
Malam ini aku serta para kru acara tersebut akan melakukan makan malam bersama sebab semuanya telah berjalan dengan lancar.
“Semoga reaksi penonton juga ikut bagus,” ucap Keegan yang kali ini tengah menyetir menuju restoran tempat makan malam diadakan.
“Iya, semoga aja,” sahutku. Meski tak pernah mengatakannya secara terang-terangan aku juga ingin memiliki citra yang baik dan dikenal orang karena kemampuanku. Aku ingin fokus bekerja lalu mulai menikmati hidupku. Hidup penuh skandal dan berita buruk begini benar-benar sulit. Apalagi berita itu semuanya tidak berdasar.
“Mereka pasti bakal kagum sama Ibu, saya yakin,” kata Sania. “Sama kayak saya yang kagum sama Ibu.”
Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Sania sangat menyukaiku. Walau akhir-akhir ini aku tak mengganggunya, bukankah Catherine sebelum ini jahat padanya. Kadang aku sempat berpikir, apa jangan-jangan dia sedang berpura-pura baik padaku untuk diam-diam menghancurkanku? Tapi itu bukan hal yang akan dilakukan oleh tokoh utama wanita.
“Kenapa kamu kagum sama saya, Sania? Saya kan gak pernah ngelakuin apa-apa buat kamu.”
“Masa Ibu gak ingat? Waktu saya gak sengaja nyenggol tangan Ibu dan bikin kopi tumpah ke baju saya, Ibu kan ngasi blazer ke saya. Padahal hari itu Ibu dituduh yang enggak-enggak sama orang-orang. Ibu juga ngasi saya biskuit hari itu. Saya yakin tuduhan Ibu yang udah berbuat jahat sama saya itu cuma salah paham. Oh, iya, soal blazer-nya—“
“Buat kamu aja,” putusku cepat.
“Tapi—“
“Kalau gitu buang aja,” sahutku malas-malasan.
“Kalau gitu bakal saya simpan baik-baik. Saya anggap itu hadiah dari Ibu.” Sania tersenyum senang. Yang membuat siapa saja yang melihatnya akan jatuh cinta. Kecuali Keegan. Meski sudah lebih baik, pria itu masih sering bersikap menyebalkan padanya.
“Itu bukan hadiah. Bu Catherine memang gak pernah pakai baju yang sama dua kali. Apalagi yang udah kena noda kopi.”
“Saya gak masalah. Menurut saya itu tetap hadiah. Karena Bu Catherine ngasi blazer itu waktu nolongin saya.”
Keegan mendecih tidak suka. “Berlebihan. Kalau hadiah tuh seharusnya tiket liburan dan cuti selama seminggu.”
Ah, Keegan. Sebenarnya anak ini kenapa. Beberapa hari lalu aku bertanya padanya dia ingin liburan ke mana karena nantinya aku ingin memberinya jatah libur. Walau nanti itu belum tahu kapan. Bukan aku yang tidak tahu nanti itu kapan, tapi dirinya sendiri. Dia lebih suka bekerja dibanding aku. Hampir tak pernah kulihat Keegan hanya duduk-duduk santai. Bahkan saat waktu makan pun dia fokus sekali pada makanannya seolah benda tersebut adalah dokumen yang harus ia selesaikan hari itu juga.
“Wah, Mas Keegan dapat hadiah kayak gitu.”
Keegan tampak menahan malu. Ia tak menjawab apa pun. Tak mau mengakui kalau ia belum mendapatkannya.
Aku jadi semakin penasaran. Sebenarnya kenapa dia bersikap seperti ini pada Sania. Waktu itu dia sempat memujinya di depanku. Lalu saat bertemu langsung dengan Sania dia bersikap sangat menyebalkan dan banyak omong. Apa dia tipe laki-laki yang jadi jahat pada perempuan yang disukainya?
***
“Semoga acara kali ini sukses dan untuk seterusnya juga.” Kami semua bersulang lalu meminum minuman masing-masing.
“Ibu hari ini hebat sekali,” puji produser acara tersebut. “Saya yakin hasilnya akan baik.”
“Benar,” ucap yang lainnya. “Saya yakin program ini akan berjalan sukses.”
Kami semua tersenyum dan berbahagia. Makan dan minum sepuasnya sambil berbincang-bincang santai.
“Saya gak nyangka Bu Catherine orang yang selucu ini? Dari cerita orang-orang saya kira Ibu gak bisa didekati,” ucap salah seorang gadis mungil.
