
Aku meneguk ludah. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku dan Keegan tidur di sini? Seperti di drama-drama murahan aku memperhatikan pakaianku apakah masih utuh atau tidak.
Aku menghela napas lega setelah melihat pakaian tidurku masih lengkap.
Wajah Keegan tampak sangat damai. Tanpa sadar tanganku bergerak menyentuh bulu mata lentiknya. Dan perlahan mata Keegan terbuka. Refleks aku kaget dan menarik tanganku.
akhhh.... malu banget, teriakku dalam hati. Aku lekas bangkit dari sofa sebelum sebuah tangan menarik lenganku. Tubuhku limbung hingga jatuh kembali. Namun kali ini tidak membentur sofa. Tubuhku membentur tubuh orang yang berada di bawahku. Aku membuka mata. kepalaku tepat berada di dadanya.
Aku mendongak ke atas dan melihat Keegan yang juga tengah melihat tepat ke keduanya mataku. Aku panik setengah mati. Kudorong tubuhnya dan menepis lenganku darinya.
"Wah... udah pagi aja ya," ucapku. "Tidur saya nyenyak banget semalam sampai gak sadar aja udah pagi. Mungkin kecapekan kerja sama nonton drama."
Padahal aku bisa langsung pergi saja tapi kenapa aku malah mengatakan semua omong kosong itu. Kenapa malah membawa-bawa tidur nyenyak. Kenapa malah mengingat-ingat kalau semalam kami nonton drama bersama.
"Kita harus siap-siap sekarang kalau gak mau terlambat. Kamu juga cepat pulang. Kamu gak usah jemput saya nanti. Saya akan bawa mobil sendiri."
Keegan bangkit dari sofa. Sebelum sempat ia mengatakan sesuatu aku segera pergi meninggalkannya.
***
Naskah drama untuk film yang akan kami garap sudah selesai. Aku puas dengan hasil yang sudah ditunjukkan padaku. Aku pun sudah mendengar rencana pra-produksi dari Pak Darma dan yang lainnya. Mereka jelas lebih memahami proses pembuatannya. Namun tentu aku sedikit-sedikit harus tahu juga bagaimana jalannya film ini. Dan sejauh ini aku puas dengan apa yang mereka buat.
Lagi-lagi aku berbincang dengan Pak Tino. Salah satu hal yang harus disiapkan dalam proses pra-produksi adalah casting. Dan entah karena alasan apa dia menanyaiku mengenai masalah ini.
"Jadi menurut Ibu siapa pemeran utama laki-laki yang cocok di film ini?" tanyanya sambil menyeruput kopi yang baru saja dihidangkan Shania.
"Untuk hal itu sepenuhnya saya serahkan pada Bapak saja. Hal tersebut tanggung jawab dan kewenangan Bapak bukan?"
Pak Tino tertawa kecil. "Saya tahu hal itu. Tapi saya tidak mau menyingung Ibu lagi. Mana tau ada aktor pilihan saya yang tidak sesuai atau bermasalah lagi dengan Ibu kan? Saya tidak mau membuat kesalahan yang sama."
Aku tidak tahu dia ini hanya bodoh atau memang sengaja memancing emosi. Atau keduanya? Orang bodoh yang sengaja memancing emosi?
Lalu kotak misi yang akhir-akhir ini tidak pernah terlihat tiba-tiba muncul.
Buat sutradara menyetujui aktor pilihanmu.
Aku cukup bersyukur kotak misi itu tidak menyuruhku melakukan kejahatan. Tapi siapa pula aktor yang harus kupilih. ayku bahkan tidak tahu kualitas apa yang harus dimiliki seorang aktor untuk memerankan peran ini.
Buat Wisnu Prakarsa menjadi aktor utama laki-laki.
Aku memang menyukai pria itu dan sejauh yang kulihat aktingnya pun memang bagus. Keegan juga mengakui aktingnya.
Keegan? mendadak suasana hatiku menjadi buruk. Aku sedang tidak ingin membahas atau mengingatnya dulu saat ini. Aku pun mengembuskan napas dan segera mengenyahkan pria itu dari pikiranku.
Karena kotak misi tersebut, aku pun berkata, "Bagaimana kalu Anda memperrtimbangkan Wisnu Prakarsa sebagai pemeran utama laki-laki di film ini."
"Wisnu Prakarsa?" ulang Pak Tino. "Dia memang sangat terkenal akhir-akhir ini karena drama terakhirnya."
