The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 39



Pria itu masih bisa tertawa sekarang. "Ibu salah paham. Saya tidak pernah menyudutkan pendapat Anda. Saya hanya memberikan kritik. Anda tidak seharusnya bersikap kasar terhadap kritikan seseorang."


Sialan. Aku baru sadar sekarang. Laki-laki ini tipe yang berbahaya. Aku tidak menyadarinya sebelumnya. Tapi dia bisa membuatmu menjadi pihak yang bersalah tanpa kau sadari.


Pria ini sengaja memancingku untuk mengutarakan pendapat siapa pemeran utama laki-laki yang cocok agar dia dapat memberikan kritikan terhadap semua yang kupilih. Dan saat aku tidak terima dengan ucapannya dia dapat berlindung dengan dalih semuanya hanya "kritikan". Semua orang tahu, jika kau tidak terima dengan kritik yang diberikan orang lain maka kau akan dicap sebagai si egois yang merasa dirinya paling benar.


Dia sengaja berpura-pura tak sengaja membahas topik yang sensitif. Kurasa pembahasan tentang Tony Lesmana saat itu pun disengaja olehnya. 


Jadi aku mengembuskan napasku perlahan. Aku tersenyum padanya. "Saya menerima kritikan Anda. Maaf kalau saya agak terbawa suasana oleh Anda."


Dia mengangkat tangannya. "Tidak masalah."


Aku masih tersenyum. Lalu memasang wajah sedih dan berkata, "Untuk masalah dengan Tony Lesmana saat itu pun saya minta maaf kalau berlebihan. Saya hanya tidak terbiasa ada orang yang membahas hal yang sensitif dengan saya."


"Hal sensitif."


"Benar. Benar anda pasti tahu dengan benar topik tentang tony Lesmana waktu itu adalah hal yang sensitif bagi saya. Jadi saya harap anda maklum kalau pembahasan mengenai siapa pemeran utama laki-laki untuk film ini pun menjadi topik yang agak sensitif buat saya. Karena membahas hal tersebut membuat saya mengingat kembali tentang Tony Lesmana."


"Ah, saya tidak ada maksud buruk apa pun ke ibu. Saya hanya ingin menanyai pendapat ibu saja. Ibu kan pemimpin yang hebat. Jadi saya rasa pendapat Ibu bisa berguna." Rubah tua itu tersenyum kembali. Aku sudah bosan sekali melihatnya senyumnya.


"Saya percaya Anda tidak punya maksud buruk. Dan terima kasih telah mempertimbangkan pendapat saya. Kalau begitu saya rasa Anda akan menerima saran saya tentang Wisnu Prakarsa. Saya tahu pendapat profesional Anda merasa dia tidak cocok. Tapi saya harap anda tetap mempertimbangkannya. Karena seperti kata anda siapa tahu pendapat saya yang seorang pemimpin hebat ini dapat berguna."


Aku yakin sekali sekarang ini bibirnya sangat sulit untuk membentuk senyuman. Namun si rubah tua tetap berusaha memperlihatakan ekspresi yang sama.


"Saya akan mempertimbangkannya."


"Terima kasih. Saya senang sekali," ucapku. "Kalau tidak keberatan sebentar lagi saya ada janji temu dengan seseorang."


"Oh, maafkan saya. Saya pasti mengganggu waktu sibuk Anda."


aku hanya tertawa. Tidak membenarkan, tidak juga membantah. "Saya gak bermaksud mengusir loh ya," ucapku berbasa-basi.


iya, sebenarnya gue emang lagi ngusir elo. gue gak mau ketemu siapa pun habis ini. cuma eneg aja ngeliat muka lo.


"Hahaha, tidak masalah Bu. Kalau begitu saya permisi."


"Iya, silakan." aku tersenyum selebar yang kubisa.


lihatlah senyumku ini. ini senyum bahagia karena akhirnya kau pergi dari sini.  dan silakan pergi dan jangan kembali lagi.


Tak lama setelah itu aku menyuruh Shania masuk ke ruanganku melalui interkom.


"Iya, Bu?" tanyanya begitu masuk.


Aku berdeham sejenak. Dengan tangan yang sibuk dengan berkas-berkas dan tanpa melihatnya aku berkata, "Keegan sudah kembali?"


"Belum, Bu. Mas Keegan masih bertemu dengan Bu Ranti."


