
“Kopi datang!” seru Sania begitu masuk ke dalam ruang istirahat.
“Oh, bagus. Aku udah haus banget.” Entah sejak kapan aku sudah tidak bicara terlalu formal lagi pada bawahanku. Namun jika di kantor sebisa mungkin aku masih formal pada mereka.
Sania memberikan gelas milikku. “Ini punya Ibu dan Mas Keegan.”
“Thanks,” jawab Keegan yang masih sibuk dengan tabletnya. Akhir-akhir ini dia santai saja menerima kehadiran Sania. Lagi pula suasana di antara kami berdua juga adem ayem saja. Dan kurasa Keegan pun menyadari kehadiran Sania memberikannya sedikit kelonggaran dalam bekerja. Mungkin akan baik kalau Sania benar-benar kujadikan sekretaris, atau malah asisten pribadiku? Entahlah, nanti saja kupikirkan lagi.
“Kalau gitu saya mau bagikan kopinya dulu,” ucap Sania dan kujawab dengan anggukan. Tadi aku memang menyuruhnya membelikan kopi untuk seluruh kru.
Aku duduk nyaman di kursi pijat—benar, di ruang istirahat milikku ini ada kursi pijatnya, bahkan katanya ruang istirahat termewah di sini—sambil menyesap kopiku. Dan membaca sekali lagi naskahku.
Kulirik jam di tanganku. “Kamu gak balik ke kantor?” tanyaku pada Keegan.
“Sebentar lagi. Saya pergi setelah Sania balik.”
“Kamu gak perlu begitu,” kataku sambil bangkit berdiri. “Pergi saja. Nanti orang-orang menunggumu. Aku akan ke kamar mandi sebentar.”
Aku ada jadwal rapat yang berbarengan dengan latihan hari ini. Karena rapat itu hanya membahas masalah artis kami yang akan melakukan debut, tidak masalah jika Keegan yang melakukannya. Lagi pula dia memang lebih ahli dibandingkan aku.
“Kalau gitu saya pergi dulu.”
“Iya, hati-hati,” sahutku.
“Bu? Ibu di kamar mandi?” tanya Sania yang sepertinya baru saja masuk tak lama setelah Keegan pergi.
“Ah, iya, San,” jawabku.
“Kopinya sudah saya bagikan semua.”
“Bagus,” jawabku seadanya. Jika dia terus bertanya aku tak akan bisa menuntaskan hajatku datang kemari. Jangan tanya apa yang kulakukan. Pokoknya jangan tanya.
Tak berapa lama aku mendengar suara gaduh dari luar. Seperti pintu yang didobrak paksa.
“Nah, tempat ini bagus,” ucap suara seseorang yang tidak kukenali. Tapi jelas dia adalah seorang wanita. “Kamu sih gak pintar nyari tempat buat aku. Aku kan gak tahan di ruangan sempit kayak tempat tadi.”
“Maaf, Candy, tapi kita gak bisa ngambil ruangan milik artis lain,” jawab seorang wanita. Terdengar lirih dan penuh rasa khawatir.
“Aku gak peduli. Pokoknya aku mau di sini.”
“Maaf, tapi tempat ini sudah ada yang punya,” kali ini Sania yang menjawab. Suaranya tak kalah lembut dari perempuan tadi. Namun terdengar lebih yakin. Bagus Sania, usir penjajah itu dari tempatku selagi aku pergi berperang.
“Kamu siapa?” tanya seseorang, suaranya yang manja terdengar tidak suka.
“Saya asistennya Bu—“
“Artis kamu itu udah ibu-ibu?”
Sialan. Umurku belum tiga puluh dan aku masih sangat cantik.
“Bukan,” jawab Sania. “Dia—“
“Aku gak peduli ibu-ibu itu siapa. Dia gak pantas ada di sini. Pokoknya aku mau tempat ini.”
“Tapi—“
“Kamu gak tahu siapa aku?”
Holy crap. Antagonis manja sok berkuasa muncul. Siapa sih dia? Aku jadi penasaran. Apa dia anak presiden sampai sepongah itu.
Kenapa harus kamu yang minta maaf Sania?
