The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 21



Seperti yang saya sebut sebelumnya bakan ada perubahan dengan cerita ini.


Sila, sekretaris pribadi Catherine, akan berganti nama menjadi Keegan.


Selama ini di kerangka cerita yang diberikan ke saya hanya ditulis  “asisten”. Gak ada dijelaskan sama sekali kalau sang asisten adalah seorang laki-laki.


Mohon maaf ya atas ketidaknyamanannya.


Bab 21


Sekali lagi, Bapak Jonathan yang terhormat mengembuskan napas. Dia pasti tidak punya pilihan lain. “Baiklah. Papa akan percaya kamu bakal menurut. Awas kalau nanti kamu bikin ulah ya.”


“Gak akan. Lima ratus juta sudah cukup buat menyumpal mulut dan menahan tindakanku yang tidak seharusnya.”


“Kamu ini bisa seperti ini gara-gara siapa sih.” Pria itu hanya menggelengkan kepala.”


Sudah jelaskan aku seperti ini karena anak Bapak Jonathan yang terhormat, tercinta, dan terkasih.


“Terserah Papa mau ngomong apa. Jadi sudah selesai kan?” Aku lantas bangkit dari tempat dudukku. Lalu merapikan rambut dan pakaian. “Aku udah terlambat kencan buta. Papa gak mau calon mantu Papa yang entah siapa itu menunggu kan?”


“Calon mantu?” cibir Papa.  “Papa jadi makin curiga sama niat kamu.”


Aku tertawa dengan anggun. Yang sengaja kulakukan agar Bapak Jonathan yang terhormat semakin waswas.


Maafkan anakmu ini ya, Pa. Tapi jujur


saja saat ini aku masih kesal walau akan dibayar mahal. Jadi ayo kita merasa kesal


bersama.


"Aku pergi dulu ya, Pa,” ucapku lalu mengecup pipi Bapak Jonathan yang


tercinta. Dia tampak tidak percaya. Mungkin


Catherine tidak pernah melakukan


hal seperti itu sebelumnya. Tapi peduli setan. Aku ingin menggila sekarang.


Sesampainya di tempat janjian aku memeriksa riasanku kembali. Bukannya aku ingin membuat kagum si... tunggu dulu. Aku tidak tahu siapa orang yang akan kutemui. Walaupun disebut kencan buta bukankah biasanya kita diberikan informasi seperti nama dan foto orang yang akan kita ketemui?


Aku lekas menelepon Keegan.


“Iya, Bu,” sahut Keegan di seberang telepon.


“Kee, orang yang akan saya temui ini siapa ya?”


“Tadi saya sudah memberikan catatan sama Ibu. Apa belum Ibu baca?”


Aku mengingat-ingat kembali. Dan teringat pada selembar kertas yang tanpa sadar kuremas-remas saat sedang berpikir. Lalu dengan santai melemparnya ke tempat sampah.


Aku berdeham untuk menyembunyikan rasa malu. “Kamu kira saya yang sibuk ini punya waktu untuk meriksa kertas seperti itu padahal ada banyak berkas yang harus saya periksa.”


“Maaf, Bu, saya gak berpikir begitu.”


Keegan benar-benar laki-laki kaku yang sangat profesional. Aku jadi penasaran sebenarnya seberapa loyal dia padaku. Jika kusuruh melompat dari tebing, apa dia akan menurut?


“Nama laki-laki yang akan bertemu dengan Ibu adalah Bastian Bagaskara. Anak pertama Budi Bagaskara pemilik BBMart. Menurut data yang saya dapat dia adalah laki-laki yang—“


“Stop! Saya gak butuh penjelasan tentang kehebatan, kekayaan, atau apa pun yang bisa dibanggakan dari laki-laki itu. Kirim saja


fotonya supaya saya gak kebingungan pas dia datang nanti.”


“Baik, Bu.”


Beberapa saat kemudian Keegan sudah mengirim sebuah foto pria muda tampan padaku. Dengan wajahnya itu dan kekayaan dari keluarganya sekarang, pasti bukan hal sulit bagi pria seperti itu untuk mendapat perempuan. Namun sayangnya aku tidak terkesan. Dia bukan tipeku.


“Catherine Wijaya?” Aku hampir jatuh tertidur saat sebuah suara menginterupsi. Aku langsung menoleh. Bersyukurlah siapa pun orang itu sebab aku tak akan marah-marah karena uang 500 juta dari Bapak Jonathan.


“Catherine Wijaya benar?”


