
Aku mengembuskan napas lelah mengingat semua tingkahku semalam. Lalu pintu ruanganku diketuk.
"Masuk," jawabku. Dan Keegan pun masuk ke dalam. Napasku tercekat ditenggorokan. Kenapa dia masuk kemari. Kata Shania tadi dia masih di luar.
"Ibu panggil saya?" tanyanya.
Ha? Gimana? Sejak kapan aku memanggilnya.
Dengan santai dia berjalan menuju mejaku. Rasanya aku bisa merasakan setiap langkahnya yang berderap kemari. Dan tanpa sadar aku mencubit lenganku sendiri untuk menahan diri agar tidak memekik. Semua memori itu lagi-lagi kembali berputar-putar di kepalaku.
"Saya gak ada panggil kamu," jawabku kaku dengan nada suara yang sangat tidak bersahabat.
"Tapi--" Seeblum Keegan melanjutkan kata-katanya pintu ruanganku kembali diketuk.Setelah kupersilakan, Shania masuk ke dalam.
"Oh, Mas Keegan sudah ketemu Ibu."
Dahiku mengernyit. "Kenapa dia harus ketemu saya?" tanyaku pada Shania.
"Ibu kan nyariin Mas Keegan dari tadi?"
"Ma-maksudnya? Kapan saya nyariin dia?"
Shania menjawab polos, "Dari pagi kan Ibu nyariin Mas Keegan terus." Aku memang terus menanyai Shania tentang di mana keberadaan Keegan, tapi bukan karena mau ketemu dengannya. Malah sebaliknya, aku harus tahu di mana Keegan berada agar aku bisa menghindar terus dari pria itu. "Makanya tadi pas ketemu Mas Keegan saya langsung bilang kalau Ibu nyari dia," sambung Shania kembali.
Jika tidak ada Keegan aku pasti sudah menepok jidat. Jidatnya Shania.
"Saya gak nyari Keegan, Shania," jawabku akhirnya. Dan raut wajah Shania berubah syok. Reaksi yang menurutku agak berlebihan. "Kalau gak nyari Mas Keegan, kenapa diatanyaiin terus Mas Keegan-nya, Bu? Kataknya lebih sepuluh kali Ibu nanyaiin. Makanya saya kira ada yang penting."
Se-sepuluh? Shania pasti mengada-ada. Tidak mungkin sebanyak itu aku bertanya tentang Keegan. Ini bahkan belum lewat tengah hari.
"Kamu melebih-lebihkan," jawabku berusaha setenang mungkin. Kulirik Keegan dari ekor mataku. Dia tampak tak terganggu sama sekali. Sialan. Padahal aku sudah kalang kabut tapi reksinya malah biasa saja begitu. Tapi ya memangnya reaksi bagaimana yang kuharapkan? Dia salto-salto karena aku ketahuan bertanya tentang dia terus-menerus? Tidak mungkin kan. Malah bagus reaksinya begini. "Dan saya gak mencari Keegan."
"Mungkin Shania salah paham, Bu," sahut Keegan setelah sejak tadi bungkam.
"Salah paham?" Shania agak bingung.
"Mencari seseorang bukan berarti ingin bertemu saja. Bisa saja malah sebaliknya," ucap Keegan dingin. "Kalau begitu, Bu, saya permisi dulu."
Dengan suara berat aku menjawab, "Ya." kata yang bahkan terdengar tidak yakin di telingaku sendiri.
Selanjutnya Keegan langsung pergi dari ruanganku, disusul Shania setelah ia menyerahkan beberapa berkas.
***
"Debut Galaxy 112 sukses besar. Jadwal mereka terus padat akhir-akhir ini. acar-acara televisi berbondong-bondong mengundang mereka sebagai bintang tamu. Terutama Xei. Dia adalah anggota yang paling menonjol dibanding dengan yang lainnya."
Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan Shania.
Entahlah. Akhir-akhir ini sepertinya aku mengalami gejala penuaan. Apa aku akan demensia ya? Sering kali aku tidak bisa fokus pada pekerjaanku dan sering lupa akan melakukan apa.
"Shania," ucapku akhirnya.
"Iya, Bu."
"Kayaknya saya butuh buat janji temu dengan psikiater. Tapi rahasiakan dari semua orang ya."
Wajah Shania berubah panik. "Kenapa, Bu?"
"Tentu saja harus dirahasiakan," jawabku. "Nanti saya pasti digosipkan gila kalau ketahuan pergi ke psikiater."
Entah-entah media yang belum move on dari kasus Tony Lesmana akan menyebut aku gila karena tidak bisa memiliki laki-laki itu.
"Bukan itu, Bu."
