
Raut kaget Sania berubah menjadi senyum semringah, lalu berubah menjadi tawa kecil. “Saya gak ngerti kenapa orang-orang terus salah paham ke kita berdua. Ibu ini benar-benar.”
“Bagaimana?” tanyaku. Salah paham apa? Benar-benar apa? Kenapa dia tersenyum setelah diajak ke ranjang bareng?
“Terima kasih, Bu.” Senyum dan kata-kata Sania membuat pikiran burukku bertambah saja. Jangan-jangan novel ini memiliki plot twist di akhir cerita.
“Saya menghargai candaan Ibu di situasi seperti saat ini. Ibu benar-benar mengagumkan.” Mata perempuan itu berbinar-binar dan sontak saja menghancurkan semua pikiran jelek di kepalaku.
Aku ingin menangis. Hanya aku saja yang berpikiran sempit. Memang cocok sekali dia jadi pemeran utama wanita. Jika dia punya pikiran jelek sedikit saja aku pasti sudah dilaporkan ke komnas perlindungan perempuan.
Kotak misi di depanku akhirnya menampilkan kata “sukses” di layarnya. Syukurlah. Aku selalu merasa diteror setiap benda itu muncul.
“Kamu kelihatan canggung sekali tadi. Maaf kalau kata-kata saya tadi agak keterlaluan.” Aku pun melakukan improvisasi.
“Enggak kok Bu. Ibu punya selera humor yang bagus.”
Selera humor perempuan ini benar-benar unik.
***
Kulemparkan naskah tersebut ke atas meja dan menatap tajam orang-orang itu satu per satu. Yang tentu saja sukses membuat mereka meneguk ludah dan membuang muka ke tempat lain.
“Jadi begini? Ini naskah yang kalian siapkan untuk saya di acara tersebut?” Aku mengetuk-ngetukkan telunjuk ke meja, menunggu mereka untuk menjawab.
Salah satu dari staf itu memberanikan diri. “Apa pertanyaannya terlalu buruk? Kalau Ibu mau kami bisa ganti jadi lebih save.”
Aku tersenyum sinis. Membuat para anak ayam itu semakin mengkerut, termasuk pria yang waktu itu menawarkan agar aku ikut program ini.
“Kamu!” tunjukku para si pria. “Kamu yang waktu itu nyuruh saya ikut kan?”
Dia mengangguk.
“Apa kamu pikir pertanyaan-pertanyaan ini sudah pas?”
Dia meneguk ludah sebelum menjawab, “Belum, Bu. Pertanyaan-pertanyaan itu akan menghancurkan reputasi Ibu. Seharusnya kami—“
“Ck, ck, ck, ternyata kamu sama saja. Pertanyaan ini terlalu biasa. Tidak menantang sama sekali. Penonton akan bosan melihat saja ditanyai seperti ini. Kalau kalian rasa pertanyaan ini masih harus dibuat lebih save lagi, lantas harus seperti apa? Haruskah pembawa acara bertanya saya sarapan apa tadi pagi? Atau apa sabun cuci muka yang saya pakai? Pertanyaan seperti itu yang kalian maksud?”
“Enggak, Bu,” jawab mereka serentak yang mengingatkanku dengan prajurit di barak militer.
“Kalau gitu, ganti. Saya mau yang lebih nendang lagi,” putusku.
Hah. Pertanyaan-pertanyaan bayi yang mereka siapkan tak ada apa-apanya jika dibanding makian yang kuterima dari fans si kuman Tony Lesmana.
“Kok kalian diam saja?” tanyaku pada mereka yang hanya saling memandang satu sama lain.
“Kami mana bisa melakukan hal ini ke Ibu."
Kenapa tidak bisa? Karena aku calon pimpinan di masa depan? Dan kalau saja tidak, kalian pasti sudah mengganyangku hidup-hidup?
“Jadi kalian mau menentang?”
Mereka semua diam sampai sebuah suara muncul. “Sebenarnya ada hubungan apa Anda dengan Tony Lesmana selama ini?”
Aku tersenyum memandang orang tersebut. Seorang pria berkacamata yang adalah produser acara ini. “Ada hubungan apa Ibu dengan Tony Lesmana?” tanyanya sekali lagi, dan sukses membuat para staf lain menahan napas.
“Apa yang Bapak lakukan?” tanya orang di sebelahnya.
“Bekerja,” jawabnya santai.
“Yah...,” mulaiku dengan santai. “Hubungan kami hanya sebatas atasan dan pegawai yang terikat kontrak.”
