The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 28



"Apa? Kenapa Anda bisa memiliki ide seperti ini?" Aku langsung meletakkan gelasku kembali, tak jadi meminumnya.


Hari ini Keegan sudah masuk kerja kembali. Sejak tadi pagi hingga kini kami hanya bicara seperlunya. Tak ada bahasan apa pun tentang semalam. Kurasa kami telah kembali layaknya bos dan bawahan seperti dulu.


Kukira hariku akan sedikit tenang karena Keegan tak mempermasalahkan kejadian kemarin. Namun ada saja orang yang suka mencari gara-gara denganku.


"Bapak kan tahu sendiri hubungan Tony Lesmana dan Bu Catherine bagaimana, kenapa malah mengajukan laki-laki itu sebagai pemeran utama di film ini?" sambung Keegan yang duduk di sebelahku.


"Ini kan pendapat dari saya saja. Saya gak memaksa harus Tony. Tapi dari semua aktor di negeri ini saya rasa dialah yang paling cocok berperan sebagai Mario."


Losing You. Novel online yang akan kami garap menjadi sebuah film. Bercerita tentang sepasang kekasih yang mengalami kecelakaan sehari sebelum pernikahan mereka. Akibat dari kecelakaan tersebut sang wanita mengalami amnesia. Namun ingatan yang hilang hanya ingatan dua tahun terakhir. Dan salah satu yang dia lupakan dari dua tahun tersebut adalah, sang tunangan.


"Bagaimana sang pria akan berjuang mendapatkan kembali calon pengantinnya. Kesetiaannya, kesabarannya, bertahan untuk orang terkasih yang seketika membencimu, saya rasa Tony Lesmana paling cocok untuk peran ini."


Paling cocok dari mananya.


Dia memang pejuang tangguh yang dangkal, kuakui, tapi setia sama sekali bukan sifatnya. Peran seperti itu kebagusan untuk makhluk seperti Tony Lesmana.


"Yang paling tahu tentang kualitas akting seseorang tentu saja Anda. Tapi saya merasa peran itu sama sekali tidak cocok untuk Tony Lesmana."


"Apa ini ada hubungannya dengan masalah pribadi kalian berdua?" Meski kata-katanya seperti menyindir, tapi ekspresi wajah pria itu tenang saja. Membuatku jadi tak bisa marah padanya.


"Iya dan tidak," jawabku jujur. "Iya. Karena saya merasa tak nyaman berurusan dengan orang sepertinya lagi. Apalagi hal ini akan menimbulkan skandal jika saya mendadak memakainya lagi. Dan saya rasa laki-laki itu tak akan tinggal diam jika kita menawarinya peran ini."


Bisa kubayangkan kehebohan apa yang akan dibuat oleh Tony dan penggemarnya. Aku pasti disebut sebagai si tak tahu malu yang menjilat ludah sendiri. Dan Tony beserta dayang-dayangnya akan merasa menang.


"Saya gak mau film ini ramai karena skandal aktornya, " sambungku. "Jadi saya menolak. Lagipula saya tak merasa akting laki-laki itu sebagai yang terbaik. Yah, tidak jelek, tapi tidak brilian juga."


Jika dibandingkan aktor luar negeri, yang seperti Tony pastilah hanya jadi pemeran pembantu yang baru-baru berakting.


"Saya tidak tahu standar apa yang Anda pakai untuk menilai, tapi saya sama sekali tidak setuju dengan usul ini."


"Baiklah jika Anda berkata begitu. Memangnya saya bisa apa kalau Anda tidak mau. Lagipula kan tadi ibu sendiri yang nanya siapa aktor yang saya rasa paling cocok memerankan tokoh di film Losing You nantinya. Saya hanya menyampaikan pendapat saya."


Mendengar kata-katanya tersebut otakku langsung jernih kembali. Benar juga, saat ini kami hanya berbincang-bincang santai sebab tak sengaja bertemu dan akhirnya memutuskan makan siang bersama. Tony Lesmana tidak akan memerankan peran tersebut. Jangankan memerankan naskahnya saja belum selesai ditulis.


Aku berdeham sejenak. "Maaf sepertinya saya agak terbawa suasana."


Pak Tino tertawa. "Ya, saya juga sedikit terbawa suasana karena kata-kata Ibu. Saya rasa kita impas."


Aku tersenyum menahan malu. Jika terus memperpanjang pembicaraan ini akulah yang akan tampak seperti orang bodoh. Jadi aku pun berkata, "Saya harap Anda akan menemukan aktor yang cocok dengan peran tersebut ke depannya. Naskahnya sebentar lagi selesai kan? Saya gak sabar menantikannya." Aku segera bangkit dari kursi yang kami pakai untuk makan siang bersama. "Kalau sudah saya permisi."


Aku langsung pergi setelah tersenyum sedikit dan Pak Tino membalasnya.


"Kenapa kamu gak ingatkan saya? Saya kan jadi malu," bisikku pada Keegan.


Aku dan Keegan buru-buru pergi meninggalkan tempat itu.


"Selanjutnya apa jadwal saya hari ini?" tanyaku pada Keegan.


"Anda akan menemui beberapa trainee setengah jam lagi."


"Ah, trainee. Baiklah. Sepertinya ini akan menyenangkan. Melihat anak-anak muda dengan bakat mereka."


***


Aku menemui sepuluh orang trainee. Keseluruhannya laki-laki tampan yang dapat dipastikan mampu membuat remaja perempuan menjerit hingga rela menghabiskan uang jajan sebulan hanya untuk melihat mereka dari dekat.


Dan satu hal yang sangat identik dari mereka semua adalah wajah mereka mirip semua di mataku.


Kembar sepuluh? Wah, hebat sekali. Aku salut untuk ibu yang melahirkan mereka semua.


Kemudian satu per satu dari mereka mulai memperkenalkan diri.


"Halo, nama saya Xei."


"Nama saya Elextro."


"Nama saya Droid..."


Dan telingaku mulai tidak bisa mendeteksi nama-nama planet asing mereka. Aku tahu trainee di tempat kami mempunyai nama-nama yang unik. Dari dulu sudah seperti itu. Tapi bukan berarti aku terbiasa dengan keunikan nama-nama tersebut.


Apa sekali lagi aku membuat grup dengan nama-nama yang lebih membumi saja ya.


Paijo, sang main vokal. Tukiran, sang visual. Boiman, sang rapper. Bambang, lead dancer.


"Baiklah. Senang bertemu dengan kalian semua," ucapku setelah perkenalan mereka dan pikiran ngawurku selesai. "Saya harap kalian lebih giat lagi berlatih. Waktu debut kalian semakin dekat. Saya mengharapkan yang terbaik dari kalian semua."


"Baik, Bu. Terima kasih." Mereka semua membungkuk hormat padaku.


Selanjutnya mereka menari dan menyanyi dengan koreografi sangat rapi. Gerakan mereka selaras dan beraturan. Namun suara beberapa dari mereka sangat kurang.


Aku bertepuk tangan setelah mereka selesai. Mereka kembali berterima kasih dan membungkuk, lalu salah seorang dari mereka mengerling padaku. Aku sedikit mendelik. Bukan disengaja, ini jelas refleks karena kaget. Dan sialnya, anak itu malah tertawa melihatku yang terkejut akan tingkahnya.


***


Sincerely,


Dark Peppermint