The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 18



Akhir-akhir ini aku melakukan latihan yoga untuk meredakan stres yang menggunung. Dan salah satu alasannya adalah dari pesan yang baru saja masuk juga.


Padahal saya berencana untuk berdamai dengan Anda dan tak jadi membatalkan kontrak. Tapi saya berubah pikiran. Saya akan memutuskan kontraknya.


Tidakkah kalian juga muak dengan pria ini? Masalah sepele yang harusnya dapat diselesaikan dengan gampang jadi seribet ini dan terus berputar-putar. Tapi, seenggaknya dia ingat untuk bicara sopan. Itu hal hebat yang dilakukan orang bebal sepertinya.


Aku melakukan mountain pose sembari menahan napas selama lima detik lalu menghembuskannya perlahan. Gerakan yang katanya bermanfaat untuk relaksasi. Sama sekali tak berniat membalas pesan darinya. Sudah kubilang tidak berguna. Kalaupun dia benar-benar ingin berdamai, aku tak akan menerimanya. Benalu harus secepatnya disingkirkan agar sang pohon bisa tetap tumbuh sehat. Dan sekarang aku adalah pohon yang sekarat akibat si Tony benalu yang menghisap habis seluruh energi dan kebahagiaanku.


Sialan. Bukannya rileks, emosiku bangkit lagi karena memikirkan orang itu. Baiklah, Catherine, tarik napas, embuskan. Tarik napas, embuskan. Kemudian berganti dengan gerakan tree pose. Yang katanya dapat menyegarkan pikiran.


Lihatlah betapa menderitanya aku sekarang yang sampai harus melakukan yoga untuk menjaga pikiran tetap sehat. Padahal sebelum ini berjalan kaki saja aku malas setengah mati.


Setelah selesai yoga aku pergi ke dapur. Di sana ada Sania yang sedang menerima telepon. Dan semua manfaat yang kudapat dari yoga tadi hancur berantakan. Si bebal sedang menelepon Sania dan masih gigih bahwa aku yang jahat keturunan iblis paling murni ini sudah mencuci otaknya. Dia sama sekali tidak menyalahkan Sania dan menganggap Sania yang melawan padanya pastilah disebabkan olehku yang telah memberi pengaruh tidak baik. Intinya kebodohan yang entah sudah berapa puluh ribu kali dia katakan, lagi-lagi, diulang-ulangnya.


“Bu Catherine?” kaget Sania begitu melihatku.


“Aku cuma mau ambil minum. Lanjutkan pembicaraanmu.” Kubuka pintu kulkas dan mengambil minuman isotonik.


“Itu Catherine? Kamu lagi bareng dia sepagi ini?”


Aku sudah tidak tahan. Kurampas ponsel tersebut dan berkata, “Kamu benar. Pacarmu ini gak salah apa pun. Akulah pengaruh buruknya.” Terus aku mengembuskan napas geli. “Coba kamu tebak apa yang kira-kira kulakuin ke pacar kamu sepagi ini? Jadi jangan ganggu ya. Soalnya dia lebih milih aku dibanding kamu.” Kemudian kututup telepon tersebut sebelum dia kembali menyebar kebodohan.


“Saya harap kamu gak masalah telepon ini saya putus sembarangan.” Aku mengembalikan ponsel Sania.


“Gak apa-apa kok Bu. Tony memang keras kepala.”


“Baguslah kamu tahu. Aku mau siap-siap dulu,” ucapku keluar dari dapur dan menuju ke kamar. Hari ini Keegan tidak bisa menjemputku. Jadi Sania yang kemari.


***


“Sudah kamu persiapkan semuanya kan?” tanyaku begitu masuk ke mobil.


Sania yang ada di kursi pengemudi di depan mengangguk. Karena Sania terus membantu Keegan, tentunya ada banyak gosip yang timbul. Mengapa pegawai magang yang kusiram kopi mendadak terus berada di dekatku. Namun dengan cepat beritanya naik, cepat pula berita tersebut turun. Dan yang tak kusangka mereka menganggap bahwa insiden kopi itu hanya salah paham sebab hubungan kami yang terlihat baik.


“Sudah, Bu.” Hari ini Sania akan pergi ke salah satu kantor cabang kami untuk melakukan kerjasama. Bisa dibilang ini salah satu bentuk tesku untuk dia. Apa perempuan itu pantas untuk terus ada di dekatku atau tidak. Apalagi mengingat laporan yang dibuatnya saat itu sangat bagus.


“Bagus,” kataku. “Selama beberapa hari ini saja sudah lihat kinerja kamu. Kamu kompeten dan sangat rajin. Saya harap saya gak akan kecewa sama kamu.”


Wajah Sania yang murung berusaha tersenyum.


“Kamu kenapa? Ada masalah? Atau kamu gak mau melakukannya?”


“Gak apa-apa, Bu. Saya cuma gugup. Saya gak yakin apa pekerjaan ini cocok buat saya.”


“Kalau kamu mau menyerah sebelum berjuang lakukan saja. Jadi saya bisa langsung merubah penilaian saya yang terlalu tinggi ke kamu sekarang.”


