The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 23



Aku lekas bangkit dari kursi kantor begitu Keegan membawa masuk seorang gadis muda. Berperawakan sedang, kulit sawo matang, dan kacamata bulat besar yang menggantung di hidungnya.


"Selamat siang. Saya Catherine Wijaya," ucapku sambil menjabat tangannya yang dingin dan berkeringat.


"Selamat siang, Bu. Saya Lestari Putri atau Lembayung Senja," balasnya dengan senyum agak kikuk.


Aku harap dia tidak bersikap begitu karena citra burukku belum benar-benar hilang.


"Silakan duduk." Kuayunkan tanganku menunjuk sepasang sofa yang memang dipasang untuk menerima tamu.


"Terima kasih."


"Saya akan bawakan minuman," ucap Keegan, lalu melihat pada wanita itu.


Tanpa perlu ditanya dia langsung menjawab, "Teh saja."


"Oh, teh," sahutku. "Akhir-akhir saya juga suka minum teh. Teh bagus untuk kesehatan." Kesehatan mentalku lebih tepatnya.


Dia menanggapi basa-basi tidak pentingku dengan tawa kecil. "Kalau saya karena gak biasa minum kopi." Namun kini wajahnya terlihat lebih rileks.


Wanita itu duduk tepat setelah aku duduk. "Senang Anda bisa datang kemari," mulaiku.


Wanita berkacamata itu lekas menggeleng. "Saya yang merasa senang bisa diundang Ibu kemari. Ini sebuah kehormatan bagi saya." Ia tersenyum tulus. "Novel saya akan difilmkan saya benar-benar bersyukur."


Entah kenapa hatiku menghangat melihat wanita muda itu. Jika aku yang ada di posisinya aku pasti akan sebahagia dia juga. Bahkan mungkin lebih.


Mengenai ******** yang akan kami filmkan ini berjudul "Losing You". Ceritanya tentang apa aku belum ingin memberi tahunya pada kalian. Nanti akan aku jelaskan pelan-pelan saja ceritanya bagaimana.


Tak lama kemudian Keegan datang membawa dua gelas teh. Dia tak langsung pergi, melainkan berdiri di sampingku.


Selanjutnya kami berbincang-bincang sedikit dan setuju besok akan mulai perkenalan dan rapat untuk membicarakan penulisan naskahnya.


"Kamu bisa bekerja sama dengan penulis skenario kami. Kalian diskusikan saja baiknya bagaimana. Saya sangat menantikan naskah yang menarik dan bagus."


"Akan saya usahakan."


***


Selanjutnya aku menjadi sangat sibuk. Membuat film sangat tidak mudah. Tak hanya kerja sama dengan penulis dan penulis skenario saja. Produser, sutradara, dan sebagainya juga harus dilakukan. Dan aku sangat bingung menghadapi semua ini. Syukurlah ada Keegan. Laki-laki itu sangat tahu apa-apa saja yang harus dilakukan.


Kadang kupikir seharusnya dialah yang ada di posisiku. Sungguh lucu. Orang yang lebih kompeten berada di posisi yang lebih rendah hanya karena status sosial.


"Ini cukup bagus," komentarku saat membaca beberapa bagian awal naskah yang dibuat oleh Andira. "Tapi saya merasa masih ada yang kurang." Aku mengusap-usap daguku seperti detektif kawakan yang sedang mengusut kasus luar biasa.


"Di novel, saya merasakan sesuatu yang dalam dan haru. Di sini terasa hambar. Rasa yang ada di novel tidak ada di sini. Beberapa bagian yang saya rasa menarik di novel juga dihilangkan. Malah bagian yang saya rasa aneh di novel, tetap ada di naskah filmnya. Bagaimana menurutmu, Kee?" Aku menoleh pada Keegan, dan syukurlah pria itu mengangguk. Jika tidak aku akan mati gaya sekali.


"Saya setuju."


Andira, penulis naskah muda yang ditunjuk untuk menulis naskah film ini tersenyum khawatir. "Jika menurut Ibu begitu saya akan perbaiki dan berdiskusi lagi dengan Mbak Lestari serta Pak Tino dan Pak Darma," ucapnya seraya menoleh pada Lestari. Pak Tino dan Pak Darma sendiri adalah sutradara dan produser film ini.