“Nasib orang kaya dari lahir. Belum ngomong apa-apa saja sudah dianggap sombong duluan,” kataku dengan nada bercanda.
“Saya sempat gugup mau kerja bareng Ibu. Takut bikin salah dan gimana-gimana. Tapi malah lebih enak kerja bareng Ibu dibanding beberapa artis lain.”
“Kalau gambar mereka kurang bagus. Kita yang dimarahi. Padahal muka mereka aja yang memang pas-pasan. Beda sama Bu Catherine.”
“Iya, Bu Catherine cantik banget. Cantiknya natural.”
Kubalas semua basa-basi itu dengan senyuman lalu fokus saja pada makananku.
Penjilat. Tipe seperti ini sebenarnya sudah sering kutemui sebelum orang-orang berpikir aku mudah didekati. Tapi saat aku mulai mempersempit jarak di antara semua orang, yang dulunya tidak berani cari muka sekarang mulai beraksi.
Memang sepertinya apa pun citra yang kau dapat selalu ada baik dan buruknya.
Selanjutnya pun tetap sama. Semua orang sangat baik dan ramah padaku. Menawarkan makanan yang sudah jelas bisa kuambil sendiri. Menuangkan minuman tanpa diminta. Aku sendiri bingung apa ini hanya sopan santun biasa, mereka memang senang dan tulus padaku, atau memiliki maksud lain.
“Kamu gak tertarik ikut acara ini juga?” tanya produser pada Sania.
“Ikut acara yang sama kayak Bu Catherine hari ini?”
“Iya. Kamu kan perempuan yang ketumpahan kopi itu. Katanya kamu juga ada hubungan khusus dengan Tony Lesmana. Orang-orang pasti akan tertarik denganmu. Acara ini bisa bertambah besar.” Orang itu terus mempersuasi Sania agar mengikuti keinginannya. Sania sempat melirikku sedikit. Seperti hendak meminta bantuan. Tapi dia harus membuat keputusan sendiri. Aku tidak berhak melarang atau memaksanya melakukan sesuatu.
“Saya gak bisa ikut acara seperti itu. Saya juga gak terkenal kayak Bu Catherine dan Tony.”
“Maka dari itu kamu harus ikut di program ini. Memperkenalkan sosok kamu yang sekarang belum diketahui banyak orang. Kalau kamu menjelaskan dengan baik kesalahpahaman tentang insiden kopi, hal ini akan bagus untuk Bu Catherine."
Lagi-lagi Sania melirikku. “Apa benar saya bisa membantu Ibu?”
Aku mengembuskan napas. Dan berkata dengan tegas, “Kamu gak perlu bantu saya seperti itu. Putuskan kamu mau ikut atau enggak berdasarkan keinginan kamu sendiri. Saya gak akan memaksa atau menghentikan kamu untuk ikut.”
Sania tak menjawab. Dia tampak tengah berpikir.
“Pikirkanlah dengan baik," sahut sang produser. “Ini mungkin bisa jadi batu loncatan kalau kamu ingin memulai dunia keartisan.”
“Saya tidak berniat jadi artis.”
“Kalau begitu lakukan karena seseorang.”
Aku menghentikan makanku. Pria tua itu sadar betul bisa memanfaatkan Sania dengan menggunakan aku.
“Kalau kamu pikir ikut acara itu bisa membantu saya, Sania, kamu salah. Saya gak akan merasa terbantu sama sekali. Jadi putuskan karena keinginanmu sendiri.” Lalu kulirik produser tersebut yang langsung tertawa meminta maaf.
Saat acara hampir berakhir aku menangkap kehadiran seseorang yang tidak asing. Orang yang sejak tadi sedikit-sedikit terus menoleh ke arah meja kami. Dramaku dengan orang itu belum berakhir. Dia pasti sangat tidak tenang melihat pujaan hatinya sedang berada di dekat macan betina. Mata kami tidak sengaja saling bertemu, dan bisa dipastikan dia langsung menatap tajam padaku. Aku sama sekali tidak memedulikannya dan langsung menoleh ke arah lain. Dia tak mungkin mengganggu kami saat sedang makan bersama begini. Citranya akan hancur kalau dengan tidak sopan marah-marah padaku di sini.
Namun saat kami pergi, orang itu langsung menghampiri. Dengan langkah-langkah lebar dan kemarahan yang tercetak jelas di wajahnya.
***
Sincerely,
Dark Peppermint