
“Apa lagi yang harus saya lakukan hari ini Kee?" tanyaku pada Keegan begitu kami memasuki gedung WJ Entertainment.
“Jam tiga nanti Anda ada pertemuan dengan Bapak Prayitno. Selanjutnya sore nanti—“
“Tunggu, tunggu,” potongku pada ucapan Keegan.
“Ada apa, Bu?” Aku tidak langsung
menjawab pertanyaan Keegan. Sebab mataku kini sedang terfokus pada sosok luar biasa tampan yang baru saja melangkah keluar dari lift. Mataku menyipit dan mendadak jantungku berdebar kencang. Sosok itu tinggi tegap. Sangat proporsional dengan bahu lebar dan pinggang yang ramping. Rambutnya rapi dengan potongan undercut. Wajah tampannya dibingkai dagu tegas dengan brewok halus sehabis dicukup. Kulitnya
kecokelatan dan sangat indah.
“Ya Tuhan, Kee, siapa cowok itu?”
tanyaku hampir terpekik. “Apa ada pegawai seganteng itu di sini?”
Kalau memang ada kenapa selama ini aku tidak melihatnya? Apa dia pegawai baru Maksudku dengan wajah dan tubuhnya itu tidak mungkin dia tak menarik perhatian banyak orang kan? Dia bahkan lebih tampan dari kebanyakan aktor, jadi harusnya dia sangat terkenal.
Pria tampan yang kusebut itu berjalan ke arah kami. Lalu saat jarak kami semakin mendekat, dia tersenyum
padaku. “Selamat siang, Bu.”
Dan aku melayang. Dia tahu aku! Jadi apa benar dia pegawai di sini?
“Siapa itu, Kee?” tanyaku lagi, masih
memperhatikan pria itu yang kini melewati pintu keluar.
“Dia Wisnu Prakarsa, Bu. Aji Wisnu Prakarsa,” jawab Keegan akhirnya.
Aku langsung menoleh ke arah Keegan. “Wisnu Prakarsa? Aktor yang disebut Pak Darma tadi? Dia dari agensi kita kan?”
“Benar, Bu.”
Aku mengingat-ingat tentang
sosok Wisnu Prakarsa namun tak menemukan apa pun.
“Wajar kalau ibu tidak mengenal dia,” sambung Keegan. Kami berjalan menuju lift.
“Kenapa gitu?” Malah menurutku tidak wajar aku tidak tahu ada aktor setampan itu di agensiku. Dia bahkan lebih tampan daripada Tony Lesmana. Seharusnya aku bucin ke pria seperti Wisnu Prakarsa saja.
“Selama ini dia kurang terkenal di layar kaca. Hanya mampu mendapat pemeran pembantu saja.” Kata-kata Keegan membuatku mengernyit. Bukannya di negeri ini asal tampan saja sudah cukup untuk jadi terkenal. Mau aktingnya sesampah apa pun.
“Sejelek apa aktingnya?” tanyaku saat kami masuk ke dalam lift.
“Aktingnya sangat bagus, Bu."
Hampir saja biji mataku keluar. Aku tidak mengerti. “Terus kenapa orang seganteng dan seberbakat dia gak terkenal? Gak mungkin dia hanya tampan di mata saya saja kan?”
“Sebelum ini penampilannya tidak seperti itu, Bu.”
Aku menutup mulutku kaget. “Dia
oplas?” Apa dia baru saja dari Korea makanya aku tidak pernah melihatnya
beberapa saat ini.
“Bukan, Bu.” Wajah Keegan
yang sejak tadi ditekuk sedikit melunak. “Jika melihat penampilannya sebelum ini di internet, Ibu akan paham maksud saya.”
“Aduh, kamu bikin saya penasaran saja,” ucapku sembari mengeluarkan ponsel.
“Tanpa ada saya pun, saya
yakin Ibu pasti bakal nyari tahu tentang dia. Ibu kan suka banget sama dia.”
Aku mendengar kesinisan dalam nada bicara Keenan, membuat hatiku yang gampang geer ini berpikir apa dia cemburu. Ah, mana mungkin. Hahaha... kenapa pula dia harus cemburu padaku. Dia kan
tidak mungkin suka padaku. Eh, jangan salah. Aku juga tidak mengharapkan dia
cemburu atau suka padaku. Tidak sama sekali.
Aku langsung mencari “Wisnu
Prakarsa” di internet. Lagi-lagi aku hampir memekik melihat foto-foto yang ditampilkan di laman pencarian.
