The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 6



“Dasar kekanakan. Sebenarnya berapa usia orang ini?” amukku.


Keegan diam saja melihatku yang tengah naik pitam.


“Kuakui dia aktor yang sangat berbakat. Film yang dibintanginya selalu laris manis. Dia cinta pertama banyak gadis remaja di luar sana,” bahkan Catherine pun jatuh cinta pertama kali pada pria tersebut dan terus menerus terpesona setiap menonton film atau dramanya, “tapi memangnya dia bisa bersikap seenaknya begini?”


Aku mengacungkan ponsel di depan wajah kaku Keegan. Orang yang sedang berdiri di depanku di seberang meja itulah yang memberitahu tentang hal ini.


“Padahal masalah Bianca baru saja selesai, tapi ada lagi yang berulah. Sebenarnya apa kerjaan para pencari bakat di perusahaan kita? Memilih artis saja tidak becus. Dan apa mereka tidak dididik dengan baik. Hanya karena mereka artis, mereka berpikir bisa melakukan apa pun sesuka hati—“


Aku melirik Keegan yang sedari tadi sabar mendengarku marah-marah. Aku tahu mengoceh tidak bisa menyelesaikan masalah, tapi bos ada memang untuk marah-marah begini.


“Ini.” Aku menyerahkan kembali ponsel Keegan. Ponsel yang di dalamnya menayangkan story terbaru milik Tony Lesmana. Yang menyatakan bahwa dirinya akan keluar dari agensi kami. Dia bahkan tak ada membicarakan hal ini padaku. Namun seenaknya membuat pengumuman seperti itu dan membuat heboh orang-orang.


“Apa saya perlu menghubungi Tony Lesmana?”


“Gak usah. Saya yang akan langsung menghubunginya. Orang itu butuh diberi pelajaran langsung.” Tanganku meremas pena yang entah sejak kapan sudah kugenggam. “Kamu bisa pergi sekarang, Kee.”


Keegan menatapku lama. “Apa benar Ibu gak apa-apa? Tony membatalkan pertunangan dan kali ini ingin keluar dari agensi kita. Ibu pasti sedih—”


Aku mengangkat kedua tanganku pertanda untuk memintanya berhenti. Aku tahu Keegan tak akan percaya jika kukatakan aku sama sekali tidak sakit hati dengan semua tindakan konyol pria itu. “Saya gak apa-apa. Kamu bisa keluar sekrang.”


Sepeninggal Keegan aku langsung menghubungi Tony.


“Halo,” jawabnya malas-malasan. Hah, begini cara orang ini menjawab telepon dari bosnya.


“Saya perlu bicara sama kamu sekarang. Datang ke ruangan saya sekarang juga!”


Dia berdecak. “Aku gak bisa. Aku—“


“Datang sekarang juga! Saya tahu kamu gak ada kegiatan apa pun.” Bukan salahku kalau setiap pagi Keegan memberikan jadwal kegiatan Tony Lesmana.


“Kenapa kamu seenaknya—“


“Siapa yang lebih dulu berbuat seenaknya? Kalau kamu pintar sedikit saja kamu pasti tahu tingkah kekanakan kamu itu sudah membuat keadaan sulit. Jadi kalau kamu masih punya sedikit saja rasa tanggung jawab atau akal sehat, cepat datang kemari sekarang juga! Atau perlu saya suruh orang untuk menyeret kamu kemari?” Setelahnya aku langsung mematikan sambungan telepon. Jika tidak entah apa yang akan aku katakan selanjutnya. Pria itu benar-benar membuatku kesal.


Jika dia ada di depanku sekarang entah-entah aku akan khilaf memecahkan vas kaca ke kepalanya yang tak ada isinya itu.


Tony tiba tiga puluh menit kemudian.


“Jadi apa maksud kamu menulis pengumuman seperti itu di Instagram?” mulaiku dengan suara tenang.


“Sudah jelas kan? Aku mau keluar dari agensi ini.”


Aku memijat pelipisku yang mendadak terasa seperti dicengkeram erat. “Biasakan menggunakan bahasa formal jika kamu bicara pada atasanmu.”


Pria itu tampak terguncang. “Kamu—“


“Masih belum mengerti juga? Baiklah karena saya baik, saya akan menjelaskan sedikit sama kamu. Saya ini atasan kamu, atasan seharusnya dipanggil dengan sebutan ibu atau bapak. Jadi seharusnya kamu juga panggil saya begitu. Bukannya sembarangan manggil kamu-kamu begitu. Dan biasakan menyebut dirimu dengan ‘saya’ jika sedang berbicara dengan saya.”


Dia menatapku dengan mencemooh. “Kamu marah karena pertunangan kita dibatalkan?”


Aku menahan diri untuk tidak memutar bola mata. Jadi kujawab dengan tenang dan penuh wibawa, “Sekarang kamu bahkan bawa-bawa masalah pribadi. Dengar, saya tidak peduli pertunangan kita batal dan kamu akan membenci saya atau sebagainya. Tapi profesional-lah sedikit. Kamu kira kontrak itu main-main. Yang saat kamu sudah bosan bisa dibatalkan begitu saja. Kamu bukannya sedang bermain petak umpet dengan teman-temanmu yang kalau capek tinggal berhenti. Ka-mu i-ni se-dang be-ker-ja,” kuucapkan kata-kata tersebut sambil mengetuk-ngetukkan jari di atas meja. “Apa kamu tidak membaca surat kontrakmu dengan baik saat menandatanganinya dulu?”


