
"Ini kamu yang buat?" tanyaku setelah membaca laporan yang diberikan Sania.
Wanita itu mengangguk. "Iya, Bu."
Kemudian Keegan membisikkan sesuatu padaku. "Laporannya sangat bagus. Dia cukup kompeten."
Aku melirik Keegan tidak suka. Dia jarang sekali memuji seseorang. Apakah pesona Sania sebagai pemeran utama wanita juga berpengaruh padanya?
"Baiklah, kamu boleh pergi," ucapku akhirnya. Aku tak ingin memujinya langsung. Bukan karena tidak suka. Tentu aku suka memiliki pegawai yang kompeten. Aku hanya tidak ingin dia cepat puas.
***
Akhirnya aku memutuskan untuk ikut acara tersebut. Hari ini kami akan pergi ke WJC dan mendiskusikan semuanya. Namun keadaan Keegan tidak baik-baik saja.
“Hacho...” Pria itu menutup hidungnya ke dalam siku.
“Kamu seharusnya menutup hidung sebelum bersin, Kee. Bukan setelah bersin dan air liur kamu muncrat ke mana-mana.”
Keegan menundukkan badan. “Maaf, Bu. Saya tadi bingung mau nutup hidung pakai apa. Tangan saya penuh semua.” Kulihat kedua tangan Keegan penuh dengan tablet serta tas kerjanya.
“Kamu yakin bisa kerja hari ini?” Aku menatap khawatir padanya. Sejak pagi Keegan sudah batuk dan tampak agak lesu. Juga bagian bawah matanya mempunyai kantong mata yang cukup parah. “Saya bisa pergi sendiri.”
“Gimana bisa Ibu pergi sendiri?” sergah Keegan. “Saya gak apa-apa. Cuma pilek sedikit. Tadi juga sudah minum obat. Sebentar lagi akan hilang.”
“Kalau gitu seenggaknya masukkan tablet kamu itu, dan berhenti terus-terusan menatap layarnya.”
“Saya sedang menjadwal ulang pertemuan Ibu dengan—“
“Masukkan, Keegan! Masukkan tablet itu sekarang atau saya lempar ke dinding.”
Pria itu akhirnya menurut. Dimasukkannya tablet tersebut ke dalam tas kerjanya. Kalau kusuruh pulang pun jangan-jangan Keegan masih terus bekerja di rumahnya, lebih baik aku membiarkannya ikut dan memastikannya tidak bekerja.
Pintu lift khusus terbuka dan kami keluar dari sana.
“Apa saya harus cari sekretaris baru?”
“Apa? Ibu mau mecat saya?” Langkah Keegan terhenti. Aku pun sadar telah salah bicara.
“Enggak. Gimana bisa saya mecat kamu. Maksud saya sepertinya bagus kalau sekretaris saya ditambah. Biar kamu gak secapek ini lagi.”
“Gak perlu, Bu, saya gak—Hachooo...” Kali ini Keegan dapat menutup hidungnya dengan baik. Syukurlah.
“Mas Keegan sakit?”
Aku menoleh dan menemukan Sania tengah menatap khawatir pada sekretarisku.
“Ah, siang, Bu.” Dia menundukkan badannya sedikit.
“Siang.”
“Mas Keegan udah minum obat?”
Namun Keegan tampak tidak senang dengan pertanyaan dari Sania. “Sudah,” ketusnya.
Kulira dia juga suka pada wanita itu.
Sania sepertinya sadar akan respons tidak senang Keegan. “Maaf, Mas, saya cuma khawatir.”
“Kamu gak perlu—Uhuk... uhuk...”
Aku sudah tidak tahan lagi. “Keegan kamu gak bisa ikut—“
“Saya bisa! Gimana kalau nanti di sana Ibu butuh minum atau mau makan sesuatu. Ibu kan gak bisa beli semua itu sendiri.” Aku mendelik mendengar kata-kata Keegan. Aku bukannya tidak bisa. Selama ini dia selalu menawarkan untukku semua itu, jadi buat apa aku menolak. Aku kan bos. “Ibu juga sering lupa barang-barang di tas Ibu sendiri.”
