
Arabella adalah ibu tiri yang hanya berbeda usia lima tahun dariku. Seperti sosok ibu tiri jahat di novel-novel lainnya Arabella memiliki wajah cantik, bentuk tubuh aduhai dan seperangkat pakaian dan aksesoris yang
mempertontonkan keindahan tubuhnya tersebut, serta seringai licik yang
disamarkan dalam senyum-senyum ramahnya.
Intinya dia sosok yang pas sekali untuk membuatmu membencinya di pertemuan pertama tanpa perlu berbicara lebih dahulu.
“Kamu datang?” Wanita itu mendekatiku lalu tanpa permisi langsung cipika-cipiki. Membuatku diam saja karena terlalu syok. Kukira dia tidak seberani ini untuk bersikap sok akrab denganku. Apa aku salah menilainya karena penampilannya yang seperti perempuan tidak benar itu? Mungkin saja dia ba—
“Akhirnya kamu ingat pulang. Aku sudah sangat khawatir karena sepertinya kamu gak peduli sama papamu. Syukurlah kekhawatiranku salah. Buktinya sekarang kamu di sini.”
Kutarik kembali kata-kataku tadi. Perempuan ini seratus—tidak, seribu persen ular berbisa.
“Tentu aku harus pulang. Kalau pemilik rumah lupa pulang, bisa-bisa orang lain merasa ini rumah milik mereka dan sok berkuasa.” Senyum licik di wajah Arabella memudar. Aku berjalan meninggalkannya. “Rumah ini gak banyak berubah. Baguslah.” Aku berbalik sebentar dan tersenyum riang. “Padahal aku sempat takut ada barang norak dipajang di sini selama aku gak ada.” Aku kembali melanjutkan jalanku. “Papa belum pulang kan? Panggil aku kalau dia sudah pulang. Aku akan ke kamarku sebentar.”
Sebenarnya aku tidak ingat apa-apa tentang dekorasi rumah ini. Ingatan Catherine tentang Arabella tidak kunjung muncul. Aku tahu hal ini dari Keegan.
“Bapak Jonathan merombak interior rumah lagi. Arabella berulah dan membuat rumah kalian sangat mengerikan. Selera perempuan itu benar-benar norak dan agak vulgar. Dia beli patung laki-laki telanjang dan memamerkannya di tengah halaman rumah kalian. Dia pasti berpikir keren karena patung itu dibeli dari pengrajin di Italia.”
Saat tiba di sini dan melihat dekorasi rumah ini normal dan tidak ada patung mesum di tengah halaman, aku jadi yakin Papa sudah membereskan ulah Arabella.
Aku harus berterima kasih pada Keegan nanti. Mungkin memberikannya tiket dan jatah liburan selama seminggu jika semua masalah ini sudah selesai pantas ia dapatkan. Apalagi aku curiga wajah lempangnya itu hasil depresi dari pekerjaan dan punya bos seperti aku.
“Non, Bapak udah pulang. Non, disuruh Nyonya untuk turun.”
Aku keluar dari kamarku. “Nyonya?”
Pelayan itu terlihat gelagapan. “Iya. Nyonya Arabella.”
“Dia yang minta dipanggil begitu?”
Pelayan itu diam saja. Tampak sangat ketakutan. Kulihat tangan kanannya melepuh.
“Tangan kamu kenapa?”
Mendadak dia langsung menutupi tangannya tersebut. “Bukan apa-apa, Non.”
Lalu mendadak muncul pelayan lain dari sampingnya. “Iya, Non. Nyonya Arabella gak mau dipanggil ibu. Katanya ibu itu katrok. Cukup Ibunya Non Catherine aja yang kami panggil ibu.”
Jadi maksud gumpalan tisu toilet itu ibuku katrok karena terima-terima saja dipanggil ibu oleh bawahannya?
Aku memang tak mengingat ibunya Catherine. Tapi entahlah, aku merasa terikat dengannya hanya karena fakta sekarang dia adalah ibuku. Orang yang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, tapi lukisannya masih dipajang dengan agung di tengah-tengah rumah ini.
Lalu pelayan yang baru datang tadi melirik temannya. “Tangannya Dini melepuh karena disiram ko—“
Orang yang dipanggil Dini itu langsung membekap mulut temannya. “Ayo kita turun aja, Non.”
Aku berjalan turun diikuti dua orang gadis pelayan tersebut.
“Kerja sama Nyonya Arabella benar-benar gak enak, Non. Ibu Karen jauh lebih baik. Gak lebay, gak semena-mena—“
“Sudahlah,” potongku. “Kamu bisa dapat masalah kalau terus membicarakannya.”
Selama kami pergi menuju ruang makan ada beberapa pelayan yang lewat. Bisa gawat kalau mereka mendengar ocehan gadis ini dan melaporkannya pada Arabella. Aku tak berada di sini. Jadi tak akan bisa berbuat apa-apa untuknya.
“Dan kamu.” Aku melirik gadis yang ketakutan. “Pergilah, obati lukamu. Di lemari itu ada P3K. Aku bukan bayi yang ke ruang makan saja perlu diantar.”
“Selamat malam, Papa,” sapaku ramah begitu masuk ruang makan.
