The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 27



Catherine


Aku naksir anaknya? Si Keegan itu?


Demi apa pun yang bernyawa di dunia ini itu tidak mungkin. Hahaha... Manusia seperti Keegan hanya cocok dijadikan asisten superefisien, bukannya pasangan. Aku? Dan Keegan? Jadi pasangan? Ya Tuhan... Hidupku akan amat sangat benar-benar sungguh-sungguh membosankan.


Aku bersiap menjawab saat sebuah suara yang sudah sangat kukenali terdengar.


"Sedang apa Ibu di sini?” Tak pernah aku sebahagia ini mendengar suaranya. Aku pun berbalik dan kaget sedikit.


“Oh, Keegan! Akhirnya pulang juga. Kami nungguin dari tadi. Iya kan, Tan?”


Aku berusaha mengontrol diri agar tetap biasa saja. Si kampret Keegan itu memiliki aura yang sangat berbeda dengan pakaian rumah. Dia... ekhem, cukup meresahkan. Tapi hanya sampai kata "cukup". Tidak lebih. Dan sesuatu yang hanya berlabel "cukup" tidak akan menggoyahkanku.


“Iya. Lama banget sih? Kamu belinya ke Depok dulu. Padahal lima menit juga seharusnya gak nyampe.”


Selanjutnya Keegan berdebat dengan sang ibu dan kugunakan kesempatan ini untuk menipiskan label "sedikit meresahkan" tersebut.


“Saya minta maaf, Bu. Ibu sampai repot di dapur. Sepertinya Mama saya tidak ta—“


“Kamu ngomong apa?” potong ibunya Keegan membuatku ketar-ketir. “Kenapa kamu manggil dia ibu?”


“Itu, Tan,” sahutku cepat. “Keegan memang suka bercandain saya. Karena nama saya sama kayak atasan kami, dia terus-terusan manggil saya ibu.”


Aku sendiri tak tahu mengapa sampai berbohong begini.


Oke, sebenarnya aku hanya tak mau keadaan berubah canggung. Ibunya Keegan pasti merasa bersalah. Aku tak enak hati membuatnya begitu. Berdosa tahu membuat orang tua malu padahal hal tersebut tidak terlalu perlu-perlu banget dibeberkan. Lagi pula aku ini memang lebih low profile dibanding atasan lainnya. Aku tidak gila hormat apalagi gengsian. Itu bukan gayaku.


Benar. Aku tak mau karena itu semua. Bukan karena alasan lain.


Kalian tidak percaya? Baiklah. Akan kubuktikan.


***


"Ibu kenapa duduk di sini?" tanya Keegan saat aku memilih duduk di sampingnya alih-alih di belakang.


Aku memakai seatbelt tanpa melihat ke arahnya. "Memangnya kenapa kalau saya duduk di sini. Suka-suka saya dong."


Inilah bukti low profile-ku. Aku tidak masalah mau duduk di mana saja. Tidak masalah juga mau disuruh menggiling cabai atau hal lainnya oleh siapa pun itu orangnya.


"Tapi Ibu gak pernah-pernahnya duduk di samping saya. Ibu masih mempertimbangkan saya jadi laki-laki yang akan ibu biay--"


"Shut your mouth!" bentakku. "Saya kan udah bilang bukan begitu maksud saya saat itu."


"Saya tahu. Hanya memastikan sekali lagi."


Makin kurang ajar saja orang satu ini.


"Sudahlah. Jalankan saja mobilnya." Aku pun menyandarkan tubuh dan memejamkan mata. "Tolong nyalakan Ac-nya ya."


"Sebentar ya, Bu."


"Ah, lama."


Aku pun menyalakan benda itu sendiri. Namun saat aku ingin menghidupkannya Keegan juga melakukan hal yang sama. Alhasil, tangan kami berdua saling bersentuhan.


Hal yang paling tidak kuduga adalah seorang Keegan berteriak. Dan langsung menjauhkan tangannya dariku. Seolah dia baru saja menyentuh tai ayam dan jijik karena benda itu kotor.


"Kamu kenapa heboh banget?" sindirku. "Kamu gak pernah megang tangan perempuan ya?"


Dan ternyata perkataanku benar. Atau kemungkinan besar benar. Sebab kini wajah Keegan lebih merah dibanding tomat matang.


