
KEEGAN
Sejak kecil aku sudah terbiasa dianggap anak yang pintar dan kompeten. Juara umum, ketua kelas, sampai ketua BEM pernah dipercayakan padaku. Dan tak sekali dua kali aku menerima pujian karena semua keikutsertaanku dalam mengurus sesuatu. Namun saat memasuki dunia kerja aku menyadari satu hal. Seberapa hebat pun kamu, jika keluargamu tidak punya kekuatan apa pun, kamu harus rela hidup sebagai anjing setia orang-orang kaya.
Itulah yang kulakukan beberapa tahun ini.
Catherine Wijaya. Cantik, kaya raya, seenaknya. Itulah kesan pertama yang kulihat dari wanita itu dua tahun yang lalu. Ketika itu dia masih berusia dua puluh enam tahun dan baru pulang setelah tujuh tahun di luar negeri.
Usiaku setahun lebih tua darinya dan sudah lima tahun mengabdi di perusahaan. Namun saat perempuan itu dipaksa pulang kemari, aku terpaksa menjadi sekretarisnya untuk mengurusi semua pekerjaan dan masalah yang ia buat. Saat itu aku begitu marah, bagaimana bisa aku diperlakukan begini. Aku yang melakukan segalanya tapi perempuan itu yang mendapat nama. Namun aku tak bisa keluar begitu saja. Mencari pekerjaan itu sulit. Bisa saja aku dapat perusahaan yang lebih buruk. Dan tabunganku belum cukup untuk membangun bisnis sendiri. Dan dengan menjadi sekretaris direktur—saat itu Catherine masih menjadi direktur—kesempatanku untuk bertemu dengan orang-orang berpengaruh akan semakin terbuka lebar.
Namun akhir-akhir ini perempuan itu berubah. Catherine Wijaya memang tidak becus mengurus pekerjaannya. Namun dari dulu aku tahu dia perempuan yang cerdas, hanya saja terlalu malas untuk berpikir karena ia bisa mempekerjakan orang lain untuk mengurus segala masalah dalam hidupnya.
Sekarang pun ia masih banyak tidak mengerti tentang pekerjaannya. Namun perempuan itu lebih mau tahu. Dia menanyakan setiap detail padaku, lebih peduli, dan mau berusaha menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
Aku tak tahu mengapa ia mendadak berubah. Aku juga tak tahu apa ini hal baik atau malah sebaliknya. Sebab, dulu setiap melihat wanita itu mengejar-ngejar Tony Lesmana aku merasa itu hal yang wajar. Aku sama sekali tak peduli dia mau bertingkah bagaimana. Karena aku sendiri merasa perempuan itu terlihat menyedihkan dan sangat mengganggu. Namun sejak ia tak memedulikan Tony aku mulai bersimpati padanya. Jika sebelum-sebelumnya aku menanyakan kondisinya hanya untuk berbasa-basi sebagai bawahan, kini aku jadi benar-benar peduli.
Sebab sejak itu aku jadi melihat hal-hal yang sebelumnya tak pernah kulihat. Bahwa tak hanya Tony Lesmana atau Sania Suherman yang menderita, tapi dia juga. Mungkin malah dirinyalah yang paling menderita.
Catherine dan Tony setahuku sudah berteman sejak kecil. Mereka berhubungan kembali sejak Catherine kembali ke sini. Setahun lalu mereka bertunangan. Sampai akhirnya Tony bertemu Sania dan tergila-gila pada wanita itu. Jika dilihat dari sudut pandang Catherine jelas Tony dan Sania-lah penjahatnya. Namun orang-orang tak melihat demikian, aku pun awalnya tidak. Tapi sekarang tidak lagi. Melihat bagaimana frustrasinya perempuan itu karena Tony Lesmana membuatku kesal.
Catherine Wijaya wanita cantik yang cerdas dan kekayaannya tak perlu diragukan lagi. Dia tak pantas diperlakukan begitu oleh laki-laki bodoh seperti Tony Lesmana. Dia bisa mendapatkan laki-laki yang berpuluh-puluh kali lebih baik dari Tony. Maka dari itu aku menyarankan dirinya untuk berpartisipasi dalam acara televisi.