“Enggak, Bu. Saya mau melakukannya kok.”


Dia memang anak yang baik sekali. Tapi jujur saja aku masih ada perasaan kurang nyaman padanya. Bukan benci. Dari awal pun aku tak pernah membencinya walau harus hidup tak adil untuk membuatnya tampak sebagai pemeran utama wanita yang baik. Aku hanya merasa terbebani. Dengan sikap baiknya, dan ketakutanku kalau misi-misi yang muncul ke depannya akan semakin gila kalau berada di dekatnya. Namun aku tak bisa menutup mata akan kemampuannya. Dan aku memang membutuhkannya untuk bisnis ini. Banyak orang kompeten, tapi tidak banyak yang bisa dipercaya.


“Kamu pasti bisa. Jadi, saya mohon bantuannya ya.”


Akhirnya Sania tersenyum. “Baik, Bu. Saya akan bekerja keras.”


Begitu keluar dari lift Keegan sudah menyambutku di depan mejanya. “Selamat pagi, Bu.”


“Pagi.”


“Pagi Mas Keegan,” sapa Sania lalu pergi ke kursi si samping Keegan.


“Pagi juga San. Oh ya, Bu, ada kiriman bunga dari Bapak Narendra.”


Narendra? Siapa pula orang itu? Kulihat sebuah keranjang bunga tulip besar di atas meja Keegan. Lalu menarik sebuah kertas dari atasnya.


Mau makan siang bareng?


Aku tak ingat ada kolegaku yang berinisial NS dengan nama depan Narendra.


“Kirimkan bunga balasan untuknya,” kataku sambil berjalan menuju kantorku.


Keegan mengikuti di belakang sambil menulis sesuatu di tablet. “Baik, Bu. Bunga yang sama?”


“Terserah saja. Bunga apa pun asal bukan mawar.”


“Dengan kartunya?”


“Iya.”


“Tulisan?”


“Tulis ‘Tidak, terima kasih’.”


“Baik, Bu.”


Lihatlah, ada begitu banyak pria yang menginginkan Catherine. Bunga tadi jelas bukan karena kepentingan bisnis. Ini jelas untuk sesuatu yang lebih pribadi. Aku tidak tahu alasan pria-pria itu suka padaku. Entah karena wajah atau kekayaannya. Tapi jelas aku sangat diinginkan. Jadi kenapa bisa selama ini Catherine hanya tertahan pada satu pria?


“Apa saja jadwal hari ini, Kee?" tanyaku begitu duduk di kursi.


“Hari ini cuma ada rapat hasil presentasi dari tanggal xx dan makan malam dengan GM Desi.”


“Apa Ibu mau kopi?”


“Tidak. Bawakan teh saja.”


“Teh? Ibu gak biasanya minum teh?”


“Teh bagus untuk kesehatan. Dan aromanya juga bisa menghilangkan stres.”


Keegan tak banyak membantah lagi, dia pergi dan kembali beberapa saat kemudian.


“Terima kasih, Kee.”


“Sama-sama, Bu.”


“Bagaimana menurutmu dengan penulis-penulis ini?” tanyaku sembari menyerahkan beberapa berkas padanya.


“Ini tentang rencana untuk membuat drama dari novel online itu?”


“Iya.”


Di dunia ini novel online ternyata juga sangat digemari. Banyak sekali platform-platform yang sukses mengeluarkan novel-novel populer hingga telah dibaca ratusan juta kali. Bahkan setelah dibukukan pun sampai terjual hingga ribuan kopi. Ini kesempatan yang bagus untuk membuat drama atau film dari sana.


“Penulis-penulis ini saya belum tahu. Selama ini saya hanya pernah baca novel cetak saja, Bu. Tapi belakangan ini sepertinya mereka sangat terkenal.”


“Benar.” Aku mengangguk setuju. “Karya mereka juga sangat populer di platform-platform itu. Tapi saya tidak mau mengambil naskah yang hanya terkenal saja. Tapi juga dari penulis yang berkualitas. Dan sebenarnya ada salah seorang yang sedang kuincar.”


“Dia!” Aku menunjuk sebuah nama di kertas. “Dia tidak hanya terkenal karena kebetulan algoritma memunculkan karyanya di laman teratas.”


Meski ceritanya memiliki tema yang biasa, tapi dia selalu memiliki ciri khas. Cerita mainstream yang dikemas dengan alur menarik dan mendebarkan. Perpaduan yang sempurna untuk membuatmu menanti-nanti bab selanjutnya karena konflik yang ada, juga dapat membuatmu tersenyum sepanjang malam karena alur percintaannya. Dan yang terpenting, dia paham caranya menulis. Beberapa naskah yang ditunjukkan padaku di sini masih berantakan. Bisa-bisanya sampai sepuluh baris kata tidak ada titik komanya sama sekali. Aku tak berharap benar-benar sesuai dengan PUEBI dan memiliki kosa kata indah selayaknya pujangga, tapi setidaknya harus bisa menggunakan tanda baca paling umum.


Tentu ketenaran akan menguntungkan kami, tapi kualitas juga harus dipertimbangkan.


***


Sincerely,


Dark Peppermint