
“Shania adalah milikku,” cicitku pelan. Bahkan Tony sepertinya tak mendengarku.
Bahkan sistem pun menilai bahwa aku tak berhasil melakukannya.
Rasa takut merambat masuk kembali. Namun sebuah suara di seberang telepon menyadarkanku kembali.
“Oke, terserah apa kata Anda. Kalau Anda berkata gak punya perasaan apa pun sama saya lagi, saya akan menganggap seperti itu dulu untuk sekarang.”
Untuk sekarang? Jadi maksudnya dia akan mengubah pendapatnya itu di masa yang akan datang? Kenapa bebal sekali otak manusia satu ini? Sebenarnya separah apa Catherine sebelumnya sampai sesulit itu baginya untuk sadar aku tak tertarik sedikit pun—bahkan seujung kuku pun—padanya.
“Tapi tetap saja Anda memperpanjang masalah ini. Anda bahkan melakukan konferensi pers untuk mempermalukan saya.”
“Hei, bangsat,” ucapku tak tahan lagi. “Kamu yang lebih dulu mempermalukan saya dan perusahaan ini. Kamu pikir saya bodoh dan akan diam saja kamu berlaku semena-mena begini?”
“Saya hanya memberitahu pengikut saya tentang apa yang sedang saya alami dan memohon pengertian dari mereka. Apa itu salah? Ibu tak punya hak untuk melarang saya menulis sesuatu di akun pribadi saya.”
“Kalau begitu saya hanya memberitahu wartawan bahwa tuduhan-tuduhan publik kepada kami itu tak berdasar. Apa itu salah? Memangnya kamu punya hak apa untuk melarang saya melakukan konferensi pers di depan para wartawan?”
Pria itu terdiam selama beberapa saat. Aku tersenyum puas. Akan kubungkam semua mulut tak punya adap yang berbicara sembarangan padaku.
“Anda bisanya hanya membuat masalah. Selama ini Anda menyusahkan saya, lalu sekarang Anda pun menyusahkan Shania. Apa Anda tahu masalah apa saja yang dia hadapi karena perbuatan Anda? Orang-orang seka—“
Tanpa sadar aku membuang pena yang sejak tadi kugenggam. Masalah yang mereka hadapi katanya? Aku juga menghadapi masalah gara-gara kalian. Kalian saja yang tidak tahu betapa gigihnya sistem novel ini untuk mendukung hubungan kalian dengan mempergunakan aku. Tapi aku bersusah payah untuk tak mengganggu kalian lagi. Dan inilah balasan yang kudapat karena berusaha tak mengganggu kalian?
Aku yang di-bully.
Aku yang terus ditindas dan disalahkan.
Sekarang pun aku masih harus terus menjalankan misi aneh agar novel ini tetap berjalan dengan semestinya. Aku berjuang hidup di sini untuk kalian. Tapi semua yang kulakukan sepertinya tak membantu sama sekali, malah memperburuk keadaan. Dan membuatku semakin menderita saja.
Memangnya orang seperti dia tahu apa, kenapa hanya merasa dirinya saja yang paling menderita.
Tapi bukan berarti aku akan diam saja diperlakukan begini. Aku ini Catherine Wijaya. Penjahat terkeren di abad ini. Penjahat paling tertindas sih sebenarnya. Haha...
“Cukup,” kataku.
“Kami yang paling menderita gara-gara Anda. Dia bahkan gak bisa hidup tenang di kantor. Setiap hari ada saja pengikut setia Ibu yang memanfaatkan kebaikannya. Perempuan sebaik dia harus terus menderita karena satu perempuan seperti Anda. Bahkan dia gak mau menyalahkan Anda—“
“SUDAH KUBILANG CUKUP!” jeritku. “Dia menderita gara-gara aku? Apa kau tidak tahu yang memanfaatkan dia itu para penggemarmu.” Orang-orang itu iri karena Shania mendapat perhatianmu, bodoh, bukan karena setia padaku. “Tentu Shania gak mau menyalahkanku karena itu bukan salahku.“ Sekarang sistem bahkan ingin aku menyayanginya dengan mengatakan hal-hal murahan begitu. “Dia itu milikku! Jadi kamu jangan mengganggunya terus.” Sialan, aku jadi mengatakan hal aneh itu karena tanpa sadar teringat pada sistem. Tapi apa yang kukatakan itu benar. “Karena sebenarnya kamulah yang paling mengganggunya. Kalau kamu tidak ada, dia pasti tidak akan diganggu terus-menerus.”