"Ya," sahutku. "Dan aktingnya pun saya rasa tidak perlu diragukan lagi."
Aku mengerutkan kening. "Kenapa Bapak berpikir begitu?"
"Ya, ini hanya pandangan saya sebagai seorang sutradara. Ibu mungkin tidak akan mengerti. Tapi kami bisa mengira apakah seseorang bisa cocok atau tidak untuk sebuah peran hanya dengan melihatnya saja. Dari perawakannya Wisnu Prakarsa juga tidak cocok menjadi pemeran utama laki-laki."
"Ya, tentu saya tidak memahami maksud Bapak karena saya bukan seorang sutradara. Tapi apa Bapak sudah pernah bekerja sama dengan Wisnu Prakarsa?"
"Saya kebetulan belum pernah bekerja sama dengannya," pria itu berucap santai. "Popularitasnya sangat meningkat, tapi dia aktor baru dan belum banyak pengalaman di dunia perfilman, hal ini juga menambah ketidakyakinan saya padanya."
Pria ini benar-benar merasa sebagai si paling benar.
"Pengalamannya tidak akan pernah bertambah kalau setiap sutradara berpikir begitu terhadapnya. Saya memang tidak paham banyak tentang pemilihan aktor ini tapi bukannya aktingnya itu yang paling penting. Selama ini saya melihat orang-orang di internet merasa Tony Lesmana cocok menjadi pemeran utama laki-laki karena perawakannya yang mirip dengan deskripsi di novel. Tapi kurasa jika akting si aktor tidak mumpuni perawakan yang sesuai itu tidak akan ada gunanya kan."
Pak Tino tertawa. "Tentu saja. Yang saya maksud bukan masalah aktingnya. Saya rasa Ibu tidak akan paham kalaupun saya jelaskan."
"Bagaimana saya bisa paham kalau Anda terus-menerus tidak ingin menjelaskan."
Pria itu tersenyum menyebalkan. "Mohon maaf kalau Ibu tersinggung. Hanya saja yang akan saya jelaskan ini bukan ranah Ibu, makanya saya bicara begitu. Tidak akan berguna juga bagi Ibu."
"Saya sendiri yang menilai apakah sesuatu itu berguna atau tidak bagi saya. Tugas kamu hanya perlu menjelaskan."
"Ibu tidak akan pah--"
"Kalau begitu buat sampai saya paham apa maksud kamu."
Pria itu terdiam.
"Kamu terus bilang saya gak akan paham, saya gak akan paham. Tapi gak menjelaskan apa pun yang dibutuhkan. Apa kamu hanya ingin membuat saya terlihat bodoh dan tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini?" tembakku langsung dan kata-kataku sukses membuatnya kebingungan.
Entah dia berbuat begini karena aku menegurnya saat itu mengenai masalah Tony Lesmana. Mungkin dia dia diam-diam sakit hati dan menyimpan dendam karena kupermalukan. Tapi dia salah pilih orang jika ingin membalas dendam dengan cara begini.
Aku bukan orang yang memiliki banyak kesabaran dan aku pun tidak berniat menjadi atasan yang seperti itu.
"Bukan begitu Bu."
"Kalau bukan kenapa kamu mendatangi saya begini dan menanyai pendapat saya tentang siapa pemeran utama laki-laki yang cocok? Tapi setelah saya memberi saran, yang kamu lakukan hanya menyudutkan pilihan saya."
Pria itu masih bisa tertawa sekarang. "Ibu salah paham. Saya tidak pernah menyudutkan pendapat Anda. Saya hanya memberikan kritik. Anda tidak seharusnya bersikap kasar terhadap kritikan seseorang."
Sialan. Aku baru sadar sekarang. Laki-laki ini tipe yang berbahaya. Aku tidak menyadarinya sebelumnya. Tapi dia bisa membuatmu menjadi pihak yang bersalah tanpa kau sadari.
Pria ini sengaja memancingku untuk mengutarakan pendapat siapa pemeran utama laki-laki yang cocok agar dia dapat memberikan kritikan terhadap semua yang kupilih. Dan saat aku tidak terima dengan ucapannya dia dapat berlindung dengan dalih semuanya hanya "kritikan". Semua orang tahu, jika kau tidak terima dengan kritik yang diberikan orang lain maka kau akan dicap sebagai si egois yang merasa dirinya paling benar.
***
Sincerely,
Dark Peppermint