Yang itu berlebihan. Aku tidak begitu. Hanya penaku yang suka hilang entah ke mana dan tiba-tiba ada di dekat pintu lalu ditemukan oleh Keegan.
“Ibu gak bisa pergi ke sana sendiri!”
Aku membuang napas. “Kalau gitu ajak perempuan ini sama kita!” putusku semena-mena sambil menunjuk Sania.
Kedua orang itu terperangah. “Mana bisa begitu, Bu.”
“Bisa,” balasku seraya berbalik. “Kamu hubungi divisinya sekarang juga. Bilang salah satu pegawainya kubawa. Penting!”
Bodoh amat aku mau dibilang sedang menindas anak ayam tidak berdaya.
“Tapi, Bu.” Keegan mensejajari langkahku. Di sampingnya ada Sania yang mengekor dengan raut muka tidak mengerti.
“Sania akan membantu kamu hari ini. Kamu bilang saya gak bisa beli makan sendiri kan, kalau gitu kita suruh dia yang beli makan nanti.”
“Tapi—“
“End of discussion!” tegasku.
“Benar kamu bisa nyetir?”
Entah untuk yang keberapa kalinya Keegan menanyakan hal tersebut.
“Benar, Mas, saya bisa. Tadi Mas udah lihat sendiri SIM saya, kan?”
“Bisa aja SIM nembak, kan?” Keegan menyilangkan tangan di depan dada sambil melirik sinis orang yang duduk di sampingnya. Sementara aku menonton semua itu dari kursi belakang. Mereka tidak ada sikap hormatnya pada bos. Bisa-bisanya bertengkar di depanku seperti ini.
“Enggak, Mas, saya jujur. Saya lulus setelah belajar nyetir seenggaknya selama 100 jam.”
Keegan masih saja sanksi. “Awas kalau kamu nabrak. Mobil Bu Catherine ini mahal. Kamu gak akan bisa ganti kalau sampai rusak.”
“Iya, saya tahu.”
Tiba-tiba perutku mengeluarkan bunyi yang memalukan.
“Ibu lapar?” tanya mereka berdua secara serentak, lalu keduanya saling berpandangan. Keegan tetap dengan tatapan tidak puasnya dan Sania dengan tampang anak ayam tertindasnya. Aku yang seharusnya merasa malu dalam situasi ini jadi terselamatkan.
“Kalau Ibu mau kita bisa berhenti sebentar. Ibu mau makan apa?” tanya Sania ramah.
“Kalau lapar saat bukan jam makan siang, biasanya Bu Catherine makan camilan. Kayak akhir-akhir ini Bu Catherine suka makan cookies. Tapi jangan yang terlalu manis. Bu Catherine gak suka makanan manis,” Keegan membeberkan informasi itu dengan kaku. Yang ditanggapi dengan berlebihan oleh Sania. Matanya tampak berbinar-binar saat berkata, “Wah, ternyata selera makanan Ibu gak suka yang manis-manis. Kalau minumnya biasanya Ibu suka apa, Mas Kee?”
"Ibu akhir-akhir ini suka minum caffe americano karena sering lembur. Buat minuman juga Ibu gak suka yang manis.”
“Jadi gitu. Bakal saya ingat,” angguk Sania mantap. “Jadi Ibu benar mau cookies?” Ia melihatku dari spion tengah.
Bagaimana bisa aku mengatakan ingin makan salad buah dan minum teh chamomile saja jika dia membahasnya sesemangat itu. “Iya. Belikan itu saja,” jawabku seadanya sambil melihat ke luar jendela.
“Baik, Bu.”
Selanjutnya mereka bertengkar lagi siapa yang harus turun untuk membelikanku makanan.
“Saya gak yakin kamu tahu selera Bu Catherine.”
“Tapi Mas sakit. Biar saya saja yang beli makanan untuk Ibu.”
“Saya gak yakin kamu bisa melakukannya dengan baik.”
“Saya pasti bisa. Kan hanya beli makanan.”
“Kalau kalian gak berhenti, saya yang akan turun dan beli sendiri,” selaku datar. Jika lebih lama lagi mendengar ocehan mereka kupingku bisa menghilang.
