
"Ibu panggil saya?"
"Iya," ucapku sambil menutup dokumen terakhir. "Duduk aja."
Shania sedikit kaget. Namun tidak bertanya dan langsung duduk di kursi di depanku.
Setelahnya aku langsung berkata, "Saya berencana untuk menjadikan kamu sekretaris saya."
"Sekretaris?" ulang Shania terlalu cepat. Aku tak sangka dia akan sekaget ini. Kukira dia sudah memprediksi bahwa cepat atau lambat aku akan mengatakan hal ini.
"Iya. Selama beberapa waktu ini kamu sudah banyak ikut saya dan Keegan, dan saya rasa saya gak bisa terus menyuruh kamu ikut saya tanpa jabatan yang jelas." Aku berhenti sejenak. "Kamu bekerja dengan baik dan saya sendiri pun membutuhkan tenaga kamu. Tapi saya gak akan memaksa. Jika kamu ingin kembali ke posisi kamu semula, kamu bisa menolak tawaran saya. Dan saya pun gak akan menyuruh kamu mengerjakan pekerjaan sekretaris lagi. Saya akan mencari orang baru."
Shania tersenyum. "Jujur saja sebenarnya saya memang punya harapan menjadi sekretaris ibu. Jadi saya menerima tawaran ibu dengan senang hati."
Tak kusangka dia akan memberikan jawaban secepat ini. Kukira Shania yang lemah lembut itu akan memikirkan semuanya dengan pelan-pelan lebih dulu baru kembali lagi dengan sebuah jawaban.
"Bagus," aku menjawab puas. "Kontrak kamu akan segera diurus. Jika ada tambahan atau hal-hal di kontrak yang membuat kamu keberatan silakan diskusikan dengan bagian HRD."
"Saya mengerti, Bu."
"Kamu boleh pergi."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin memberikan posisi ini pada Shania. Namun aku terlalu banyak berpikir. Terlibat dengan Shania tentu membuat semuanya jadi lebih sulit. Dan tentunya Tony Lesmana tidak akan tinggal diam. Namun di sisi lain aku butuh sekretaris baru, dan terlepas dari masalah dengan Tony Lesmana, Shania adalah pilihan yang paling cocok. Sebab selain kemampuannya kurasa dia salah satu orang yang kupercaya di sini.
Apalagi aku pasti kembali menjadi orang jahat, kalau setelah mempergunakan tenaga Shania layaknya sekretaris dan asisten pribadi, aku mendepaknya kembali ke divisinya lalu mempekerjakan sekretaris lain.
***
“Shania baru saja menandatangani kontrak.” Kabar itu baru saja disampaikan Keegan. “Saya akan mulai men-trainingnya secara resmi besok.”
“Baiklah dan sekalian kenalkan dia pada pegawai lain juga.” Aku merebahkan diri pada sandaran kursi. Sementara Keegan di depan sedang fokus menyetir. “Omong-omong apa Ibu sudah memeriksa kabar di internet.”
Aku yang ingin memejamkan mata sejenak langsung melek seketika. “Ada apa lagi? Si Tony itu bikin ulah apa lagi?”
Keegan melihatku dari spion. “Kali ini bukan masalah Tony, Bu.”
“Oh, iya?” Aku berkata seperti orang bodoh. Entahlah. Jika mendengar Keegan berkata mengenai internet, yang kupikirkan adalah Toni dan segala tingkah bodohnya di sana. “Jadi masalah apa sekarang?”
“Bukan masalah sih. Tapi ini berita pembuatan film Losing You yang sedang viral di internet.”
Aku tersenyum. Aku sudah memeriksanya. Ya, bagaimana bisa aku tidak tahu. Di laman explore Instagram-ku penuh berita tentang Losing You.
“Ya, memang sebelum mau difilmkan novelnya juga memang sudah terkenal sih,” ucapku merendah.
“Benar,” kata Keegan tak terpancing untuk memuji bahwa berita pembuatan film tersebut juga membuat novelnya menjadi lebih terkenal. “Tapi jumlah pembaca Losing You juga meningkat dua kali lipat sejak berita pembuatan filmnya. “
Oh, ternyata dia tahu juga. Yah, ini kan Keegan, tidak mungkin dia tidak tahu.
Aku tak berniat memperpanjang percakapan dengan Keegan. Namun meski tubuhku sudah lelah tanganku tetap merogoh tas dan menarik keluar ponselku. Seingatku aku memeriksa berita tersebut sudah dua hari yang lalu. Aku ingin lihat bagaimana hebohnya sekarang.
