The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 42



Kulihat Keegan bersiap mengatakan sesuatu. Tapi memang dasar tangan sialan. Karena malu aku refleks langsung menutup pintu. Dengan sangat keras di depan wajah Keegan yang akan mengatakan sesuatu.


Benar-benar sialan. Bagaimana kalau dia salah paham lagi padaku? Haruskah kubuka pintu ini sekarang dan berkata bahwa aku tidak sengaja membanting pintu karena malu sudah mengatakan hal tadi.


Aku berteriak tanpa suara. Siapa yang sangka bahwa aku adalah orang yang sepemalu dan segengsi ini.


Selanjutnya aku berjalan gontai menuju kamar. Sepertinya aku kena karma. Sekarang kepalaku benar-benar sakit. Aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Lalu teleponku berdering. Sebuah pesan baru saja masuk.


Saya akan jemput Ibu besok pagi. Di laci ketiga dapur dekat kulkas ada kotak obat. Di dalamnya ada obat sakit kepala. Diminum ya.


Tanpa bisa ditahan, aku tersenyum lebar. Kurasa malam ini aku akan mimpi indah.


Tidak. Sama sekali tidak ada mimpi indah yang singgah dalam tidurku. Malah aku dihantui mimpi buruk. Yang kurasa mimpi buruk itu ikut denganku sampai aku bangun. Hari ini hujan turun sangat deras sejak pagi.


Maaf, Bu, ban mobilnya bocor lagi. Saya akan carikan sopir untuk Ibu.


Aku meletakkan ponsel di atas meja. Tak ingin mengakui aku kecewa dia tidak bisa menjemputku.


Saya pergi sendiri saja.


Sakit kepala ibu sudah baikan?


Aku mengembuskan napas.


Sudah. Kepala saya gak sakit lagi. Jadi saya bawa mobil sendiri aja.


Aku ingin menambahi, beberapa hari ini saya juga bisa bawa mobil sendiri tuh, gak perlu diantar-antar. Tapi pasti kesannya aku cewek labil banget. Aku tidak bisa punya citra begitu. Aku adalah pemimpin group besar yang menilai sesuatu berdasarkan logika dan akal sehat. Bukan cewek yang gampang ngambek karena gagal dijemput. Apalagi alasannya jelas sangat masuk akal. Dan lagi...


Kamu gak berusaha pasang ban mobil sendiri lagi kan? Ini hujan loh.


Gak kok, Bu. Saya ada di bengkel.


Lalu Keegan mengirimkan foto dirinya yang tengah berada di sebuah bengkel. Dengan mobilku yang berada di belakangnya.


Harus banget dia ngirim fotonya juga.


Aku tersenyum kecil. Kesalku sedikit berkurang.


Bagus. Sekalian ganti saja ban mobilnya. Masa seminggu sudah dua kali bannya bocor.


Baik, Bu.


Saat membawa mobil sendiri ke kantor hampir saja aku menabrak pembatas jalan. Padahal tidak ada apa-apa. Tidak ada pengendara ugal-ugalan di sampingku dan sebagainya, tapi aku hampir saja celaka.


Saat masuk ke gedung kantor hampir ada orang yang menumpahkan kopi padaku.


"Maaf, Bu, saya gak sengaja." Wajah perempuan muda bermake-up tebal itu tampak sangat kaget. Temannya yang berdiri di belakangnya menutup mulut dengan raut syok yang berlebihan.


Jujur saja saat ini aku ingin melakoni peran wanita jahatku. Apalagi melihat dua wanita itu yang sepertinya memang ingin cari perkara.


"Saya beneran gak sengaja," ucapnya lagi sambil memegangi lenganku. Suaranya sangat keras seolah memang ingin didengar oleh banyak orang. "Ibu gak akan pecat saya kan?"


Aku menahan diri agar tidak menyiram air ke wajah putihnya yang cemberut itu. Atau menarik bibir monyongnya yang terlampau merah.


"Iya, Bu, dia beneran gak sengaja," sambung temannya dengan wajah merana yang tak tertolong. "Jadi Ibu maafin dia ya."


Aku melirik sekeliling sekilas, orang-orang menonton kami penuh rass ingin tahu. Bahkan beberapa orang sengaja berhenti untuk menyaksikannya.


Aku menahan dengusan. Apa mereka berharap menjadi Shania kedua. Yang dijahati Catherine Wijaya lalu diselamatkan oleh aktor tampan kesayangan seluruh negeri.


