The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 25



Keegan benar-benar. Dia bahkan tak mengangkat teleponku.


Sebenarnya aku punya dua pikiran dengan keadaan ini. Pertama dia malas dan merasa terganggu sekali dengan panggilanku makanya diabaikan. Kedua, dia benar-benar sekarat sampai tak punya tenaga untuk merespons.


Jujur saja aku tak suka kedua kemungkinan tersebut.


Aku sakit hati kalau dia merasa terganggu denganku tapi di lain sisi aku tak mau dia sakit.


Maka dari itu kini aku hanya bisa mencari rumah pria itu berdasarkan alamat seadanya.


Aku memberhentikan mobil di depan sebuah rumah sederhana. Tidak jelek kok. Rumahnya terkesan nyaman dengan halaman dipenuhi berbagai macam tanaman.


Aku turun dari mobil hingga berdiri di depan pintu rumahnya. Dan sialnya baru saat ini aku menyadari sesuatu.


Ini sudah malam. Meski baru jam sembilan malam, tetap saja ini malam hari. Gelap. Lalu bagaimana kalau Keegan tinggal seorang diri?


"Aku memang bodoh," rutukku dan segera berbalik dari depan pintu. Namun baru dua langkah aku berbalik kembali.


"Memangnya kenapa kalau sudah malam? Ini kan cuma Keegan. Ya ampun, Keegan itu bukan cowok. Sejak kapan aku khawatir berdua aja sama cowok itu. Selama ini juga kami sudah sering cuma berdua."


Dia sudah sering datang ke rumahku setiap pagi dan malam. Di sana kami juga hanya berdua. Lantas sekarang apa bedanya?


Aku tertawa. Merasa kekhawatiranku berlebihan.


"Ini cuma Keegan." Aku bersiap mengetuk pintu. Namun tidak jadi.


"Masalahnya aku belum pernah ke rumah laki-laki."


Benar. Saat ini akulah yang datang ke rumahnya. Keegan punya alasan yang jelas untuk datang ke rumahku. Dia asistenku dan memang bertugas mengantar jemputku juga.


Aku melirik kiri dan kanan. Khawatir ada yang memergokiku datang ke rumah laki-laki malam-malam.


"Iya. Mending pulang aja--" Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku ketika pintu rumah Keegan terbuka. Aku bersiap bersembunyi di balik pot tanaman super besar sebelum seorang wanita keluar.


"Kamu siapa ya?" tanyanya penuh kebingungan.


Siapa dia? Keegan gak tinggal sendiri?


"Hmm," gumamku bingung. "Keegan--"


"Oh, nyari Keegan!" Seketika wajah wanita itu berubah cerah. Lalu langsung menuntunku masuk. "Ayo, ayo, masuk."


"Eh, gak perlu--"


"Eh, kenapa gak mau? Udah datang kemari ya masuk dulu. Mau ketemu Keegan kan?" tanyanya begitu sudah berhasil membuatku masuk.


"Iya," cicitku. Jujur saja aku lebih tak mau berkunjung ke sini jika ada ibunya atau siapalah wanita super ramah satu ini.


"Mau jenguk Keegan kan?"


Aku mengangguk saja.


Senyum perempuan itu semakin cerah. "Akhirnya. Seumur-umur gak pernah ada perempuan yang dekat sama dia. Tante sampe khawatir anak Tante itu gak normal loh. " Perempuan itu, yang ternyata benar ibunya Keegan, tertawa. Dan apa yang dikatakan ibunya Keegan bukanlah hal yang mengagetkan buatku. Dengan sifatnya itu pasti tidak ada perempuan yang mau dekat-dekat dengannya. "Memang semua ada waktunya ya. Padahal kalau dia masih kayak biasanya juga, Tante udah gak punya pilihan lain. Ayo, duduk dulu."


Aku pun menuruti perkataan ibunya Keegan dan duduk di sofa yang ditunjukkan.


"Memangnya Tante mau apa?"


"Oh, mau langsung Tante nikahin aja dong dia kalau gak bawa-bawa cewek juga."


