The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 8



“Ini hidupku, Pa. Papa gak berhak menentukan apa yang akan kulakukan. Kalaupun aku akan menikah aku sendiri yang akan menentukan siapa yang akan kunikahi.”


Aku sudah muak dipaksa melakukan sesuatu.


“Jadi kamu akan terus membuat masalah begini?”


“Aku tidak akan membuat masalah,” kataku sembari memutar bola mata malas. Syukurlah Papa sedang tidak melihat ke arahku. Jika tidak, dia akan bertambah marah padaku.


“Apa jaminannya kamu gak akan bikin masalah lagi?” Papa selesai dengan makan malamnya. Dengan anggun ia mengelap bibir baru menatapku tepat di manik mata. “Kamu bisa membuktikannya?”


“Tentu bisa. Papa lihat saja nanti sendiri. Aku gak akan membuat masalah lagi,” jelasku penuh percaya diri. Sementara itu Arabella tampak tidak senang. Kukira dia akan bahagia melihatku dimarahi begini. Tapi kenapa dia tampak gelisah? Dia khawatir aku akan mendapatkan suami tampan, mapan, dan kaya raya sementara dia tidak bisa melakukannya atau bagaimana?


“Kita lanjut bicara di ruangan kerja Papa saja.”


Pria itu berdiri, kemudian lekas meninggalkan ruang makan.


Aku masuk ke ruangan Papa setelah memastikan pintu dikunci dengan baik. Aku tidak ingin nenek sihir itu mendengar pembicaraan kami.


Aku sudah menyusun berbagai macam rancana di kepalaku sepanjang perjalanan ke sini. Begitu duduk aku langsung berkata, “Aku akan menghasilkan banyak uang. Akan kupastikan acara yang akan dibuat ini sukses besar. Dan dalam jangka waktu tiga tahun, WJ Entertainment akan menjadi perusahaan hiburan terbesar. Ayo, kita bertaruh. Jika aku bisa melakukannya, Papa harus berhenti memaksaku menikah.”


Tak akan mempan jika aku hanya berkata “tidak-tidak” saja. Dia juga tidak percaya aku akan jadi anak baik. Bertaruh seperti ini mungkin akan dia anggap menarik. Laki-laki biasanya suka sebuah pertaruhan kan? Judi, pacuan kuda, dan sebagainya.


“Lama sekali sampai tiga tahun. Kamu hanya menunda waktu saja. Jika sudah tiga tahun kamu nanti aku menghindar dengan berbagai cara lagi. Kamu kira Papa akan percaya kata-katamu itu. Pokoknya Papa akan carikan laki-laki yang cocok buat kamu. Kalau gak mau, kamu bisa meninggalkan semua fasilitas yang sudah Papa berikan padamu. Bahkan jabatan kamu sebagai CEO.“


Aku diancam? Padahal aku sudah berjuang keras untuk perusahaan itu akhir-akhir ini? Papa sungguh ingin melakukan hal ini untuk membuatku menurut?


“Papa takut aku bisa melakukannya ya?” desisku.


“Trik seperti itu gak mempan buat Papa,” cibirnya. Dia melihatku lucu. Seolah aku adalah anak kelinci kecil dan bodoh yang sedang sok-sokan ingin menantang singa dewasa.


Enak saja. Aku ini juga seekor singa tahu. Aku bisa melakukan apa saja. Aku bahkan bisa menyingkirkan kutu uang itu dari rumah ini sekarang juga—


Si kutu uang? Sebenarnya seberapa sayang Papa dengan wanita lintah itu? Aku mendapat sedikit ingatan. Papa tidak pernah melirik wanita lain sejak Mama meninggal, lalu tiba-tiba dia membawa pulang wanita itu dan berkata ingin menikahinya. Padahal jelas perempuan itu bukan wanita baik-baik. Jika hanya kesepian dan membutuhkan hiburan dari seorang wanita, pria bisa mendapatkannya di mana saja.


“Aku bisa membuat Tante Arabella meninggalkan Papa,” kataku penuh percaya diri. Dia mengancam, maka aku juga akan mengancamnya.


Lalu Papa tertawa meremehkan. “Kamu gak akan bisa.”


“Papa meremehkan aku.” Daguku terangkat sedikit, menunjukkan aku tidak punya ketakutan sama sekali. Namun itu bohong. Aku tidak percaya diri. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku juga menyesal sudah berkata yang tidak-tidak. Tapi aku terlalu gengsi untuk menarik kembali kata-kataku.


“Kenapa gak bisa? Papa benar-benar takut aku bisa melakukan semua itu kan?” Aku tersenyum pongah. “Aku yakin Tante Arabella juga sudah gak sabar mau meninggalkan Papa. Dia bisa mendapat harta gono-gini—”


“Kamu ini gak tahu apa-apa.” Papa terlihat tenang. Tapi aku tahu dia kesal. “Arabella gak akan mendapatkan apa pun kalau bercerai dengan Papa.”


Aku tercenung. “Kok—“


Papa tersenyum lembut. “Karena Arabella tulus ingin menikahi Papa karena perasaan kami sama, bukan karena harta dan materi.”


Kalau aku mendengus sambil menertawai kata-kata Papa, aku pasti terlihat makin mirip perempuan jahat. Tapi itulah yang ingin kulakukan. Keegan sempat berkata padaku kalau Arabella juga tertarik pada Tony dan sempat berusaha menggodanya. Dia jelas bukan perempuan setia yang akan menikahi laki-laki yang cocok jadi ayahnya karena jatuh cinta.


