
"Ibu pasti kedinginan," ucap Keegan begitu ia telah duduk di kursi pengemudi. Tanpa kuminta ia pun langsung mematikan AC. "Sayangnya gak ada selimut di mobil. Saya bakal cepat sampai ke rumah Ibu," ucapnya sembari memacu mobil.
"Gak usah buru-buru. Pelan-pelan aja."
"Aman kok, Bu."
"Aman gimana? Ini kan hujan deras. Jangan ngebut bawa mobilnya."
"Ibu gak masalah kedinginan?" Dia melirikku melalui spion. Kulihat sebulir air menetes dari dahinya.
"Kamu yang jauh lebih basah dari saya, jadi khawatirkan dirimu sendiri lebih dulu."
"Saya gak masalah--"
"Kamu memang merasa gak masalah, tapi saya yang merasa hal tersebut masalah. Bisa-bisa saya disebut bos jahat lagi karena maksa karyawan saya masang ban mobil saat kondisi lagi hujan."
Keegan mulai menjalankan mobil. "Itu kan karena keinginan saya sendiri, bukan karena paksaan dari Ibu."
"Kamu--" Kata-kataku terhenti saat tanpa sengaja mataku melihat tangannya yang berada di persneling mobil. Sebulir air lagi-lagi menetes melalui lengan hingga mencapai urat-urat tangannya. Tanpa sadar aku meneguk ludah. Sejak kapan dia mengangkat lengan kemejanya sampai ke siku begitu. Dan sialnya kemeja putih yang Keegan pakai kini menepak di tubuhnya yang basah.
Kini aku tidak berkomentar apa pun lagi. Dan aku membiarkan Keegan memacu mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju ke rumahku. Meski laju mobil lebih cepat dari biasanya aku sadar betul Keegan tetap berhati-hati dan waspada. Lagi pula dia adalah pengemudi yang sangat ahli. Jadi mungkin lebih baik seperti ini agar kami cepat sampai ke rumah juga.
Selama perjalanan aku hanya duduk diam sambil menatap keluar jendela. Saat rumahku sudah dekat, aku tak sengaja melihat bibir Keegan yang agak gemetar melalui spion mobil. Aku mengembuskan napas mengetahui ia pasti sangat kedinginan sekarang.
Begitu sampai di rumahku, entah karena setan apa, aku berkata, "Kamu gak mau mampir dulu. Mandi dulu sebentar baru pulang."
Sumpah aku tidak punya niat jelek mengajak laki-laki ke rumah malam-malam begini untuk menumpang mandi. Aku cuma mau dia tidak kedinginan lagi saja.
Kukira Keegan akan menolak, namun dia langsung menerima tawaranku.
***
Meski dia sudah sering ada di sini. Namun entah kenapa sekarang rasanya canggung melihatnya berada di rumahku.
Aku berdeham. "Kamu bisa pakai kamar mandi di kamar tamu. Nanti saya bawakan baju saya yang agak besar buat kamu."
"Baik, Bu," jawab Keegan datar-datar saja. Aku jadi kesal karena hanya diriku yang sepertinya canggung di sini.
"Kalau gitu saya juga mau mandi," ucapku sebelum meninggalkannya pergi.
Sesampainya di kamar aku langsung membuka lemari.
"Baju apa yang bisa dipake Keegan ya?" Aku menyibak beberapa baju dan tak menemukan yang sesuai. Selanjutnya aku membongkar seluruh lemariku. Kan tidak lucu jika aku sudah menyuruhnya mandi tapi malah tidak ada baju ganti untuknya. Akhirnya aku menemukan baju dan sebuah celana training yang cukup besar.
"Ini kayaknya cocok," ucapku, lalu dengan sedikit bersemangat berlari ke kamar tamu. Sebelum membuka pintu aku berhenti sejenak.
"Keegan sudah selesai mandi belum ya?" Kan tidak lucu kalau saat aku membuka pintu dia malah sedang telanjang bulat di dalam. Atau aku buka saja ya?
Ya Tuhan... apa yang kupikirkan? Kenapa bisa-bisanya aku punya pikiran sebejat itu untuk anak meong seperti Keegan. Maka dari itu aku pun mengetuk pintu.
"Kee, kamu sudah selesai mandi? saya boleh masuk tidak?"