“Eh, ini siapa?” Aku memandangi salah satu foto yang ditampilkan Google, lalu langsung menyentuh foto tersebut untuk melihatnya lebih jelas. “Oh, sekarang saya ngerti.” Aku melihat ke arah Keegan.
Keegan tidak menjawab apa-apa, tapi dari wajahnya menyiratkan kata-kata “nah, itulah yang saya maksud".
Jadi Wisnu Prakarsa ini dulu sangat cungkring. Wajahnya sih memang sudah tampan. Tak ada yang berubah dari wajahnya sedikit pun baik dulu maupun sekarang kecuali sedikit lemak di
terletak pada gaya rambutnya. Dulu ia memotong rambutnya sangat pendek
mendekati botak. Jadi kau bayangkan saja bagaimana cowok tinggi, kurus, dan botak. Nah, begitu Wisnu Prakarsa dulu.
“Yah, gaya rambut dan tubuh
yang proporsional memang sangat mengubah seseorang,” jawabku.
“Karena penampilannya yang sekarang dan drama terakhir yang ia bintangi, Wisnu Prakarsa menjadi idola baru. Selain Losing You dia juga sedang heboh dibincangkan di internet.”
Aku tak menjawab apa pun. Perkataan Keegan membuatku sadar kalau selama ini aku hanya berfokus pada masalah dengan Tony Lesmana saja. Aku bahkan tidak tahu siapa aktor yang sedang beken saat ini. Padahal aku berkecimpung di industri hiburan, sudah seharusnya aku memberikan perhatian lebih soal ini.
Aku mengembuskan napas. Sedikit
malu dengan seorang pemimpin perusahaan sepertiku.
***
Akhir-akhir ini aku sudah tidak pernah lagi melihat si bocah tengil yang terjebak denganku di lift. Oke, aku juga memeluknya di sana, tapi aku tidak ingin membahas bagian itu. Sialan, aku sudah membahasnya barusan. Namun hari ini aku melihat
bocah itu lagi. Lebih tepatnya terpaksa melihat bocah itu.
Hari ini Galaxy 112 debut.
Galaxy 112 sendiri adalah nama boy group yang beranggotan sepuluh orang laki-laki muda dan tampan yang salah satunya adalah bocah tengil tersebut.
“Xei, mix kamu belum dipasang,” ucap salah satu kru mengejar seorang bocah laki-laki itu.
Ia berhenti dan menunggu seorang wanita yang kemudian memasangkan mix di leher bajunya. Begitu mix kecil itu dipasang dia melirik ke arahku. Senyum kecil terbit di bibirnya.
Sialan. Dia tidak punya rasa takut pada pemimpin perusahaan. Apa aku memang tidak punya wibawa ya? Sepertinya aku harus mulai serius menjadi pemimpin. Rasanya kesal sekali diperlakukan begini.
Tak berapa lama kemudian
live streaming Galaxy 112 dimulai. Acara ini dilakukan sejam sebelum musik video pertama Galaxy 112 diunggah.
Aku tak menonton acara tersebut sampai selesai. Aku melakukan kunjungan singkat ini hanya untuk menghargai kerja keras mereka saja. Jadi selama aku memang punya waktu aku akan hadir melihat sebentar.
***
“Bu Catherine tunggu!” ayku
menoleh ke belakang mendengar seseorang memanggilku. “Xei...”
“Oh, Ibu tahu nama panggung
saya ternyata,” ucap bocah itu berhenti berlari dan berdiri di hadapanku. “Jangan-jangan Ibu mulai jadi penggemar saya ya.”
“Jaga sopan santun kamu di
hadapan Bu Catherine!” peringat Keegan membuat Xei mengangkat tangan seolah
menyerah.
“Oke, maaf kalau saya gak
sopan.” Dia menggaruk hidung mancungnya sejenak. “Saya gak ada maksud apa pun. Cuma mau bilang makasih sama Bu Catherine karena sudah datang di debut pertama kami.”
“Kamu gak perlu berterima
kasih,” ucapku santai. "Ini bukan apa-apa. Sudah sepantasnya saya mendukung kalian."
Dia menggeleng. “Saya tetap
mau berterima kasih. Walau gugup, saya jadi lebih semangat karena ada Ibu.” Laki-laki yang mirip anak kucing itu tersenyum secerah matahari pagi. Senyumnya yang sangat khas.
“Berkunjung sejenak ke
acara debut kalian memang sudah menjadi bagian dari jadwal Bu Catherine. Jadi
hal tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.” Bukan aku yang mengatakan hal ini,
melainkan Keegan yang menatap anak itu dengan raut datarnya.
***
Sincerely,
Dark Peppermint