Aku meringis. "Tante kayaknya salah paham. Saya sama Keegan gak punya hubungan kayak gitu."


Bukannya kecewa atau apa, perempuan itu malah tertawa kencang.


"Heran apa?" Karena Keegan langsung beli sayuran setelah sembuh dari demam? Kenapa harus heran?


"Heran karena jam segini tapi Tante belum masak. Awalnya Tante cuma masak bubur doang buat Keegan. Mendadak setelah sehat malah minta makan macam-macam anaknya. Makanya jam segini masih sibuk."


Mendadak terdengar suara alarm entah dari mana. "Kayaknya ayam Tante udah masak tuh. Tante tinggal dulu ya. Atau kamu mau ikut ke dapur?"


Aku ingin menolak dan ingin pulang saja. Tapi entahlah. Sepertinya wanita ini berharap sekali aku ikut dengannya ke dapur. Dan akhirnya, entah bagaimana aku sudah berada di dapur saja.


"Kamu suka gak sambal dikasi jeruk nipis? Kalau enggak suka, jeruk nipisnya dipisah aja."


"Suka kok, Tan," ucapku yang saat ini sedang menggiling cabai.


Iya, benar. Aku Catherine Wijaya yang tersohor itu, CEO WJ yang hebat itu, antagonis yang dibenci dan dihinakan itu kini sedang menggiling cabai untuk ayam penyet yang sedang ibunya Keegan buat. Aku sendiri juga heran kenapa gampang sekali bagi ibunya Keegan menyuruh-nyuruhku dan kenapa pula aku menurut. Aku kan bisa langsung mengatakan aku ini atasan Keegan dan semuanya akan beres.


Yah, aku tahu sih jawabannya mengapa aku tak berkata jujur saja, sebab sebenarnya aku cukup menikmati kegiatan ini.


Di kehidupanku sebelumnya aku tak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Lalu di kehidupan sekarang, orang tua Catherine hanya tinggal ayah yang superrewel. Sedangkan ibunya Keegan hangat dan sangat ramah.


"Jadi gimana kamu bisa kenal Keegan?"


"Di kantor, Tan."


"Oh, rekan kerja ternyata. Office romance dong ya." Wanita itu tertawa. "Tante suka banget tuh nonton drama Korea. Apa ya judulnya. Sekretaris Kim apalah gitu. Tentang Bos sama sekretaris..."


Aku mendelik mendengar kata-kata ibunya Keegan. Apa dia tahu aku atasan anaknya? Tapi kenapa dia memperlakukan atasan anaknya seperti ini? Karena drama Korea tersebut?


"Walau kalian cuma rekan kerja biasa, bukan bos sama sekretaris kayak di drama, pasti tetap lucu. Jadi gimana aja?"


"Gimana aja apanya, Tan?"


"Cerita sampai kalian bisa dekat gini?"


Tanganku berhenti menggiling cabai. "Kami gak dekat kok, Tan. Tadi kan udah saya bilang."


"Ih, ngomongnya gak usah terlalu formal. Tante kan bukan atasan kamu."


Bisa tidak kata-kata atasan itu tidak usah terlalu sering disebut-sebut?


"Aku sama Keegan gak dekat kok Tan."


"Gak dekat kok sampai datang semalam ini buat jenguk dia?" goda wanita itu.


"Itu--" karena anak Tante kompeten banget sampai bikin repot.


"Namanya rekan kerja, Tan. Kan wajar aja kalo jenguk. Datangnya malam gini soalnya kalau siang aku kan sibuk. Takut gak sempat."


"Tapi Keegan sakitnya kan gak parah. Sebenarnya gak dijenguk juga gak apa-apa. Besok dia juga udah masuk kerja."


Ya ampun, wanita ini pintar sekali membaca alasan palsu.


"Bilang sama Tante..." Perempuan itu mendekatkan tubuhnya padaku. "Kamu naksir anak Tante ya?"


"HA?"


***


Sincerely,


Dark Peppermint