
"Ah, gimana kalau sekarang kita nonton drama sebentar," usulku. "Drama yang dibintangi Wisnu Prakarsa itu lagi hitz banget kan? Saya pengin banget nonton itu." Tanpa meminta persetujuan Keegan, aku berjalan menuju ruang tengah. Di sana aku menyalakan televisi dan Keegan pun mengekoriku. Bukannya duduk di sofa yang berbeda, dia malah duduk di sampingku.
Aku melirik pria itu dan dia pun melakukan hal yang sama. "Ibu mau saya nyalakan sekarang tivinya?" tanyanya tidak peka.
"Gak usah, biar saya saja yang hidupkan."
Dia menggeleng. "Enggak. Saya saja yang nyalakan."
"Enggak usah," ucapku sambil bergerak mengambil remote. Kulihat Keegan juga melakukan hal yang sama. Kuperkirakan jika aku tetap mengambil remote tersebut tangan kami akan bersentuhan seperti di film-film, jadi aku pun menggeser meja. Remote tersebut bergeser dari posisinya dan membuat tangan Keegan refleks berhenti. Kugunakan kesempatan ini untuk mengambil remote.
"Saya saja yang nyalakan tivinya. Kamu kan tamu di sini." Lalu aku mendudukkan diriku kembali ke sofa. Namun kali ini di posisi yang sedikit lebih jauh dari Keegan. Aku mau duduk di sofa yang berbeda, tapi aku tidak mau dia berpikir macam-macam tentang hal ini. Jadi aku duduk di ujung sofa saja. Kukira tingkahku yang canggung ini tidak akan terlalu diperhatikan olehnya.
Begitu televisi menyala aku langsung mencari drama Wisnu Prakarsa.
"Apa judulnya? Romancing Miss Dee ya?"
"Iya, Bu," sahut Keegan cepat tanpa melihatku.
"Oke-oke." Selanjutnya layar televisi menayangkan episode 1 Romancing Miss Dee.
Aku fokus menonton drama sampai Keegan yang berada di sebelahku bergerak menyugar rambutnya. Itu gerakan yang sangat normal. Yang tidak normal adalah efek yang dia berikan padaku. Kenyataan bahwa sekarang Keegan sedang memakai kaos dan celana trainingku membuat detak jantungku semakin menjadi-jadi.
Aku kembali fokus menonton. Tidak terlalu sulit untuk melakukannya sekarang sebab drama tersebut sangat lucu dan menghibur.
Aku tertawa kencang melihat salah satu adegan. "Lucu banget ya, Kee."
"Iya, Bu," sahutnya.
Kulirik dia sinis. "Datar banget tanggapan kamu. Kamu bahkan gak senyum lihatnya."
Keegan melirikku sekilas, lalu wajahnya datar kembali. "Saya merasa adegannya lucu kok."
Ya, terserah kamu saja deh.
Aku cemberut tapi malas membahasnya lebih lanjut. Lebih baik aku menonton saja. Dan drama ini memang sangat mengasyikkan. Aku sampai tak memusingkan keberadaan Keegan di dekatku lagi.
"Ahhh... Jeremi sweet banget...," ucapku memuji peran yang dimainkan Wisnu Prakarsa.
"Dia memang ganteng banget ya, Kee."
"Ada gak ya cowok kayak gitu di dunia nyata?"
"Aduh, tuh cewek ngapain sih genit-genit ke Jeremi. Jeremi tuh cuma boleh buat Mia."
"Kya... Lucu banget. Gemes. Mau satu yang kayak Jeremi."
Setelah satu episode selesai bibirku masih setia menyunggingkan senyum. "Sayang banget udah selesai. Seru banget kan dramanya?" Aku meminta persetujuan Keegan. Kini aku baru melihat bagaimana masamnya wajah Keegan.
"Kamu gak suka dramanya?"
Pria itu melengos. "Suka kok."
"Suka kok mukanya kayak gitu?"
"Memangnya muka saya kayak mana?" tanya Keegan agak nyolot.
Kenapa anak satu ini? Apa ada adegan di film tadi yang menyinggungnya? Apa couple di drama itu terlalu sweet sampai membuat Keegan menyesali hidupnya yang pahit.
Haduh, kalau jadi jomlo terasa sepahit itu bagimu, Keegan, seharusnya kau cari pacar.
