The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 24



"Jadi mereka adalah orang-orang yang saya suruh kamu buat cari?" tanyaku sembari memperhatikan dua puluh orang yang berdiri di samping kanan dan kiriku.


"Kenapa kamu bawa mereka semua kemari? Saya kan cuma minta datanya saja."


"Biasanya kan Ibu lebih suka melihat secara langsung agar lebih jelas. Jadi saya pikir lebih baik untuk mengundang mereka langsung agar Ibu bisa memilih sendiri sesuai selera Ibu."


Keegan benar juga. Tapi ini kan bukan casting atau sebagainya. Apa aktor-aktor memang segampang ini buat dipanggil hanya untuk dilihat-lihat seperti barang pajangan.


Aku mengusap-usap daguku sembari memperhatikan mereka satu per satu. Laki-laki yang dipilih Keegan anehnya mirip Tony kampret semua.


Aku kembali berbisik pada Keegan, "Kenapa semuanya mirip Tony?"


"Ibu kan suka dia."


Ya Tuhan... geramnya aku.


Aku mendesis, "Kamu kok tidak sepintar biasanya, Kee. Masa kamu gak tau gimana saya sebalnya sama laki-laki itu akhir-akhir ini. Dan kamu bilang saya suka dia?" Aku sedikit berteriak di akhir kalimat. Namun saat sadar dua puluh orang yang ada di depanku sedang memperhatikan, aku langsung mengontrol suara dan ekspresi. "Kamu kan tahu jelas saya gak suka dia."


"Tapi apa Ibu membenci tampangnya?"


Sialan benar si Keegan ini. Dia jelas tahu seleraku. Dan secara fisik Tony memang tipe idealku. Tapi kalian tahu sendiri. Saat seseorang berubah menyebalkan seberapa tampan pun dia pasti tidak akan ada gunanya.


"Saya benci. Saya benci semua yang berhubungan dengan dia," tegasku.


"Kalau begitu yang pria semua tidak lolos. Bagaimana dengan para wanitanya?"


Nah, ini.


"Saya masih tidak mengerti," mulaiku. "Saya suruh kamu mencari aktor. AKTOR. Tapi kenapa kamu juga bawa perempuan?"


Dari dua puluh orang yang dibawa Keegan, sepuluh laki-laki mirip Tony dan sepuluh lagi perempuan mirip Sania. Sampai detik ini aku belum paham apa maksudnya.


Keegan menundukkan kepalanya sedikit. "Maaf kalau saya berinisiatif sendiri. Saya hanya ingin berjaga-jaga. Mungkin ada perempuan yang menarik minat Ibu juga."


"Menarik minat apanya?" kesalku. "Saya ini mencari aktor yang cocok buat film nanti. Kenapa saya butuh perempuan untuk memerankan seorang pria."


Kali ini wajah Keegan benar-benar kaget. Sama sekali bukan kaget yang miskin ekspresi.


"Jadi yang Ibu cari itu aktor buat film?"


"Tentu saja. Memangnya apa lagi?"


"Saya kira--”


"Saya kira apa?"


"Saya kira Anda mau mencari pasangan yang bisa Anda bayari biaya hidupnya."


Apa? Apa katanya? Sugar Baby? Aku dia samakan dengan Om atau Tante girang pencari Sugar Baby?


Mencari pasangan untuk dibiayai hidupnya?


Aku memijit pelipisku. "Terus kamu bawa perempuan untuk alasan tersebut apa maksudnya? Kamu menuduh saya biseksual?"


Terkutuklah wajah datar Keegan yang saat ini lenyap entah ke mana. Pertanda kalau dia benar-benar berpikir aku menyukai laki-laki dan perempuan sekaligus.


Aku yang merasa tertampar ini mendelik. "Saya seratus persen masih suka laki-laki. Belum pernah sekalipun saya punya perasaan romantis ke perempuan."


Double terkutuk untuk tampang Keegan yang sekarang semakin terkaget-kaget. "Jadi Ibu tidak suka perempuan?"


"Dari mana kamu bisa mikir seperti itu, Keegannn?" geramku.


"Bukannya Anda tertarik dengan Sania? Anda bilang dia adalah wanita milik Anda."


