
Kabar aku menjadi bintang tamu di acara gosip tersebut telah tersebar luas. Lagi-lagi ketenaran berita tentangku mengalahkan para artis yang habis kawin-cerai.
Pencarian di Google didominasi olehku.
Catherine Wijaya menjadi bintang tamu di acara xxx
Pengakuan apa yang akan disampaikan Catherine Wijaya
Hubungan Catherine Wijaya dan Tony Lesmana
Catherine Wijaya membuat kontroversi lagi
Kini aku bahkan lebih terkenal dibanding Tony Lesmana. Orang-orang lebih tertarik dengan apa yang kulakukan. Jika aku tidak sekaya sekarang, aku pasti akan tertarik mengeluarkan single terbaru meski tidak bisa bernyanyi atau membuat Youtube dan sebagainya. Pangsa pasarku sangat besar saat ini.
Dia mau bikin ulah apa lagi sekarang?
Dia benar-benar gak ada kerjaan. Katanya CEO kok masih sempat-sempatnya jadi bintang tamu.
Akhirnya dia mau nunjukin sifat aslinya ke publik.
Duh, nih cewek benar-benar gak tahu malu ya. WJ pasti bakal hancur sih gak lama lagi gara-gara pemimpinnya kayak gini.
Siap-siapin mental kalian guys ngeliat kelicikannya si ular di tv nanti. Kalau dia jelek-jelekin Tony, langsung serang.
Padahal kukira dia masih punya malu soalnya berita tentang dia bersih dari internet. Ternyata dia malah bikin ulah lagi. Dia lebih parah dari artis-artis yang pengin tenar dengan modal sensasi. Apa dia masih merasa kurang kaya sekarang. Bentar lagi sosmednya banyak endorse-an nih kayaknya.
Ratu drama. Kenapa gak main sinetron aja sih dia. Banyak tingkah banget jadi orang.
Tidak kusangka aku semakin kebal saja membaca komentar-komentar jahat dari orang-orang ini. Aku tetap kesal. Tapi tidak separah di awal-awal dulu. Rasanya sekarang ini bukan apa-apa. Apalagi kalau mengingat semua orang menyebalkan yang telah kutemui selama ini.
“Hasil rapat tadi bisa kamu serahkan besok kan, Kee?” tanyaku.
“Bisa, Bu.”
Aku mengangguk lalu kembali menikmati makan siangku. Aku, Keegan, dan Sania makan di restoran yang menyediakan tempat duduk berupa saung-saung dari anyaman bambu. Tempat ini cukup jauh dari kantor dan sengaja dipilih Keegan dan Sania untukku agar bisa makan dengan tenang. Sebab sejak berita itu merebak, aku benar-benar seperti artis top. Tak bisa pergi ke mana-mana tanpa dilirik orang dan digosipkan.
Tak berapa lama ponsel Keegan berdering.
“Dari Bapak,” ucap Keegan.
“Angkat saja.”
“Selamat siang, Pak.”
“Sebenarnya apa kerja kamu, ha?” sembur seseorang dari seberang telepon. Aku dan Sania dapat mendengarnya karena Keegan sengaja menyalakan pengeras suara panggilan tersebut.
“Kenapa Catherine ikut acara begitu? Kamu gak tahu apa saja yang digosipkan orang-orang karena tingkahnya itu. Kalau dia mau bunuh aku, bunuh saja sekarang. Kenapa terus-terusan bikin masalah.”
“Maaf, Pak, tapi Bu Catherine telah melakukan pertimbangan yang matang lebih dulu sebelum mengikuti acara ini.”
“Pertimbangannya itu gak pernah ada yang matang. Dia cuma pembuat onar. Seharusnya kamu melarangnya ikut acara tidak berguna seperti itu. Untuk apa kamu dipekerjakan kalau mengurus atasanmu saja gak bisa.”
Aku hendak merampas ponsel Keegan saat panggilan tersebut dimatikan.
“Gak sopan banget bapak-bapak satu itu,” komentarku. Keegan kan sekretarisku bukan pengasuhku. Dan dia saja tidak bisa melarangku, kenapa berharap Keegan bisa melakukannya. Dia hanya melampiaskan amarahnya karena tidak bisa mengatur hidup putrinya sendiri.
