
Aku dan Keegan sedang makan siang bersama saat produser acara menelepon Keegan.
“Ini sudah yang keberapa kali, Kee? Jangan-jangan dia sebenarnya mau pedekate sama kamu.” Aku tertawa lucu melihat bagaimana horornya wajah Keegan sekarang.
“Ibu kan tahu alasan yang sebenarnya,” bantah Keegan. “Dia gigih gini buat dapatin Ibu di acaranya lagi.”
“Dasar setan uang,” umpatku. “Kamu urus dia.”
“Saya udah berkali-kali bilang Ibu menolak untuk ikut acara itu tapi masih saja begini. Dia benar-benar gak gampang disingkirkan.” Akhirnya mau tidak mau Keegan mengangkat telepon tersebut.
“Halo. Apa Bu Catherine sudah memikirkannya ulang?”
Orang itu gak mau basa-basi ternyata. Saat Keegan melihatku dengan tampang ingin meminta tolong aku langsung pura-pura melihat ke arah lain. Ini adalah urusan yang harus dia selesaikan. Pekerjaanku sudah banyak selain harus memikirkan si produser bertekad baja itu.
“Keputusan Bu Catherine masih tetap sama. Beliau tidak bisa tampil lagi dalam acara tersebut.”
“Ini kesempatan bagus untuk beliau semakin membesarkan namanya.”
“Maaf, Pak. Tapi Bu Catherine tidak perlu membesarkan namanya di dunia hiburan.”
“Terkenal di dunia hiburan bisa membuat bisnisnya semakin lancar.”
Setelah menghembuskan napas dan menahan frustasi Keegan berkata, “Bu Catherine sudah memiliki banyak pekerjaan”
“Dia punya banyak pegawai yang bisa menggantikannya mengurus semua itu.”
Hebatnya Keegan belum juga berniat untuk menutup telepon. “Sekali lagi saya mohon maaf. Tapi Bapak Jonathan gak terlalu senang dengan adanya tayangan ini. Beliau bahkan ingin tayangan ini dihentikan. Saya sendiri masih bingung bagaimana cara menyelesaikan masalah ini.”
Bapak Jonathan yang tercinta memang kebakaran jenggot melihatku tampil di acara seperti itu. Entah apa yang membuatnya tersinggung. Padahal reaksi orang-orang sangat bagus, dan akhir-akhir ini bisnis kami jadi lebih lancar akibat semua itu. Kukira dia jadi sensitif sebab aku membawa-bawa perihal cucu di sana. Akhirnya satu Indonesia tahu dia sangat ngebet ingin memiliki cucu.
Suara tawa kencang terdengar dari sambungan telepon tersebut.
“Bapak Jonathan menonton acara tersebut? Hebat! Bahkan orang sepenting Pak Jonathan menontonnya.”
Bapak Jonathan yang terhormat mau menonton acara gosip begitu karena aku adalah putrinya. Apa dia tidak sadar akan hal itu?
“Kalau gitu apa Pak Jonathan berminat untuk berpartisipasi juga?”
Kesabaran Keegan sudah habis. “Sekali lagi saya mohon maaf, tapi kami menolak untuk kembali berpartisipasi. Kalau sudah selesai saya tutup teleponnya.”
“Dia gigih.”
“Sangat gigih, Bu.”
***
Datanglah ke restoran di loby hotel xxx jam tujuh malam nanti!
Itu adalah pesan dari Bapak Jonathan yang tercinta. Sifat tukang perintahnya bahkan terlihat jelas dari pesannya. Lihatlah tanda seru (!) itu. Dia tidak bertanya, tapi langsung memaksa.
Aku menekan interkom dan menyuruh Keegan masuk ke ruanganku.
“Ada apa Bu?” tanyanya begitu berada di depanku.
“Kamu datang ya ke ke hotel xxx jam tujuh malam nanti--”
“Saya gak bisa datang ke kencan buta Ibu.”
Tanganku yang sedang menuliskan sesuatu terhenti. Aku mendorong sedikit kursiku ke belakang lalu memandang Keegan serius. “Apa maksudnya kencan buta?” Aku pasti salah dengar.
“Bapak Jonathan ingin mengatur kencan buta untuk Anda. Mungkin ini salah satunya. Jadi saya gak bisa menggantikan Ibu.”