Kotak misi sialan. Kalau kotak itu muncul lagi, aku akan..., aku akan..., aku akan pasrah saja. Hah, memangnya apa yang bisa kulakukan pada kotak sialan itu selain menurut.


"Itu hanya bercanda. Saya gak suka dia. Apalagi berpikir mau pacaran dengannya." Aku menyandarkan tubuhku ke kursi. "Sekarang kamu suruh mereka semua pergi. Saya gak berniat membiayai hidup siapa pun."


Enak benar hidup mereka dibiayai orang lain. Padahap aku sendiri harus setengah mati mencari uang.


Akhirnya mereka semua pergi. Saat Keegan balik lagi aku memperhatikan pria itu dari atas ke bawah. Awalnya aku melakukan hal tersebut hanya untuk membuatnya merasa terintimidasi karena tatapanku. Namun kini aku memandangnya dengan minat berbeda. Tidak, aku tidak jatuh cinta kok. Hanya saja aku baru menyadari bahwa Keegan itu lumayan juga. Dia tinggi, mungkin lebih dari 180 cm. Matanya indah dengan ekor mata yang tertarik ke atas. Hidungnya mancung. Bibirnya sen-- Ya Tuhan, bibirnya seksi sekali.


Kenapa aku baru sadar Keegan punya aset sebagus itu.


Intinya makhluk di depanku ini indah. Sangat indah. Tapi bodohnya aku baru sadar sekarang.


"Ibu kenapa?" Keegan melihatku sambil mengernyit.


"Memang saya kenapa?" tanyaku bingung.


"Ibu tersenyum sambil tertawa melihat saya."


Benarkah? Waduh, jangan-jangan aku melihatnya dengan tampang mesum ileran.


Aku berdehak sejenak. "Saya hanya baru sadar kamu tampan juga. Malahan kayaknya kamu sesuai dengan kriteria yang saya cari."


"Apa?" Ini adalah ekspresi paling terkejut yang pernah ditunjukkan Keegan. "Saya gak berminat, Bu."


Berminat apa lagi?


"Saya gak mau jadi laki-laki yang dibiayai hidupnya oleh perempuan. Saya masih bisa mengurus diri saya sendiri."


Ada apa dengan Keegan hari ini?


"Keegan kamu benar-benar butuh liburan. Hari ini performa kerja kamu buruk sekali. Tadi kan sudah saya bilang, saya gak nyari pasangan buat dihidupi, saya mencari aktor. AKTOR, Keegan. Dan setelah saya lihat-lihat, tampang kamu yang biasanya lempang ini cocok juga buat jadi aktor. AKTOR, Keegan, AKTOR."


Keegan balik seperti biasanya lagi. "Oh, maaf, Bu. Saya agak kurang fokus. Tidak akan saya lakukan lagi."


***


Besoknya Keegan tidak masuk kerja. Aku jadi khawatir pada laki-laki itu. Sejak semalam dia memang kurang fokus tapi tak kusangka dia benar-benar sakit.


Dan gara-gara sekretarisku yang kompeten dan efisien itu tidak hadir aku jadi kelimpungan. Semua pekerjaan aku yang mengurus. Jika ada yang tidak kupahami aku tak bisa bertanya pada siapa pun. Intinya, aku sangat merindukan kemampuan Keegan yang biasanya sangat membantuku.


"Ibu kenapa? Ibu kelihatan sangat stres hari ini?" Sania yang makan malam bersamaku bertanya.


"Tidak apa-apa," jawabku tidak bersemangat.


Apa yang harus kulakukan untuk rapat besok pagi? Apa kuundur saja? Tapi rapat ini juga sudah diundur sebelumya.


Aku memang tidak pantas jadi CEO. Kenapa aku tidak masuk ke dunia novel dan jadi tukang gorengan saja. Aku cukup pandai menggoreng sesuatu.


"Ibu mau ke mana?" tanya Sania saat melihatku berdiri.


"Saya mau pergi," ucapku lalu lekas berlalu. "Kamu bisa langsung pulang habis ini."


Aku sengaja tak memberi tahu Sania ke mana aku akan pergi. Sebab aku ingin mengunjungi Keegan. Aku harus melihat sendiri orang yang membuat hidupku terasa berat seharian ini.


***


Sincerely,


Dark Peppermint