Astaga baru kali ini aku sebagai atasan harus mengetuk pintu lebih dulu saat ingin bertemu dengan bawahan.
Namun tidak ada sahutan dari dalam. Jadi pelan-pelan aku membuka pintu sambil memejamkan mata. Dan tidak ada suara jeritan yang terdengar, berarti Keegan tidak ada di dalam. Jadi aku pun membuka mata. Dan benar saja tidak ada Keegan di dalam.
Aku buru-buru masuk dan meletakkan pakaian yang kubawa di atas kasur. Saat aku berbalik pintu kamar mandi terbuka lebar. Keegan muncul dari dalam hanya menggunakan handuk pendek di pinggangnya.
Dan meski yang kulihat sekarang adalah pemandangan indah, aku tetap saja berteriak, lalu berlari secepatnya menuju pintu.
Lalu sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselku.
Ibu gak apa-apa? Maaf saya gak tau Ibu ada di dalam.
Kenapa malah dia yang minta maaf?
Gak perlu minta maaf. Saya yang sembarangan masuk. Saya cuma ngantar baju. Jadi jangan salah paham.
Aku menepuk dahiku. Haruskah aku menuliskan "jangan salah paham" itu.
"Akhhh" jeritku sambil melompat-lompat kesal.
Saya gak salah paham kok, Bu.
Dan jawaban Keegan sama sekali tak membuatku lebih baik.
Tapi kenapa Ibu belum mandi? Nanti Ibu masuk angin loh.
Tanpa sadar aku tersenyum membacanya. Namun aku tidak berniat membalasnya. Aku hanya langsung pergi ke kamar mandi dan memulai ritual mandiku.
***
"Ah..." kagetku saat keluar dari kamar dan melihat Keegan sedang duduk di sofa ruang tengah. Aku tentu masih ingat dengan jelas bahwa sekarang dia tengah berada di rumahku. Namun aku hanya tidak menyangka dia akan berada di sini. "Saya mau buat cokelat panas. Kamu mau juga?"
"Ini sudah malam." Jawaban Keegan membuatku sedikit kecewa.
"Oke," jawabku berusaha setenang mungkin. Namun kurasa kekecewaan tidak berdasarku itu terdengar jelas.
"Tapi kayaknya saya mau sedikit cokelat panas kalau Ibu gak keberatan."
Aku berusaha menyembunyikan senyum. "Saya gak keberatan," jawabku.
Lalu kami ke dapur bersama. Aku membuka-buka lemari mencari bubuk kakao dan gelas.
"Biar saya saja," ucap Keegan sambil merebut dua benda tersebut dari tanganku.
"Gak usah, biar saya saja." Aku merebutnya kembali dan membuat jari kami saling bersentuhan. Aku langsung meletakkan gelas dan jar berisi bubuk kakao di atas meja. "Iya, kamu aja yang bikin." Selanjutnya aku langsung duduk di kursi bar yang cukup jauh dari tempat Keegan berdiri.
Dia tidak berkomentar apa pun dan mulai membuat cokelat panas. Tak berapa lama segelas cokelat panas disodorkan ke depanku. "Saya tambah marsmallow sesuai dengan yang Ibu suka."
"Terima kasih," sahutku sambil menarik gelas tersebut dan meminumnya.
"Enak?" tanya Keegan.
Aku menjawabnya melalui anggukan. "Enak. Kamu juga minum. Jangan cuma ngeliatin saya minum doang."
Keegan pun melakukan hal yang sama.
Selama beberapa waktu kami tidak berkata apa pun. Sialan. Kenapa di saat-saat begini aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Bukannya ada banyak pekerjaan untuk besok, aku bisa membahasnya agar suasana di sini tak terlalu canggung. Tapi bahkan saat ini aku tidak ingat apa pun mengenai pekerjaan kami. Sebenarnya besok kami mau melakukan apa pun aku tidak ingat.
"Ah, gimana kalau sekarang kita nonton drama sebentar," usulku. "Drama yang dibintangi Wisnu Prakarsa itu lagi hitz banget kan? Saya pengin banget nonton itu." Tanpa meminta persetujuan Keegan, aku berjalan menuju ruang tengah. Di sana aku menyalakan televisi dan Keegan pun mengekoriku. Bukannya duduk di sofa yang berbeda, dia malah duduk di sampingku.
***
Sincerely,
Dark Peppermint