The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 35



"Bu Catherine, tunggu!" Aku menoleh ke belakang mendengar seseorang memanggilku. "Xei..."


"Oh, ibu tahu nama panggung saya ternyata," ucap bocah itu berhenti berlari dan berdiri di hadapanku. "Jangan-jangan ibu mulai jadi penggemar saya ya."


"Jaga sopan santun kamu di hadapan Bu Catherine!" peringat Keegan membuat Xei mengangkat tangan seolah menyerah.


"Oke, maaf kalau saya gak sopan." Dia menggaruk hidung mancungnya sejenak. "Saya gak ada maksud apa pun. cuma mau bilang makasih sama Bu Catherine karena sudah datang di debut pertama kami."


"Kamu gak perlu berterima kasih."


Dia menggeleng. "Saya tetap mau berterima kasih. Walau gugup saja jadi lebih semangat karena ada ibu." Laki-laki anak kucing itu tersenyum secerah matahari pagi. Senyumnya yang sangat khas.


"Berkunjung sejenak ke acara debut kalian memang sudah menjadi bagian dari jadwal Bu Catherine. Jadi hal tersebut tidak perlu dibesar-besarkan." Bukan aku yang mengatakan hal ini, melainkan Keegan yang menatap anak itu dengan raut datarnya.


Xei hanya tertawa. "Saya paham betul hal tersebut kok, Pa-k," ucapnya pada Keegan, dari kata-katanya memang sopan, namun dari nada suaranya sudah jelas bocah nakal itu sedang mengejek Keegan. Lalu dia memasang wajah malu-malu sambil menunduk dan menggaruk kepalanya. "Saya kan cuma senang aja karena Bu Catherine datang."


Keegan bersiap menjawab kata-kata Xei namun kupotong lebih dulu, "Saya gak ngelakuin apa-apa. Acaranya berhasil dan debut kalian sukses besar semuanya karena kerja keras kalian selama ini. Good job."


"Terima kasih, Bu," sahutnya senang. "Saya bakal terus semangat." Ia membuat simbol semangat dengan kedua tangannya mengepal di masing-masing sisi.


Aku melakukan hal yang sama. "Semangat."


***


"Kayaknya Ibu senang sekali berbincang-bincang dengan anak tadi."


Aku menoleh ke depan mendengar kata-kata Keegan. Sejak mobil berjalan hingga kini dia tak berbicara apa pun. Aku pun sama saking melelahkannya hari ini.


"Tentu saja saya senang melihat anak-anak yang bersemangat begitu," aku menjawab seadanya.


"Tapi Ibu gak bisa terlalu ramah. Nanti dia bisa salah paham dengan sikap Ibu."


"Salah paham gimana? Memangnya saya ngapain sama dia sampai bikin salah paham."


"Ibu kan semangatin dia. Dia bisa berpikir yang enggak-enggak. Dia bisa nganggap dirinya spesial makanya Ibu bersikap kayak gitu."


Aku tersenyum mendengar jawaban mengada-ada Keegan. "Dia gak akan berpikir begitu."


"Ibu tahu dari mana dia gak akan berpikir seperti itu? Dia sengaja berlari mengejar Ibu cuma untuk bilang terima kasih pasti ada maksud lainnya. Ibu petinggi perusahaan. Mana bisa dia bersikap seperti itu."


Bukannya kesal, entah kenapa aku menikmati kenyinyiran Keegan sekarang. Rasanya mirip seperti melihat kekasih yang sedang cemburu. Yang terlalu mengada-ada keadaan karena rasa cemburunya itu.


"Itu perasaan kamu aja. Anak itu gak mungkin begitu."


Keegan melihatku tidak suka. "Ibu jangan terlalu polos. Ibu kan sudah banyak melihat orang yang bermuka dua di sekeliling Ibu. Orang-orang yang mendekati Ibu dengan tujuan mencari keuntungan. Dia orang yang bersama Ibu di dalam lift waktu itu kan, mungkin saja dia jadi merasa spesial karena hal tersebut."


Apa yang dikatakan Keegan benar juga. "Kamu nyinyir banget ya, Kee, sama dia. Gak pernah-pernahnya saya dengar kamu ngomong panjang lebar begini untuk hal sepele."


Keegan langsung gelagapan. Wajahnya lucu sekali saat kebingungan begitu. "Saya kan cuma memperingatkan. Agar Ibu hati-hati. Maaf kalau saya berlebihan."


"Agak berlebihan sih," sahutku dan hal tersebut membuat bahu Keegan merosot. Dia mirip anak anjing yang turun kupingnya. Lalu aku melanjutkan, "Kamu mirip orang yang lagi cemburu."