Tapi sepertinya aku harus benar-benar marah sekarang. "Benar saya Catherine. Anda siapa ya?" tanyaku curiga. Wajah pria ini dengan yang di foto memang mirip. Tapi orang ini lebih tua setidaknya 20 tahun dibanding dengan yang ada di foto.


"Anda Bas--"


”Bastian itu anak saya," jelas pria tersebut. Belum paham arah pembicaraan ini. "Perkenalkan saya Budi Bagaskara."


Aku mengangguk dan tersenyum singkat. "Saya Catherine Wijaya."


"Iya. Saya sudah kenal Anda. Apalagi akhir-akhir ini Anda sangat terkenal."


Aku tersenyum sopan. "Akhir-akhir ini saya memang lebih tenar dibanding artis."


Pria tersebut tertawa. "Tapi saya mendatangi Anda kemari karena ingin meminta maaf."


"Kenapa Anda minta maaf?" tanyaku pada pria buncit yang duduk di depanku tersebut.


"Anak saya mendadak menolak datang. Dia tidak mengatakan apa pun sebelum ini. Siapa yang kira dia membatalkannya di saat-saat terakhir."


Apa? Jadi apa artinya semua yang kulakukan sekarang sia-sia. Aku meluangkan waktuku yang berharga hanya untuk menunggu orang yang tidak akan datang. Lalu bagaimana dengan 500 jutaku?


"Saya ingat ini tempat janjian yang saya dan Pak Jonathan pilihkan untuk kalian berdua dan tidak sengaja melihat Anda. Anda tidak sedang menunggu putra saya kan?"


Tentu saja aku menunggu anakmu yang kampret itu.


"Sebenarnya iya. Saya tidak tahu kalau pertemuan ini sudah dibatalkan.” Lagi, aku memberikan senyum sopan.


Jika tidak bisa mendapat 500 juta dari Bapak Jonathan apa aku memeras pria di depanku ini saja?


"Kalau Anda tidak datang sekarang, saya pasti sudah menunggu anak Anda sampai berjam-jam," sambungku lagi dengan nada sedih.


Pria tersebut merasa tidak enak. Dan mendadak muncul ide gila yang tidak seharusnya di dalam otakku.


"Sekali lagi saya minta maaf atas nama anak saya. Bagaimana saya harus menebus kesalahan ini. Bapak Jonathan pasti--"


"Kalau begitu mungkin Anda saja yang menggantikan anak Anda." Aku buru-buru menutup mulut. Itu hanya pikiran absurd yang tidak sengaja terlintas dalam kepalaku saat sadar aku tak akan mendapat uang.


Dia tertawa kencang. "Jika Anda tidak keberatan, saya sama sekali tidak masalah."


Akulah yang masalah. Tapi bagus juga. Mungkin Bapak Jonathan tidak akan tahu kalau yang datang bukan calon menantu idamannya.


Akhirnya kami mengobrol sebentar. Pria itu orang yang cukup menyenangkan dan cukup nyambung. Namun pembicaraan itu tidak berjalan lama sebab Papa mendadak datang dengan wajah marah.


Benar. Seharusnya aku sadar kalau dia pastilah memata-matai.


"Kamu sedang apa di sini, Bud? Di mana anakmu?"


Pria itu sedikit gelagapan melihat Papa. Aku tak tahu banyak tentang BBMart, tapi jelas Papa masih lebih di atas pria ini.


Pria itu tertawa. "Kami hanya mengobrol sejenak."


Aku pun tak bisa membantah. Karena aku tak berniat mengatakan kalau aku bermaksud menipunya.


"Kamu pikir saya bisa dikelabui semudah itu," amuk Papa.


Setelah beberapa saat pria tadi langsung kabur begitu saja. Sementara itu akan bersiap menerima omelan Papa.


"Kamu sesuka itu sama uang sampai berniat berbohong seperti tadi?" ucap Papa setelah panjang lebar mengatakan kamarahannya.


Jujur aku juga merasa bersalah. Tapi aku tidak mau mengakuinya.


"Bukannya Papa mau aku menikah. Pria tadi sudah jadi duda." Aku tahu dia sudah menduda dari beberapa obrolan kami tadi. "Jadi gak ada--"


"CATHERINE WIJAYA!"


Mendadak tubuhku kaku. Papa sangat marah sekarang.


"Sampai kapan kamu mau seperti ini?" Jantungku terasa diremas. Selama beberapa saat tadi wajah Papa terlihat sedih dan frustrasi.


Dan kini aku sadar, pria itu sebenarnya sayang pada Catherine.


***


Sincerely,


Dark Peppermint