The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 45



"Ak," ucap Keegan sekali lagi. Dan entah dapat dorongan dari mana mulutku langsung membuka. Aku melahap makanan tersebut dan langsung tersentak. Rasanya enak sekali.


Ya, beginilah rasanya masakan rumah. Aku jarang sekali merasakannya. Di kehidupanku sebelumnya, pertama kali aku memakan masakan rumah adalah saat berkunjung ke rumah temanku saat SMP. Dan selanjutnya bisa dihitung dengan jari aku merasakan masakan rumah.


Saat makan malam di rumah Catherine, aku tidak tahu siapa yang memasak, dan sama sekali tidak merasakan apa pun meski tengah makan bersama keluarga.


Lalu saat terakhir kali pergi ke rumah Keegan aku sudah sadar masakan mamanya sangat lezat. Tapi aku tak terlalu memedulikannya.


Namun sekarang, aku dirawat dan diperlakukan dengan sangat baik begini. Ditambah rasa masakannya yang luar biasa, entahlah, aku merasa seperti di rumah.


Bukankah ini aneh. Aku bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan begini di rumah yang bukan rumahku.


Aku lalu menggeleng. Lalu menarik piring dan sendok dari tangan Keegan. "Yang terkilir kan kaki saya bukan tangan saya."


Keegan menarik kembali piring dari tanganku. "Tapi mungkin Ibu kecapekan."


"Saya gak capek." Aku merebut piringnya kembali.


Dia cemberut kesal. "Terserah Ibu saja. Tapi jangan salahkan saya kalau tangan Ibu nanti pegal."


Aku mendelik tidak terima. "Kamu kira saya selemah apa makan sendiri saja tangan pegal."


"Biasanya kan Ibu manja banget. Minum kopi aja harus dicucukkan sedotannya. Makan roti harus dibukakan bungkusnya."


Aku megap-megap lalu ingatan Catherine perlahan mengaliri kepalaku. Tingkah-tangkah ajaib Catherine berseliweran ke sana kemari. Termasuk aku yany bertingkah manja dengan tidak bisa membuka minuman sendiri.


"Sekarang saya sudah mandiri. Gak perlu bantuan lagi buat hal-hal kecil kayak gini."


"Oke, kalau Ibu maunya begitu," ucap Keegan. "Tapi kalau sekali-kali tangan Ibu pegal dan gak kuat buka botol minum, Ibu bisa minta tolong sama saya."


Ya amplop. Apa maksud kata-katanya itu. "Ka-kamu ini." Hanya kata-kata ini yang mampu keluar dari bibirku.


Selanjutnya aku makan sendiri. Sementara Keegan duduk di sebelahku, memperhatikanku makan sedang seksama.


"Kenapa kamu ngeliatin terus?"


"Saya kan harus memastikan Ibu benar-benar makan."


Aku mendelik. "Memastikan gak harus ngeliatin saya sampe segitunya. Kamu ngeliatin saya udah kayak ngeliat layar televisi."


"Oh ya?" Dia mengangguk. "Berarti selama ini saya suka ngeliat layar televisi."


"Apa?" tanyaku.


Keegan langsung menggeleng. "Gak apa-apa." Anehnya, tidak seperti dirinya yang biasa, kali ini Keegan tersenyum. "Ayo, makan lagi. Kalau kurang nanti diambilin lagi."


Aku bukannya tidak dengar apa yang dia katakan. Aku hanya takut salah dengar saja. Dan salah mamahami juga.


Kamu ngeliatin saya udah kayak ngeliat layar televisi.


Berarti selama ini saya suka ngeliat layar televisi.


Gak gitu kan maksudnya?


Berarti selama ini saya suka ngeliat layar televisi.


Berarti selama ini saya suka ngeliat layar televisi.


Berarti selama ini saya suka ngeliat layar televisi.


Berarti selama ini saya suka ngeliat layar televisi.


Berarti selama ini saya suka ngeliat layar televisi.


Berarti selama ini saya suka ngeliat layar televisi.


YA!!!


***


"Gak usah masuk kerja dulu. Izin aja dari kantor beberapa hari. Kalau di rumah gak ada yang jagain, kamu tinggal di rumah Tante aja."