Dan reaksi Keegan yang berjengkit kaget sukses membuatku tertawa. Aku tidak menyangka dia bisa seekspresif sekarang.


Dia melirikku dari spion. "Ibu ini ngomong apa."


"Memangnya saya ngomong apa?" pancingku. Tapi Keegan tidak mau menjawab.


"Kalo gak jawab berarti iya dong."


"Ah... Ibu bercanda saja," ucapnya sebelum mobil sedikit terguncang.


"Kenapa, Kee?" tanyaku.


Tak berguncang hebat seperti adegan-adegan di dalam film. Namun Keegan lekas menghentikan mobil. "Saya juga kurang tahu, Bu. Saya periksa dulu." Kemudian ia membuka pintu dan lekas turun. Aku duduk diam menunggunya. Tak berapa lama Keegan balik lagi. "Bannya bocor, Bu. Sebentar saya ganti dulu."


"Ibu meremehkan saya? Tentu saya sebagai laki-laki bisa melakukannya."


Dia sebagai laki-laki? Hmm, entah kenapa aku merasa kata-kata "sebagai laki-laki" itu memiliki garis bawah jika ditulis dalam bahasa tulisan.


"Oke," jawabku. "Kamu sebagai laki-laki boleh menggantinya."


"Gak akan lama kok, Bu. Tapi kalau Ibu gak mau nunggu, saya bisa telepon orang buat ngantar Ibu pulang."


"Saya gak masalah menunggu."


"Baik, Bu. Saya pastikan gak akan lama."


Aku mengangguk dan Keegan pergi ke belakang lagi. Yah, memangnya seberapa lama mengganti ban mobil. Jika aku menelepon orang pun tetap harus menunggu orang tersebut datang. Bisa-bisa saat orang yang akan menjemputku datang Keegan juga sudah selesai.


Aku menyandarkan badanku, lalu melirik ke jendela. Satu titik air jatuh di sana. Aku melirik langit yang berawan. Titik-titik air mulai turun semakin banyak. Aku membuka kaca jendela, air hujan memercik ke dalam.


"Kee, hujan, cepat masuk!" Aku melongok keluar sedikit membuat wajahku dibasahi hujan.


"Bentar lagi selesai kok, Bu," sahut Keegan. "Jangan dibuka jendelanya. Nanti ibu basah."


"Ya, kamu sendiri basah."


Keegan bangkit lalu berdiri di depan jendela mobil, memgahalangiku dari guyuran hujan. "Gak apa-apa saya yang basah, asal Ibu jangan. Ditutup ya."


"Tapi--"


"Nanti gak selesai-selesai kalo gak Ibu tutup sekarang."


Mau tak mau aku menuruti kata-kata Keegan. Jika ia demam lagi besok, aku akan langsung menokok kepalanya.


Namun cuaca kali ini memang sama sekali tidak mendukung, guyuran hujan semakin deras. Aku lekas menarik payung dari belakang. Kubuka pintu dan langsung melebarkan payung. Kuinjakkan kakiku pada aspal jalan yang basah dan segera menuju ke tempat Keegan begitu menutup pintu mobil.


"Kenapa Ibu malah turun?" tanyanya saat aku berdiri di sampingnya yang tengah mengutak-atik ban mobil. "Ibu jadi tambah basah."


"Udah, kamu selesaikan sekarang juga biar kita bisa cepat pulang!"


"Tapi--"


"Selesaikan aja! Ini perintah!"


Keegan tak berkata apa-apa lagi. Dia fokus kembali memasang ban mobil kami.


Aku juga tak tahu kenapa aku refleks melakukan hal ini padanya. Jika dipikirkan baik-baik, aku ini bosnya. Jadi tidak punya kewajiban untuk memayunginya saat dia kehujanan.


Aku menggelengkan kepala. Tak ingin memikirkan lebih jauh alasan mengapa aku melakukan hal ini padanya.


Selepas selesai Keegan langsung menyambar payung di tanganku. Dibimbingnya aku kembali ke dalam mobil.


"Ibu pasti kedinginan," ucap Keegan begitu ia telah duduk di kursi pengemudi. Tanpa kuminta ia pun langsung mematikan AC. "Sayangnya gak ada selimut di mobil. Saya bakal cepat sampai ke rumah Ibu," ucapnya sembari memacu mobil.


"Gak usah buru-buru. Pelan-pelan aja."


"Aman kok, Bu."


Dan aku membiarkan Keegan memacu mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Begitu sampai di rumahku, entah karena setan apa, aku berkata, "Kamu gak mau mampir dulu. Mandi dulu sebentar baru pulang."


***


Sincerely,


Dark Peppermint