Awalnya aku sedikit khawatir. Takut kalau Catherine kembali seperti dulu dan malah semakin menghancurkan citranya. Saking takutnya aku merasa tak bisa meninggalkannya meski sedang sakit. Namun dia melakukannya dengan baik. Caranya menyikapi dan melewati masa-masa sulit jujur saja membuatku cukup terkesan. Dan kepercayaanku dengannya pun semakin bertambah.
Akan tetapi aku tak menyangka dia berubah sampai seperti ini.
“Sedang apa Ibu di sini?”
Catherine yang sedang menggiling cabai sambil berceloteh entah apa dengan mamaku menoleh ke belakang. “Oh, Keegan! Akhirnya pulang juga." Wajah perempuan itu terlihat amat sangat lega melihatku. Jangan-jangan dia sudah ingin pergi, tapi tak enak pada Mama. "Kami nungguin dari tadi. Iya kan, Tan?”
“Iya. Lama banget sih? Kamu belinya ke Depok dulu. Padahal lima menit juga seharusnya gak nyampe.”
“Aku jalan kaki, Ma. Gak bawa mobil.”
Mama telihat kaget. “Lah. Kenapa jalan kaki? Kayak orang melarat aja.”
“Kita juga bukan orang kaya, Ma.”
“Memang bukan. Tapi kamu kan baru sembuh. Malah jalan kaki malam-malam begini. Kalau masuk angin gimana. Nanti sakit lagi. Padahal teman kamu udah susah-susah jenguk gini loh, tapi orangnya malah gak ada.”
Ya, tentu saja. Sebab kalau Mama tahu, tapi tetap menyuruhnya membantu masak, Mama benar-benar hebat sekali.
Aku langsung membungkukkan badan menghadap Catherine. “Saya minta maaf, Bu. Ibu sampai repot di dapur. Sepertinya Mama saya tidak ta—“
“Kamu ngomong apa?” potong perempuan itu.
Lalu Mama ikut menambahi, “Kenapa kamu manggil dia ibu?”
“Itu, Tan,” sahut Catherine cepat. “Keegan memang suka bercandain saya. Karena nama saya sama kayak atasan kami, dia terus-terusan manggil saya ibu.”
Mendengar kata-kata Catherine wajah Mama kelihatan sangat syok. Lebih syok daripada aku yang kaget mendengar jawaban Catherine bahwa ia tak mau identitasnya terbongkar.
“Kee-keegan bercanda?” ucap Mama sambil menutup mulut. “Serius anak Tante bercandain kamu? Ya ampun, 29 tahun dia hidup, Keegan belum pernah bercanda. Ini hal hebat!” Mama langsung berjalan terburu-buru keluar dapur.
“Mama mau ke mana?”
“Ke mana lagi? Ngambil kamera lah. Mama harus domentasikan momen ini.”
Itulah mamaku. Setiap momen hampir selalu diabadikan olehnya. Semua hal, entah bagaimana ceritanya, bisa menjadi hari bersejarah untuk Mama. Sejak aku kecil hingga saat ini sudah beralbum-album foto yang ia ambil untuk mengenang hal-hal bersejarah itu.
“Sekali lagi saya minta maaf, Bu. Mama saya gak tahu apa-apa tentang Ibu,” ucapku setelah Mama pergi.
“Gak masalah,” ucap Catherine. “Saya gak keberatan kok. Lagi pula saya cuma bantu sedikit. Ibu kamu juga gak memaksa apa pun.”
"Tapi kenapa Ibu gak mau identitas Ibu terbongkar?"
Catherine menyudahi aksi mengiling cabainya, lalu mulai mencuci tangan. "Nanti mama kamu bakal merasa bersalah sama saya. Biarkan saja. Lagi pula sehabis ini saya gak akan ketemu mama kamu lagi kan." Catherine mengatakan hal tersebut sambil tersenyum. Dan anehnya membuat dadaku terasa aneh. Seperti perasaan yang kurasakan saat sedang kesal. Tapi kenapa aku kesal?
Dia memang tak akan bertemu dengan mamaku lagi. Tak ada alasan untuk itu. Jadi seharusnya aku merasa baik-baik saja kan?
***
Sincerely,
Dark Peppermint