
Mata perempuan itu membola. Dari sikap terperangah horornya itu dapat kusimpulkan dia tahu siapa aku. “Catherine Wijaya,” resahnya. Dia melihat pada asistennya takut-takut dan menyikutnya.
Si asisten menunduk dalam-dalam padaku. “Maaf, Bu, kami gak tahu ini ruangan Ibu.” Wanita itu melirik pada Candy. “Candy, kamu juga harus minta maaf sama Bu Catherine.”
“Maaf, Bu. Saya benar-benar gak tahu. Kalau gitu kami pergi sekarang.” Ia langsung berbalik tanpa menunggu tanggapan dariku. Tidak sopan. Setelah semua ini dia mau melarikan diri begitu saja.
Anak kecil ini harus diberi pelajaran karena telah mengganggu orangku.
“Tunggu,” tahanku. Candy dan asistennya berbalik.
“Kenapa, Bu?” jawab si asisten yang sepertinya lebih tahu sopan santun.
“Mana bisa kalian pergi begitu saja setelah bertindak semena-mena ke pegawai saya.” Kutatap tajam mata anak itu yang tak mau fokus melihatku. “Kamu sudah merendahkan karyawan saya, yang artinya kamu juga sudah merendahkan saya.”
“Kan saya sudah minta maaf, Bu,” bela Candy.
“Dan saya belum memaafkan. Kamu juga belum minta maaf sama asisten saya.” Aku menunjuk Sania melalui pandangan mataku. “Jadi kemarilah!”
Mereka berdua mendekat kembali.
“Saya minta—“
“Memangnya saya ada menyuruh kamu minta maaf sekarang?” potongku pada kata-kata gadis itu.
“Saya gak akan nyuruh kamu minta maaf, tenang aja. Karena kamu sepertinya tidak tulus melakukannya. Jadi lebih baik kamu lakukan saja apa yang kamu lakukan sebelum bertemu saya tadi.”
“Maaf?” tanyanya dengan raut tidak mengerti.
“Ulangi perkataan kamu pada asisten saya tadi. Yang meminta kami berdua untuk pergi dari ruangan ini.”
“Tapi buat apa—“
“Lakukan saja kalau kamu ingin segera pergi dari sini!” Bahkan di situasi ini gadis itu belum sadar tempatnya. Dia memang tidak semena-mena tapi jelas dia masih merasa dirinya hebat.
Aku memang jahat melakukan ini pada anak kecil, tapi kuharap dia akan tahu bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil. Karena sepertinya gadis ini terlalu dimanja dan melakukan semuanya dengan mudah.
“Aku mau tempat ini. Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini,” ucapnya pelan dan tidak yakin.
Aku menggeleng tidak senang, lalu menatap Candy dengan mencemooh. “Jadi seperti ini kualitas akting kamu? Saya kecewa. Padahal tadi kami jago sekali menghina-hina pegawai saya. Bukannya tadi kamu sangat membanggakan dirimu yang adalah Sugar Baby--eh sorry, nama kamu mirip banget sama istilah untuk simpanan om-om tua bangka mesum itu. Maksudku kamu kan bangga sekali dengan dirimu yang artis ngetop. Jadi ayo tunjukkan di depanku bagaimana tingkah kamu tadi. Sayangnya saya tadi lagi di kamar mandi. Jadi gak lihat sendiri.”
Mulut gadis itu mencebik marah. “Kamu kira kamu ini siapa?” amuknya pada Sania, kali ini dengan lebih mengkhayati. Sepertinya ini bentuk kekesalannya padaku. “Aku ini Sugar Candy! Kamu gak tahu siapa aku? Kamu gak akan selamat setelah melakukan ini samaku!”
“Bagus.” Aku bertepuk tangan. Lalu aku beralih pada Sania. “Sekarang pelajaran untukmu, Sania. Saya tahu kita memang harus bersabar. Tapi sabar juga ada batasannya. Saat seseorang bertindak atau berkata keterlaluan padamu, kamu gak boleh diam saja. Balas dia.” Sania masih kelihatan tidak mengerti. “Saya bilang balas perkataan gadis itu! Jangan meminta maaf! Tapi tegur dia. Kalau bisa, marahi dia habis-habisan.”
“Apa?” Sania terkaget. Begitu pula dua orang tersebut.
“Lampiaskan unek-unekmu padanya. Gak mungkin kamu gak kesal diperlakukan buruk oleh anak kecil kan? Sekarang saya memberimu satu kesempatan untuk mengatakan semuanya. Jadi ungkapkan saja.”
