The Become A Villain In The Novel

The Become A Villain In The Novel
Bab 41



Di jam pulang aku berjalan sendiri ke parkiran. Tentu saja sekarang aku pulang sendiri. Dan pulang sendiri begini sebenarnya membuatku agak kesepian. Jujur saja aku jadi merindukan sosok Keegan karena terus menjauhinya begini.


Mau dipikirkan berapa kali pun tingkahku ini benar-benar kekanakan dan sangat bodoh. 


Apa kutelepon saja dia sekarang ya?


Kulihat tadi dia masih ada di mejanya. Kalau kutelepon sekarang dan memintanya mengantarku pulang pasti Keegan tidak akan menolak. Tapi mau ditaruh di mana mukaku. Aku yang mulanya menjauhinya, masa tiba-tiba aku meminta dia mengantar pulang. Gak ada angin, gak ada hujan.


Sudahlah, pulang sendiri juga tidak masalah.


Tapi aku sedang tidak ingin pulang sendiri.


Dulu aku juga sering sendiri, apa bedanya dengan sekarang.


Tapi kalau bisa tidak sendirian kenapa harus memilih sendiri.


Masalahnya--


Sialan. Bisa-bisanya aku mendebatkan apa yang harus kulakukan ke Keegan. Dan yang lebih parah aku mendebatkannya dengan diriku sendiri. Persis seperti manusia kesepian yang tidak punya teman.


Akhirnya aku membuat keputusan. Begitu sampai di depan mobilku, aku langsung mengeluarkan ponsel dan menelepon Keegan. Aku tidak peduli. Lagi pula tak ada salahnya kan kalau aku menambahi, "Saya pusing, Kee. Bisa kamu antar saya pulang sekarang."


Ya, aku tidak sepenuhnya bohong juga. Kepalaku memang sedikit pusing dan badanku pun lelah sekali.


Tanpa sadar aku menahan napas saat bunyi dering terdengar, lalu berganti, "Halo, Bu."


"Catherine!"


Tubuhku tersentak mendengar dua suara bersamaan. Aku menoleh ke belakang dan melihat sesosok pria tampan tengah berjalan mendekat padaku. Sejenak aku melupakan Keegan yang ada di telepon. Kepalaku dipenuhi ingatan tentang siapa pria yang kini berhenti tepat di depanku. Dengan senyum menawan yang sangat lebar.


NS a.k.a Narendra Adi Satya. 


Si pengirim bunga dan ajakan makan siang waktu itu. Putra satu-satunya pemilik SAT Group. Kami bertemu beberapa waktu lalu saat aku menghadiri acaara ulang tahun perusahaan mereka yang ke-30 tahun. Sejak itu dia memang menunjukkan ketertarikannya padaku, lebih tepatnya pada Catherine. Tapi Catherine sama sekali tidak memedulikannya karena sibuk dengan Tony Lesmana.


"Akhirnya kita ketemu juga," ucapnya. "Eh, jangan salah paham. Saya gak ngikutin kamu kok," sambungnya lagi saat melihat wajahku yang melihatnya curiga. "Saya benar-benar gak ngikutin kamu. Saya ke sini karena ada urusan. Bisnis."


"Saya gak nuduh kamu seperti itu," elakku.


"Tapi wajah kamu berkata begitu."


"Hanya asumsi kamu saja kalau begitu."


Dia tertawa. "Saya gak akan ajak kamu makan malam atau ngirim bunga kok. Tenang aja."


Melihatnya yang tetap ramah dengan sikapku yang begini, membuatku merasa tidak enak. Tapi aku tidak bisa meminta maaf padanya.


"Saya gak terlalu khawatir kok. Soalnya saya sudah makan malam."


"Catherine dan sikap menjaga jaraknya dengan laki-laki. Kamu tau gak, salah satu hal yang membuat kamu menarik di mata laki-laki bukan cuma wajah dan kekayaan kamu, tapi karena sikap kamu yang seperti ini."


Dahiku mengernyit. "Oh, jadi berusaha mendapatkan perhatianku adalah game  yang menurut kalian menarik. Kalian mau memberikan tropi ke orang yang bisa melakukannya?"


Dia mengangkat tangan seolah menyerah. "Jangan marah. Tapi memang banyak laki-laki yang seperti itu. Mereka merasa kalau bisa menjadi laki-laki yang menggantikan posisi Tony Lesmana di hati Catherine Wijaya adalah hal yang keren."


Aku mencibir, "Tapi sepertinya gak akan ada yang memenangkan permainan kalian tersebut. Karena Tony Lesmana sudah saya buang jauh-jauh dari hidup saya sebelum kalian sempat menggantikan posisinya."