Aku mengangguk. "Oke, kamu boleh pergi."


Aku sempat waswas kalau-kalau Shania bertanya kenapa aku menanyai Keegan. tapi perempuan itu sepertinya tidak peduli dan langsung pergi begitu.


Mau bagaimana lagi. Aku mana punya muka lagi sejak kejadian pagi tadi. Dan... aku jelas ingat setiap detail yang terjadi semalam. 


"Jangan..." Namun tidak terjadi apa pun. Saat aku membuka mata ternyata Keegan sudah duduk di tempatnya semula.


Apa aku bermimpi? Aku berkhayal kalau Keegan mau berbuat yang 'tidak-tidak' padaku?


"Kamu... Tadi..." aku terbata-bata.


"Saya mau ambil remote," ucapnya sambil menunjukkan remote televisi. "Ini udah larut sebaiknya Ibu gak menonton drama lagi."


Aku melihat televisi di depan sudah mati. Mendadak aku kesal. Bukan! Lebih tepatnya malu. Aku sudah bertingkah seperti cewek bodoh yang takut 'diapa-apakan' tapi dia cuma cuma mau mengambil remote.


Aku melirik sinis pria itu. Atau dia sengaja melakukannya. Sengaja membuatku berpikiran macam-macam untuk membalas dendam.


Seperti bocah aku pun merebut remote tersebut dari Keegan. "Memangnya kamu siapa ngatur-ngatur saya. Saya ini bos kamu, terserah saya mau ngapain." Ya Tuhan aku ngomong apa. "Saya mau nonton sampai pagi juga kamu gak bisa larang saya." Mulut sial, berhenti ngomong yang enggak-enggak. Kalau malu tuh diam aja kenapa, jangan malah ngebacot gini. "Mau saya gak masuk besok karena nonton drama juga ya terserah saya."


Akh... mulut sial. Di mana rem untuk mulutku. Aku ini ahli mempermalukan diri sendiri atau bagaimana. 


"Baik, Bu," ucap Keegan menurut. Dan layaknya anak baik yang habis dimarahi sang ibu, dia duduk diam seperti menyesali perbuatannya. Namun bukannya minta maaf aku yang gengsinya tinggi dan terlanjur malu ini malah menyalakan televisi kembali dan menonton episode dua. Berbeda dengan episode pertama yang bisa membuatku sejenak melupakan kehadiran Keegan, di episode kali ini aku tidak bisa menghentikan diriku untuk tak memikirkannya. Sedikit-sedikit aku meliriknya melalui ujung mataku. Dan mulut sialku ini entah mengapa terus memuji Wisnu Prakarsa yang sebenarnya sama sekali tidak menarik perhatianku.


"Sebaiknya saya pulang,"


"JANGAN!" teriakku keras dan refleks berdiri. Begitu sadar dengan apa yang kukatakan aku mendudukkan diriku kembali. "Jangan cuma sekali," ucapku sambil cepat menoleh ke layar televisi. Yang sialnya kini sedang menayangkan sebuah adegan ciuman.


Kini aku pasti terlihat seperti cewek mesum yang tak puas hanya dengan satu adegan ciuman.


"Kalau cuma sekali kayak agak aneh gitu gak sih?" Lagi-lagi aku melantur.


"Apanya, Bu?" tanya Keegan tak mengerti.


Aku menggaruk kepala. Namun saat sadara tingkahku ini membuatnya berpikir mungkin aku punya kutu, aku segera menghentikannya. "Ya, aneh aja. Soalnya--" Dan mulut sialku terus mengatakan hal-hal tidak berfaedah. Dan yang membuatku tidak bisa berhenti, Keegan terus menanggapi kata-kataku. Entah dia sengaja menggodaku atau dia terlalu baik hati tidak bisa mengabaikan kata-kata seseorang. 


Aku tidak ingat aku berceloteh sampai kapan. Tapi sepertinya tanpa sadar aku tertidur.


Aku mengembuskan napas lelah mengingat semua tingkahku semalam. Lalu pintu ruanganku diketuk.


"Masuk," jawabku. Dan Keegan pun masuk ke dalam. Napasku tercekat ditenggorokan. 


"Ibu panggil saya?" tanyanya polos.


Ha? Gimana?


***


Sincerely,


Dark Peppermint