“Kamu ini gak sopan,” ucap Sania lembut “Bagaimana bisa kamu bersikap semena-mena hanya karena artis terkenal. Dan tidak baik marah-marah sama seseorang yang lebih tua darimu.”
Tentu. Apa yang bisa kuharapkan dari pemeran utama wanita yang terkenal dengan sifat lembutnya.
“Tidak, tidak,” kataku. “Masih kurang bagus. Candy kamu lakukan lagi!”
“Ahh, kamu juga masih kurang bagus. Mana ejekan ibu-ibu buat sayanya? Kamu bilang saya ibu-ibu yang gak pantas ada di sini. Ulang! Ejek saya lebih parah lagi.”
Candy menurut saja meski tidak senang. “Atasan kamu cuma ibu-ibu norak,” ucapnya tidak yakin. “Aku yang lebih berhak di sini.”
“Sania! Marahi perempuan gak tahu diri ini!”
Candy melihatku kaget. “Saya gak maksud ngejek Ibu. Kan ibu yang nyuruh—“
“Marahi!” hardikku pada Sania.
“Kamu yang gak pantas ada di sini. Ibu Catherine sejuta kali jauh lebih pantas ada di tempat ini!”
Aku menggeleng. Masih belum puas. “Kamu masih terlalu lembut, Sania. Kita ulang lagi."
Candy tampak ingin membantah. Jelas dia lelah dengan semua ini.
“Pak Bambang. Kamu tadi bilang mau mengadu sama Pak Bambang kan?” tanyaku pada Candy. “Sekarang bersikaplah sombong kalau kamu mau mengadukan saya ke Pak Bambang.”
Candy diam saja. Dia menunduk dalam. Kukira sebentar lagi dia akan menangis. Aku mengembuskan napas sembari tersenyum. Sania tampak bersimpati padanya. Sementara itu sang asisten terlihat cukup senang melihat artisnya tersiksa.
“Dengar, Candy,” kataku. “Kamu di sini bukan siapa-siapa. Hanya karena kamu menolak ikut salah satu program televisi bukan berarti kami akan hancur. Ada banyak artis lain yang jauh lebih terkenal dan jauh memiliki manner yang lebih baik dibanding kamu. Malah sebaliknya, kamulah yang akan hancur. Berhenti bertindak semena-mena. Dunia gak berputar mengelilingimu. Kamu gak sepenting itu. Jadi sadarkan dirimu itu.”
“Tapi-tapi—“
“Jangan membantah. Saya sudah muak dengar kata-kata artis sombong kayak kamu. Kamu tahu kan reputasi saya seperti apa. Dan, terserah kamu juga kalau habis ini mau menyebarkan gosip tentang apa yang barusan terjadi. Tapi selanjutnya, jangan salahkan saya kalau semua perlakukan buruk yang kamu lakukan ke asisten saya juga akan ikut terbongkar. Dan saya rasa gak akan cuma itu. Mungkin semua perlakukan buruk kamu akan terbongkar.” Aku menoleh pada sang asisten. “Karena sepertinya saya tahu informan mana yang harus dikorek untuk mendapatkan semua kebusukan kamu itu."
“Saya gak ada niat untuk memperpanjang masalah ini. Jadi kalau kamu punya pikiran sedikit saja, sebaiknya jangan mencari masalah lagi.”
Perempuan itu benar-benar sudah ingin menangis. Aku tahu apa yang kulakukan sekarang tak akan menyadarkannya. Tapi setidaknya dia tak akan berani macam-macam denganku dan orang-orangku.
“Minta maaf lagi, Candy,” saran sang asisten.
Dia langsung menurut. Kali ini sedikit membungkukkan badannya. “Saya minta maaf, Bu. Lain kali saya gak akan begini lagi.”
Dari awal kamu memang gak akan begini kalau tahu ini tempatku kan? Inginnya sih aku bilang begini. Tapi... “Baiklah. Kali ini saya maafkan.”
“Terima kasih, Bu,” sambung asistennya. “Dan minta maaf juga sama Mbak ini.”
Candy melirik tidak suka pada Sania yang sejak tadi hanya terdiam.
“Saya minta maaf udah bersikap gak sopan ke Mbak.”
“Iya, saya maafkan.” Candy melengos mendengar jawaban Sania. Padahal seharusnya dia lebih senang mendengarkan jawaban Sania. Sebab jelas sekali Sania lebih tulus memaafkannya dibanding aku. Namun harga dirinya membuatnya tak bisa terima sudah meminta maaf pada orang yang dia anggap lebih rendah.
“Kalian bisa pergi sekarang,” ucapku akhirnya.
***
Sincerely,
Dark Peppermint