“Gak usah, Bu, saya yang akan pergi.” Tanpa ba bi bu, Sania keluar mobil.
Keegan menoleh ke belakang. “Ibu yakin mau biarin dia beli makanan buat Ibu? Kalau diludahi sama dia gimana, Bu?”
“Pasti kelihatan kalau diludahi. Jadi saya bisa lempar ke dia kalau gitu,” jawabku asal-asalan.
“Ini, Bu.” Sania memberikan makanan dan minumanku begitu masuk. “Dan ini buat Mas. Gak ada es-nya karena Mas lagi sakit.”
Keegan menerima bungkusan itu dengan enggan. “Ini saya ambil karena sayang kalau dibuang. Sekali lagi jangan beli sembarangan buat saya. Saya gak suka kopi. Apalagi cookies.”
“Bohong!” potongku. “Saya cuma makan satu bungkus cookies. Tapi Keegan selalu menghabiskan dua.”
Aku dan Sania tersenyum melihat wajah Keegan yang memerah. Meski kaku pria itu sangat suka kue. Apalagi cake seperti red velvet.
“Berapa semuanya? Nanti saya bayar sekalian memberi kamu bonus,” kataku pada Sania.
“Ah, gak usah, Bu. Saya senang bisa tahu kesukaan Ibu dan membelikannya untuk Ibu. Ibu juga gak perlu ngasi bonus.”
“Kalau saya bilang saya mau makan caviar sekarang juga, apa akan kamu belikan juga?"
Sania terdiam.
“Jangan menolak. Saya akan merasa tidak enak. Lagi pula kamu pantas dibayar sesuai pekerjaan kamu sekarang. Saya gak mau disebut menjadikan kamu pesuruh saya dengan semena-mena.”
Sebenarnya aku tidak peduli dianggap orang jahat oleh orang-orang, aku hanya tidak suka berutang. Apalagi aku sekarang kan orang kaya.
“Saya gak ngerasa kayak gitu. Kalau gitu saya akan terima bonus dari Ibu dengan senang hati.” Dia tersenyum. “Apa ada lagi yang harus saya tahu tentang Ibu? Hari ini saya ingin melakukan tugas saya dengan baik?”
“Cukup lakukan apa yang saya suruh saja.”
“Iya, kamu kan bukan sekretaris aslinya. Secukupnya saja.”
Keegan, sebenarnya anak ini kenapa sih?
Aku menggeleng melihat pria itu. Lalu kotak misi yang amat sangat kucintai karena misi-misi tidak jelasnya itu muncul lagi.
Katakan pada Sania, “Nona, kamu membuatku ingin berada di atas ranjang yang sama denganmu. Kamu harus membantuku menyelesaikannya.”
Aku tercenung, terpekur, terdiam, terheran-heran. Semakin takut saja kalau kecurigaanku benar tentang genre novel ini.
Atau tidak. Jangan-jangan ini dilakukan untuk mempermalukanku. Jika tidak mau jadi penjahat, jadilah orang mesum aneh! seperti itu.
“Saya mau ke kamar mandi dulu,” kataku setibanya kami di WJC.
“Saya juga ikut,” cetus Sania. Dan jadilah kami pergi ke toilet bersama. Yang sialnya sepi tanpa ada satu orang pun.
“Ibu biasanya pakai tisu apa? Air mineral yang biasa Ibu minum juga apa?” tanya Sania canggung di sebelahku. Ia sedang mencuci tangannya. Sementara aku sedang memulas ulang lipstick-ku.
“Apa saja,” jawabku. Dan dia tampak semakin murung. Kurasa dia sangat ingin melakukan semuanya dengan baik.
Aku tersenyum. Sungguh anak yang baik.
Lalu kata-kata laknat itu meluncur begitu saja dari mulutku, “Sayang, kamu membuatku ingin berada di atas ranjang yang sama denganmu. Kamu harus membantuku menyelesaikannya.”
Tentu saja Sania kaget.
Selamat padamu kotak misi, kau berhasil membuatku menjadi perempuan pervert.
***
Sekali lagi diinfokan, ini cerita LURUS. Bakal ada protagonis pria asli. Tenang aja.
Sincerely,
Dark Peppermint