Pria itu sedang menahan amarahnya.


“Bicaralah. Tapi jangan bawa-bawa masalah pribadi.”


“Saya benar mau keluar dari tempat busuk ini. Dan saya akan tetap keluar apa pun yang terjadi.”


“Baiklah kalau itu maumu.”


Mata Tony membeliak. Dia tampak tidak percaya. “Baguslah. Kalau begitu selamat tinggal.” Pria itu berniat pergi begitu saja.


Dia kembali menatapku penuh cemooh. “Tentu saja pergi. Buat apa saya terus di sini bersama Anda.”


Dia kira aku ingin menahannya untuk berdua-duaan mesra? Cih. Jijik.


“Yang mau berdua bersamamu juga siapa. Pembicaraan kita belum selesai.”


“Apa lagi?” tanyanya sambil mengerutkan dahi.


“Tentu kamu tahu membatalkan kontrak akan ada dendanya.”


“Kamu mau aku membayarmu?” Dia tampak marah.


Aku tertawa kecil. “Kamu kelihatan gak tahu tentang hal ini. Kamu memang bodoh atau gimana. Di mana-mana juga pasti begini. Bahkan ada undang-undangnya. Kalau kamu tidak percaya tanya saja pengacaramu.” Aku tak akan heran jika saat ini dia sedang merasa tertipu atau apa, karena baru kusadari dia benar-benar tak punya apa-apa selain wajah tampannya.


Di dalam novel dia seperti laki-laki kompeten yang bisa melakukan apa saja. Sama sekali tak peduli dirinya direpotkan pemeran utama wanita. Ya, seharusnya aku tahu laki-laki yang begitu pasti tidak waras. Masa mau melakukan apa saja? Kalau disuruh membunuh orang agar pemeran utama wanita bisa bahagia apa dia akan tetap melakukannya? Kulirik orang di depanku, ya, sepertinya dia juga bisa melakukan itu. Karena butuh kewarasan untuk tahu bahwa tindakanmu itu gila.


“Baiklah. Berapa yang harus saya bayar?”


“Mungkin sekitar beberapa miliar. Saya belum tahu pastinya. Pengacara—“


“Beberapa miliar? Apa kamu gak waras?”


Elu yang kagak waras.


“Sekarang kamu mengatai saya gak waras?”


“Ini perampokan.”


Kembali aku memijat pelipis. “Memangnya kamu tahu berapa kerugian yang harus ditanggung perusahaan ini karena kamu berhenti seenaknya? Saya tidak mempermasalahkanya atau memohon-mohon agar kamu tetap tinggal karena saya pun malas melihatmu. Tapi coba kamu pikirkan, kami sudah menandatangani banyak kontrak kerja sama untukmu. Bahkan jadwalmu masih ada sampai tahun depan. Kamu kira kami tak harus mengganti rugi jika mendadak memutuskan kerja sama dengan mereka? Kamu ini memang gak pernah berpikir atau bagaimana? Kalau kamu berani mengambil keputusan berarti harus berani bertanggung jawab. Itu harga yang harus kamu bayar untuk semua perbuatanmu yang tidak bertanggung jawab ini.”


Pria itu terdiam.


“Jika sudah paham, kamu boleh pergi. Saya masih banyak pekerjaan selain mengurusi pembuat masalah seperti kamu.”


***


“Kee, kayaknya saya butuh liburan.” Benar. Aku kan kaya raya banget pasti sangguplah berlibur selama sebulan di kapal pesiar mewah terus naik jet pribadi hanya untuk makan durian di Singapura. Rekening tabunganku saja nolnya sampai susah dihitung.


Duh, dasar aku yang orang kaya ini.


“Kalau ingin liburan, Ibu harus meminta persetujuan dari Ayah Anda lebih dulu.”


“Ayah?”


Ah, ya benar. Pendiri perusahaan ini. Jonathan Wijaya. Ayahku yang sudah uzur. Sekarang sedikit-sedikit memori Catherine langsung masuk begitu aku diingatkan tentang sesuatu. Rasanya bersyukur juga. Apalagi, di novel latar belakang Catherine tidak terlalu dijelaskan.


“Mungkin ayah Anda tidak akan terlalu masalah, tapi ibu tiri—“


“Ibu tiri?” jeritku.


“Kenapa Ibu seperti baru tahu kalau punya ibu tiri?”


“Ah, dia gak penting sampai saya hampir lupa dia itu ada.” Sialnya memori tentang ibu tiri ini tidak muncul. Tapi biasanya ibu tiri di novel jahat kan? Atau aku salah.


“Saya akan pulang ke rumah nanti,” putusku mendadak. Aku harus melihat keluarga Catherine dengan mata kepalaku sendiri.


***


Sincerely,


Dark Peppermint