“Ah! Apa ini!” Aku hampir saja melempar ponselku.
“Ada apa, Bu?” ucap Keegan sambil menepikan mobil.
Aku melihat layar ponselku kembali. Di mana akun-akun penggemar Losing You berbondong-bondong memposting visual untuk pemeran utama laki-laki dan wanita.
“Sejak kapan visualnya jadi dia?”
Bagi yang sering membaca novel online pasti kalian tahu jika para penulis sering kali menambahkan foto artis atau selebgram terkenal sebagai visual untuk pemeran utama di novel mereka. Namun sejauh aku membaca novel Losing You aku tak menemukan adanya artis tertentu yang dijadikan visual. Bahkan Lembayung Senja, sang penulis novel, mengatakan sendiri bahwa ia lebih suka pembaca membayangkan sendiri bagaimana perawakan setiap tokoh yang ia tulis. Jadi dirinya memang tak pernah menambahkan visual di dalam novel yang ia tulis. Namun kenapa sekarang akun-akun itu membuat foto Tony Lesmana sebagai pemeran utama pria.
“Kamu sudah tahu berita ini, Kee?”
Aku pun menjelaskan kekagetanku pada Keegan.
“Saya juga belum tahu,” jawabnya sembari menjalankan mobil kembali. “Tapi itu bukan masalah kan.”
Ya, memang itu bukan masalah besar sih. Para penggemar memang suka sekali begitu. Sebelum novel atau komik kesukaan mereka difilmkan mereka sudah lebih dulu mencari aktor dan aktris yang cocok. Tapi yang jadi masalahnya sekarang...
“Rata-rata group-group penggemar itu menentang siapa pun jadi pemeran utama laki-laki selain Tony Lesmana.”
Aku membaca beberapa caption:
Gak tahu lagi... pokoknya Tony sama Calista yang paling cocok buat jadi Mario sama Renata. Vibes Tony cocok banget buat jadi calon suami setia yang rela ngelakuin apa pun buat tunangannya.
Lalu ada juga foto Tony yang diedit dengan kata-kata yang diucapkan Mario dari salah satu bab.
Di sini Mario sweet bangettt... sampe mewek seminggu saking sweetnya. Mana Mario ganteng banget lagi. Gak sabar liat Tony meranin sosok Mario di film.
Dan kolom komentar postingan-postingan tersebut pun berisi dukungan untuk Tony Lesmana.
Gue kira gue doang yang ngerasa Tony cocok banget buat peran ini.
Dari semua aktor cuma Tony yang cocok jadi Mario.
Setuju banget, kalau pakai aktor lain pasti feelnya gak bakal dapat.
Harus Tony sih yang meranin Mario.
Pokoknya kalau gak Tony yang jadi pemeran utamanya gue gak mau nonton.
“Aduh, sakit kepala saya ngeliatnya.” Aku memijit pelipisku. Aku agak menyesal mengeceknya sekarang. Rasanya badanku jadi bertambah lelah. Aku memasukkan ponselku kembali.
Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar mandi. Rasanya aku ingin langsung tidur. Tapi badanku sangat lengket. Selepas membasuh seluruh badan dengan air hangat dan berpakaian, aku langsung jatuh tertidur. Beberapa jam kemudian aku bangun kembali dan menemukan ponselku bergetar.
Keegan mengirimkan sebuah pesan.
Ibu harus cek instagram sekarang!
Maaf mengganggu ibu padahal sudah malam.
Ibu cek besok pagi saja.
Jika sudah begini mana bisa aku baru mengeceknya besok pagi. Aku langsung membuka Instagram seperti apa yang dikatakan Keegan. Sialannya, jantungku berdegup kencang mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi.
Ternyata apa yang diributkan di Instagram tadi bertambah parah. Tagar #tonipemeranutama dan #pokoknyamautoni menjadi tranding. 48k postingan sudah menggunakan tagar tersebut.
“Kalian semua gak punya kerjaan ya?” sebalku. Bagaimana bisa dalam beberapa jam saja sudah ada postingan sebanyak itu. Segabut apa rakyat negeriku ini?
Namun yang paling membuatku kesal adalah story terbaru dari Tony Lesmana:
Mohon maaf sebelumnya. Tapi saya gak berminat untuk ambil bagian dalam drama tersebut. Jadi mohon pihak WJ jangan membawa-bawa nama saya.
Aku bangkit dari kasurku. “Ha? Apa maksudnya coba?”
***
Akhirnya setelah berbulan-bulan bisa balik lagi nulis cerita ini 😌
Semoga masih ada yang ingat.
Sincerely,
Dark Peppermint