Dia tersenyum. "Maaf kalau kamu tersinggung. Padahal saya cuma berniat nyapa kamu saja. Tapi kita malah bahas hal-hal yang gak diinginkan." Dia merapatkan bibirnya. "Sorry."


Aku tidak  tahu niat orang ini apa. Tapi aku malas memperpanjang pembicaraan. Jadi aku hanya mengiyakan kata-katanya. 


Aku menunjukkan raut tidak percaya.


"Kamu gak harus percaya." Dia tersenyum singkat. "Saya harus pergi sekarang. Dan saya kira kamu pun begitu."


"Ya, saya memang mau pulang."


"Oke, kalau begitu sampai jumpa lagi." Dia melangkah menjauh sambil melambaikan tangannya. "Kalau kamu kesepian gak ada salahnya untuk mengiyakan ajakan makan saya sesekali. Saya rasa saya bisa menjadi teman bicara yang cukup baik."


Aku tidak menjawab apa pun. Lalu saat aku tersadar, tak jauh dari tempatku berada, Keegan tengah berdiri memandangi kami. Aku tak tahu dia sudah ada di sana sejak kapan dan apa dia mendengar apa yang kami bicarakan. Dia berjalan mendekat setelah Narendra semakin jauh.


Aku melirik teleponku yang ternyata masih terhubung dengan Keegan. Lalu saat aku mendongak, pria itu sudah berdiri tepat di depanku.


"Katanya Ibu pusing. Saya akan antar pulang," ucapnya begitu sambil mematikan sambungan telepon kami.


Dia lalu membimbingku masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan kami tidak membicarakan apa pun. Dia hanya fokus menyetir dan sejujurnya aku agak segan melihatnya yang sangat fokus begitu.


Kami tiba di rumahku. Meski suasana selama perjalanan terasa canggung aku merasa waktu berlalu sangat singkat. Sejujurnya aku masih ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengannya.


Aku keluar dari mobil setelah Keegan membukakan pintu.


"Ibu tidak apa-apa?" tanyanya. Aku sedikit tidak mengerti. "Ibu bilang sedang pusing? Perlu saya belikan obat?"


Aku langsung menggeleng. Itu hanya alasanku saja karena ingin bertemu dengannya. "Gak usah.


Tapi reaksi Keegan saat mendengarnya terlihat tidak suka. Dia menunduk, lalu melengos sambil mengembuskan napas kasar. "Kayaknya saya udah dibuang," ucapnya samar.


"Apa?" tanyaku.


"Gak apa-apa," sahutnya cepat. "Sebaiknya Ibu masuk sekarang. Udara malam gak bagus buat kesehatan."


Meski samar aku mendengar apa yang dikatakan Keegan tadi. "Saya gak buang kamu," ucapku.


"Ibu harus istirahat sekarang. Kalau gak nanti sakitnya bertambah parah."


Aku cemberut. Dia sengaja mengalihkan percakapan. Dan dia tidak terdengar kebingungan dengan yang kukatakan, yang artinya aku tidak salah dengar.


Keegan membimbingku masuk ke dalam. Namun sebelum menutup pintu aku berkata, "Maaf, saya bertingkah konyol akhir-akhir ini. Tapi saya gak punya maksud buat membuang kamu. Saya menjauh karena semuanya terasa aneh. Saya minta maaf kalau membuat kamu salah paham."


Kulihat Keegan bersiap mengatakan sesuatu. Tapi memang dasar tangan sialan. Karena malu aku refleks langsung menutup pintu. Dengan sangat keras di depan wajah Keegan yang akan mengatakan sesuatu.


Benar-benar sialan. Bagaimana kalau dia salah paham lagi padaku? Haruskah kubuka pintu ini sekarang dan berkata bahwa aku tidak sengaja membanting pintu karena malu sudah mengatakan hal tadi.


Aku berteriak tanpa suara. Siapa yang sangka bahwa aku adalah orang yang sepemalu dan segengsi ini.


Selanjutnya aku berjalan gontai menuju kamar. Sepertinya aku kena karma. Sekarang kepalaku benar-benar sakit. Aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Lalu teleponku berdering. Sebuah pesan baru saja masuk.


Saya akan jemput Ibu besok pagi. Di laci ketiga dapur dekat kulkas ada kotak obat. Di dalamnya ada obat sakit kepala. Diminum ya.


Tanpa bisa ditahan, aku tersenyum lebar.


***


Sincerely,


Dark Peppermint