Jadi aku tersenyum. Dengan sangat tulus. "Gak masalah." Lalu aku tertawa menyenangkan agar terlihat baik hati. "Saya kan gak ada bilang mau mecat kamu kok tiba-tiba ngomong gitu sih. Saya jadi ngerasa gak enak udah bikin kamu ketakutan begini."


"Terima kasih, Bu," sahut perempuan yang hampir menumpahkan kopi padaku. "Saya agak panik tadi."


"Saya jadi merasa jahat bikin kamu kayak gini." Kutunjukkan wajah paling baik yang kupunya. Kulirik dari ujung mataku orang-orang mulai berlalu pergi. Sepertinya beberapa dari pegawai di sini masih menantikan kegilaan seorang Catherine Wijaya. "Saya gak apa-apa kok. Kalian bisa pergi."


Dengan kikuk kedua perempuan tersebut berlalu pergi. Namun sebelum dia benar-benar berlalu, aku berbisik di telinganya, "Saya memang gak ada niat mecat kamu, tapi kalau kamu pengen banget dipecat, saya bisa kabulkan detik ini juga." Langkah kakinya terhenti, dan aku pun pergi meninggalkan mereka.


Setibanya di ruanganku Shania juga baru saja datang. Perempuan itu sedang merapikan rambutnya yang lepek karena hujan.


"Selamat pagi, Bu," sapanya sambil berdiri menyambutku.


"Pagi." Lalu saat masuk ke kantor aku hampir saja jatuh di depan pintu masuk.


"Ibu gak apa?" tanya Shania sambil berlari mendekatiku. Dibantunya aku berdiri padahal aku tidak jatuh sambil terguling-guling.


"Saya gak apa-apa, Shan. Saya gak jatuh."


Shania melirikku menghakimi. "Jangan-jangan ini karma."


Aku melihat Shania tak mengerti. "Karma apa?"


"Karma karena ibu ngejauhin seseorang," bisiknya serius.


Dan aku tertegun. Ha? Apa katanya? Karma? Karena aku menjauhi seseorang? Ha-ha.


Dia sedang menyindirku. Sialan, dia menyindirku. Bahkan sekarang Shania yang menye-menye menyindirku. Perihal Keegan.


"Kamu ini bicara apa," elakku.


"Saya mengatakan ini hanya sebagai saran, Bu. Tapi mungkin ini sudah saatnya ibu dan Mas Keegan berbaikan."


Dan kata-katanya pun menamparku dengan sangat telak.


***


Akhirnya siapa aktor dan aktris yang akan memerankan Mario dan Renata, pemeran utama laki-laki dan wanita di Losing You, sudah diputuskan.


Wisnu Prakarsa telah diputuskan akan menjadi Mario dan Calista sebagai pemeran utama wanitanya.


Aku tidak tahu bagaimana jelasnya proses Wisnu Prakarsa bisa menjadi pemeran utama padahal sutradara kita tercinta tidak menyetujuinya. Intinya, mereka berdualah yang menjadi pemeran utamanya.


Untuk pemeran utama wanita, benar sekali, dia adalah orang yang sebelumnya didukung netizen untuk menjadi pemeran utama wanita.


Calista Angelie. Salah satu aktris kebanggaan negeri ini. Cantik, cerdas, dan jauh dari gosip-gosip buruk. Sosok wanita anggun yang dicintai banyak orang.


Selama menjadi Catherine aku belum pernah bertemu langsung dengan wanita itu. Namun aktris berumur akhir dua puluhan itu adalah salah satu kebanggaan agensi kami selain Bianca.


"Ini kopi yang Ibu minta."


Aku mengambil kopi yang disodorkan Keegan. Benar, sejak Keegan datang pagi tadi kurasa semuanya sudah kembali seperti sedia kala. Benar-benar seperti sedia kala. Dia bersikap sangat natural seperti dirinya sebelum kejadian 'nonton drama bareng' saat itu. Dan aku pun entah bagaimana bisa bersikap sama sepertinya. Seolah adegan kucing-kucingan beberapa hari ini memang tidak pernah terjadi. Dan, entahlah, rasanya jadi agak kosong.


Aku yang tertekan dan galau selama beberapa hari ini rasanya jadi tidak ada artinya.


Dan ada sedikit kekecewaan pula yang kurasakan.


***


Sincerely,


Dark Peppermint