"Kamu kayak orang yang habis makan lemon semangkuk."
"Saya gak pernah makan lemon sebanyak itu."
Astaga, manusia satu ini.
"Maksudnya bukan gitu. Wajah kamu kelihatan asem banget kayak habis makan lemon."
"Lemon memang asam tapi gak akan bikin wajah jadi ikut asam."
Ha? Gimana?
Ya betul juga sih. Makan lemon tidak akan membuat wajahmu asam. "Tapi kan... Bukan gitu." Aduh, aku harus ngomong apa ke anak ini. "Maksudnya... Ah, gak tau deh.
"Ibu suka banget ya sama si Jeremi."
Kata-kata Keegan menghentikanku yang akan memutar episode kedua. "Tentu. Siapa yang gak suka cowok kayak gitu," jawabku bersemangat. "Udah ganteng, kaya, baik, bucin... Akhhh..." teriakku sambil menangkup kedua pipi.
Namun jawabanku tak membuat Keegan lebih bersemangat. Dia malah bertambah masam.
"Kamu kenapa?"
"Gak apa-apa," jawabnya seperti cewek yang sedang ngambek.
"Kenapa sih? Baru dapet?"
Keegan memelotot. "Ibu kira saya apa. Saya 100 persen laki-laki. Saya laki-laki tulen, Bu."
Aku menahan tawa melihat Keegan yang bersikap seperti itu.
"Masa sih? Habisnya kamu moody banget kek cewek lagi mens."
"Saya ini laki-laki, Bu," Keegan masih bertahan dengan argumennya.
Aku memasang wajah meremehkan. "Masih gak percaya. Mana buktinya?"
Tiba-tiba Keegan berdiri. Dia berjalan mendekatiku. Tubuhnya yang menjulang tinggi di depanku terlihat sangat mengancam. Suaranya berat dan serak saat berkata, "Ibu perlu bukti kalau saya ini laki-laki?"
Aku menelan ludah. Wajahnya semakin mendekat ke arahku. Refleks aku langsung memejamkan mata dan bersiap mendorongnya. "Jangan..." Namun tidak terjadi apa pun. Saat aku membuka mata ternyata Keegan sudah duduk di tempatnya semula.
Apa aku bermimpi? Aku berkhayal kalau Keegan mau berbuat yang 'tidak-tidak' padaku?
"Kamu... Tadi..." aku terbata-bata.
"Saya mau ambil remote," ucapnya sambil menunjukkan remote televisi. "Ini udah larut sebaiknya Ibu gak menonton drama lagi."
Aku melihat televisi di depan sudah mati.
***
Kepalaku terasa pening saat aku mulai membuka mata. Apalagi sinar dari lampu di atas menyala sangat terang.
Apa aku lupa mematikan lampu? batinku.
Aku membaringkan tubuhku ke kanan sambil menutupi mata dengan tangan. Namun tanganku menyenggol sesuatu. Tanpa membuka mata aku meraba benda besar yang ada di depanku. Terasa sangat panas dan keras.
Gulingnya aneh, batinku lagi. Tapi mataku masih terasa sangat berat untuk terbuka.
Aku menarik guling tersebut, tapi benda itu sama sekali tak bergerak.
Aneh. Kenapa berat banget.
Malah aku yang tertarik saat berusaha menariknya.
Mau tak mau kini aku membuka mata. Aku mengerjap beberapa kali, guling tersayangku yang biasanya polos kini memiliki wajah. Wajahnya tampan sekali dan sedang memejam.
Aku kelabakan dan langsung terduduk. Aku tak berada di kamarku atau sedang memeluk gulingku yang kusayangi itu. Aku sedang tidur di sofa dan sedang memeluk Keegan.
Memeluk keegan!
MEMELUK KEEGAN!!!
Aku meneguk ludah. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku dan Keegan tidur di sini? Seperti di drama-drama murahan aku memperhatikan pakaianku apakah masih utuh atau tidak.
Aku menghela napas lega setelah melihat pakaian tidurku masih lengkap.
Wajah Keegan tampak sangat damai. Tanpa sadar tanganku bergerak menyentuh bulu mata lentiknya. Dan perlahan mata Keegan terbuka.
***
Sincerely,
Dark Peppermint