
“Jadi Ibu hanya mau karya penulis itu saja?” tanya Keegan.
Aku menggeleng. “Saya suka yang satu ini. Tapi yang lainnya juga banyak yang bagus. Coba kamu sortir lagi dan bawa lagi ke saya nanti.”
Aku tidak bisa menjadi penulis novel lagi di sini. Jadi aku akan membuat sebuah drama dan film yang menggetarkan penonton.
Oke, terdengar sangat muluk. Aku sendiri masih meragukan kemampuanku sebagai pemimpin.
“Baik, Bu,” jawab Keegan sembari mengambil berkas-berkas yang kuberikan. Namun ia tetap berdiri di sana tanpa bergerak sedikitpun. Aku langsung mendongak kembali dari berkas-berkas lain yang harus kuperiksa. “Ada lagi yang mau kamu katakan?”
“Sepertinya setelah acara itu ditayangkan banyak orang yang sekarang memihak ke Ibu.”
Aku menyandarkan tubuh ke kursiku. “Oh ya?” Jujur saja karena sibuk belakangan ini, aku tidak sempat memeriksa internet. Aku bahkan lupa kalau acara tersebut sudah ditayangkan.
“Saya belum menontonnya.”
“Sebentar, Bu.” Dengan gesit Keegan mengeluarkan tablet kebanggaannya dan mengutak-atik sesuatu. Kemudian diberikannya tablet tersebut yang sudah menayangkan sebuah acara padaku.
“Saya sudah melihat sekilas rekaman waktu itu, tapi tetap berbeda melihatnya langsung setelah diedit begini.” Aku tersenyum senang.
“Wah, ternyata saya memang cantik ya, Kee? Ini mereka gak melakukan sesuatu supaya muka saya jadi secantik ini kan?” tanyaku dengan tingkat percaya diri yang berlebihan.
Keegan tidak tersenyum dan hanya menjawab dengan datar, “Enggak kok, Bu. Ibu memang cantik."
“Cuma perasaan saya saja atau saya memang lebih cantik daripada dua bintang tamu lain?”
“Begitulah, Bu.”
Aku melihat Keegan tidak suka. “Kenapa kamu begitu, Kee? Kamu gak merasa saya cantik?”
“Tentu Ibu cantik.” Dia menutup matanya. “Tapi rasanya aneh membahas kecantikan Ibu di saat begini. Bukannya Ibu harus lebih fokus ke tanggapan orang-orang.”
Aku sudah malas sekali menanggapi para netizen itu. Tapi tak ada salahnya mencari tahu.
“Ya sudah, mana? Niat awal kita ikut acara itu kan memang untuk ini. Jadi mana?”
Keegan mengambil tabletnya lagi, lalu menunjukkan komentar-komentar netizen di Instagram acara tersebut.
Apa ini? Selama ini kalian nipu ya? Kalian bilang dia sombong lah, tukang bully lah, kalau gak sengaja bertatapan bisa langsung didorong lah. Dia kelihatan normal-normal aja tuh.
Kok dia gak kelihatan kayak orang jahat ya?
Eh, dia bisa bercanda? Kalian bilang dia cewek paling munafik, licik, bengis, psycho di dunia ini.
Gila. Dia bahkan lebih cantik dari bintang tamu lain. Yang artis siapa coba.
“Lihat, Kee, ada yang bilang saya lebih cantik dari bintang tamu lain juga.” Kutunjukkan komentar tersebut pada Keegan. “Lihat kan, bukan cuma saya yang merasa kayak gitu.”
Keegan tersenyum terpaksa. Kuyakin dia ingin mendesah dan memarahiku. Tapi syukurlah aku bos yang harus dia hormati.
Siapa yang bilang tuh cewek sengaja numpahin kopi ke pegawai magangnya? Pasti hoax. Cewek secantik, selucu, dan sekaya ini cemburu ke pegawai biasa karena Tony Lesmana? Yang benar aja. Aku yakin dia benar-benar bisa dapatin cowok seberkualitas Keanu Reeves kalau dia emang mau.
Benar. Tony Lesmana mah lewat. Kalau dipikir-pikir Tony kan cuma aktor doang. Dia terkenal juga cuma di Indo. Gak punya pengaruh apa-apa juga di negara ini selain para fans bucinnya itu yang alay. Masa iya cewek secantik bidadari pemimpin perusahaan besar tergila-gila sama dia? Dia lagi ngarang cerita.
Kalau menurutku si Tony sih yang lagi caper. Sok-sok mau keluar dari perusahaan, mau batalin kontrak, tapi gak mau bayar denda. Kelihatan caper banget gak sih?
