The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 33



Maaf kalau perkataan saya sebelumnya membuat banyak pihak marah. Saya gak ada maksud untuk menjelekkan Losing You. Saya cuma gak mau berurusan dengan WJ lagi. Takutnya kalau ada apa-apa di film ini nantinya saya akan didenda lagi oleh pihak mereka.


“Kee, tahan saya, tahan.” Kusodorkan tanganku pada Keegan agar ia menahanku supaya tidak menuliskan DM pada Tony Lesmana yang terlewat sombong dan mengada-ada itu. Namun Keegan tidak menahanku, dia malah menahan senyum yang sialnya terlihat tampan sekali.


“Kenapa kamu senyum-senyum?” bentakku menyembunyikan rasa malu. Dan Keegan si manusia kulkas dua pintu itu malah tak lagi menyembunyikan senyumnya.


“Saya hanya geli ngeliat ibu masih bisa bercanda sekarang. Ibu kelihatan lucu aja.”


Mulutku menganga. Aku ingin menjawab kata-katanya, tapi tak tahu ingin mengatakan apa. Aku ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi lagi-lagi tak tahu apa. Sampai gigku terasa kering aku hanya menganga bodoh di hadapan cowok yang mengatakan bahwa aku lucu.


Ya Tuhan, apa tadi kubilang, cowok yang mengatakan aku lucu.


Aku menganggap Keegan cowok. Dan aku baper dengan kata-katanya. Fix, ada yang salah di sini.


Aku buru-buru menutup mulutku. “Saya gak lagi ngelawak, Kee, saya suruh kamu tahan saya supaya gak ngirim hal-hal jelek ke Tony Lesmana.”


“Ibu gak perlu ngelakuin itu. Karena saya yakin banyak netizen yang rela melakukan hal tersebut. Ibu gak perlu mengotori tangan ibu sendiri. Biarkan saja dia. Karena mulutnya itu dia bisa hancur sendiri tanpa kita berbuat apa pun.”


Aku menutup mulutku dengan telapak tangan. Keegan dan kata-kata savage-nya. Entah kenapa sejak tadi dia terus bersikap santai, bijaksana, hingga membuatku merasa malu karena sudah bertingkah layaknya anak kecil. Sejak tadi aku terus


yang terbawa emosi sendiri.


“Kamu benar,” kataku akhirnya. Lalu seperti kata-kata Keegan tadi, netizen berbondong-bondong kembali menyerang Instagram Tony Lesmana. Feed teratas di Instagram-nya semakin penuh dengan hujatan.


Makin lama nih orang makin playing victim gak sih.


Ya Allah... baperan banget jadi orang. Dikit-dikit bahas denda. Di mana-mana kalau lu mau keluar sebelum habis kontrak bukannya emang bakal didenda ya. Kayaknya gak ada orang yang selebay dia disuruh bayar denda.


Kayaknya selama ini pihak WJ anteng-anteng aja deh, tapi kok manusia satu ini caper banget ya.


Aku tidak lagi tersenyum membaca hujatan netizen untuk Tony Lesmana. Entahlah, lama-lama membaca hujatan tersebut membuatku sedikit prihatin padanya. Sedikit saja ya. Mungkin ini bukti aku masih punya hati nurani. Tapi ya kebencianku padanya masih lebih banyak.


“Ibu kelihatan sedih,” ucap Keegan.


Aku langsung tersentak. “Sedih kenapa? Buat apa saya sedih? Saya gak sedih sama sekali."


Wajah Keegan tampak tidak senang. “Ya, mau bagaimanapun kalian dulunya kan berteman.”


Aku tidak menanggapi kata-kata Keegan. kepalaku berusaha menelusuri ingatan tentang Tony Lesmana lebih dalam lagi. Ingatan di mana aku dan dia masih menjadi teman dekat. Namun aku tak menemukan apa pun.


Aku tahu dulunya kami memang berteman baik. Tapi satu pun memori tentang kenangan tersebut tidak muncul.


Aku jadi sangat penasaran, seberapa dekat kami dulu. Adakah sesuatu yang membuat Catherine sampai tidak bisa melupakan Tony Lesmana meskipun laki-laki itu sudah bersikap sangat buruk padanya. Karena tidak mungkin Catherine sampai bertingkah sebodoh ini tanpa alasan yang kuat.


