
Napasku mulai normal kembali saat melihat lantai tujuanku semakin dekat. Meski dia diam saja tanpa berkata atau berbuat apa pun tetap saja aku tak nyaman.
Namun... Dasar aku yang memang pembawa sial, lift ini mendadak berguncang seperti di film-film yang selama ini kulihat. Hingga akhirnya berhenti bergerak.
Dan sebuah jeritan terdengar. Yang sialnya itu adalah suaraku sendiri. Terdengar sangat menyedihkan bahkan di telingaku sendiri. Hancur sudah image-ku sebagai wanita karir yang anggun dan penuh wibawa.
Aku lekas menutup mulut lalu sadar sesuatu. Apa-apaan tangan ini? Dia melingkar di mana? Meski bocah ini hangat, besar, dan terasa sangat nyaman dipeluk, mana boleh aku begini.
Jangan peluk orang sembarangan!
Lekas aku mendorong bocah itu menjauh. Rasaku aku sudah mendorongnya sekuat tenaga, tapi nyatanya ia tak bergeser satu senti pun.
Sial. Benar-benar memalukan.
Akhirnya akulah yang bergerak mundur. Menjauh darinya menuju sudut lift.
Dia mengangkat tangannya seperti orang menyerah. "Bukan saya yang peluk Ibu. Ibu yang duluan peluk saya," ucapnya dibarengi cengiran lebar.
Aku memberinya pelototan tajam. "Saya kan gak sengaja karena kaget. Seharusnya kamu pun jangan diam saja," belaku tak mau mengalah.
"Jadi Ibu mau saya bagaimana? Mendorong Ibu menjauh gara-gara seenaknya peluk-peluk saya? Saya gak bisa dorong perempuan. Saya gak tega berbuat kayak gitu. Lagi pula saya yang akan disalahkan kalau berani dorong cewek. Makanya saya cuma bisa diam aja waktu Ibu peluk seenaknya gitu."
"Se-seenaknya peluk-peluk kamu? Saya? Seenaknya peluk kamu?"
"Iya, Ibu kan memang seenaknya peluk-peluk saya," jawabnya enteng dengan wajah menyebabkan penuh cengiran.
Aku tak bisa percaya ini.
"Kan sudah saya bilang saya gak sengaja."
Dari ceritanya aku terdengar seperti tante girang yang mencari kesempatan dengan berondong saja.
"Saya kan gak tahu itu sengaja atau enggak."
Mulutku terbuka, tapi sulit sekali mengeluarkan kata-kata untuk membantah ucapannya. Dia... menyebalkan sekali. Percaya diri sekali.
"Jadi kamu mau nuduh saya sengaja peluk kamu tadi?"
Kenapa pembicaraannya jadi berbelit-belit begini sih?
"Saya gak bilang begitu. Saya cuma bilang saya gak tau apa niat Ibu peluk saya begitu. Bisa saja enggak sengaja kayak yang Ibu akui, bisa saja enggak kan? Satu-satunya yang tahu pasti niat Ibu, ya Ibu sendiri."
Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Anak ini tidak bisa dihadapi dengan cara begini. Dia sama sekali tidak takut atau segan padaku. Dia malah menganggap menggodaku adalah hal yang menyenangkan. Aku akan kalah kalau melawani ocehannya terus.
Dengan lebih tenang aku berkata, "Saya minta maaf atas tindakan saya tadi. Tapi mau kamu percaya atau tidak, saya benar-benar gak sengaja memeluk kamu. Saya...," aku berdeham sejenak, "agak takut dengan lift yang tiba-tiba berhenti begini." Mendadak aku teringat situasi kami. Sambil melirik sekeliling jantungku berdegup kencang kembali. Napasku memberat dan kurasakan tanganku agak bergetar.
Dari dulu aku benci ruangan tertutup. Apalagi sekarang aku terjebak di dalamnya.
Aku menelan ludah dengan susah payah sebelum kembali melanjutkan, "Saya minta maaf sudah memeluk dan mendorong kamu tiba-tiba."
Sial. Rasanya kondisiku semakin buruk saja. Padahal saat benda ini bergerak aku merasa baik-baik saja. Kenapa saat berhenti begini terasa mengerikan?