***
Sampai akhirnya tibalah giliranku. Jujur saja aku sedikit gugup. Ini pertama kalinya aku akan muncul di layar kaca. Namun nama besar seorang Catherine Wijaya memberiku banyak kekuatan. Apalagi aku punya orang-orang yang percaya padaku. Yah, walau cuma dua. Dan aku juga kurang yakin Keegan yang lempang benar-benar percaya padaku.
“Catherine Wijaya,” sambut sang pembawa acara. Kemudian aku masuk ke dalam diiringi suara teriakan penonton.
“Selamat sore Mbak Catherine,” sang pembawa acara mengulurkan tangannya padaku.
Aku menyambutnya sambil tersenyum ramah. “Selamat sore Mbak Zola.”
“Saya panggil Mbak aja gak apa-apa kan?”
“Tentu saja gak apa-apa.”
“Kalau gitu silakan duduk.”
Dua bintang tamu sebelumnya bergeser dan membiarkanku duduk di dekat sang pembawa acaranya.
“Catherine Wijaya,” ucap Mbak Zola. “Kalian pasti tahu sama perempuan satu ini kan? Akhir-akhir ini beritanya dengan Tony Lesmana sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Apa saja beritanya, mari kita saksikan cuplikannya berikut ini.”
Lalu sebuah layar besar di belakangku menampilkan semua ringkasan pemberitaan tentangku.
“Mbak Catherine, gimana perasaannya dengan semua pemberitaan ini?”
“Akhir-akhir ini saya jadi terkenal banget. Mau makan burger pun saya harus pencitraan. Takut ada yang motret saya diam-diam dan saat itu saya lagi kalap makan burger, kan gak lucu.” Beberapa orang tertawa mendengar respons yang tidak diduga-duga tersebut. “Jadi ya, sebenarnya saya jadi kurang nyaman. Saya lebih suka hidup saya sebelum ini.”
Untuk selanjutnya, sang pembawa acara menanyakan semua pertanyaan sesuai dengan naskah yang sudah disepakati. Lagi-lagi, semua orang yang ada di studio banyak yang tertawa mendengar jawabanku yang selalu kubumbui lelucon.
“Apa benar Mbak dapat DM dari Keanu Reeves?” Pertanyaan polos itu berasal dari salah satu bintang tamu sebelum aku.
Hal itu sontak membuatku tertawa. “Enggaklah. Mana kenal Keanu Reeves sama saya. Sebelum ini, artis-artis di agensi saya aja masih banyak yang berpikir Bu Catherine itu ibu-ibu badan melar yang seenggaknya sudah punya anak dua. Mana tahu Keanu Reeves sama saya.”
“Sementang dipanggil ibu mereka gak berpikir orangnya masih semuda ini ya, Mbak,” sahut sang pembawa acara.
“Iya. Tapi sekarang saya rasa semua artis sampai tukang bersih-bersih di perusahaan saya sudah tahu muka CEO-nya. Soalnya akhir-akhir ini saya lebih terkenal dibanding artis.”
Mereka tertawa lagi.
“Mungkin Mbak harus ikut debut,” komentar sang bintang tamu satu lagi.
“Boleh juga. Kalau kalian tahan dengar suara saya nyanyi atau lihat akting saya di Tv.” Jawaban itu lagi-lagi disambut gelak tawa. “Dan saya yakin saya bakal lebih dihina kalau benar-benar harus menyanyi.”
“Memangnya Mbak benar-benar gak bisa nyanyi? Coba Mbak nyanyi deh. Kalian juga pengin dengar kan?” tanya pembawa acara lagi.
“Iya,” jawab orang-orang di studio serentak.
Aku tersenyum semakin semringah. Merasa lucu dengan situasi ini. “Jangan. Bisa-bisa program ini dilarang tayang. Semakin banyak nanti yang hujat saja di sosmed.”
Studio masih dipenuhi gelak tawa saat sang pembawa acara menutup program. Setelahnya kami saling bersalam-salaman. Dan mereka berbasa-basi sedikit padaku.
Ya, kurasa acara ini cukup sukses. Di awal tadi sang pembawa acara tampak agak kaku padaku, begitu pula dua bintang tamu lain yang tampak tidak nyaman, serta para penonton bayaran yang jelas bertepuk tangan hanya karena dibayar. Sekarang mereka terasa lebih lepas padaku. Bahkan kulihat beberapa penonton tersenyum ramah yang kubalas dengan senyum yang tak kalah ramahnya juga.
***
Sincerely,
Dark Peppermint