Dari awal yang cari masalah emang si Tony. Dia yang tiba-tiba bikin pengumuman dan sebagainya di Instagram-nya. Selama ini Catherine Wijaya kayaknya anteng-anteng aja.
“Sepertinya bakal ada perang di internet,” komentarku melihat bagaimana mereka mulai memuja-mujaku.
“Memang sudah terjadi, Bu.”
“Apa?” Mataku membeliak.
“Instagram Tony semalam diserang oleh pendukung Ibu. Pendukung Tony dan pendukung Ibu bertengkar di sana. Pagi ini akun Tony sudah diprivat. Kayaknya perang mereka agak... hm, berbahaya.”
Aku tertawa kencang. Lalu memutar kursi dengan rasa bahagia yang membuncah. Aku memang masih jadi orang jahat. Hanya saja sekarang aku jahat ke pemeran utama pria.
“Gak ada Bu. Mereka malah muji-muji Ibu di sana.”
“Lucu ya, gimana opini publik bisa diubah segampang ini.” Padahal sebelum ini akunku yang diserang parah. Keegan sempat membatasi komentar. Dan membuatku tak bisa pamer kekayaan di media sosialku sendiri lagi.
Iya, aku memang hobi pamer. Lebih tepatnya Catherine sebelum ini. Tapi aku pun tak ada niat untuk jadi orang rendah hati dan sebagainya. Kalau aku memang naik kapal feri, apa salahnya untuk diposting.
“Tapi semua ini pantas Ibu dapat. Memang Tony yang menyusahkan Ibu, bukan sebaliknya.” Keegan sibuk dengan tabletnya lagi. “Saya sempat meng-capture beberapa perang adu mulut antara pendukung Ibu dan pendukung Tony semalam. Ibu mau lihat?”
Aku tidak percaya Keegan sampai melakukan semua ini.
“Baiklah, mana?” tanyaku dengan nada geli.
Keegan pun menunjukkannya.
Aktor caper. Berani-beraninya bikin Catherine yang kayak bidadari itu susah. Dasar artis gak tahu diuntung.
Heh, enak aja. Catherine tuh yang caper. Dia yang godain Tony.
Hellow. Our Queen Cathy godain si Tony. Cewek secantik itu? Jangan mimpi. Suruh ngaca dulu si Tony.
Tony tuh cowok paling ganteng di dunia.
Dia belum pernah liat Chris Evan. Tunjukkan guys fotonya.
Hei, kalian jangan ngerusuh dong di akunnya Tony. Kasihan dia tahu. Dia pasti lagi stres sekarang. Kalian malah bikin ulah kayak gini.
Dia yang seharusnya dari awal gak usah cari-cari masalah. Udah kayak gini malah playing victim.
Komentar-komentar selanjutnya makin sadis saja. Semua penghuni kebun binatang dan saudara-saudaranya diundang untuk meramaikan pertempuran tersebut.
“Ini cukup menghibur,” kataku.
***
Setelah selesai makan malam dengan GM Desi aku berjalan kelelahan menuju mobil. Menjadi pemimpin benar-benar susah. Tak hanya harus bekerja keras, tapi juga harus pintar berkomunikasi dan menjalin relasi dengan banyak orang.
“Di mana hapeku?” ucapku begitu mobil melaju. Lalu berhasil menemukannya. Segera kuhubungi Sania.
“Halo, Bu,” jawabnya di dering kedua.
“Sudah selesai kan?”
“Sudah. Semuanya juga berjalan lancar.”
“Bagus. Kalau gitu kamu bisa kembali ke kantor pusat besok.”
“Baik, Bu.” Lalu aku memutus panggilan telepon setelah berbasa-basi sejenak.
Aku menyandarkan tubuhku ke sandaran dan mulai menatap ke luar jendela. Kemacetan, mobil-mobil yang terhenti, lampu-lampu gedung. Suasana yang seharusnya memuakkan. Tapi memikirkan hari ini akan berakhir rasanya menyenangkan. Sampai sebuah layar besar mengganggu pandangan mataku. Layar itu menayangkan acara yang yang kuhadiri beberapa hari lalu. Dengan wajahku terpampang jelas di sana.
Sebenarnya se-booming apa acara ini jadinya?
“Kee, apa acara itu benar-benar sukses besar?”
“Sangat, Bu,” sahut Keegan di depan. “Dalam sehari ini acara itu semakin melejit. Lebih tenar dari pagi tadi. Ibu gak lihat followers Instagram Ibu sekarang?”
Aku buru-buru membuka Instagram dan ternyata sudah mendapat setidaknya satu juta pengikut baru.
Wow.
***
Sincerely,
Dark Peppermint