Aku langsung menggeleng. "Ah, ngerepotin Tante," tolakku. Aku serius. Mana bisa aku terus di sini dan menyusahkan Keegan dan mamanya. Keegan memang sudah biasa kurepotkan. Tapi tidak mungkin sampai mamanya juga.


"Gak ngerepotin kok. Anak Tante ini emang jarang punya teman. Tapi kalau punya sering banget tinggal di sini. Sampe lupa pulang."


Aku tertawa. "Nah, itu. Takutnya saya lupa pulang Tan nanti kalo di sini terus."


"Ya, gak apa-apa," ucap wanita yang sekarang sedang memasak sarapan itu. Membuatku yang duduk di kursi meja makan mengernyit. "Tinggal di sini selamanya juga gak masalah. Asalkan jelas posisinya."


"Maksudnya Tan?"


"Ya jelas posisinya sebagai mantu Tante."


Keegan yang sedang menenggak minum tersedak. "Mama jangan ngomong sembarangan!" ucapnya.


Namun mamanya Keegan tak jera. Dia tersenyum lucu. "Oh, jadi gak mau."


Namun Keegan tak menjawab apa-apa. Dia tak mengiyakan, tapi juga tak membantah.


Tak berapa lama Keegan beralih padaku, "Kamu di rumah aja, gak usah masuk kantor dulu hari ini. Nanti aku yang ngizinin."


Kutahan mulutku untuk tidak melongo mendengar kata-kata Keegan. Aku jelas sadar dia "mengkamu-kamukan" aku begini pasti karena mamanya. Dia tidak bisa memanggilku ibu karena yang ditahu mamanya aku adalah rekan kerja biasa, bukan seorang bos. Tapi tetap saja rasanya aneh mendengar Keegan yang selalu sopan dan memanggilku hormat, menyebutku dengan "kamu". Apalagi gaya bicara Keegan juga santai sekali.


Sial. Tak kusangka efeknya sebesar ini untukku.


***


Seperti anjuran Keegan dan mamanya, aku di rumah Keegan saja hari ini. Jika kondisiku mengharuskanku untuk istirahat selama tiga bulan, bisa-bisa posisi mantu di keluarga ini benar-benar akan ditempati olehku.


"Dari dulu Keegan memang sudah kayak gitu," cerita mamanya Keegan. Saat ini kami berdua sedang menonton televisi bersama. "Gak tau turun dari mana. Kalemmm banget. Padahal kalo ngeliat Tante kayak gini gak mungkin ya punya anak kayak gitu."


Aku hanya tersenyum menanggapi. Ternyata mamanya Keegan menyadari hal tersebut juga.


"Kalau difoto juga ekspresinya datar semua. Kamu mau lihat foto-foto Keegan pas masih kecil?"


"Mau! Mau!" Aku langsung menutup mulutku saat sadar bahwa reaksiku terlalu berlebih-lebihan.


"Gak perlu malu-malu. Malah bagus kamu semangat gini. Tante juga jadi ikut semangat."


"Kok Tante ikut semangat juga?"


"Ya iya, kan artinya peluang Tante punya mantu semakin besar."


Hmm... Kalau kurangkul perempuan di depanku ini sekarang, ditambah aku bilang aku tertarik pada anaknya, apa masih bisa ya aku keluar dari rumah ini. Takut-takut besok pagi sudah ada penghulu di ruang tengah dengan beberapa saksi. Dan pastinya Bapak Jonathan yang tercinta juga.


Haduh... Aku tak bisa membayangkan jika semua itu benar-benar terjadi. Maka dari itu, untuk menghindari hal tersebut, aku hanya tersenyum kikuk saja.


Selanjutnya mamanya Keegan pergi sejenak lalu kembali lagi membawa album foto.


"Ini dia." Wanita itu menaruh album foto di atas meja. Dan sontak saja membuat mataku melotot kaget. Bukan apa-apa, kurasa ada lebih 10 album foto yang dibawa mamanya Keegan.


"Tante memang suka fotografi. Jadi ada banyak album foto."


Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana Keegan yang sangat datar itu harus menjalani hari-harinya dengan menjadi objek foto bagi ibunya.


***


Sincerely,


Dark Peppermint