Berbeda dengan Andira yang lebih percaya diri, wanita berkacamata itu tertunduk malu.


"Saya minta maaf. Kayaknya saya memang kurang pandai bekerja sama dengan orang lain. Mbak Andira banyak nanyain saya tentang Losing You tapi saya agak bingung jelasinnya."


Aku menahan senyum, maklum dengan keadaannya.


"Kalau kamu menulis, kamu harus enjoy dulu kan baru rasa itu akan muncul," jelasku. "Gak bisa dipaksakan ingin hasil yang bagus. Harus fokus pada prosesnya. Jadi kamu juga harus enjoy dalam menceritakan cerita kamu ke Andira." Aku tersenyum. "Saya gak bilang naskah ini ada yang kurang gara-gara kamu. Karena Andira juga memegang peran penting." Aku mengembalikan naskah tersebut kepada keduanya. "Saya menantikan sesuatu yang lebih nendang lagi. Tapi jangan terlalu membebani diri kalian. Dan belajarlah bekerja sama.”


"Baiklah, kalian boleh pergi."


Sepeninggal mereka berdua Keegan berkata, "Sepertinya Ibu cukup tahu apa kesulitan yang dirasakan penulis itu "


Tentu saja aku tahu pasti. Dulu aku pun begitu. Setiap berusaha menulis yang terbaik, hasilnya malah aku tak pernah puas.


"Semua orang pasti kan begitu, Kee. Kamu juga kan?" Aku menanggapi dengan santai saja.


"Tapi saya tidak begitu. Saya bisa melakukan semua dengan baik saat saya menginginkan hal tersebut."


Dari dulu seorang Keegan memang sudah sesombong ini atau bagaimana. Di ingatan Catherine pria ini tak terlalu banyak muncul. Dia hanyalah sekretaris super efisien yang keberadaannya tidak terlalu dipedulikan.


"Kamu sedang menyombongkan diri pada saya? Kamu mau mengatakan saya gak lebih baik dari kamu?"


"Saya gak bilang seperti itu."


"Tapi maksud kamu seperti itu."


"Itu tidak benar, Bu."


"Kamu ha--Sudahlah." Aku mendesah. Ini tidak ada gunanya. Kenapa aku malah bertengkar dengan pria ini.


Lebih baik aku memikirkan hal lain. Seperti, siapa kira-kira yang akan jadi pemeran utama dalam film ini. Tentu saja masalah pemeran utama pria tidak diputuskan olehku. Tapi aku akan mulai mencari siapa-siapa saja yang cocok. Aktor-aktor hebat yang pastinya bukan Tony Lesmana.


"Oh iya, bagaimana masalah kita dengan Tony Lesmana? Akhir-akhir ini dia gak cari masalah. Saya sampai lupa sama dia."


"Sepertinya dia sedang sibuk dengan pengacaranya akhir-akhir ini, Bu."


"Oh." Aku tersenyum mengejek. "Sepertinya sebentar lagi akan ada drama baru yang diciptakan si keset kaki itu." Kupijit pelipisku yang mendadak berdenyut. Masih memikirkan pria itu akan membuat masalah saja sudah membuatku begini.


"Kita harus bersiap-siap akan apa pun yang akan dibuat si bodoh itu, Kee. Dan juga...," aku menjeda kata-kataku sejenak, "carikan saya daftar aktor pria tampan."


Wajah Keegan yang lempang itu tampak sedikit terkejut. Namun hanya beberapa detik sebelum datar kembali. "Saya akan buatkan daftar yang Ibu minta."


"Bagus," aku tersenyum puas. "Daripada pusing memikirkan ulah yang akan dibuat Tony lebih baik aku memikirkan hal ini."


"Sepertinya Anda sudah siap untuk hubungan baru," komentar Keegan. Dia tampak tidak senang.


"Hubungan baru apa?" tanyaku tidak mengerti.


"Tidak apa-apa. Saya tidak akan mencampuri urusan Anda." Keegan membungkukkan badannya sebentar lalu izin keluar.


Aku tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba berkata begitu. Tapi siapa peduli. Aku siap dengan daftar calon-calon aktor tampanku.


***


Lama ya updatenya. 😫


Saya sibuk banget akhir2 ini.


Sincerely,


Dark Peppermint