Aku jadi tidak mengerti. "Jadi apa?"
"Kenapa Ibu merasa butuh menemui psikiater? Ibu punya masalah?" tanyanya berhati-hati.
"Bukan masalah besar kok," ucapku menenangkan. "Saya cuma agak sulit berkonsentrasi akhir-akhir ini. Kamu liat sendiri kan? Saya bahkan nyari di mana ponsel saya padahal saat itu saya lagi telepon."
Aku meliriknya kesal. "Kamu ngetawain saya? Gimana kalau kondisi saya ini parah."
Demensia!!!
"Saya memang bukan dokter. Tapi kayaknya saya tahu alasan kenapa Ibu gak fokus akhir-akhir ini."
"Ha? Kok bisa kamu tau?"
"Ya, bisa dong," jawab Shania jemawa. "Karena kelihatan jelas Ibu gak bisa fokus tuh karena Mas Keegan."
"Ha?" Aku langsung bangkit dari kursiku. Dan saat sadar reaksiku berlebihan, aku langsung duduk kembali. "Kenapa pula malah dikait-kaitkan ke Keegan."
"Saya awalnya emang gak sadar. Tapi akhir-akhir ini Ibu dan Mas Keegan lagi musuhan ya?"
Aku megap-megap mendengar kata-kata Shania. "Musuhan apanya? Kayak anak kecil aja."
"Kalau tau kayak anak kecil kenapa Ibu sama Mas Keegan gak saling bicara?"
Aku megap-megap lagi. Tapi Shania langsung memeotong sebelum aku membuat pembelaan, "Setiap hari kalian berdua main kucing-kucingan. Gak mau saling papasan. Kalau gak sengaja papasan dua-duanya malah kabur."
Oke, kata-kata Shania berhasil menghantamku dengan sangat telak.
"Saya, saya--" Sial. Aku kehilangan kata-kata.
"Saya mungkin bakal kedengaran sok tau, tapi kalau Ibu sampai gak fokus gitu gara-gara seseorang, berarti masih ada yang harus ibu selesaikan dulu dengan seseorang tersebut."
***
Kata-kata Shania malah menbuatku semakin tidak fokus. Apa artinya aku harus mulai berbaikan dengan Keegan? Berbaikan? Seolah kami sedang bertengkar saja. Yah, intinya sih aku harus memperbaiki hubunganku dengan Keegan. Kami tidak bisa terus bersikap begini.
Namun apa yang kupikirkan dan apa yang kulakukan sangat berbeda jauh. Hari ini kami ada meeting dengan kru film. Seharusnya aku pergi dengan Keegan. Namun dengan keras kepala aku berkata kalau ingin Shania saja yang menemaniku.
Meeting kami berjalan lancar. Aku sekuat tenaga fokus mendengarkan rencana penggarapan film ini selanjutnya.
"Saya kira Ibu bakal pergi sama Mas Keegan," tanya Shania saat kami kembali ke kantorku.
"Saya--" Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Rasanya sungguh aneh membicaran hal ini ke Shania. Kami memang dekat, tapi hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan. Kami tak pernah membicarakan hal pribadi. Dan kurasa masalahku dengan Keegan ini sudah masuk ranah pribadi. Aku tidak yakin untuk menceritakan apa yang kurasakan padanya.
"Kalau Ibu gak mau bahas juga gak apa-apa. Maaf saya terlalu jauh ikut campur."
Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya.
"Saya sedang berusaha memperbaikinya." Aku hanya mengucapkan hal tersebut saja. Jika tak menjawab apa pun Shania akan lebih merasa tidak enak. "Tapi anggap saja ini gak semudah yang saya pikirkan."
Sebenarnya aku sadar betul bahwa hubunganku dengan Keegan memang harus diperbaiki. Tindakan kami beberapa hari ini sangat tidak profesional. Dia memang masih menemuiku jika ada sesuatu hal penting yang harus dibahas. Tapi selebihnya, benar-benar membuat tidak nyaman. Dan kurasa orang di sekitar kami pun ikut menjadi tidak nyaman.
***
Di jam pulang aku berjalan sendiri ke parkiran. Tentu saja sekarang aku pulang sendiri. Dan pulang sendiri begini sebenarnya membuatku agak kesepian. Jujur saja aku jadi merindukan sosok Keegan karena terus menjauhinya begini.
Apa kutelepon saja dia sekarang ya?
Kulihat tadi dia masih ada di mejanya. Begitu sampai di depan mobilku aku langsung mengeluarkan ponsel dan menelepon Keegan.
"Halo, Bu."
"Catherine!"
Aku menoleh ke belakang mendengar suara tersebut. Dan...
***
Sincerely,
Dark Peppermint