The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 43



Akhirnya siapa aktor dan aktris yang akan memerankan Mario dan Renata, pemeran utama laki-laki dan wanita di Losing You, sudah diputuskan.


Wisnu Prakarsa telah diputuskan akan menjadi Mario dan Calista sebagai pemeran utama wanitanya.


Aku tidak tahu bagaimana jelasnya proses Wisnu Prakarsa bisa menjadi pemeran utama padahal sutradara kita tercinta tidak menyetujuinya. Intinya, mereka berdualah yang menjadi pemeran utamanya.


Untuk pemeran utama wanita, benar sekali, dia adalah orang yang sebelumnya didukung netizen untuk menjadi pemeran utama wanita.


Calista Angelie. Salah satu aktris kebanggaan negeri ini. Cantik, cerdas, dan jauh dari gosip-gosip buruk. Sosok wanita anggun yang dicintai banyak orang.


Selama menjadi Catherine aku belum pernah bertemu langsung dengan wanita itu. Namun aktris berumur akhir dua puluhan itu adalah salah satu kebanggaan agensi kami selain Bianca.


"Ini kopi yang Ibu minta."


Aku mengambil kopi yang disodorkan Keegan. Benar, sejak Keegan datang pagi tadi kurasa semuanya sudah kembali seperti sedia kala. Benar-benar seperti sedia kala. Dia bersikap sangat natural seperti dirinya sebelum kejadian 'nonton drama bareng' saat itu. Dan aku pun entah bagaimana bisa bersikap sama sepertinya. Seolah adegan kucing-kucingan beberapa hari ini memang tidak pernah terjadi. Dan, entahlah, rasanya jadi agak kosong.


Aku yang tertekan dan galau selama beberapa hari ini rasanya jadi tidak ada artinya.


Dan ada sedikit kekecewaan pula yang kurasakan.


"Terima kasih." Lalu aku melirik jam tanganku. "Kita pulang sekarang!"


Keegan tak langsung bereaksi. Dia melihatku cukup lama. "Kepala ibu masih sakit?"


Aku agak malas membahas masalah semalam. "Enggak kok."


"Terus kenapa mau pulang cepat?"


"Ini kan memang sudah jam pulang." Aku segera membereskan barang-barangku.


"Ibu gak pernah pulang tepat di jam pulang. Ibu selalu lembur. Bahkan waktu gak ada kerjaan sekalipun."


Aku memelototi Keegan. "Maksudnya kamu ngomong gitu apa? Kamu nyindir saya gak ada kerjaan? Kamu mau ngeluh karena kamu yang paling sibuk di sini?"


"Ibu salah paham," jawab Keegan santai sekali. Dia tidak kelabakan sama sekali. Reaksi yang sebenarnya kutunggu darinya. "Saya gak bermaksud apa pun."


Dia membosankan kembali.


Selesai mengepak barang-barangku ke dalam tas, aku langsung pergi menuju pintu. Keegan mengikutiku dari belakang. Dan sudah kubilang ini hari sialku, aku yang hari ini memakai flat shoes lagi-lagi hampir terjatuh.


Berbeda dengan tadi pagi, saat ini Keegan yang berlari menghampiriku.


"Ibu gak apa-apa?"


Seperti tadi pagi aku pun menjawab, "Saya gak jatuh. Jadi gak apa-apa." Jadi aku pun menolak uluran tangan Keegan. Kutepis dan aku berjalan sendiri. Namun emang dasar sial kali ini aku terjatuh sungguhan. Tersandung kaki sendiri hingga sebelah fla shoes-ku terbang entah ke mana.


Aku mengaduh dan Keegan langsung datang.


"Sekarang Ibu pasti kenapa-napa kan?" tanyanya padaku yang sekarang tengah kesakitan di lantai. Ingin sekali aku meneriakinya. Namun aku tidak punya tenaga untuk itu. Jangankan teriak, sekarang yang bisa kulakukan hanya nyengir kesakitan. Jadi aku hanya memukul kecil lengannya.


Selanjutnya Keegan berusaha membantuku. Namun kutepis lengannya. "Ibu marah sama saya? Yang bikin Ibu jatuh kan bukan saya? Ibu jatuh sendiri loh."


Aku mendelik. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada anak landak satu ini. Tapi dia menyebalkan sekali. Ya, aku tahu aku jatuh karena kakiku sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengannya. Namun bukan berarti dia bisa bicara begitu padaku kan? Aku kesakitan loh, tapi kata-katanya tidak ada pengertiannya sama sekali.


