
"Kalau gak tau salahnya apa mending gak usah minta maaf deh. Karena kami cewek lebih kesal lagi sama cowok yang kayak gitu. Kesannya kalian gak mau nyari tau kesalahan kalian. Kalian bilang maaf karena mau cepat selesai aja kan?"
Rasanya aku ingin menyembunyikan wajahku ke balik batu sekarang. Apa tadi yang kubilang? "Kami cewek"? Aku juga memposisikan diriku sebagai cewek ke dia? Akkkhhhh!!! Sebenarnya kami sedang apa sih?
Keegan melihatku dalam. "Maaf," katanya lagi. Membuatku frustrasi.
Kupukul lengannya. "Kok malah minta maaf lagi? Memangnya udah tau salahnya apa?"
"Belum." Dia menggeleng polos dan aku tertawa.
"Terus kenapa minta maaf lagi?"
"Habis saya gak tau mau ngomong apa. Jadi saya minta maaf karena saya gak tau salah saya apa."
Aku tertawa. "Seenggaknya kamu tau sekarang salah kamu apa."
Kini dia sedikit tersenyum. Lalu tanpa ba bi bu Keegan memegang pergelangan kakiku.
"Kamu mau apa?" teriakku sambil menyingkirkan tangannya.
"Saya cuma mau periksa kaki Ibu aja." Dia tak memedulikan penolakanku. Disingkirkannya sedikit celana panjangku, hingga pergelangan kakiku terlihat. Aku meringis. Kakiku memerah. "Kayaknya Ibu keseleo."
Aku menatap Keegan putus asa. "Terus harus gimana?" Seumur hidup aku belum pernah keseleo.
"Coba Ibu gerakkan ke dalam sedikit." Aku melakukan anjuran Keegan dan langsung mengaduh. Rasanya sakit sekali.
"Kayaknya benar Ibu keseleo," putusnya, lalu bangkit berdiri.
"Kamu mau ke mana?" tanyaku.
"Gak ke mana-mana kok," jawabku lalu ia berjongkok sedikit. Dan dalam satu gerakan yang cepat ia meletakkan kedua tangannya di punggung dan di bawah lututku. Aku nyaris memekik saat ia menggendongku di depan seperti pengantin baru.
"Kamu--"
"Kaki Ibu kan sakit. Jangan dipaksa buat jalan." Lalu dibawanya aku pergi. Saat keluar dari pintu Shania langsung panik melihatku.
"Ibu gak apa-apa?"
"Shania kamu bawakan tas Ibu ya," suruh Keegan tanpa menjawab pertanyaan Shania.
"Oh, baik, Mas," sahutnya. Lalu dari balik bahu Keegan kulihat Shania yang berlari mengambil tasku yang tergeletak di lantai. Aku bahkan tak sadar kalau tasku tertinggal di sana.
Saat keluar dari dalam lift aku harus menebalkan muka saat semua orang di lobi menjadikan kami pusat perhatian.
Bisik-bisik tentang mengapa aku digendong oleh sekretasiku terdengar samar-samar. Untuk menyembuhkan rasa malu aku pun membenamkan wajahku ke dada Keegan. Pada detik berikutnya aku baru sadar tindakanku ini sangat tidak tepat. Dada Keegan terasa sangat keras dan panas. Detak jantungnya terasa menghantam pipiku. Aku langsung merona, ditambah lagi aroma citrus yang menguar dari kemeja hitamnya.
Namun sialnya aku terlalu malu untuk menunjukkan wajahku kembali. Jadi aku tetap mempertahankan posisi ini. Walau rasanya jantungku hampir meledak di dalam.
"Shania bisa bukakan pintu mobil?"
Aku mengintip sedikit mendengar kata-kata Keegan. Kami sudah sampai di parkiran. Sejak tadi aku tak menyadari kehadiran Shania. Sepertinya dia terus mengikuti kami dari belakang dari tadi.
"Iya, Mas." Keegan mengeluarkan kunci mobil dari dalam sakunya, dan langsung diambil oleh Shania.
Begitu pintu mobil dibuka oleh Shania, Keegan langsung memasukkanku ke dalam.
Aku merasa sangat malu sekarang. Aku seperti anak kecil yang tidak bisa apa-apa.
Selanjutnya Keegan mengambil tasku dari Shania.