***


“Bu Catherine,” panggil seorang laki-laki. Suara itu berasal dari belakangku. Aku langsung berbalik dan melihat Pak Darma sedang berjalan ke arahku.


“Oh, Pak Darma! Lagi mau makan siang Pak?” tanyaku basa-basi. Entah kenapa aku jadi teringat Pak Tino. Waktu itu juga kami tak sengaja bertemu di jam makan siang.


“Iya. Saya juga mau makan siang.” Tolong jangan ajak aku makan siang bersama. Aku sedang tidak ingin makan dengan siapa pun. “Gimana kalau kita makan bersama.”


Aku bersiap ingin mengatakan sesuatu namun dia lebih dulu memtong, “Pas banget ketemu di sini. Sebenarnya saya memang mau menemui Ibu. Akhir-akhir ini film kita jadi sangat terkenal.” Dia tertawa. Sedikit heboh dan riang. Mau tak mau aku pun melakukan hal yang sama.


Akhirnya aku pun makan siang dengan Pak Darma, orang yang merupakan produser film yang akan kami garap nanti.


“Senin nanti naskahnya sudah selesai dikerjakan,” ucap Pak Darma tanpa kutanya. Dia tersenyum sangat cerah. “Saya tau ini bukan porsi saya buat minta maaf, tapi saya tetap mau minta maaf ke Ibu.”


Kalau tahu bukan porsi dia buat meminta maaf terus buat apa dia mengatakannya. Jujur saja karena semua orang menyebalkan yang kutemui selama ini, aku tidak punya kesan baik pada setiap orang yang baru kukenal.


“Padahal sudah jelas-jelas Ibu dan Tony hubungannya tidak baik, tapi masalah ini malah terjadi. Tapi kami akan pastikan tidak ada masalah lagi untuk selanjutnya.” Lalu wajah cerah pria itu berubah kesal. “Saya gak ada masalah apa-apa sebelum ini dengan Tony Lesmana. Tapi melihatnya dari kejadian ini saya jadi bersyukur kita tidak menggunakannya sebagai pemeran utama.”


Aku mengangguk menanggapi perkataannya. “Ya, saya harap kejadian seperti ini gak terulang lagi. Walau cuma masalah sepele, tapi hal ini membuat saya sangat tidak nyaman. Saya menunggu kabar baik dari kalian, dan saya harap seperti perkataan Anda tadi, tidak akan ada masalah seperti ini lagi.”


“Kami akan mengusahakannnya.”


Aku cukup senang karena dia tidak menyebut “aku akan mengusahakannya” tapi “kami akan mengusahakannya.


Selanjutnya Pak Darma yang murah senyum itu menumpahkan kekesalannya tentang Tony Lesmana. Tak kusangka mulutnya lemas.


“Belum seterkenal Edy Raharjo saja sudah sesombong itu,” katanya menyebut aktor kebanggaan negeri ini yang sudah berkiprah sampai ke Hollywood. “Kalau saya harus milih saya lebih suka Wisnu Prakarsa yang jadi pemeran utamanya.”


Aku hanya menanggapi ocehan pria itu seadanya.


***


“Apa lagi yang harus saya lakukan hari ini Kee?" tanyaku pada Keegan begitu kami memasuki gedung WJ Entertainment.


“Jam tiga nanti Anda ada pertemuan dengan Bapak Prayitno. Selanjutnya sore nanti—“


“Tunggu, tunggu,” potongku pada ucapan Keegan.


“Ada apa, Bu?” Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Keegan. Sebab mataku kini sedang terfokus pada sosok luar biasa yang baru saja melangkah keluar dari lift. Mataku menyipit dan mendadak jantungku berdebar kencang.


“Ya Tuhan, Kee, siapa cowok itu?” tanyaku hampir terpekik. “Apa ada pegawai seganteng itu di sini.”


Pria tampan yang kusebut itu berjalan ke arah kami. Lalu saat jarak kami semakin mendekat, dia tersenyum padaku. “Selamat siang, Bu.”


Dan aku melayang. Dia tahu aku!


“Siapa itu Kee?” tanyaku lagi.


“Dia Wisnu Prakarsa, Bu. Aji Wisnu Prakarsa.”


***


Sincerely,


Dark Peppermint