Aku mengurut pelipisku. Bukankah waktu itu aku sudah berhasil menghentikan ayahku? Buat apa aku mengatur semua kelicikan itu kalau dia tidak menepati janjinya. Apa ini salah satu bentuk kekesalannya karena aku tampil di acara itu?
Dan Keegan bisa tahu dari mana? Apa ayahku itu terus mengusik hidupnya yang sudah sulit dan berat?
“Tapi Pak Jonathan berkata akan memberi Anda 500 juta rupiah kalau Anda mau pergi ke kencan buta.”
Aku tersenyum. Dia mengira bisa membeli putrinya dengan uang. Aku berpikir keras. Aku memang cinta uang. Tapi akhir-akhir ini uangku sudah banyak sekali sampai aku muak melihatnya. Jangan iri. Itu memang kenyataannya. Tapi aku sadar akan sesuatu, Bapak Jonathan yang terhormat itu tak akan berhenti untuk memaksaku pergi berkencan dengan pria-pria yang tak kukenal. Dia mungkin akan melakukan segala cara dan hanya akan membuatku bertambah pusing saja. Dan semua rencanaku pun bisa berantakan. Mungkin tak ada salahnya menenangkannya sedikit. Menurutinya sekarang bukan berarti aku kalah.
“Baiklah, saya akan pergi,” putusku santai. Membuat Keegan mengernyit tak percaya. Dia pasti sudah bersiap untuk melihatku mengamuk. “Apa susahnya datang ke kencan buta. Plus dapat uang. Atur saja. Mau sepuluh kali pun saya akan datang. Bilang ke papaku atur semua kencan itu untukku.”
Setidaknya aku bisa dapat 5 miliar jika sepuluh kali datang ke kencan buta. Hmm, menarik. Haruskah aku membuat semua teman kencanku muak agar bisa berkali-kali pergi kencan dengan orang berbeda?
Aku tersenyum. Dasar kau otak materialistis.
***
Aku bersiap pergi dengan seniat mungkin. Dress terbaik, make up secantik mungkin, dan datang tepat waktu. Tentu aku harus total jika dibayar semahal itu kan?
Namun sebelum pergi aku menemui Papa terlebih dahulu saat ia sedang makan malam.
“Papa,” ucapku sambil tersenyum lebar lalu duduk di kursi di depannya. “Anakmu ini sudah datang, lalu mana uangnya?”
Bapak Jonathan yang terkasih tampak frustrasi. Memiliki anak sepertiku pasti menguras banyak tenaganya. “Baru datang dan kamu sudah minta uang. Kamu sama sekali gak sopan.”
“Papa juga gak sopan karena bayar anak sendiri untuk ikut kencan buta.” Saat dia melirikku aku tersenyum sepolos mungkin. “Papa sendiri pasti tahu aku ke sini karena uangnya.”
Bapak Jonathan mengembuskan napas lelah. Tampaknya sudah pasrah. Setidaknya putrinya yang keras kepala sudah mau datang.
“Asalkan kamu mau nurut kata-kata Papa buat pergi kencan buta, uangnya akan Papa kirim.”
“Sesuai nominal?”
“Tentu. Papa gak pernah bohong.”
Itu pernyataan yang sulit untuk dipercaya.
“Kalau gitu Papa bisa atur sesuka Papa. Aku akan datang ke semua kencan yang Papa atur.”
Sama seperti Keegan, Bapak Jonathan pun tampak heran dengan keputusanku yang tiba-tiba.
“Kamu nurut gitu aja?”
“Iya. Memangnya kenapa?” Aku tersenyum semakin lebar.
“Kamu merencanakan sesuatu ya?”
“Papa juga merencanakan sesuatu?”
“Kamu gak pernah mau ngalah sama papanya sendiri.”
“Papa juga gak mau ngalah sama anaknya sendiri.”
Sekali lagi, Bapak Jonathan yang terhormat mengembuskan napas. Dia pasti tidak punya pilihan lain. “Baiklah. Papa akan percaya kamu bakal menurut. Awas kalau nanti kamu bikin ulah ya.”
“Gak akan. Lima ratus juta sudah cukup buat menyumpal mulut dan menahan tindakanku yang tidak seharusnya.”
“Kamu bisa seperti ini gara-gara siapa sih.” Pria itu hanya menggelengkan kepala.
Sudah jelas kan aku seperti ini karena aku adalah anak Bapak Jonathan yang terhormat, tercinta, dan terkasih.
***
Sincerely,
Dark Peppermint