Dia berusaha membantuku. Dan lagi-lagi aku menepisnya. "Saya bisa bangun sendiri," sombongku dan dengan percaya diri berdiri sendiri. Tak sampai satu detik aku terjatuh kembali. Kali ini aku mengaduh dengan sangat keras. Kakiku sakit sekali. 


"Ibu--"


"Apa? Kamu mau bilang saya pasti kenapa-kenapa lagi? Iya, saya emang lagi kenapa-kenapa! Kaki saya sakit banget. Puas kamu?"


Aku meringis. "Dari tadi ente ngomong gak maksud-gak maksud mulu. Terus maksudnya apa ha?"


Keegan terpelongo melihatku. Catherine memang gila, tapi mungkin Catherien belum pernah bertingkah seaneh sekarang.


"Saya minta maaf ka--"


"Ha! Sekarang ente minta maaf! Emangnya salah ente apa, ha?"


"Ane..., ane," Keegan mengikuti gaya bicaraku dengan tidak yakin, "ane salah karena bikin ente kesal."


Aku tidak tahu mau kesal atau tertawa sekarang. Si "ente" satu ini tidak jelas sekali. Aku tidak tahu dia sedang melawak, terlalu polos, atau sedang cari gara-gara padaku. Tapi yang jelas sekarang dia membuatku tersenyum kecil. "Ente bahkan gak tau salah ente apa. Malah minta maaf."


Keegan juga ikut tersenyum. "Katanya kalau cewek lagi marah-marah gak jelas, kita sebagai cowok harus minta maaf lebih dulu."


Aku mengulum senyum mendengar kata-kata Keegan. Ehem, cewek katanya. Dia sebagai cowok katanya. Ekhem...


"Walaupun gak tahu salahnya apa harus tetap minta maaf?"


Keegan menggaruk kepalanya yang kuyakini tidak gatal. Dia terlihat kebingungan. Tidak tahu harus menjawab apa. Kuyakin dia sadar kalau sempat dia menjawab "iya" aku akan langsung mengeluarkan tanduk.


"Kalau gak tau salahnya apa mending gak usah minta maaf deh. Karena kami cewek lebih kesal lagi sama cowok yang kayak gitu. Kesannya kalian gak mau nyari tau kesalahan kalian. Kalian bilang maaf karena mau cepat selesai aja kan?"


Rasanya aku ingin menyembunyikan wajahku ke balik batu sekarang. Apa tadi yang kubilang? "Kami cewek"? Aku juga memposisikan diriku sebagai cewek ke dia? Akkkhhhh!!! Sebenarnya kami sedang apa sih?


Keegan melihatku dalam. "Maaf," katanya lagi. Membuatku frustrasi.


Kupukul lengannya. "Kok malah minta maaf lagi? Memangnya udah tau salahnya apa?"


"Belum." Dia menggeleng polos dan aku tertawa.


"Terus kenapa minta maaf lagi?"


"Habis saya gak tau mau ngomong apa. Jadi saya minta maaf karena saya gak tau salah saya apa."


Aku tertawa. "Seenggaknya kamu tau sekarang salah kamu apa."


Kini dia sedikit tersenyum. Lalu tanpa ba bi bu Keegan memegang pergelangan kakiku.


"Kamu mau apa?" teriakku sambil menyingkirkan tangannya.


"Saya cuma mau periksa kaki Ibu aja." Dia tak memedulikan penolakanku. Disingkirkannya sedikit celana panjangku, hingga pergelangan kakiku terlihat. Aku meringis. Kakiku memerah. "Kayaknya Ibu keseleo."


Aku menatap Keegan putus asa. "Terus harus gimana?" Seumur hidup aku belum pernah keseleo.


"Coba Ibu gerakkan ke dalam sedikit." Aku melakukan anjuran Keegan dan langsung mengaduh. Rasanya sakit sekali.


"Kayaknya benar Ibu keseleo," putusnya, lalu bangkit berdiri.


"Kamu mau ke mana?" tanyaku.


"Gak ke mana-mana kok," jawabku lalu ia berjongkok sedikit. Dan dalam satu gerakan yang cepat ia meletakkan kedua tangannya di punggung dan di bawah lututku. Aku nyaris memekik saat ia menggendongku di depan seperti pengantin baru.


***


Sincerely,


Dark Peppermint