"Mas mau bawa Ibu ke mana?" tanya Shania sebelum Keegan menutup pintu di mobil. Aku tak mendengar lagi apa yang mereka bicarakan. Lalu selanjutnya Keegan sudah naik ke kursi pengemudi.
"Kalau gitu saya gak akan bawa Ibu ke dokter."
Keegan memang tidak membawaku ke dokter. Tapi ya tidak ke sini juga.
"Sakit?" tanya mamanya Keegan entah untuk yang ke berapa kalinya. Aku tersenyum meringis.
"Enggak kok, Tante."
"Gak sakit kok mukanya kayak gitu," ucapnya sambil mengurut kakiku dengan minyak yang tak kutahu apa.
"Tenang aja. Tante gak sembarangan urut kok." Tapi kata-katanya sama sekali tidak membuatku tenang. "Tahan sedikit ya. Sebentar lagi selesai kok."
Sepertinya sejak tadi dia sudah bilang akan selesai, tapi tidak selesai-selesai.
"Au..." aku mengaduh. Dan mamanya Keegan terus menyuruhku menahan rasa sakit. Saat semuanya selesai kakiku sudah dibalut kain.
"Jangan dibawa jalan-jalan dulu."
Aku mengangguk saja. "Iya, Tante."
"Kamu udah makan? Tante ada masak ayam kalasan itu. Makan ya?"
Aku mau menolak tapi wanita itu sudah berdiri. "Kee, ambilin makan buat temannya ini."
"Tante cuci tangan dulu. Kamu duduk aja. Nanti Tante balik lagi."
Aku benar-benar tak punya kesempatan bicara pada mamanya Keegan. Sampai sekarang pun aku masih tidak mengerti kenapa perempuan seproaktif itu berbicara bisa jadi ibunya Keegan. Atau lebih tepatnya kenapa wanita seproaktif itu dalam bicara bisa punya anak seperti Keegan.
Tak berapa lama Keegan datang membawakan nampan makanan. Aku ingin menangis sekarang. Kakiku hanya terkilir tapi diperlakukan seperti pasien di rumah sakit. Dan lagi, aku diperlakukan begini di rumah orang lain. Rasanya seperti orang tidak tahu diri saja.
Keegan duduk di setelah meletakkan nampan di atas meja. Diambil piring tersebut dan aku bersiap mengambilnya. Namun Keegan tak memberikannya padaku. Dia malah menyendokkan nasi dan lauk lalu menyulangkannya padaku.
Aku terpelongo.
"Ak," kata Keegan menyuruhku membuka mulut. Namun aku tak melakukannya. Mataku beralih pada sesosok wanita paruh baya yang berdiri agak jauh di belakang Keegan. Bukan, wanita itu bukan penampakan. Wanita itu mamanya Keegan yang tengah menutup mulutnya kaget dengan wajah terharu. Setelah memotret kami berdua dengan kamera mirrorlesss kecil, dia langsung berlari kecil ke dapur.
Apa maksudnya itu?
Dia ingin memberikan kami ruang untuk berdua?
Bukankah seharusnya orang tua agak khawatir saat anaknya berduaan saja dengan lawan jenis?
"Ak," ucap Keegan sekali lagi. Dan entah dapat dorongan dari mana mulutku langsung membuka. Aku melahap makanan tersebut dan langsung tersentak. Rasanya enak sekali.
Ya, beginilah rasanya masakan rumah. Aku jarang sekali merasakannya. Di kehidupanku sebelumnya, pertama kali aku memakan masakan rumah adalah saat berkunjung ke rumah temanku saat SMP. Dan selanjutnya bisa dihitung dengan jari aku merasakan masakan rumah.
Saat makan malam di rumah Catherine, aku tidak tahu siapa yang memasak, dan sama sekali tidak merasakan apa pun meski tengah makan bersama keluarga.
Lalu saat terakhir kali pergi ke rumah Keegan aku sudah sadar masakan mamanya sangat lezat. Tapi aku tak terlalu memedulikannya.
Namun sekarang, aku dirawat dan diperlakukan dengan sangat baik begini. Ditambah rasa masakannya yang luar biasa, entahlah, aku merasa seperti di rumah.
Bukankah ini aneh. Aku bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan begini di rumah yang bukan rumahku.
***
Sincerely,
Dark Peppermint