Pria tersebut melirik sebentar, lalu mengangguk. Ayahnya Catherine jelas pria yang kaku.
Makan malam ini akan berjalan cukup mudah kalau saja Arabella tidak tiba-tiba menyeletuk, “Kudengar kamu mendapat masalah lagi di kantor?”
Gerakan tanganku yang sedang menyendok makanan terhenti. “Aku sudah menangani semuanya. Jadi Tante gak perlu khawatir.” Aku tersenyum lebar mengatakan semua itu. Jika dia tidak suka dipanggil ibu, mungkin dia juga tak suka dipanggil tante. Tante jablay.
“Aku malah gak nyaman kalau panggil istri ayahku dengan sebutan kakak. Aku gak bisa panggil kamu mama karena cuma ada satu mama dalam hidupku. Jadi mohon pengertiannya ya kalau aku cuma bisa panggil kamu tante.” Aku tersenyum seramah, sebaik, dan semanis mungkin.
Jelas sekali perempuan itu sedang memaksakan diri untuk tersenyum. Wajahnya kaku dan menyeramkan sekali. “Tapi—“
“Biarkan saja,” sahut Papa. “Malah aneh kalau kamu dipanggil kakak oleh anak sambungmu sendiri.”
Perempuan itu tak bisa berkata-kata lagi. Aku sudah ingin mengembuskan napas lega sebelum dia mulai berulah kembali, “Jadi apa urusanmu dengan Tony Lesmana juga sudah selesai? Syukurlah kalau begitu. Aku sempat khawatir melihat pengumumannya di Instagram. Kukira hubungan kalian juga akan
ikut berakhir. Tapi karena katamu sudah selesai, pasti semuanya akan baik-baik
saja. Tapi, Catherine, sekali lagi berhati-hatilah dengan sikapmu. Pegawai yang kamu siram kopi itu mungkin diam saja sekarang, tapi bagaimana kalau nanti dia
berulah dan menjelekkan kamu. Jadi kuharap kamu gak akan melakukannya lagi ya. Kami semua khawatir kalau kamu terlibat masalah.”
Tante girang ber-make up tebal ini. Dia sepertinya tak berniat berhenti.
“Terima kasih Tante udah khawatir samaku. Tante pasti peduli banget sampe tahu semua detail yang terjadi samaku. Tapi aku sedih, kenapa Tante bilang aku nyiram kopi ke pegawai itu. Sebaiknya Tante tanya dia langsung. Tapi ya, gak mungkin juga Tante
percaya sama kata-kata cewek itu. Semua orang gak ada yang percaya bukan aku
yang nyiram. Hanya karena Tante nyiram kopi ke pelayan di rumah ini bukan berarti aku juga suka melakukan hal yang sama.”
Aku puas sekali melihat Arabella tak bisa berkutik. Makanya jangan ganggu singa betina yang diam-diam saja kalau tidak ingin terkena cakarnya. Aku masih mencakar loh belum menggigit.
Lalu kotak misi muncul. Aku sempat bertanya-tanya ke mana dia akhir-akhir ini kok tidak merusuhi hidupku. Ternyata panjang umur.
Kamu berhasil menyelesaikan misi tersembunyi—mempersulit Arabella.
Jadi ada misi sembunyi-sembunyi begini? Sepertinya aku masih jadi orang jahat kalau tetap mempersulit hidup orang lain. Kukira selain mengatakan dialog bodoh seperti sebelumnya, kotak misi akan memberiku perintah untuk banyak-banyak ibadah.
“Papa mau kamu segera menikah.” Setelah sedari tadi diam saja mendengar perdebatan kami, Papa mengatakan hal yang paling mengagetkan.
“Sayang, dia gak akan mau menikah selain dengan Tony Lesmana. Apa kamu yakin Tony Lesmana mau menikahi dia?”
“Aku gak mau menikah!” tegasku. “Bahkan dengan laki-laki bernama Tony Lesmana itu. Buat apa aku menikah dengan orang bodoh seperti dia.”
Arabella terperangah tidak percaya. “Kamu lagi sak—“
“Aku gak sakit hati. Dan berhenti menyebut-nyebut namanya. Kalau Tante sesuka itu sama dia, Tante saja yang menikah dengannya.”
“Baguslah kalau kamu gak mau menikahi laki-laki itu,” sahut Papa. “ Papa juga gak suka sama dia. Tapi kamu tetap harus menikah.”
Kotak misi muncul lagi di hadapanku.
Ubah pemikiran Jonathan Wijaya yang menginginkan kau menikah.
Tidak disuruh pun aku akan melakukannya. Bahkan akan kulakukan segala cara.
“Aku gak mau. Dan Papa gak bisa paksa aku.”
“Tentu Papa bisa paksa kamu.” Pria tua itu menatapku tajam. “Kamu sudah cukup bersenang-senang, sekarang saatnya memikirkan masa depan.”
Bersenang-senang apanya?
“Ini hidupku, Pa. Papa gak berhak menentukan apa yang akan kulakukan. Kalaupun aku akan menikah aku sendiri yang akan menentukan siapa yang akan kunikahi.”
Aku sudah muak dipaksa melakukan sesuatu.
***
Sincerely,
Dark Peppermint