"Gak perlu dilihat kalau memang gak mau," bisik sebuah suara. "Saya bakal pura-pura gak terjadi apa pun. Sebenarnya saya pengin peluk Ibu sekarang, tapi saya pasti didorong lagi kalau begitu. Jadi, izinkan saya buat nutup mata Ibu seperti sekarang ini aja."
Jika di kondisi normal aku pasti akan mengeluarkan semua kesinisanku untuk kata-kata gombalnya itu, tapi sekarang aku tidak sanggup untuk melakukan hal itu. Malah tangannya terasa hangat dan nyaman. Kurasa kehadirannya cukup membantuku saat ini.
Selanjutnya aku mendengar bocah itu berbicara dengan seseorang. Sepertinya dia menekan tombol darurat dan meminta pertolongan, memberitahukan kondisi kami yang terjebak saat ini.
Tak berapa lama lift mulai bergerak kembali. Perlahan aku merasa darahku mulai kembali normal. Tangan hangat yang melingkupi mataku menjauh. Saat mataku membuka kulihat wajah bocah itu yang tersenyum lebar. "Udah gak apa-apa kan?"
Sialan. Dia kan cuma anak kecil iseng yang kucurigai sakit mata, kenapa sekarang dia terlihat seperti pahlawan?
Pahlawan? Bocah itu? Haha, aku sudah tidak waras.
Sadarlah, Cath, meski dia sudah menolongmu dia tidak sehebat itu.
"Udah gak apa-apa?" Kini wajah semringahnya berubah menjadi khawatir, melihatku yang tak kunjung menjawab.
"Iya. Gak apa-apa kok," sahutku yang sialnya agak terburu-buru. Aku berdeham, lalu melanjutkan, "Saya sudah lebih baik." Kini suaraku terdengar lebih mantap dan aku puas mendengarnya.
Saat pintu lift terbuka di lantai ruanganku aku lekas keluar. Sebelum lift menutup kembali, aku berbalik dan menatap matanya. "Terima kasih," ucapku bersungguh-sungguh.
Dia tak menjawab. Hanya tersenyum sambil tangannya membentuk simbol oke dengan telunjuk dan jari tengah.
"Ibu gak apa-apa?" Aku tersentak kaget saat tiba-tiba saja Keegan sudah berdiri di sampingku dengan wajah khawatir.
Belum sempat aku menjawab dia menoleh pada pintu lift yang semakin menutup. Di dalamnya bocah itu melambai pada Keegan. Dan berhasil membuat pandangan Keegan langsung berapi-api.
Pintu lift menutup, Keegan masih menatap ke sana dengan kesal sebelum kembali padaku. "Ibu gak apa-apa kan? Saya kaget sekali mendengar Ibu terjebak di dalam lift."
"Ah, bukan apa-apa," jawabku sok kuat. Tak mungkin kan aku mengaku aku takut setengah mati sampai memeluk bocah tadi. Mau ditaruh di mana harga diri dan martabatku. Keegan pun pasti akan menilai yang tidak-tidak kalau aku sedang mencari kesempatan mendekati bocah itu.
"Ibu jangan bohong. Ibu kan takut terjebak di ruangan tertutup."
Kata-kata Keegan entah mengapa terasa langsung menancap ke dalam hatiku.
"Ibu gak perlu pura-pura kuat di hadapan saya. Saya sudah tahu semua itu sejak dulu. Jadi gak ada yang perlu ditutupi."
Aku tak menjawab apa-apa selama beberapa saat. Sampai Keegan bertanya kembali.
"Serius kok, saya gak apa-apa." Aku tersenyum sedikit. "Tadi memang takut, tapi sekarang saya baik-baik saja." Aku bergegas pergi ke ruanganku. "Tolong bawakan saya minum ya."
"Baik, Bu," sahut Keegan di belakangku. Tanpa aku menoleh untuk menatapnya.
Entahlah. Aku sendiri juga tak tahu kenapa aku merasa aneh. Catherine ternyata juga memiliki ketakutan yang sama denganku.
***
Sincerely,
Dark Peppermint