di umur semuda ini aku akan terkena tekanan darah tinggi karena semua ini.
“Kita harus mengklarifikasi berita ini tentu saja. Apa yang dilakukan Tony jelas sangat merugikan nama baik perusahaan kita karena kebodohannya. Gara-gara ini nilai saham kita terus turun. Jika terus terjadi, bisa berefek ke hal lainnya juga. Apalagi sebentar lagi beberapa penyanyi kita akan melakukan debut. Berita ini bisa memperburuk penilaian publik tentang mereka nanti.”
“Apa debut mereka mau diundur?”
“Ya. Undur saja. Kita harus selesaikan masalah ini dulu. Lakukan konferensi pers atau apa, jelaskan sampai sedetail-detailnya kenapa kita menuntut dia. Orang-orang berotak kosong pemuja setia Tony mungkin akan tetap menyerang kita. Tapi seenggaknya saya yakin beberapa orang akan sadar kalau dia salah.”
“Baik, Bu.”
Setelah kami memberikan penjelasan terkait masalah dengan Tony, untungnya banyak pihak yang akhirnya mendukung kami. Sedikit banyaknya mereka tahu kalau hal ini memang wajar dilakukan karena pihak Tony-lah yang ingin membatalkan kerja sama.
Aku juga udah mikir kalau ini wajar sih. Kan dia yang milih keluar. Emangnya dia masuk WJ cuma kayak jalan-jalan di mal doang. Kapan mau pulang ya tinggal pulang.
Benar. Ini bukan main-main. Wajar pihak WJ menuntut.
Tapi sampe miliaran emangnya gak kebanyakan ya?
Wajar aja semahal itu. Tindakannya ini pasti merugikan banyak pihak. Kan udah dijelaskan tuh.
Aku bersyukur banyak orang yang akhirnya memihak kami. Tapi itu bukan hal yang penting sekarang, aku masih punya banyak pekerjaan. Awalnya kukira begitu, tapi ada satu orang yang masih mau memperpanjang masalah.
“Iya?” jawabku pada panggilan telepon Tony.
“Kamu—“
“Yang sopan atau saya matikan sekarang juga.”
“Ibu sampai kapan mau melakukan hal ini ke saya?”
“Kamulah yang mau sampai kapan membuat drama murahan begini. Selesaikan saja tuntutan dari kami, lalu pergi dari perusahaan ini. Saya muak sekali berurusan sama kamu.”
Mungkin seharusnya aku tak usah lagi menjawab panggilan darinya. Benar, itu bagus juga. Kenapa aku refleks menjawab panggilannya begini?
Ah, iya. Karena aku kesal dan memang ingin marah-marah padanya jadi kuangkat panggilannya seperti sekarang.
“Ibu ngelakuin ini karena Shania?”
“Kamu sekarang menyalahkan dia?”
“Kenapa jadi saya yang menyalahkan dia?”
“Kalau begitu kenapa kamu tanya apa ini gara-gara Shania? Kamu jelas tahu ini bukan salah dia. Ini masalah yang kamu buat. Apa kamu masih belum paham juga.”
“Selama ini kan Anda suka sama saya sampai ngelakuin segala macam cara agar saya kembali pada Anda.” Oh, ya Tuhan, menjijikkan sekali. Dasar Catherine sialan. Gara-gara dia aku harus menanggung semua ini. “Wajar kalau saya berpikir Ibu memperburuk masalah ini karena cemburu pada Shania.”
“Kamu pasti tetap gak akan nangkap perkataan saya ini karena kurang pintar. Tapi akan tetap saya katakan karena kalau diam saja kamu akan semakin besar kepala. Saya gak ada rasa lagi sama kamu. Sedikit pun gak ada. Saya bahkan gak habis pikir kenapa bisa suka sama kamu. Saya pasti benar-benar gak waras. Jadi berhenti mengada-ngada dan playing victim. Kamu terus menyalahkan semuanya pada saya dan menganggap dirimu korban atas kekejaman saya yang cemburu buta. Hei, pakailah otakmu sedikit. Nilai situasi ini dengan kepala dingin, sebenarnya siapa yang salah. Hanya karena dulu saya sempat bertindak bodoh, bukan berarti saya akan terus seperti itu. Jadi jangan menilai semua yang saya lakukan sekarang berdasarkan perbuatan saya dulu—“
Sialnya kotak misi itu muncul di saat yang tidak tepat. Kata-kata aneh tidak jelas bin ambigu muncul kembali
Katakan, Shania adalah wanita milikku.
Kecurigaanku semakin besar kalau genre novel ini telah berubah. Sekalian saja suruh aku mengatakan kalau aku berubah mencintai Shania.
Aku terpekur beberapa saat. Tak lagi mendengarkan ocehan tidak jelas Tony. Kalau aku melawan, apa akan timbul rasa sakit lagi? Kalaupun aku sudah sering mengalaminya waktu itu, bukan berarti aku terbiasa.
“Shania adalah milikku,” cicitku pelan. Bahkan Tony sepertinya tak mendengarku.
Bahkan sistem pun menilai bahwa aku tak berhasil melakukannya.
Rasa takut merambat masuk kembali.
***
Sincerely,
Dark Peppermint