“Kalau gitu ayo kita buktikan, apa benar Arabella menikahi Papa karena alasan suci seperti itu.” Baiklah, nanti aku akan mencari tahu apa alasan sebenarnya Arabella melakukan ini. “Kalau dia memang sebaik yang Papa pikirkan, aku akan menuruti permintaan Papa. Aku akan menikah. Bahkan kalau disuruh besok pun akan aku lakukan. Tapi jika dia wanita yang hanya memanfaatkan Papa untuk dikuras uangnya, sebaiknya Papa berhenti mengatur hidupku.” Akan bagus kalau Papa setuju. Sebab akan lebih baik kalau setan uang itu pergi dari rumah ini. Lebih baik untuk Papa dan baik untuk semua pekerja di sini. “Kenapa? Papa takut dia gak mencintai Papa? Papa bahkan terlalu takut untuk mengonfirmasi kebenaran itu?”


Aku tahu Papa sudah terpancing. Amarah terpancar jelas di matanya. Aku tahu tak seharusnya aku begini pada ayahku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, kami sama-sama keras kepala. Dan ini juga untuk kebaikannya.


“Baiklah, lakukan apa yang mau kamu lakukan. Jangan menyesal kalau rencanamu gagal total.”


“Tentu saja karena Jonathan sangat jantan dan tampan.”


Aku mengernyitkan dahi mendengar jawaban Arabella saat kutanya apa alasan dia menikahi papaku. Sehabis keluar dari ruangan Papa, aku dan dia berbicara secara pribadi di dekat paviliun. Tempat ini jauh sekali dari rumah utama. Dan pasti akan langsung ketahuan jika ada yang mengintip.


“Kamu suka laki-laki yang jauh lebih tua?”


“Iya. Kami saling mencintai dan akhirnya menikah.” Arabella tersenyum secerah-cerahnya. Membuatku curiga aku sudah salah menilainya. Meski dia tukang ikut campur, menyebalkan, norak, jahat pada pelayan, bukan berarti dia tak bisa jatuh cinta.


“Kalau kamu mencintai Papa kenapa dulu mendekati Tony?”


Binar-binar bahagia di wajahnya menghilang.


“Apa yang kamu bicarakan. Bagaimana bisa aku mengganggu tunanganmu itu. Yang cinta mati padanya itu kamu, bukan aku.”


“Bagaimana kalau kita buat kesepakatan. Aku akan mewarisi semua harta Papa, tapi kudengar kamu gak akan mendapat apa pun kalau kalian bercerai karena perjanjian pranikah yang kalian buat dulu.” Perjanjian yang dilakukan untuk membuat Papa yakin kalau Arabella menikahinya bukan karena uang. “Yang artinya, saat Papa meninggal pun kamu gak akan dapat warisannya sepeser pun. Dan aku pun gak berniat membiayai hidupmu saat itu.”


Wajah Arabella mendadak pias. Dia menatapku tajam. Dia sudah terpancing.


“Kamu menyumpahi papamu meninggal.”


“Tentu enggak. Saat dia hidup pun aku bisa melakukan apa pun dengan uangnya. Kalau Papa gak ada aku yang malah repot. Gimanapun dia keluargaku satu-satunya dan kalau aku buat masalah, gak akan ada orang yang membantu membereskannya. Papa tadi bilang aku harus menikah agar bisa hidup bahagia seperti kalian berdua. Katanya cinta kalian tak akan terpisahkan. Bahkan kamu gak mau menerima uang sedikitpun kalau kalian bercerai nanti. Tapi aku gak percaya. Dan Papa mengajak bertaruh, dia ingin mempermalukanku karena yakin kamu sangat mencintainya. Katanya aku bisa bebas kalau bisa membuat kamu gak mencintai papaku lagi.”


Wow. Aku sangat berbakat berbohong ternyata. Liciknya diriku ini.


“Jadi aku berpikir untuk membuat kalian berpisah, dan sebagai balasan, kamu akan mendapat sokongan dariku. Jadi terserah kamu, mau tetap ada di samping Papa atau pilih aku. Orang yang di masa depan akan mendapatkan segalanya.” Syukurlah perkataan Papa yang mengatakan akan mengambil seluruh fasilitasku tadi terjadi di ruang kerja, jadi Arabella tidak mendengarnya. Jika tidak, dia pasti tahu aku hanya ngibul.


“Pikirkan baik-baik.” Aku bangkit berdiri. “Aku juga bisa memperkenalkanmu dengan banyak pria muda dan tampan nantinya. Kaya raya dan dikelilingi banyak pria. Bukankah sempurna?”


Lalu aku pergi meninggalkannya. Baiklah, jika benar dia tulus, dia tidak akan termakan jebakanku. Salah dia kalau nantinya akan terperangkap.


Sial untukku. Aku tak bisa fokus bekerja sampai esok hari karena masalah yang terus-menerus berdatangan. Aku memang berkata dengan sangat percaya diri pada Arabella. Tapi aku juga khawatir. Sampai sekarang dia belum menghubungiku.


Lalu kini, aku menabrak dinding parkir basement.


Aku keluar dari mobil dan langsung menemukan Keegan yang sepertinya juga baru datang.


“Ibu gak apa-apa?”


“Iya, gak apa-apa.”


“Sebenarnya Ibu kenapa akhir-akhir ini? Ibu kayak orang lain saja.”


Aku mendelik mendengar perkataannya. Dia lalu menunduk. “Maaf, Bu. Saya cuma asal bicara. Habisnya tadi saya ngikutin Ibu dari belakang. Gak biasanya Ibu lelet gitu bawa mobil. Biasanya kan kebut-kebutan mulu.”


Sial. Tak mungkin dia mulai curiga aku bukanlah Catherine.


***


Sincerely,


Dark Peppermint