Perempuan itu tertawa tidak percaya. “Kamu norak banget ya, sampe gak tahu artis yang lagi ngetop. Jangan karena kamu ngurus ibu-ibu gak terkenal jadi kudet gitu. Selera kamu ngikutin ibu-ibu itu juga ya?” sindirnya, membuatku ingin segera mendobrak pintu ini lalu menyepak perempuan itu keluar.
“Dengar ya, aku ini Sugar Candy. Udah dengar? Sugar Candy. Artis sinetron yang lagi naik daun. Nanti kalo pulang ke rumah bareng ibu kamu yang norak itu, coba nonton TV deh. Ikatan Kain Kafan. Aku pemeran utamanya di situ.”
Pfftt. Dia main sinetron apa judulnya begitu?
“Kalau belum puas liat aja instagramku. Folowersku itu udah satu juta. Satu juta.”
Cuih. Dia artis sinetron dan followers-nya hanya satu juta? Aku yang pengusaha saja punya tiga juta followers di akunku. Walau kebanyakan isinya haters sih.
“Sekarang kamu udah tahu kan siapa aku? Kalau gitu sekarang keluar dari sini!”
“Iya, saya sudah tahu kamu siapa. Tapi tetap gak bisa Mbak Candy.”
“Mbak, maaf,” ucap seseorang yang sepertinya asisten si Sugar Baby. “Bisa gak ruangan ini diberikan ke Candy. Di luar masih banyak ruangan lain yang gak kalah bagus.”
“Gak bisa,” sahut Sania. “Ruangan terbaik harus buat Bu Cath—“
“Heh!” ucap si Sugar Baby itu, lalu kudengar suara Sania yang mengaduh. Yang sepertinya ia baru saja didorong oleh perempuan itu. “Kamu ini bodoh atau gimana sih? Berani-beraninya kamu ngelawan perintah aku kayak gini? Kamu kira kamu siapa.”
Dia benar-benar artis sinetron.
“Kamu kira bisa selamat setelah ngelakuin ini ke aku? Dengar ya, aku gak akan biarin ini. Aku bakal bilang ke Pak Bambang. Aku gak akan mau jadi bintang tamu di acara itu karena kamu bersikap kayak gini samaku.”
Sepertinya Sania panik. “Jangan gitu. Saya minta maaf, tapi benar-benar gak bisa.”
Duh, kenapa harus terus minta maaf sih. Kamu tidak ingat atasanmu itu siapa Sania? Ini aku loh Catherine Wijaya. WJC ini masih punya papaku. Kenapa kamu malah takut sama si Sugar Baby simpanan Sugar Daddy kepala botak seperti itu?
“Saya rasa di sini masih ada ruangan lain yang bagus seperti kata asisten kamu tadi,” ucap Sania. “Kalau mau, bisa saya tanyakan.”
“Wah, sekarang kamu sok hebat ya. Kamu kira kamu yang lebih tahu tempat ini dibanding aku? Aku ini Candy! Candy!”
Iya, elu Candy. Plis deh, gak usah diulang-ulang mulu. Bosen gue dengarnya.
Dan kapan perut sialan ini selesai. Aku sudah tidak tahan lagi mau memberi pelajaran pada bocah sombong itu.
“Aku udah capek banget ngomong sama cewek kayak kamu. Pokoknya aku mau telepon Pak Bambang. Aku bakal kasih tahu semua ini ke dia.”
Baiklah, ini dia. Aku selesai! Setelah mencuci tangan sebersih dan secepat yang kubisa, kubuka pintu toilet dengan sedikit kencang hingga menghantam dinding. Tiga orang yang ada di sana menoleh padaku. Mereka membeliak kaget.
“Bu Catherine, saya—“
“Bu Catherine?” potong Candy sambil menoleh pada Sania.
Aku berjalan penuh percaya diri ke hadapan perempuan itu, dan sama sekali tidak terkesan melihat penampilannya. Kecantikannya tidak secantik kesombongannya tadi. Gadis itu mungkin sepuluh sentimeter lebih pendek dariku. Kulitnya terlalu putih dengan make up tebal. Wajahnya agak bulat tapi dagunya terlalu lancip, hidungnya terlalu mancung, dan ia memiliki dada yang berukuran cukup mengesankan. Mengesankan karena ia sangat percaya diri padahal semua itu jelas palsu.
Aku menyilangkan tangan di depan dada. “Kamu mau mengambil tempat ini dariku, hm, Candy?”
***
Sincerely,
Dark Peppermint