Mataku membeliak saat kotak misi itu menunjukkan kata “sukses”. Jadi misi tadi belum berakhir? Kenapa mendadak berhasil? Karena Tony akhirnya mendengar kata-kataku atau karena aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang aku rasakan?
Aku menarik dan mengembuskan napas pelan-pelan. Mengendalikan perasaanku yang tak menentu. Sebaiknya kuakhiri saja sekarang.
Sekarang aku benar-benar paham dengan kata-kata ”yang waras ngalah”. Ternyata bicara dengan orang gila benar-benar tidak berguna. Bodoh sekali tadi aku mengangkat teleponnya hanya karena ingin melampiaskan kekesalan. Malahan sekarang aku bertambah kesal. Karena apa, karena orang bodoh tidak waras ternyata menggunakan bahasa lain. Bahasa yang tidak digunakan orang normal. Mereka tidak paham maksud kita dan kita tak akan paham pula apa maksud mereka.
Apa kukirim saja pria ini ke zaman batu? Hei, siapa pun kau yang berkuasa di novel ini, buatlah pria bodoh ini tranportasi ke zaman dinosaurus. Mungkin para hewan purba itu lebih memahami kata-katanya.
“Saya akan menyuruh Shania keluar dari perusahaan Anda. Gak akan saya biarkan Anda melukainya lagi.”
Ya, serah elu Bambang.
“Silakan saja. Kalau dia memang mau, suruh saja. Saya gak akan mempersulit pengunduran dirinya kalau kamu khawatir akan hal itu.” Aku mengembuskan napas. “Saya sudah capek berbicara dengan orang dari zaman megalitikum seperti kamu. Pembicaraan kita sepertinya gak akan pernah nyambung. Saya harap kamu jangan hubungi saya lagi untuk masalah gak penting dan segera selesaikan masalah kamu lalu pergi dari sini.”
***
“Anda tidak ingin pulang, Bu?” tanya Keegan yang baru saja membuka pintu ruanganku. Aku melirik jam. Pukul dua pagi. Ternyata aku bekerja sampai selarut ini.
“Saya akan memeriksa dokumen ini sebentar lagi. Kamu boleh pulang lebih dulu.”
“Saya akan menunggu Ibu.” Orang itu bersiap menutup pintu.
“Pulang saja. Kerjaan kamu sudah selesai semua kan? Pulanglah. Saya gak mau ada gosip jelek lagi yang mengatakan saya menyuruh pegawai lembur sampai tidak manusiawi begini.”
“Bukannya biasanya Ibu yang melarang saya pulang sebelum Anda pulang.” Dia melihatku heran.
Hancurlah sudah. Keegan pasti semakin curiga padaku. "Ya sudah. Terserah kamu saja kalau gak mau pulang," ucapku memilih jawaban aman.
“Omong-omong tentang acara itu, apa Ibu benar-benar mau jadi bintang tamunya?”
“Tidak. Kenapa? Kamu merasa saya seharusnya datang ke sana?”
“Acaranya tidak terlalu parah. Kita pun bisa mendiskusikan pertanyaan apa saja yang boleh ditanyakan pada Ibu. Sepertinya akan bagus kalau Ibu ikut muncul ke publik. Orang-orang terus berkomentar buruk tentang Anda yang sombong dan tak bisa mengurus perusahaan dengan benar. Meski telah dihapus oleh tim kita, komentar-komentar tersebut terus bermunculan.”
“Apa yang harus kutunjukkan di acara itu? Bahwa akulah si perempuan jahat yag membuat pangeran negeri ini menderita.”
“Bukan. Bahwa Anda bukanlah orang yang selama ini mereka pikirkan. Orang tentu bisa menilai apa Anda perempuan dangkal yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pria dan tidak kompeten bekerja atau tidak dari sana. Anda cerdas, Bu. Dan saya yakin kecerdasan Anda akan terlihat di sana.”
***
Sincerely,
Dark Peppermint