
"Kayaknya Ibu bahagia banget," kata-kata itu meluncur dari mulut Keegan saat kami berjalan menuju lift. Aku yang tidak mengerti langsung meliriknya sinis.
"Saya? Bahagia?"
Akhir-akhir ini kata bahagia selangka air di gurun dalam hidupku. Aku dan kata bahagia mungkin sudah tidak sejalan sejak... Hmm, sejak aku lahir kira-kira. Jadi kesimpulannya, Keegan pasti salah lihat. Kurasa dia tidak bisa membedakan depresi dengan kebahagiaan.
Atau aku terlalu depresi sampai pengendali ekspresi di wajahku rusak. Inikah yang membuat orang gila bisa mendadak ngakak tanpa sebab jelas?
"Iya." Ucapan Keegan mengembalikanku ke dunia nyata. "Ibu kelihatan bahagia sekali keluar dari sana."
"Kamu ini bicara apa? Saya bahagia dari mananya?"
Wajah Keegan yang lempang itu berubah sepat. "Jelas-jelas Ibu senang karena disenyumi laki-laki tampan."
Ha?
"Walau dia menarik secara wajah dan fisik, agak kurang pantas kalau Ibu menaruh minat pada bocah sekecil itu."
Kini aku memahami seluruh isi pembicaraan Keegan.
Bukannya marah entah kenapa aku malah tersenyum geli. "Yang kamu maksud anak trainee yang tadi?"
Keegan melirik sekilas lalu berdeham. "Iya. Dia masih terlalu kec--"
"Tapi dia memang tipe saya sih," potongku. "Bocah tengil dengan tingkah nakal dan isengnya." Aku tertawa ngakak. "Cute. Cowok kayak gitu memang cute. Daripada aktor-aktor yang kamu bawa anak itu sepuluh kali lipat lebih menarik."
Langkah kaki Keegan berhenti yang mana juga membuatku berhenti.
"Kenapa?"
"Saya mengatakan ini demi kebaikan Ibu, Ibu harus lebih berhati-hati. Gosip buruk tentang Ibu baru saja reda. Kalau tersebar kabar Ibu dekat dengan seorang trainee yang jauh lebih muda--"
"Sudah, sudah." Kutepuk-tepuk bahu Keegan yang terasa kaku, guna menghentikan kata-katanya. "Ini biar saya saja yang urus. Kamu kira ada berapa banyak idol yang pacaran sembunyi-sembunyi? Ada sangat banyak. Hal ini gampang. Kamu gak perlu khawatir. Saya bisa urus semuanya."
Keegan menggeleng lelah. Aku mulai kasihan padanya. Dia pasti khawatir aku akan merepotkannya di masa depan soal skandal cinta dengan anak bau kencur, tapi aku masih ingin menggodanya.
"Kalau itu yang Ibu inginkan saya tidak bisa berkata apa-apa lagi."
Dia menyerah. Lucu sekali. Entah mengapa aku melihat bahunya yang tegap itu agak sedikit merosot.
Aku tak tahan lagi. Tawaku menyembur keluar. Tanpa kusadari sangat kencang sampai menarik perhatian beberapa orang. Aku segera menghentikannya. Sementara itu Keegan berdiri dengan tatapan bingung melihatku.
"Saya bercanda," akuku saat pintu lift terbuka. "Saya gak berniat memacari bocah bau kencur. Mau setampan apa pun dia."
Apalagi anak itu sangat kurang ajar. Jika tindakannya tadi dia lakukan untuk menggodaku pastilah dia punya niat tidak terpuji.
"Apa jadwal saya selanjutnya?" tanyaku sambil masuk ke dalam lift.
"Ah..." Keegan melihat kosong pada kedua telapak tangannya yang terangkat.
Tanpa mau melihat kedua mataku dia menjawab, "Sepertinya saya meninggalkan tablet saya."
Aku tahu lagi-lagi seharusnya aku marah, tapi entahlah, aku merasa dia sangat lucu sekarang ini.
"Jika Ibu tidak keberatan," ucapnya sambil menahan pintu lift agar tidak menutup, "saya izin untuk mengambilnya sekarang."
Aku menahan tawa. "Baiklah. Kamu boleh pergi."
Dia lekas bergegas begitu aku mengizinkannya. Kepalaku menggeleng tak habis pikir. Jika itu orang lain aku akan merasa biasa saja jika ada benda yang terlupa, tapi ini Keegan, manusia superefisien yang tidak pernah kulihat melakukan keteledoran. Tapi ya, akhir-akhir ini dia semakin terlihat seperti manusia biasa.
Pintu lift menutup kembali hingga kira-kira 5 cm lagi ketika sebuah tangan menahannya. Sebuah wajah yang tak asing muncul kembali begitu pintu terbuka semakin lebar. Orang itu menyengir lebar lalu membungkuk sejenak. "Permisi, Bu."
Aku tersenyum kaku. "Iya," sahutku sembari ia masuk dan berdiri di sampingku.
Gila saja. Tampang bocah sialan itu tenang-tenang saja, tapi aku malah deg-degan seperti orang bodoh. Bukan deg-degan karena jatuh cinta atau apa. Lebih seperti kaget dan tidak nyaman.
"Ibu mau ke mana?"
Aku sudah tidak tahan. Dari sikapnya tadi sudah jelas dia ada maksud tertentu padaku. "Kamu gak perlu tahu saya mau ke mana. Itu bukan urusanmu kan?" tembakku langsung sambil sedikit melotot padanya.
Bocah itu tertawa lebar. Jenis tawa yang membuat hati para remaja berbunga-bunga. Dengan gigi kelinci dan bibir tipis lebar.
"Ibu gak nekan tombol lantai, jadi saya tanya Ibu mau ke mana. Biar saya yang tekankan."
Oke, Catherine, aku tahu kamu malu banget. Tapi kamu terjebak, Sayang.
Oke, wajah tetap seperti biasa. Pertahankan. Tegas, anggun, penuh pengendalian diri. Bagus.
"Saya baru mau tekan. Tapi kamu berdiri menghalangi."
Sialan. Itu jawaban yang sangat jelas dibuat-buat. Jawaban orang tersudut yang sudah tidak tahu mau melakukan apa.
Bocah itu tersenyum semakin lebar. "Baiklah. Saya mohon maaf kalau menghalangi." Dia menyingkir, lalu membungkuk sedikit sambil tangannya mempersilakanku untuk menekan tombol.
Aku bersikap acuh tak acuh dan menekan tombol di mana ruanganku berada. Kemudian begitu selesai anak itu menekan tombol untuk dirinya sendiri. Syukurlah dia tak mengikutiku. Aku berpura-pura sibuk bermain ponsel tanpa memedulikannya, dan ia juga tak bicara apa pun lagi.
Napasku mulai normal kembali saat melihat lantai tujuanku semakin dekat. Namun... Dasar aku yang memang pembawa sial, lift ini mendadak berhenti. Dan sebuah jeritan terdengar. Sial. Itu suaraku. Dan apa-apan tangan ini.
Jangan peluk orang sembarangan!
***
Sincerely,
Dark Peppermint