“Sayangnya enggak. Akhir-akhir ini aku tahu bagaimana susahnya mencari uang. Jadi membayar wartawan untuk membungkam berita semacam ini rasanya agak kurang berguna. Sepertinya ayahku yang melakukannya. Dia sudah tidak perlu memperhitungkan susahnya mencari uang. Uangnya sudah sangat banyak. Jadi karena tidak ingin repot, sepertinya dia melakukan ini.”
“Ada yang mengatakan bahwa Anda menggoda Tony Lesmana?”
Entah mengapa aku merasa semua orang di sini menahan napas.
Aku menanggapi pertanyaan itu dengan tertawa riang. “Sebenarnya Keanu Reeves mengirimkan DM padaku minggu lalu, katanya apakah aku lowong malam minggu nanti.” Aku mengangkat tangan seolah DM begitu adalah hal biasa. “Lalu kamu sendiri, bagaimana kalau aku menggoda dan menjanjikanmu untuk menjadi artis? Apa kamu akan terima penawaranku?”
“Tidak. Saya tidak menukar harga diri saya dengan uang.”
Aku lalu mengeluarkan sebuah cek dan menuliskan sebuah nominal yang cukup fantastis, lalu menyerahkannya pada pria tersebut. Dia menelan ludah dan matanya membola.
“Itu hanya uang muka.”
Saat tangan pria itu terjulur ingin mengambilnya kutarik kembali cek tersebut. “Aku berubah pikiran.”
Semua orang di sini menahan tawa melihat wajah pria itu yang memerah.
“Kamu jangan khawatir. Aku tidak tertarik padamu kok. Begitu pula dengan Tony Lesmana. Dan maafkan aku, aku hanya bercanda.”
Lalu entah karena suasana tidak secanggung sebelumnya staf lain mulai ikut bertanya, “Katanya Anda tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan bisnis ini, bagaimana tanggapan Ibu mengenai hal tersebut?”
Aku menjawab sembari tersenyum lebar. “Itu benar. Kalau aku memang memiliki kemampuan aku tak akan berada di sini. Aku pasti sudah berada di acara ekonomi dan bisnis.”
“Para netizen berkata kalau Anda memiliki dendam pada ayah Anda sendiri?”
“Sebenarnya aku sedikit ngambek pada ayahku akhir-akhir ini. Kuharap aku bisa punya kakak atau adik. Setidaknya bukan hanya aku yang akan ributi soal memberinya cucu. Tapi aku paham keinginannya. Di usianya yang sekarang pasti ia sudah sangat tergoda memamerkan cucunya yang sehat pada teman dan koleganya.” Aku tertawa sedikit. “Tapi aku belum siap menikah. Mungkin salah satu dari kalian ada yang berminat jadi anak ayahku dan memberinya cucu. Dia pasti senang sekali.”
“Lalu bagaimana dengan kabar tentang Anda mengganggu salah satu pegawai di kantor Anda? Menyiramnya dengan kopi—“
“Itu tidak benar.” Akhirnya setelah sejak tadi diam Sania buka suara. “Bu Catherine tidak sengaja melakukannya. Sayalah yang menyenggol tangannya waktu itu.”
Semua orang di sini terkesiap mendengarnya.
“Orang-orang pasti lebih senang jika aku melakukannya. Tapi, teman-teman sekalian, aku suka sekali kopi, menyiramnya begitu saja ke kemeja seseorang kedengarannya bukan ide bagus.”.
“Anda kemari dengan pegawai itu?” tanya salah satu staf lagi.
“Iya. Dia di sini untuk membantu sekretaris pribadiku. Kalian boleh cek sendiri, apa dia terlihat seperti orang yang teraniaya. Ya, walau memang kuakui terkadang aku bisa sedikit mengintimidasi. Begitulah, mungkin bakat bawaan lahir orang yang berwajah seram sepertiku.”
Kali ini mereka tidak menyembunyikan tawa mereka sama sekali. Beberapa dari mereka bahkan menyebutku lucu dan menyenangkan.
“Baiklah, Bu,” kata produser pria tadi. “Kami akan menulis naskahnya seperti yang sudah ditanyakan tadi.”
“Baik,” kataku sembari bangkit berdiri, lalu menyalaminya sambil tersenyum profesional. “Saya tunggu kabar selanjutnya. Dan saya benar-benar minta maaf kalau masalah cek tadi menyinggung Anda.”
Pria itu tertawa malu. “Saya juga minta maaf karena lebih dulu memancing Anda.”
Aku tahu dia memang tidak menyukaiku sedari awal makanya langsung menangkap umpanku begitu saja. Mungkin dia punya niat untuk memperlihatkan keburukanku atau apa. Lalu aku pun memang sengaja membuatnya malu untuk balas dendam. Namun sepertinya dia tidak sebenci tadi lagi padaku.
Baiklah, anggap ini win-win.
***
Sincerely,
Dark Peppermint