"Eh, serius?" tanyaku lalu tersenyum senang.


"Kita berangkat sekarang, Bu." Dia lalu menjalankan mobil tanpa melihat padaku.


Aku tersenyum jahat. Pas sekali aku bisa mengganggunya sekarang.


"Apa yang Ibu lakukan?"


"Memang saya ngapain?"


Aku ingin menoelnya lagi. Namun kali ini Keegan menghindar dan menggenggam tanganku.


Kami bertatapan selama sekitar dua detik sebelum dia mengerem mendadak.


Ah, sebenarnya apa yang kulakukan. Kenapa aku melakukan hal-hal bodoh saat bersama orang ini? Dan adegan tatapan itu menjijikkan sekali. Mau ditaruh di mana mukaku sehabis ini.


Setelah meminta maaf pada mobil di depan, kami melanjutkan perjalanan kembali dengan lebih hening.


Kubuka ponselku dan, dan..., bingung mau berbuat apa.


Mungkin ada e-mail yang harus diperiksa? Dan ternyata tidak ada. Kenapa di saat begini tidak ada yang perlu denganku. Lalu tiba-tiba sebuah pesan masuk.


Aku hampir melonjak kesenangan.


Kamu ada waktu kan besok?


Namun semangatku langsung menghilang begitu membacanya. Mending aku malu dan tampak bodoh dibanding berurusan dengan orang satu ini. Aku melempar ponsel ke dasbor dan memejamkan mata.


Dering ponsel yang terdengar tak lama kemudian membuatku berdecak. Namun si penelepon bukan orang yang gampang menyerah.


Kuraih ponselku dan berniat mematikan. Namun sialnya tanganku tanpa sengaja menyentuh icon hijau.


"Kenapa baru angkat sekarang?" jawab suara di seberang dengan nada sebal.


"Ada urusan. Kenapa?" sahutku malas-malasan. Sudah begini tidak mungkin aku mematikannya.


"Kamu besok ada waktu kan?"


"Aku sibuk besok," jawabku cepat.


"Masa waktu sebentar aja gak ada," Arabella menjeda kata-katanya sejenak. "Analis besok pulang. Kita kan harus sambut dia. Jam delapan malam dia kira-kira sudah sampai rumah. Jadi kamu datang sebelum itu ya."


Ingatan tentang Analis mendadak mengalir dalam ingatanku.


Hal ini bahkan jauh lebih menyebalkan lagi.


Analis.


Adik Arabella yang sebaya denganku. Setelah Arabella menikah dengan Papa, Analis merasa dirinya berhak mendapatkan semua hal yang sama denganku. Dan setelah setahun berfoya-foya menghabiskan uang keluargaku, Analis memutuskan kuliah di luar negeri--tentunya hal ini dia lakukan karena tak ingin kalah denganku yang saat itu juga masih tinggal di luar negeri.


Intinya perempuan yang harus kusambut kedatangannya besok adalah salah satu ular yang membebani hidupku. Dan dari ingatan yang masuk ke kepalaku, salah satu hal yang membuat sikap Catherine semakin buruk juga adalah perempuan ini.


Perasaan tak dipedulikan lagi oleh keluarga satu-satunya dan kedatangan keluarga baru yang tak diinginkan. Apalagi jelas Arabella dan Analis tak menginginkan kehadiran dirinya.


"Aku sibuk. Gak ada waktu buat datang. Kalau gak ada lagi yang mau dibicara--"


"Kamu sesibuk apa sih? Yang kerja juga sekretaris kamu kan? Datang aja. Analis udah lama gak pulang loh. Dia kangen rumah sama kamu juga katanya."


Aku menahan napas. "Aduh, gimana ya. Sejak beberapa saat ini aku mulai kerja beneran tuh. Gak zaman lagi perempuan cuma di rumah dan gak bisa ngapa-ngapain selain ngabisin uang suami. Jadi, ya, aku gak mau jadi perempuan kayak gitu." Aku tersenyum lega setelah mengatakan. "Aku tutup ya. Besok aku benar-benar sibuk banget, Tan."


Tidak akan sudi aku datang untuk menyambut ular jelek satu itu.


***


Keknya bakal nambah lagi nih racun di dalam hidup Cath 😁


Sincerely,


Dark Peppermint